PEPERANGAN SEGALA ABAD (THE BATTLE OF THE AGES: KEJADIAN 3:15)

Pdt. Stephen Tong.
PEPERANGAN SEGALA ABAD - THE BATTLE OF THE AGES
 "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." (Kejadian 3:15)

Peperangan Segala Abad (The Battle of the Ages) adalah peperangan antara firman Tuhan dan ajaran-ajaran dari manusia dan Iblis. Peperangan segala abad adalah peperangan yang mau menegakkan kebenaran Tuhan di atas bumi ini sampai berbuah dan berkhasiat nilai kekal untuk selama-lamanya. Dan di dalam PEPERANGAN SEGALA ABAD (THE BATTLE OF THE AGES) ini kita melihat Tuhan sendiri akan memimpin kaum pilihan-Nya yang taat kepada Dia menjadi laskar-laskar untuk memerangi satu kerajaan yang tidak kelihatan, tetapi mempunyai kekuasaan yang luar biasa besarnya.

PEPERANGAN SEGALA ABAD (THE BATTLE OF THE AGES) ini sudah dinubuatkan sejak ribuan tahun lalu oleh Tuhan Allah sendiri ketika Adam berdosa. Allah berkata kepada Adam dan Hawa bahwa di antara benih perempuan dan ular ada permusuhan hakiki. Demikian pula, Tuhan berjanji bahwa kemenangan akan datang melalui seorang benih perempuan. Itu yang dimengerti sebagai inkarnasi, atau Natal, yaitu Yesus lahir ke dalam dunia. Dan peperangan ini begitu sengit sehingga Anak Allah sendiri harus diremukkan tumit-Nya, tetapi Dia akan meremukkan kepala si ular. Peperangan rohani ini begitu penting sehingga menentukan nasib manusia - yang dicipta menurut peta dan teladan Allah - akan masuk neraka atau surga.

Bagi saya, sejak tahun 1957 sampai hari ini, saya menyadari bahwa setiap pelayanan saya adalah peperangan, dan saya mengetahui dengan jelas siapa yang menjadi musuh saya. Sampai kapan peperangan ini? Sampai hembusan nafas terakhir. Satu kalimat dari Yesaya 42:1-4, “Dia tidak akan tawar hati, Dia tidak akan putus asa sampai kebenaran ditegakkan di atas bumi ini, dan pulau-pulau sedang menanti ajaran-Nya.” Inilah perintah, inilah perjuangan yang harus kita kerjakan di bumi Indonesia ini.

Hadirnya Kristus di dalam dunia ini merupakan titik pertemuan antara yang turun dari atas secara vertikal bertemu dengan dunia horizontal yang diwakili oleh semua yang terjadi beribu-ribu tahun di dalam agama, kebudayaan, filsafat, masyarakat, sosial, pendidikan, politik, militer, dan semua kerajaan di seluruh dunia. Turunnya Kristus ke dunia merupakan suatu intervensi vertikal dari atas untuk bertemu dengan seluruh peristiwa yang pernah terjadi di dalam sejarah. Saya tidak mengerti mengapa Wallace, seorang sejarahwan Inggris yang terkemuka dan bukan seorang Kristen, dapat mengatakan the whole history is connecting to God (seluruh sejarah berkaitan dengan Allah). Immanuel Kant mengatakan, “membuktikan adanya Allah sangatlah sulit, tetapi membuktikan tidak ada Allah, jauh lebih sulit lagi.”

Kristus datang ke dunia dengan tidak mewarisi apapun dari dunia ini bagi bahan pengajaran-Nya, melainkan melakukan koreksi terhadap semua pengertian Perjanjian Lama yang salah. Kedatangan Kristus langsung mendidik orang-orang yang mau ikut Dia dengan pengajaran-pengajaran yang bersifat revolusioner. Semua theolog yang berusaha menghasilkan sesuatu pengaruh bagi zamannya adalah hasil produksi zamannya dan dia akan digeser oleh zaman yang akan datang. Hanya Kristus yang langsung dari tahta Allah. Dia tidak mungkin digeser karena Dia memiliki sifat kekekalan yang melampaui kesementaraan and sejarah. Reformed theology akan memberikan pencerahan bagaimana melalui pengertian Kristus yang sejati kita akan memperbaharui seluruh kehidupan gerejawi dan pelayanan gerejawi.

Yesus Kristus datang dengan proklamasi tujuh alasan kedatangan-Nya. Yang pertama, Anak Manusia datang mencari dan menyelamatkan yang sesat. Ini satu pra-anggapan awal yang penting. Manusia sudah kehilangan arah. Ketika engkau kehilangan uang puluhan juta, engkau marah-marah, karena engkau terlalu peka kehilangan materi, tetapi tidak peka ketika kehilangan kesempatan. Engkau bahkan tidak peka ketika kehilangan arah, kehilangan relasi dengan Tuhan Allah.

Yesus juga berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani tapi untuk melayani. Dia akan mempermalukan semua orang komunis yang mengatakan bahwa mereka adalah hamba yang baik tetapi mereka mempunyai kekayaan melalui korupsi yang banyak. Yesus satu-satunya pemimpin yang tidak memiliki harta bagi diri sendiri.

Yesus juga mengatakan Aku datang untuk menyerahkan nyawa untuk menebus orang lain. Yesus juga berkata Ia datang untuk memanggil orang berdosa supaya bertobat. Yesus datang untuk memberikan hidup bahkan hidup yang berkelimpahan. Yesus datang untuk menggenapkan Taurat, karena tidak ada satu titik atau satu iota akan terlewatkan, karena Ia datang untuk menggenapkan kehendak Allah, kehendak Bapa-Nya yang di sorga. Dan yang ketujuh Tuhan Yesus mengatakan Aku memang dilahirkan sebagai Raja, di hadapan Pilatus.

Semua kalimat Yesus bersifat revolusioner, bersifat koreksi, bersifat memberikan pengharapan yang baru. Tuhan Yesus tidak seperti agama yang membicarakan baik dan jahat; tidak seperti filsafat yang membicarakan yang bijak dan bodoh; tidak seperti sains yang membicarakan yang benar dan salah. Ia membicarakan hidup dan mati, supaya manusia tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Ini bidang tersendiri yang melampaui agama, filsafat, kebudayaan, sastra, ataupun musik. Semua adalah menyangkut hidup matinya manusia. Untuk ini manusia perlu kembali kepada kebenaran. Dalam upaya manusia, seringkali terjadi kelemahan manusia untuk mengerti dan kembali kepada kebenaran. Untuk itu, Tuhan Yesus membuat sesuatu untuk mengisi kebocoran ingatan mereka, yaitu, “Setelah Aku pergi Roh Kudus akan turun. Dia akan mengingatkan kembali semua kalimat yang pernah Kuucapkan kepadamu.” Hal ini sangat penting, karena ketika Allah mengirim Anak ke dalam dunia lalu Anak kembali kepada Bapa, Bapa mengirim Roh Kudus, Roh Kudus akan memimpin gereja masuk ke dalam segala kebenaran. Kecelakaan besar dalam gereja adalah yang membicarakan Roh Kudus adalah pemimpin-pemimpin gereja yang paling tidak mengerti Roh Kudus, tetapi seolah-olah merekalah yang paling mengerti.

