Khotbah Pemuda: Tidak Serupa Dengan Dunia (Roma 12:2)

Khotbah Pemuda: Tidak Serupa Dengan Dunia (Roma 12:2)

Roma 12:2

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”— Roma 12:2

Pendahuluan

Saudara-saudara pemuda yang dikasihi Tuhan,

Kita hidup di zaman yang sangat kuat membentuk cara kita berpikir.

Setiap hari kita melihat apa yang sedang tren, apa yang dianggap keren, apa yang dianggap sukses, bagaimana seseorang seharusnya berpenampilan, bagaimana seseorang seharusnya berbicara, apa yang harus dimiliki supaya dianggap berhasil, bahkan bagaimana seseorang harus menjalani hubungan dan menentukan masa depannya.

Media sosial bukan hanya memberi kita informasi. Perlahan-lahan media sosial juga dapat membentuk standar hidup kita.

Dunia berkata, “Ikuti apa yang membuatmu bahagia.”

Dunia berkata, “Kamu harus menjadi seperti orang lain supaya diterima.”

Dunia berkata, “Kesuksesan ditentukan oleh uang, penampilan, popularitas, dan pencapaian.”

Dunia berkata, “Yang penting kamu bebas menentukan hidupmu sendiri.”

Tetapi Firman Tuhan berkata:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.”

Pertanyaannya: apakah menjadi orang Kristen berarti kita harus menjauh dari dunia, tidak mengikuti perkembangan zaman, dan hidup seperti orang yang tidak mengenal budaya di sekeliling kita?

Bukan itu maksud Paulus.

Paulus tidak sedang mengatakan bahwa orang percaya harus keluar secara fisik dari dunia. Kita tetap belajar, bekerja, menggunakan teknologi, membangun relasi, kuliah, berkarier, dan hidup di tengah masyarakat.

Yang harus berbeda adalah cara kita berpikir, nilai yang kita pegang, dan arah hidup kita.

Dunia tidak boleh menjadi cetakan yang membentuk kita.

Sebaliknya, Firman Tuhan harus membentuk kita.

1. Jangan biarkan dunia menjadi cetakan hidupmu

Paulus berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.”

Kata “dunia” di sini bukan sekadar benda-benda atau manusia di sekitar kita. Yang dimaksud adalah pola hidup dan cara berpikir yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Dunia memiliki “cara berpikir”.

Dunia menentukan apa yang dianggap benar.

Dunia menentukan apa yang dianggap penting.

Dunia menentukan apa yang dianggap berhasil.

Masalahnya, sering kali kita tidak sadar bahwa kita sedang dibentuk olehnya.

Kita mungkin berkata, “Saya punya prinsip sendiri.”

Tetapi dari mana prinsip itu berasal?

Mengapa kita merasa harus memiliki barang tertentu?

Mengapa kita begitu takut dianggap gagal?

Mengapa kita merasa harus mendapatkan banyak likes?

Mengapa kita begitu membutuhkan pengakuan orang lain?

Mengapa kita menganggap hidup yang nyaman sebagai hidup yang berhasil?

Mengapa kita menganggap kebahagiaan sebagai tujuan utama kehidupan?

Sering kali jawabannya adalah karena kita telah menyerap pola pikir dunia tanpa menyadarinya.

Pemuda Kristen harus belajar bertanya:

“Apa yang Alkitab katakan tentang hal ini?”

Bukan hanya:

“Apa kata teman-teman saya?”

“Apa yang sedang viral?”

“Apa yang dianggap normal?”

“Apa yang dilakukan mayoritas?”

Mayoritas tidak selalu benar.

Yang populer tidak selalu kudus.

Yang dianggap normal oleh budaya tidak selalu sesuai dengan Firman Tuhan.

Karena itu orang Kristen dipanggil untuk memiliki keberanian berkata:

“Saya tidak akan mengikuti sesuatu hanya karena semua orang melakukannya.”

2. Perubahan dimulai dari pembaruan budi

Paulus tidak berhenti dengan larangan.

Ia melanjutkan:

“Tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”

Ini sangat penting.

Kekristenan bukan sekadar mengganti pakaian, gaya rambut, lingkungan pergaulan, atau kebiasaan luar.

Kekristenan berbicara tentang perubahan manusia dari dalam.

Dan di sinilah perspektif Reformed sangat penting.

Kita percaya bahwa masalah manusia bukan hanya perilaku yang salah. Akar masalahnya adalah hati manusia yang telah jatuh ke dalam dosa.

Manusia berdosa bukan sekadar melakukan dosa; manusia memiliki natur yang telah rusak oleh dosa.

Karena itu kita tidak cukup hanya berkata:

“Jangan lakukan itu.”

“Jangan lihat itu.”

“Jangan pergi ke sana.”

“Jangan berteman dengan mereka.”

Semua itu mungkin memiliki tempat dalam kehidupan Kristen, tetapi perubahan sejati harus lebih dalam.

Kita membutuhkan pembaruan pikiran dan hati oleh karya Roh Kudus melalui Firman Tuhan.

Pemuda Kristen tidak hanya membutuhkan daftar “boleh dan tidak boleh”.

Kita membutuhkan cara berpikir yang baru.

Kita perlu belajar melihat uang dengan perspektif Alkitab.

Melihat kesuksesan dengan perspektif Alkitab.

Melihat hubungan dengan perspektif Alkitab.

Melihat seksualitas dengan perspektif Alkitab.

Melihat pekerjaan dengan perspektif Alkitab.

Melihat pendidikan dengan perspektif Alkitab.

Melihat masa depan dengan perspektif Alkitab.

Melihat diri sendiri dengan perspektif Alkitab.

Inilah pembaruan budi.

3. Kita tidak berubah untuk mendapatkan kasih Allah

Di sini kita perlu melihat konteks Roma 12.

Roma 12:2 tidak berdiri sendiri.

Sebelumnya, Roma 12:1 berkata:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu...”

Perhatikan kata “karena itu”.

Ada dasar bagi kehidupan yang berubah.

Paulus tidak berkata:

“Berubahlah supaya Allah mengasihi kamu.”

Paulus justru berkata:

“Karena Allah telah menunjukkan kemurahan-Nya, maka hiduplah bagi-Nya.”

Ini sangat penting dalam teologi Reformed.

Kita tidak melakukan perbuatan baik untuk membeli keselamatan.

Kita tidak hidup kudus supaya Allah akhirnya mau menerima kita.

Kita diselamatkan oleh kasih karunia, bukan karena jasa atau prestasi kita.

Pembenaran kita terjadi karena karya Kristus, bukan karena keberhasilan kita menjalani kehidupan Kristen.

Tetapi anugerah yang menyelamatkan juga merupakan anugerah yang mengubahkan.

Orang yang telah menerima kasih karunia tidak lagi ingin hidup hanya bagi dirinya sendiri.

Karena itu kekudusan bukan cara membeli keselamatan.

Kekudusan adalah buah dari keselamatan.

Kita tidak taat supaya menjadi anak Allah.

Kita taat karena di dalam Kristus kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah.

Maka ketika Paulus berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia,” itu bukan ancaman agar kita takut kehilangan kasih Allah.

Itu adalah panggilan bagi orang yang sudah menerima kemurahan Allah.

4. Tidak serupa dengan dunia berarti hidup dengan identitas baru

Dunia terus mengatakan kepada pemuda:

“Temukan dirimu sendiri.”

“Jadilah apa pun yang kamu inginkan.”

“Yang paling penting adalah dirimu.”

Tetapi Injil memberikan berita yang berbeda.

Identitas kita tidak terutama ditemukan dengan melihat ke dalam diri sendiri.

Identitas kita ditemukan di dalam Kristus.

Kita bukan terutama apa yang kita miliki.

Kita bukan nilai akademik kita.

Kita bukan jumlah pengikut kita.

Kita bukan pekerjaan kita.

Kita bukan status hubungan kita.

Kita bukan kegagalan masa lalu kita.

Kita bukan keberhasilan kita.

Bagi orang yang percaya kepada Kristus, identitas terdalamnya adalah bahwa ia adalah manusia berdosa yang telah menerima kasih karunia dan dipersatukan dengan Kristus.

Itu mengubah cara kita hidup.

Kalau dunia berkata, “Buktikan bahwa kamu berharga,” Injil berkata bahwa nilai kita tidak dibangun melalui pencapaian untuk mendapatkan penerimaan Allah.

Kalau dunia berkata, “Cari popularitas,” Injil mengajar kita untuk mencari kesetiaan kepada Tuhan.

Kalau dunia berkata, “Kamu harus menang,” Injil mengajar kita untuk hidup dalam kerendahan hati.

Kalau dunia berkata, “Kamu adalah pusat hidupmu,” Injil mengarahkan kita kepada Kristus.

5. Tidak serupa dengan dunia terlihat dalam pilihan sehari-hari

Bagaimana kita menerapkan Roma 12:2?

Bukan hanya ketika berada di gereja.

Justru penerapannya terlihat ketika tidak ada yang memperhatikan.

Ketika memilih konten yang kita lihat.

Ketika menggunakan media sosial.

Ketika menentukan hubungan dengan lawan jenis.

Ketika memilih bagaimana menggunakan uang.

Ketika menghadapi godaan seksual.

Ketika mengerjakan tugas kuliah.

Ketika bekerja.

Ketika berbicara tentang teman.

Ketika tidak ada orang yang tahu apakah kita jujur atau tidak.

Di situlah pertanyaan Roma 12:2 menjadi nyata:

“Apakah keputusan saya dibentuk oleh Firman Tuhan atau oleh pola dunia?”

Misalnya dunia berkata bahwa kita harus membalas ketika disakiti.

Firman Tuhan memanggil kita kepada pengampunan.

Dunia berkata bahwa kita harus membangun citra diri.

Firman Tuhan mengajar kita tentang kerendahan hati.

Dunia berkata bahwa seks adalah bagian dari kebebasan pribadi.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa tubuh kita memiliki tujuan kudus di hadapan Allah.

Dunia berkata bahwa uang menentukan keberhasilan.

Firman Tuhan mengajarkan penatalayanan dan tanggung jawab.