Roh Kudus dalam Injil Yohanes 14-16 adalah Roh yang disebut Roh Kebenaran. Sekarang Roh yang dibicarakan oleh banyak gereja adalah roh perasaan. Yang berteriak dipenuhi Roh Kudus, tetapi kebenarannya entah di mana? Roh Kudus adalah Roh yang membawa pikiran manusia, ingatan manusia kembali kepada jalur yang benar, Roh Kudus adalah Roh yang membawa kita kembali kepada Firman. Roh Kudus tidak pernah memimpin orang melawan Alkitab, karena Roh Kudus adalah Roh Kebenaran.

Tentang peperangan ini, ketegangan Yesus Kristus dengan orang-orang Farisi, ahli Taurat, para pemimpin agama sampai sedemikian sengitnya hingga mengatakan satu kalimat fakta yang menghancurkan relasi Kristus dengan mereka: “Bapamu bukan Allah! Bapamu adalah Iblis.” (Yoh. 8:40-44). Di sini peperangan harus membayar harga. Hari ini, banyak orang mau melayani Tuhan baik-baik, tetapi tidak bersedia berkorban. Ini bukan perjuangan Kristen. Peperangan ini bukan perang yang menguntungkan, tetapi sebuah peperangan yang menuntut penyangkalan diri, peperangan yang menuntut keberanian berkorban, peperangan yang berani seperti Yesus yang rela dipaku di kayu salib.

Dasar PEPERANGAN SEGALA ABAD - THE BATTLE OF THE AGES iman adalah iman yang ortodoks. Iman ortodoks adalah iman kekristenan yang betul-betul tidak berkompromi. Tetapi apa yang disebut sebagai iman Kristen? Agama Kristen berbeda dengan semua agama karena yang kita imani bukan kumpulan doktrin-doktrin yang dihasilkan dari pemikiran manusia tetapi adalah satu pengertian iman yang kita terima sebagai fakta sejarah bahwa kekristenan adalah Kristus. Christianity is Christ adalah credo. Kristus bukan sesuatu hasil bayang-bayang manusia, bukan ciptaan dari pikiran imajinasi, bukan hasil angan-angan manusia yang mengharapkan seorang juruselamat. Dia turun dari sorga kontak secara vertikal yang berbentur dengan sejarah yang mengakibatkan revolusi, mengakibatkan koreksi, mengakibatkan suatu pengharapan, pengarahan yang baru adalah Kristus. Segala kelimpahan Allah, bijaksana, kebenaran dan rencana-Nya yang kekal berada di dalam satu manusia, Pribadi Allah yang berinkarnasi, yaitu Yesus Kristus. Inilah iman Kristen yang sejati. Dengan iman seperti ini kita dimungkinkan terus berperang di dalam dunia ini.

Ada satu lukisan yang mempengaruhi saya yang sekarang ada di Musée d’Orsay di Paris. Lukisan di mana Yohanes berlari di depan Petrus dengan latar belakang danau Galilea. Peristiwa kebangkitan Kristus sungguh merupakan berita yang sangat mengejutkan dan menakutkan. Tidak ada yang lebih terkejut selain murid-murid Kristus, khususnya Petrus dan Yohanes yang diungkap dalam lukisan ini. Mata Petrus besar sekali, rambutnya ditiup oleh angin, tangannya dilipat satu dengan yang lainnya, matanya penuh dengan rasa ingin tahu, seolah-olah mengatakan, “Apakah Dia sudah bangkit? Apakah Dia masih mau mengampuni saya yang sudah tiga kali menyangkali Dia? Apa betul saya masih diterima oleh Dia? Saya mau pergi melihat Dia!“ Satu dorongan yang berat dari jiwa Petrus mendorong dia maju tapi karena Petrus sudah tua, maka memiliki gerakan lebih lambat sedikit. Oleh sebab itu, Yohanes ada di depannya. Semua pelukis agung adalah filsuf. Lukisan yang agung menceritakan ribuan kalimat, orang yang pandai melihat lukisan akan mendapat bijaksana, kristalisasi pengalaman manusia. Lukisan tersebut mengutarakan roh yang dinamis, pengharapan yang baru telah datang melalui kebangkitan Kristus.

Mengapa gereja begitu dingin? Karena gereja menganggap kalimat-kalimat dari atas mimbar tidak ada harganya. Saya tidak akan mengeluarkan satu kalimat yang tidak berharga dari mimbar. Yesus mengatakan begitu banyak kalimat, tetapi murid-murid-Nya melupakannya. Sekarang Roh Kudus datang mengingatkan mereka apa yang telah dikatakan-Nya. Sekarang mereka tahu Yesus bangkit, lalu mereka mulai berpikir bahwa apa yang Yesus pernah katakan, tidak diingkari-Nya. Apa yang dikatakan-Nya adalah kebenaran. Sampai berapa besar iman Saudara kepada kebenaran, sampai berapa banyak ketaatan Saudara kepada Firman, berapa perhatian Saudara kepada setiap kalimat penting yang sudah diucapkan oleh Tuhan? Manusia hidup bukan bersandar pada roti saja, akan tetapi bersandar pada setiap kalimat yang keluar dari mulut Tuhan Allah.

Kini begitu banyak lulusan sekolah theology, penginjil, bahkan kaum awam yang ingin cepat berkhotbah di mimbar, ingin cepat terkenal, dengan pengertian yang sangat dangkal. Orang-orang seperti ini sangat ingin menonjolkan diri. Kita melihat bagaimana Yudas tergeser dan terbuang. Tuhan Yesus tidak pernah membuang atau menghentikan rekan kerja-Nya, tetapi mereka akan pergi dan membuang diri mereka sendiri. Teguran terakhir Yesus adalah, “Dengan ciuman engkau menjual Aku?” Kalimat ini akan menghantui Yudas selama-lamanya, karena ia telah menjual Yesus di dalam dan mencium Yesus di luar. Inilah teguran untuk pengkhianat yang diingat selama-lamanya. Ketika kita bermain-main dengan iman dan mempermainkan kerohanian, kita tidak menyadari bahwa kita sedang berada dalam peperangan serius.

Martin Luther mengajarkan kepada orang Kristen tentang Theologi Salib. Ia mengajarkan dua aspek: 1) The Glorious Christ (Kristus yang Mulia), dan 2) The Suffering Christ (Kristus yang Sengsara). Alkitab menyatakan jika kita tidak melihat Kristus yang tersalib, kita tidak akan melihat Kristus yang mulia. Keduanya tak terpisahkan. Saat ini banyak gereja mau jalan pintas, ingin kemuliaan tanpa salib. Kita perlu mengalami rekonstruksi pikiran kita, untuk dikembalikan kepada Firman Tuhan, kembali kepada apa yang Kristus telah katakan, yang dicerahkan dan diingatkan oleh Roh Kudus.

Firman yang kekal adalah dasar PEPERANGAN SEGALA ABAD (THE BATTLE OF THE AGES) Firman itu telah selesai ditulis, tetapi pengertian Firman tetap membutuhkan pergumulan riil, yang menjadi kesulitan bagi orang-orang yang membaca kitab suci. Banyak orang belajar theologi hanya untuk mendapatkan nilai dan gelar, tetapi tanpa mempunyai iman yang baik. Mereka hanya mempunyai catatan sejarah bahwa mereka pernah belajar, pernah baca buku, pernah ikut ujian, dan pernah lulus. Orang yang lulus ujian di atas kertas tidak tentu lulus ujian dalam peperangan rohani. Kita perlu menyadari bahwa sebagian dari orang-orang yang masuk dalam neraka adalah orang-orang yang pernah belajar theologia sampai tingkat yang tinggi. Hegel, Darwin, Kierkegaard, dan Karl Marx adalah filsuf-filsuf besar yang pernah belajar theologia. Dari mereka semua, hanya Kierkegaard yang masih punya perasaan takut kepada Tuhan, sedangkan yang lain melecehkan kekristenan.