Dunia berkata bahwa masa depan ada di tangan kita.

Firman Tuhan mengajar kita untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sekaligus mempercayakan masa depan kepada Allah yang berdaulat.

Jadi, menjadi berbeda bukan berarti sengaja menjadi aneh.

Menjadi berbeda berarti setia kepada Kristus.

6. Pembaruan budi adalah proses seumur hidup

Ada satu hal yang perlu kita pahami: pembaruan budi bukan peristiwa satu kali.

Setelah percaya kepada Kristus, kita masih harus terus bertumbuh.

Dalam bahasa teologi Reformed, kehidupan Kristen adalah kehidupan pengudusan. Kita telah dibenarkan di dalam Kristus, tetapi kita masih sedang dibentuk semakin serupa dengan Kristus.

Karena itu jangan kecewa ketika menyadari masih banyak dosa dalam diri kita.

Jangan menyerah ketika kita kembali jatuh.

Datanglah kepada Kristus.

Bertobat.

Kembali kepada Firman.

Berdoa.

Hidup dalam komunitas orang percaya.

Minta pertanggungjawaban dari saudara seiman.

Terus bertumbuh.

Jangan menggunakan kasih karunia sebagai alasan untuk tetap hidup dalam dosa.

Tetapi juga jangan menggunakan kegagalan sebagai alasan untuk meninggalkan Kristus.

Anugerah Allah bukan hanya mengampuni kita; anugerah Allah juga sedang membentuk kita.

7. Tujuan akhirnya adalah mengetahui kehendak Allah

Paulus mengatakan bahwa pembaruan budi membuat kita dapat membedakan kehendak Allah: “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Banyak pemuda bertanya:

“Apa kehendak Tuhan untuk masa depan saya?”

“Haruskah saya memilih pekerjaan ini?”

“Dengan siapa saya menikah?”

“Di mana saya harus tinggal?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting.

Tetapi sebelum kita mencari kehendak Allah untuk keputusan-keputusan khusus, kita harus belajar menaati kehendak Allah yang sudah dinyatakan dalam Firman-Nya.

Kita tidak perlu menunggu suara dari langit untuk mengetahui bahwa kita harus hidup kudus.

Kita tidak perlu tanda khusus untuk mengetahui bahwa kita harus jujur.

Kita tidak perlu mimpi khusus untuk mengetahui bahwa kita harus mengasihi sesama.

Kita tidak perlu pengalaman mistis untuk mengetahui bahwa kita harus hidup bagi kemuliaan Allah.

Semakin pikiran kita dibentuk oleh Firman, semakin kita belajar menilai kehidupan dengan hikmat yang berasal dari Tuhan.

Penutup

Pemuda yang dikasihi Tuhan,

Dunia akan terus berusaha membentuk kita.

Setiap hari ada suara yang berkata:

“Jadilah seperti kami.”

“Berpikirlah seperti kami.”

“Kejar apa yang kami kejar.”

“Nilailah hidup seperti kami menilainya.”

Tetapi Firman Tuhan berkata:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.”

Bukan berarti kita harus membenci dunia.

Bukan berarti kita harus mengasingkan diri dari masyarakat.

Kita tetap hidup di tengah dunia, belajar, bekerja, melayani, membangun relasi, dan menjadi saksi Kristus.

Tetapi kita tidak boleh membiarkan dunia menjadi Tuhan atas pikiran kita.

Biarlah Firman Tuhan membentuk cara kita berpikir.

Biarlah Injil membentuk identitas kita.

Biarlah Roh Kudus membentuk karakter kita.

Biarlah Kristus menjadi pusat hidup kita.

Dan biarlah seluruh kehidupan kita menjadi persembahan bagi Allah.

Ingatlah: kita tidak dipanggil untuk berbeda supaya terlihat lebih baik daripada dunia.

Kita dipanggil untuk berbeda karena kita telah menerima kemurahan Allah di dalam Kristus.

Maka ketika dunia berkata, “Hiduplah untuk dirimu sendiri,” kita berkata:

“Aku hidup bagi Tuhan.”

Ketika dunia berkata, “Carilah kemuliaanmu sendiri,” kita berkata:

“Segala kemuliaan hanya bagi Allah.”

Ketika dunia berkata, “Ikuti arus,” kita berkata:

“Aku mau mengikuti Kristus.”

Dan ketika kita merasa tidak sanggup, kita tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Kita kembali kepada Injil.

Kembali kepada salib.

Kembali kepada Kristus.

Sebab Dia yang telah memulai pekerjaan yang baik di dalam kita juga yang akan terus membentuk kita sampai pada akhirnya.

Kiranya generasi pemuda Kristen tidak dikenal hanya karena mengikuti tren zaman, tetapi dikenal karena kesetiaannya kepada Kristus.

Bukan serupa dengan dunia.

Tetapi diperbarui oleh Firman.

Bukan hidup bagi diri sendiri.

Tetapi hidup bagi Kristus.

Bukan mengejar kemuliaan manusia.

Tetapi memuliakan Allah.

Soli Deo Gloria.

Amin.

Next Post Previous Post