Iman penuh pergumulan. Pergumulan itu memungkinkan kita mengetahui bagaimana berperang selanjutnya dan bagaimana hasilnya. Agama Kristen adalah agama yang percaya kepada “dunia di atas,” tetapi terjun dalam peperangan “dunia di bawah.” Kita mendapatkan wahyu dari Tuhan dan wahyu itu diberikan kepada kita dengan menurunkan fakta sejarah. Fakta kelahiran Kristus, kemenangan Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus, kenaikan Kristus, dan turunnya Kristus kembali pada waktu hari kiamat ini merupakan fakta sejarah yang merangkai iman Kristen. Di sinilah gereja yang sejati harus membangun diri. Gereja sejati, pertama-tama, harus kembali kepada iman para Rasul. Gereja yang sejati adalah gereja yang setia kepada pengajaran para Rasul.

Sekitar tahun 1991-1995 merebak ajaran Kharismatik. Di dalam gereja ini sebenarnya banyak orang yang cinta Tuhan, tetapi mereka mengacaukan antara “apostolic faith” dengan “apostolic ministries.” Apostolic faith (Iman Rasuli) adalah credo, ajaran yang dipegang oleh para Rasul. Ini yang harus terus dipertahankan. Gereja harus kembali kepada ajaran Rasuli. Apostolic ministries (Pelayanan Rasul) adalah fenomena-fenomena yang dilakukan oleh para Rasul. Orang Kharismatik menganggap bahwa apostolic faith adalah mujizat, karunia lidah, kesembuhan, dan lain-lain. Itu adalah apostolic ministries. Akibatnya, mereka justru menyepelekan dan mengabaikan doktrin, mengabaikan apostolic faith yang sesungguhnya.

Di dalam menyikapi apostolic ministries, kita perlu teliti melihat bahwa tidak semua Rasul melakukan semua yang digolongkan dalam apostolic ministries. Tidak semua Rasul melakukan mujizat, tidak semua Rasul menyembuhkan, tidak semua Rasul digigit ular dan tidak mati, dan tidak semua Rasul berbahasa lidah. Tanda-tanda yang disebut dalam Markus 16:17-18 seringkali dianggap sebagai tanda orang yang diselamatkan. Kita perlu mengetahui bahwa bagian ayat ini tidak mutlak ada, karena tidak ada pada manuskrip-manuskrip Alkitab yang paling tua. Di sini inti penyelewengan itu, yaitu fenomena pelayanan dianggap sebagai iman kepercayaan. Yesus pernah mengatakan, “Jangan beranggapan bahwa semua orang yang mengusir setan, melakukan mujizat, bernubuat dalam nama Yesus, akan masuk sorga. Sesungguhnya dia yang melakukan kehendak Bapa yang masuk kerajaan sorga.” Tuhan Yesus berkata, “Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah engkau sekalian pembuat kejahatan.” Jadi yang menjadi titik pusat bukan gejala pelayanan, melainkan iman kepercayaan sesuai dengan apa yang dikatakan Kristus dan dikonfirmasikan oleh Roh Kudus, yang adalah Roh Kebenaran.

1. Tantangan Politik:

Para murid mulai bergumul berhadapan dengan tantangan pertama yang datang dari politik dan kerajaan Romawi. Ketika Oktavianus menjadi kaisar, Romawi berubah dari republik menjadi kekaisaran, dan itu disertai dengan semangat ekspansi yang begitu kuat. Semangat ekspansi ini karena ketakutan adanya ancaman. Kekristenan bukan berperang karena semangat ketakutan, sifat paranoid, atau ambisi-ambisi manusia. Kekristenan berperang karena memang antara Kristus dan setan terjadi peperangan laten, di mana kita berada di dalamnya. Kekaisaran Romawi memberikan toleransi kepada orang Yahudi untuk tidak melihat kaisar sebagai Tuhan, tetapi boleh menyembah Yehowah.

Namun, kini ada satu lagi yang mengaku sebagai Tuhan, yaitu Yesus. Maka, pengikut Tuhan yang baru ini perlu dianiaya. Di sinilah mulai terjadi serangan dan penganiayaan terhadap orang Kristen. Tuhan Yesus baru saja bangkit dan Roh Kudus baru saja turun. Gereja baru saja tumbuh dan berkembang. Dan saat itu penganiayaan telah datang untuk berusaha menumpas kekristenan. Ribuan orang, karena iman kepada Kristus, dibunuh. Inilah peperangan yang mulai meletus. Sampai empat abad penganiayaan para kaisar Romawi terhadap orang Kristen membinasakan ratusan ribu orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.

Itu sebabnya, Paulus mengatakan di dalam konteks penganiayaan seperti ini, bahwa orang yang percaya Yesus adalah Tuhan, pasti diselamatkan (Rom. 10:10). Tantangan pertama muncul justru dari politik Kerajaan Romawi. Tantangan serius terhadap kekristenan muncul dari kekuatan politik yang tidak menghendaki orang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Tantangan politik ini terus terjadi di sepanjang sejarah hingga kini dan menjadi tekanan bagi iman Kristen dan penganiayaan bagi orang yang percaya Yesus adalah Tuhan.

2. Tantangan Filsafat: PEPERANGAN SEGALA ABAD (THE BATTLE OF THE AGES)

Tantanan kedua muncul dari filsafat Gerika. Filsafat Gerika mencampur berbagai pikiran yang sangat dalam dengan istilah yang bermutu sangat tinggi, membuat orang menyangka pikiran ini bertingkat akademis tinggi. Ada asumsi bahwa yang berakademis tinggi adalah orang pandai, dan kalau pandai pasti tidak salah. Filsafat Gerika menakut-nakuti orang dengan keindahan sastra dan pikiran yang begitu tinggi, sehingga membius mereka dan membuat mereka tidak mengetahui kelemahan yang ada dalam filsafat tersebut. Sebelum Sokrates, filsafat Gerika tidak mempunyai arah yang jelas, namun kemudian Sokrates mementingkan antropologi, dan bukan theologi. Akibatnya, filsafat Gerika mengembangkan studi antropologi yang mendalam. Sokrates menekankan “kenallah dirimu” (gnoti seauton). Sebelum mengenal yang lain, kenallah diri kita sendiri terlebih dahulu, karena dari situ kita baru bisa mengenal segala sesuatu. Alkitab mengatakan bahwa kita harus “mengenal Allah” terlebih dahulu. Pengenalan akan Allah adalah awal dari bijaksana. Sokrates hanya mengenal “pengenalan diri sebagai awal pengetahuan.” Sokrates menolak semua mitos-mitos dan cenderung percaya adanya Allah yang esa. Tetapi konsepnya tidak jelas dan terpengaruh oleh konsep reinkarnasi. Filsafat metafisika yang percaya adanya satu Allah inilah yang membuat Sokrates dihukum mati. Orang menuduh Sokrates atheis karena telah meninggalkan dewa-dewa Yunani.

Lalu apa beda filsafat dan theologi? Keduanya berbicara tentang Allah; keduanya berbicara tentang arti hidup; keduanya berbicara tentang etika; keduanya berbicara tentang politik dan hukum. Saya merangkum dengan satu kalimat: “Filsafat selalu mempertanyakan setiap jawaban, sedangkan theologi menjawab setiap pertanyaan.” (Theology keeps answering the questions and philosophy keeps questioning the answers). Alkitab telah memberikan jawaban-jawaban yang tuntas bagi pertanyaan-pertanyaan yang paling penting dalam kehidupan manusia. Hanya seringkali banyak orang Kristen tidak melihat dan tidak menjelajah ke dalam pertanyaan filsafat dan melihat jawabannya di dalam Alkitab. Beberapa waktu yang lalu saya mengadakan seminar “Kritik terhadap Da Vinci Code.” Seminar gratis ini dilakukan karena manusia membutuhkan jawaban. Orang di dunia butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang paling krusial tentang hidup. Kekristenan tidak butuh dikasihani. Sebaliknya, kekristenan sangat kasihan kepada manusia yang sedang binasa, yang membutuhkan jawaban bagi hidupnya.

Ada seorang murid saya di Bandung yang meminta saya menjenguk dan menginjili seorang pemilik bank yang sakit keras. Saya pergi ke rumah sakit dan mendoakannya. Saya menjelaskan kepadanya bahwa Tuhan Yesus mencintai dia. Sesudah saya mendoakannya, ia mengatakan bahwa nanti kalau sembuh dia harus membantu gereja yang mana, karena begitu banyak pendeta yang mendoakannya. Saya menjawab, “Tuhan tidak membutuhkan pertolonganmu. Memang engkau pemilik bank yang kaya, tetapi maafkan, tolonglah dirimu sendiri. Karena yang perlu ditolong adalah jiwamu, yang kalau mati akan masuk neraka. Kristus datang mati bagimu. Engkau tidak perlu memberi persembahan, karena dari kalimatmu saya tahu bahwa engkau belum Kristen dan engkau belum mengerti apa itu persembahan. Khususnya gereja saya tidak akan memberikan alamat, karena engkau tidak berhak menolong kami. Engkaulah yang paling kasihan, yang memerlukan pertolongan Kristus. Itu sebabnya saya datang berdoa bagimu.” Dia sangat terkejut, dan saya juga sedikit terkejut melihat dia terkejut. Sekarang berapa banyak orang selalu beranggapan bahwa Tuhan butuh diberi makan oleh kekayaannya, agar Tuhan tidak kelaparan.

Jika kita berkesempatan mendengarkan khotbah, itu adalah anugerah. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kita harus bersyukur kepada Tuhan, karena dari sini kita mengerti apa arti peperangan rohani. Orang Kristen diserang oleh berbagai filsafat dan terjepit di tengah berbagai ajaran sesat. Mereka dirayu oleh dunia, diajar dengan berbagai tafsiran yang sembarangan dan serong. Jangan ikut sembarang gereja, yang akhirnya menyesatkan dan membinasakan engkau. Ikut sembarang gereja sama seperti menikahi sembarang wanita. Kita harus kembali kepada Tuhan yang sejati, kepada kebenaran Firman yang sejati dengan tafsiran dan ajaran yang betul-betul setia. Kita tidak boleh menyamakan Tuhan dan hantu. Celaka jika kita tidak bisa membedakan mana Tuhan, mana hantu. Peperangan ini tidak main-main.

Maka, kalau saya simpulkan, di tengah penganiayaan politik, tipuan dari berbagai filsafat dunia yang menyesatkan, dan tekanan dari berbagai bidat-bidat dengan ajaran-ajaran yang membawa kepada kebinasaan, kita perlu lebih peka. Gereja harus peka, harus bangun, dan harus bersiap untuk berperang. Peperangan orang Kristen awal berlangsung sengit di abad kedua dan ketiga. Sampai pada abad keempat Tuhan membangkitkan Agustinus yang menetapkan banyak dasar pengajaran penting gereja, sehingga gereja menjadi kokoh. Namun, peperangan ini belum berhenti di situ. Peperangan ini terus terjadi di sepanjang zaman. Berbagai bentuk baru muncul, namun esensi yang ada tetap sama. Maka kini kita terpanggil masuk ke dalam peperangan rohani, di mana kebenaran Tuhan perlu kembali ditegakkan, pengajaran Firman perlu dikumandangkan, credo yang benar dinyatakan di tengah dunia, dan cinta kasih Tuhan diberitakan. Soli Deo Gloria.

Roh Kudus turun ke dunia untuk melengkapi orang Kristen sehingga mereka mengetahui apa yang menjadi iman kepercayaan mereka, karena Roh mengingatkan kembali pikiran mereka kepada apa yang sudah pernah diucapkan oleh Kristus. Roh akan memuliakan Kristus, Roh akan menolong manusia bertobat, Roh akan menegur diri setiap orang tentang dosa, tentang penghakiman, dan tentang kebenaran. Roh akan memimpin gereja masuk ke dalam kebenaran sepenuhnya selengkapnya. Inilah pekerjaan Roh Kudus yang dinyatakan dalam Injil Yohanes.

Di dalam peperangan rohani, diperlukan kesadaran siapakah musuh, apa siasat Iblis, dan membutuhkan kuasa yang bisa kita andalkan. Tanpa kesadaran ini, Gereja akan bersantai dan tidak menyadari realita yang sedang dihadapinya. Para pendeta hanya sibuk mencari kekayaan bagi dirinya, dan mengejar kenikmatan duniawi, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi secara rohani. Bukan maksud saya gereja tidak perlu mempedulikan kesejahteraan hamba Tuhan, tetapi hamba Tuhan yang tidak pernah dilatih bertahan dalam berbagai kesulitan yang besar, bertahan dan melakukan kehendak Tuhan lebih dulu daripada menikmati hidup, akan sulit menjadi pemimpin rohani.

Roh Kudus turun justru untuk melengkapi orang Kristen mengetahui bagaimana berdiri tegak dan bagaimana menghadapi segala permusuhan yang datang dari luar dan segala kerusakan di dalam gereja. Saya kira, Gereja abad pertama setelah Kristus naik ke sorga mengalami kesulitan-kesulitan yang tidak pernah dialami oleh siapapun di dalam dunia ini. Mereka berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang begitu besar menjepit orang-orang yang tidak memiliki kekuatan secara duniawi sama sekali. Dan pada saat itu, Kristus menjadi teladan. Ketika Yesus berada dalam dunia, Dia tidak memiliki posisi dalam agama, tidak ada kedudukan dalam militer, tidak didukung kekuatan ekonomi, tidak memiliki kuasa politik, dan tidak ada kedudukan apapun di dalam masyarakat.

Yesus seorang diri, tanpa gelar akademis, tanpa pengalaman kepemimpinan di berbagai organisasi, muncul di usia 30 tahun dan berteriak, “Bertobatlah kamu! Karena kerajaan Allah sudah dekat” (Mat. 4:17). Sepanjang tiga setengah tahun Dia dengan berani mengatakan apa yang harus Dia katakan. Sesudah itu tidak ada kesempatan lagi, karena Dia digantung, dipaku di atas kayu salib. Apa yang bisa dikerjakan oleh seorang pendiri agama yang hanya memiliki waktu kerja tiga setengah tahun lamanya? Buddha Sakhiomonis hidup 80 tahun lebih, Konfusius 72 tahun, Laozi 80 tahun, Abra­ham 175 tahun, Musa 120 tahun, dan Mohammad 62 tahun. Semua pendiri agama paling sedikit mem­pu­nyai aset usia yang cukup panjang untuk pelan-pelan mempelopori doktrinnya. Yesus hanya tiga setengah tahun menuntaskan seluruh panggilan dan tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya.

Ketika disalibkan Dia tidak pernah menulis sebuah lagu Kristen, belum mendirikan sebuah gedung gereja, belum membuat partai Kristen, belum membentuk militer Kristen untuk berperang. Tetapi apa yang dikerjakan oleh Kristus tidak mungkin dikerjakan oleh semua kuasa militer, politik, masyarakat, ekonomi, atau apapun, karena enam kekuatan yang diandalkan manusia, yaitu kekuatan militer, politik, agama, ekonomi, masyarakat, dan alam menjadi kuasa yang memusuhi Kristus. Gereja sekarang justru mengandalkan semua kekuatan dunia tersebut. Pendeta cari orang kaya, kalau bisa mendapat sekian milyar untuk membangun gereja itu namanya sukses. Semua gereja Amerika menggunakan cara anggaran dan pencarian dana yang sangat berbeda dari prinsip cara kerja Kristus. Saya memelopori sesuatu yang berbeda dengan semua sistem dunia karena saya ingin kita kembali kepada semangat perjuangan Alkitab.

Kristus tidak mengandalkan kekuatan apapun dari dunia ini. Dia hanya mengandalkan Roh yang berada dalam diri-Nya. Peran dan kehadiran Roh Kudus sedemikian penting, tetapi sekarang diajarkan, digembar-gemborkan, diteriakkan oleh orang yang banyak bicara tentang Roh Kudus tanpa mengerti doktrin Roh Kudus. Kita sedang berada dalam kebahayaan yang luar biasa besar. Karena itu, perlu suatu gerakan untuk memperjuangkan kemurnian iman Kristen untuk menegakkan kembali apa yang seharusnya menjadi arus utama (mainstream).

Pada awal abad ke-20 ajaran-ajaran yang salah ini masih di pinggiran menjadi ajaran aneh yang ditertawakan dan dikasihani oleh gereja-gereja arus utama. Tetapi 89 tahun kemudian, ajaran yang salah ini telah memiliki 238 juta anggota di seluruh dunia. Justru dalam jangka waktu yang sama gereja-gereja Protestan, termasuk Methodist, Anglikan, Presbyterian, Brethren, dan yang lainnya merosot luar biasa. Yang tadi kaum marginal, yang di pinggiran, kini telah mengambil alih arus utama. Sementara itu, yang memiliki ajaran yang Orthodox semakin meninggalkan ajarannya dan bergeser ke pinggiran.

Di abad ke-20, selama seratus tahun Eropa menjadi tempat yang paling banyak mengirim misionaris ke seluruh dunia, tetapi sekarang menjadi tempat yang paling gersang, kosong, dingin, dan kering secara rohani. Mengapa? Karena selama waktu itu tidak ada pemimpin yang berteriak untuk kembali kepada Tuhan. Di Amerika Serikat, akhir abad ke-19 Billy Sunday masih berteriak seperti itu, sebelumnya ada D. L. Moody, dan sesudahnya ada Billy Graham. Siapa yang akan meneruskan setelah Billy Graham tidak ada lagi? Banyak Mega Church di Amerika hanya mengumpulkan sisa-sisa jemaat yang pindah dari berbagai gereja. Besar yang mengumpulkan sisa adalah besar yang tidak berarti; sebaliknya, kecil yang tetap bertumbuh tanpa ada batasan, itulah kecil yang menakutkan.

Gereja yang ajarannya salah, semakin banyak anggota harus semakin malu, karena gereja itu mengumpulkan begitu banyak orang, tetapi mereka tidak mendengar khotbah yang baik. Mereka mendapat begitu banyak anggota dan menghentikan mereka untuk menerima ajaran yang benar. Pemimpin gereja seperti ini dosanya berlipat ganda. Itulah cara berpikir antitesis. Bagi saya, jika ada seorang pendeta hanya mendapatkan 20 juta, padahal dia punya kemampuan senilai 100 juta, maka jangan kita menduga dia hanya memberi 2 juta sebagai perpuluhannya. Kita harus menghitung bahwa dia telah memberikan 80 juta. Inilah cara hitung antitesis.

Orang kaya yang memberikan 10 juta, tetapi seharusnya memberikan 1 miliar, maka sekalipun ia sudah bisa memberikan uang besar, tetapi ia sudah pencuri uang Tuhan 990 juta. Sekalipun Anda miskin, jika Anda betul-betul menjalankan kehendak Tuhan, saya akan sangat menghargai Anda dan menjadikan Anda teladan bagi hidup saya. Paulus mengatakan bahwa tidak ada seseorang yang boleh mengganggunya karena di dalam tubuhnya ada tanda salib Kristus. Lama sekali saya merenungkan arti ayat ini. Tidak ada sesuatu yang bisa merayu aku, tidak ada militer yang bisa menakut-nakuti aku, tidak ada kekayaan yang bisa membuatku tergiur. Aku tidak mau tunduk kepada kekayaan, aku tidak akan dirayu oleh perzinahan dan takluk kepada kekuasaan.

Mensius pernah mengajarkan bahwa gentleman (orang agung) memiliki tiga syarat: 1) Waktu kaya dia tidak akan menurunkan derajat moralnya, akan tetap hidup suci. 2) Waktu miskin dia tidak akan berubah atau goncang sedikitpun fondasi karakter, watak, dan moralnya. 3) Waktu ditakut-takuti oleh militer dengan kuasa sebesar apapun, dia tidak akan berkompromi. Hari ini, begitu banyak orang yang sudah lulus sekolah theologi masih menjadi little man (orang kerdil), karena yang selalu dibicarakan adalah keuntungan, muka sendiri, gengsi diri, dan selalu memikirkan manfaat bagi diri sendiri. Itu sebab saya sangat berharap boleh membangkitkan sekelompok orang yang benar-benar mengutamakan Kristus, merindukan kemuliaan Kristus, mengutamakan Injil, mengutamakan hidup suci, mengutamakan peperangan rohani dengan setan tanpa kompromi. Orang-orang seperti ini yang akan mengubah dunia. Inilah misi dari Gerakan Reformed Injili.

Saat ini begitu sedikit hamba Tuhan dan orang Kristen yang sungguh-sungguh mau memikirkan peperangan rohani yang sejati, mau berperang melawan Iblis, melawan dosa, tanpa kompromi. Begitu banyak orang Kristen dan hamba Tuhan yang bergelar tinggi, tetapi ketika harus berkorban atau mengalami kesulitan sedikit saja sudah marah-marah kepada Tuhan. Itukah utusan Kristus? Kalau ujian dapat nilai A, tetapi ketika diminta memikul salib, langsung lari. Yesus berkata, “Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat. 10:16). Peperangan seperti ini sangatlah berat dan tidak mudah. Serigala adalah binatang yang sangat kejam terhadap domba. Domba itu akan dicabik-cabik sebelum sempat berteriak, lalu dihabisi perlahan-lahan. Tuhan Yesus tidak pernah menyediakan segala kenikmatan dan fasilitas bagi Petrus untuk pergi memberitakan Injil. Inilah cara kepemimpinan yang saat ini dibuang oleh semua perusahaan dunia. Maka sulit tampil pemimpin-pemimpin yang berkarakter kuat. Demikian pula di dalam Kekristenan.

Di dalam film “Yesus” yang diberitakan oleh Campus Crusade for Christ ada satu kalimat yang sangat menggerakkan saya, yaitu, “Christianity starts with a very humble beginning.” Kristus dilahirkan di palungan. Ia telah berjuang dan bekerja dengan begitu berat, hingga naik ke kayu salib. Orang seperti inilah yang mempunyai kekuatan dan bersyarat penuh untuk boleh memberikan perintah agar engkau pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil.

Saya berani mengutus orang, saya berani meminta orang bekerja berat, sebab saya telah menjalankan itu di sepanjang hidup saya ini. Saya telah memeras hidup saya sedemikian rupa, dan betul-betul menjepit setiap menit hidup saya. Paulus berkata kepada jemaat, “Teladanilah aku seperti aku meneladani Kristus” (1 Kor. 11:1). Kini Stephen Tong berkata, “Bekerjalah dan berjuanglah sekuat mungkin demi peperangan rohani, jangan santai!” Orang yang terus duduk di sofa yang empuk dan nyaman akan mudah jatuh tertidur. Gereja bertumbuh justru ketika mengalami salib dan sengsara Kristus. Kesulitan-kesulitan besar memberikan kemungkinan untuk gereja bertumbuh. Peperangan rohani di dalam iman kepercayaan sangat dibutuhkan oleh gereja-gereja masa kini. Kiranya Tuhan berkenan memakai kita untuk turut berperang di dalam misi Kerajaan-Nya.

Di dalam abad II, Gereja mengalami goncangan akibat serangan dari berbagai bidat, filsafat, dan politik, yang menuntut Gereja harus bertahan dengan berperang terus. Di abad II dan III terjadi dua kali peperangan besar di dalam Gereja, yaitu tentang ajaran Tritunggal dan Kristologi. Allah Kristen adalah Allah Tritunggal; Allah yang bukan Tritunggal bukan Allah Kristen.

Mengapa doktrin Allah Tritunggal menjadi iman ortodoks? Pada waktu itu ada seorang bernama Arius. Arius mengajarkan bahwa Yesus bukan sepenuhnya Allah. Yesus hanyalah manusia yang sebenarnya adalah Allah ciptaan. Jadi Allah itu dua macam: Allah Sang Pencipta dan Allah yang dicipta. Arius mengatakan, karena Yesus dicipta oleh Allah maka kita tidak boleh sembah sujud kepada-Nya sama seperti kepada Allah Bapa. Karena Arius begitu fasih berkhotbah maka ajaran ini diterima. Maka hampir seluruh gereja di Eropa dipengaruhi oleh ajarannya, juga di Asia.

Saat itu ada seorang muda yang mengatakan bahwa apa yang diajarkan oleh Arius tidak benar dan ia menyatakan perang, karena jika dibiarkan, dunia tidak akan percaya lagi kepada doktrin Allah Tritunggal. Berkuasa, fasih lidah, khotbah yang menarik begitu hebat, tetapi ajarannya salah, sangat berbahaya. Makin banyak mempunyai anggota, gereja-gereja seperti ini makin mempermalukan. Kesuksesan tidak boleh diukur hanya dengan jumlah orang yang mengikuti kebaktian.

Orang muda ini mengatakan bahwa ia akan keliling berkhotbah bahwa Allah itu Tritunggal dan hanya Allah Tritunggallah Allah yang sejati: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Tiga Pribadi Allah ini sama kuasa, sama mulia, sama kekal, sama bersifat ilahi, sama Pencipta, sama Penebus, dan sama Pewahyu. Pemuda ini bernama Athanasius. Arius menganggap Athanasius mengganggu, maka Athanasius diajukan ke pengadilan oleh Arius. Akibatnya, Athanasius dibuang ke tempat yang jauh, tetapi dia lari pulang dan mengabarkan Injil lagi. Ia dibuang sampai tiga kali. Athanasius mendapat pembuangan dari pemerintah, karena yang berkhotbah Allah bukan Tritunggal memiliki kuasa politik yang besar dan memperalat kuasa pemerintah untuk menganiaya orang yang berkhotbah benar. Maka, jika engkau mengikuti Gerakan Reformed Injili lalu mendapat penganiayaan, sudah siapkah Anda?

Athanasius diperingatkan oleh seorang tua untuk tidak melawan karena seluruh dunia memihak Arius. Athanasius menjawab: “Jikalau demikian, maka saya Athanasius akan melawan seluruh dunia, demi menegakkan doktrin yang benar. Saya harus memberitakan Allah Tritunggal, karena inilah ajaran yang benar dari Alkitab.” Adakah semangat seperti ini di dalam hatimu dan hatiku? Adakah pemuda-pemudi seperti Athanasius? Kredo (Pengakuan Iman) Athanasius sampai sekarang masih dijunjung tinggi, karena ada pemuda yang berjuang dengan semangat keberanian seperti itu.

Selain doktrin Allah Tritunggal, doktrin Kristologi juga menjadi perdebatan yang sangat besar. Marcion dan semua orang yang ajarannya salah telah mempengaruhi begitu banyak orang. Timbul bidat Apolinarianisme, Nestorianisme, dan berbagai ajaran yang salah, menyebabkan Gereja harus menetapkan kepercayaan siapa itu Kristus.

Kristus adalah manusia sejati yang yang dilahirkan oleh anak dara Maria, dengan naungan kuasa Roh Kudus yang menurunkan Firman menjadi daging, dan Dia adalah Allah yang sejati. Kristus adalah Allah dan sekaligus manusia. Kristus sekaligus mempunyai sifat ilahi dan sifat manusia, maka Dia mungkin menjadi Perantara di tengah-tengah Allah dan manusia. Ini iman yang harus diperjuangkan dan dipertahankan dengan berperang melawan semua ajaran Kristologi yang salah. Seluruh pertempuran iman abad II dan III akhirnya terkumpul di dalam diri Agustinus, ketika dia hidup menulis satu buku Civitas Dei (City of God).

Saya minta Saudara memperhatikan tiga orang, yaitu Agustinus, John Calvin, dan Karl Barth. Ketiga orang ini tidak menggunakan istilah Theologi Sistematika dan tidak memakai istilah theologi dalam buku-bukunya. Calvin menggunakan Institutes of the Christian Religion, Karl Barth memakai istilah Church Dogmatics, dan Agustinus memakai istilah Civitas Dei. Buku-buku mereka yang paling penting tidak memakai istilah theologi, karena istilah “theologi” sebenarnya dari zaman sebelum Socrates itu berarti mythology. Tidak salah jika sekarang kita menyebut theologi sebagai ilmu Ketuhanan, tetapi istilah ini pernah dipakai oleh filsafat Gerika kuno dengan pengertian “mitos.” Dalam Abad Pencerahan timbullah istilah “theologi” yang tidak dikaitkan dengan istilah “mitologi.” Dari sini mulai timbul sistematika. Orang yang mengandalkan organisasi yang rapi, semua harus berada dalam sistem. Kalau segala sesuatu sudah menjadi sistem, maka manusia menjadi mati. Manusia memiliki tujuh sistem dalam tubuh, akan tetapi yang membuat sistem itu hidup adalah sesuatu kekuatan organik (Organic Power), bukan kekuatan sistem (Systematic Power). Di sini kita melihat Theologi Sistematika sebenarnya sudah terjebak oleh Abad Pencerahan (Aufklärung) yang kemudian menuju kepada Abad Ideologi.

Agustinus membedakan antara kota di dunia yang terus berkembang tetapi akhirnya akan menyusut dan lenyap, sementara kota yang dibangun oleh Kristus di dalam dunia dari kecil akhirnya berkembang menjadi Kerajaan Allah kita di dalam Kristus. Di sini kerajaan Allah semakin lama semakin besar sampai pada akhirnya Yesus datang kembali. Theologi Reformed melihat Akhir Zaman seperti yang Alkitab ungkapkan. Dalam perjalanan sejarah, orang beriman akan semakin menyusut dan dosa akan semakin melanda dunia. Yang berkuantitas besar sulit menemukan ajaran dan jalan yang benar. Yang melihat kebenaran hanya sedikit. Saya percaya Gerakan Reformed sedang membawa sedikit orang yang melihat pentingnya kesungguhan dan kemurnian Firman untuk berperang terus dengan arus besar yang melawan Alkitab. Agustinus kemudian memikirkan satu kebenaran penting tentang kedaulatan Allah yang nantinya sangat mempengaruhi John Calvin di dalam doktrin predestinasinya. Agustinus menemukan bahwa Tuhan selalu berinisiatif mendahului reaksi manusia. Calvin menerapkan hal ini dalam doktrin predestinasi bahwa sebelum manusia bisa mencari Tuhan, Tuhan sudah mencari manusia terlebih dahulu (The grace of God is prior to human’s response).

Alkitab sangat menekankan doktrin atau pengajaran Firman. Paulus menasihati Timotius untuk mengawasi diri dan mengawasi doktrinnya (1Tim. 4:16). Sejak 30 tahun yang lalu saya sudah mendengar orang mengatakan bahwa doktrin tidak penting, yang penting adalah kuasa Tuhan. Pertanyaannya adalah, apakah engkau percaya akan Allah Tritunggal? Jika ia percaya, maka itu adalah doktrin; jika tidak percaya, ia sudah menjadi bidat yang melawan doktrin iman Kristen yang benar. Dari abad IV, doktrin kedaulatan Allah sudah ditegakkan, dan itu berpengaruh ke sayap Luther dan Calvin. Luther melihat implikasi di dalam doktrin “dibenarkan melalui iman.” Calvin tetap menekankan kedaulatan Allah dan doktrin anugerah.

Antara abad IV sampai abad X merupakan Abad Kegelapan. Pada abad XI terjadi perpecahan besar antara Roma Katholik dengan Ortodoks. Perdebatan ini menyangkut tema apakah Roh Kudus dikirim oleh Allah Bapa, atau keluar dari Bapa dan Anak.

Peperangan berikut di tahun 1453 dengan hancurnya Konstantinopel oleh orang Islam. Islam menghancurkan Konstantinopel, yang kemudian menjadi Istambul, dengan meriam besar yang dibuat oleh orang Kristen dan dijual ke orang Islam untuk menghancurkan orang Kristen sendiri. Jika kita mempelajari sejarah, kita akan menemukan bahwa barangsiapa mengutamakan uang dan diri pasti akan menghancurkan banyak hal. Demi uang, kawan bisa jadi lawan; demi uang, dunia didahulukan dan pekerjaan Tuhan ditinggalkan. Demi kepentingan diri, kebenaran akan dikompromikan dan Firman Tuhan diabaikan. Mari kita bekerja, berperang hanya untuk Tuhan, untuk Firman, untuk kebenaran, dan untuk kerajaan-Nya.

Kita tidak bisa menjadi laskar Kristus jika kita hanya mempedulikan kepentingan kita, mencari keuntungan bagi diri kita sendiri. Kita tidak bisa dipakai Tuhan, karena yang diutamakan adalah diri kita sendiri. Berbahagialah mereka yang sehati di dalam hidup hanya mau memuliakan Tuhan dan kebenaran-Nya. Berbahagialah mereka yang mau berjuang hanya bagi kerajaan-Nya untuk menggenapkan kehendak-Nya.

Gerakan Reformed Injili dimulai oleh seorang yang berjuang keras dan hanya mau melihat pimpinan dan kehendak Tuhan digenapkan. Jika saya mau, sekitar 30 tahun lalu sudah bisa menjadi Uskup di Hongkong menggantikan Uskup di sana, atau menjadi pendeta besar di Amerika. Tetapi saya meninggalkan Malang sekeluarga untuk memulai gerakan ini. Ketika gerakan ini dimulai, selama dua tahun penuh saya tidak menerima honor sama sekali dari GRII. Saya harus menanggung delapan anggota keluarga saya dengan bersandar pada Tuhan. Saya bukan masuk ke GRII dengan semua fasilitas sudah disediakan. Ketika gerakan ini dimulai, kita tidak memiliki tempat, harus menyewa setiap minggu untuk kebaktian. Tuhan memberkati, sampai hari ini Tuhan mencukupkan semua, bahkan bisa memberikan persembahan ke berbagai badan atau lembaga Kristen. Gereja ini bisa mendukung pelayanan lain, tetapi tidak satu rupiah pun dikirim untuk mendukung sekolah anak saya. Biarlah semangat dan perjuangan pelayanan seperti ini boleh menjadi teladan bagi setiap orang yang berjuang untuk kemuliaan Tuhan dan penggenapan kehendak-Nya.

Abad XI sampai abad XV adalah Abad Pertengahan. Di zaman ini filsafat dan theologi diaduk menjadi satu, sampai Martin Luther dan Calvin bangkit. Mereka meneriakkan Sola Scriptura, artinya jangan lagi minta dukungan dari Aristoteles, jangan lagi bersumber dari Sokrates, Plato, jangan lagi mendengar Neo-Platonism. Jangan lagi mencampuradukkan Firman dengan pikiran filsafat manusia. Marilah kita murni kembali kepada Firman Tuhan. Gerakan sedemikian adalah gerakan yang terlalu besar dan terlalu agung. Dalam Institutes of the Christian Religion ada lebih dari 6.000 kutipan ayat yang dipakai Calvin untuk mendukung doktrin yang ditegakkan. Calvin tidak mendirikan doktrin baru. Calvin hanya mengupas Kitab Suci, menyinkronkan seluruh ayat dan membawa seluruh manusia masuk ke setiap detil kebenaran Firman dengan begitu teliti dan konsisten. Semenjak kekristenan sampai sekarang, orang yang pikirannya paling konsisten dari permulaan sampai akhir hanyalah John Calvin.

John Calvin adalah salah satu pemberian Tuhan kepada umat manusia yang sangat luar biasa. Tuhan memakai Martin Luther untuk merobohkan iman yang salah dari sistem Roma Katholik. Setelah Katholik dijatuhkan, 100 tahun kemudian di Jerman orang Kristen hidup berfoya-foya, mabuk-mabukan, maka perlu Pietisme. Tetapi Tuhan memakai Martin Luther menjatuhkan ajaran yang salah dari Katholik. Ada doktrin Katholik yang benar, tetapi semua yang salah dirobohkan. Tetapi Luther tidak membangun kembali doktrin yang benar; Tuhan memakai Calvin. Pikiran Calvin begitu sistematis, konsisten, tajam, dan begitu akurat. Dia membangun selama beberapa puluh tahun sejak usia 26 tahun sampai sebelum mati Institutio menjadi buku yang agung, sehingga Will Durant pada tahun 1920 mengatakan “The Institutes of the Christian Religion is one among the ten books that change the history of mankind.” Apakah Calvin didewakan? Tidak! Calvin tetap memiliki kelemahan. Namun, sekalipun memiliki kelemahan, pikiran Calvin tetap dipakai Tuhan untuk mengadakan perubahan, maka kita harus meneruskan.

Peperangan dari abad ke abad sudah tiba pada periode engkau dan saya. Selama hidup dalam dunia, kita tidak bisa mengendur. Kita tidak boleh mengantuk, tidak boleh tidur, tidak boleh malas. Kita tetap terutus seperti domba di tengah-tengah kawanan serigala. Kita tetap diperhadapkan kepada orang Kanaan yang lebih gagah, lebih kuat dari kita. Namun, ada satu hal, yaitu iman di dalam diri tidak boleh kompromi dan melalui iman itu Tuhan akan memberikan kemenangan. Soli Deo Gloria!

Pembinaan yang baik bukanlah sekedar mengisi waktu, tetapi sungguh-sungguh membangun hidup, iman, karakter dan mentalitas, serta semangat juang bagi Kerajaan Allah. Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yoh. 12:26). Apakah mungkin seorang yang berdosa, yang penuh dengan kekurangan ini dihormati oleh Allah Bapa? Tetapi ini bukan kalimat manusia. Kalimat ini dinyatakan oleh Tuhan Yesus sendiri. Jika kita sungguh-sungguh melayani Kristus, maka Allah tidak enggan untuk menghormati kita. Kehormatan seperti ini adalah kehormatan yang begitu dahsyat, yang jauh lebih agung dari kehormatan mana pun atau dari siapa pun. Allah menghormati mereka yang hidup sungguh-sungguh melayani Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, barangsiapa menjadi hamba Tuhan janganlah sombong, karena dia hanya sekedar mengisi waktu, sementara masih begitu banyak orang yang lebih berpotensi belum dipanggil oleh Tuhan. Sebaliknya, jangan orang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan Yesus menjadi minder, karena Allah Bapa di sorga menghormati kita.

Peperangan-peperangan rohani yang kita hadapi dan yang harus kita kerjakan adalah peperangan yang paling sengit dan begitu serius. Peperangan ini jauh lebih serius dari Perang Dunia I dan II. Perang Dunia hanya peperangan yang membunuh manusia dan tidak ada manfaat yang positif secara totalitas. Perang Vietnam adalah peperangan yang sia-sia, peperangan sipil juga sia-sia, Perang Korea juga peperangan yang tidak bermanfaat positif. Semua itu hanyalah peperangan yang membinasakan, dipicu oleh kebencian dan semangat permusuhan. Ini adalah peperangan antara yang sementara dengan yang sementara, antara ciptaan dengan ciptaan. Tetapi, peperangan rohani adalah peperangan kekal, yang melampaui batasan ruang dan waktu.

Inilah PEPERANGAN SEGALA ABAD (THE BATTLE OF THE AGES) di tengah-tengah permusuhan antara Allah dan Setan. Jika kita tidak siap dengan semua perlengkapan yang telah dituliskan di dalam Efesus 6, tidak mungkin kita bisa menghadapi pertempuran ini. Paulus menegaskan bahwa kita harus memakai senjata lengkap untuk masuk ke dalam peperangan rohani ini. Kita harus memakai perisai iman, bukan mengandalkan kekuatan manusia dan percaya diri. Kita juga harus berlutut dengan kekuatan doa. Dan pedang firman dibutuhkan untuk melawan serangan musuh. Saya percaya penuh bahwa semua orang suci di sepanjang zaman dipakai oleh Tuhan untuk berperang dan ketika mereka menyerahkan nyawa mereka di dalam kehendak Tuhan, mereka menyelesaikan tugas mereka dengan kemenangan, menikmati pahala dan mahkota mulia di dalam kekekalan.

Di sinilah kemenangan iman. Kita melihat Yesaya digergaji menjadi dua, Yohanes Pembaptis dipancung kepalanya, demikian juga Yakobus. Petrus disalib terbalik dan Paulus dipenggal. Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang setia mengikut Yesus tidak harus dilepaskan dari segala marabahaya. Orang yang setia tidak tentu harus mendapatkan kelancaran, kemakmuran, dan memperoleh semua kesuksesan duniawi, seperti yang diajarkan oleh theologi kemakmuran dan banyak aliran Kharismatik saat ini. Mereka banyak mengajarkan bahwa orang yang ikut Tuhan pasti akan kaya, tidak akan terkena penyakit; kalaupun sakit, pasti akan disembuhkan dan akan mengalami banyak mujizat Tuhan. Ini bukan ajaran Alkitab. Ini bukan ajaran Kristus. Paulus juga tidak pernah menyatakan hal ini. Paulus justru mengatakan pada Timotius, “Setiap orang yang mau hidup beribadah, ia akan mengalami aniaya” (2 Tim. 3:12). Tetapi khotbah seperti ini sudah hilang dari kebanyakan gereja masa kini.

Banyak orang memanipulasi Alkitab, menyelewengkan firman demi market-orien­ta­tion philosophy. Agar gereja bisa semakin besar dan orang senang mendengarnya, maka orang mengkompromikan Firman. Itu bukan kehendak Tuhan. Tuhan berkata, “Barangsiapa setia sampai mati, dia akan mendapatkan mahkota kehidupan” (Why. 2:10). Ketika saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, saya memilih nama Stefanus sebagai nama panggilan saya, karena dia adalah seorang martir bagi Tuhan. Nama Stefanus berarti mahkota. Dari situ, saya terus diingatkan, bahwa untuk mendapatkan mahkota, kita harus rela mati bagi Tuhan terlebih dahulu.

Kita telah membicarakan tentang peperangan dari abad pertama terus sampai abad-abad terakhir, bahkan sampai pada Gerakan Zaman Baru. Saat ini, seluruh dunia mencari zaman yang baru. Tetapi bisakah menemukannya di dalam kekalutan manusia? Apakah Zaman Baru tiba menurut pikiran manusia? Milenium kedua dimasuki dengan pesta besar di seluruh dunia, dengan semangat optimisme yang besar luar biasa, tetapi hanya dalam beberapa tahun saja sudah berubah menjadi pesimisme yang luar biasa. Abad ke-20 adalah abad yang bodoh, karena abad ke-20 dimulai dengan mental optimisme masa depan yang naïf dan diselesaikan dengan optimisme baru menuju kepada hari depan yang naïf juga. Abad ke-20 dimulai dengan tiga ceramah Adolf von Harnack tentang apa itu Kekristenan menurutnya.

Tiga topiknya adalah: pertama, Allah adalah Bapa seluruh umat manusia; kedua, persaudaraan semua bangsa di dunia; ketiga, manusia mempunyai jiwa yang tak terbatas tinggi nilainya. Ketiga topik ini sama sekali membuang realita dosa, posisi Kristus, dan keselamatan melalui penebusan. Harnack pernah mengatakan, “Mari kita meninggalkan Paulus dan kembali kepada Yesus.” Maksudnya, mari kita meninggalkan berita Paulus tentang keselamatan, penebusan dosa, dan semua ajaran Kristologi Paulus, dan kembali pada agama yang diajarkan oleh Yesus. Berarti Paulus telah menyeleweng. Paulus berbeda dengan Yesus. Apa yang diajarkan Paulus berbeda dari ajaran Yesus yang asli. Menurut Harnack, yang benar adalah Yesus memperkenalkan seorang Bapa yang penuh dengan kasih menerima seluruh umat manusia sebagai saudara dan di situ kita tidak perlu penebusan, melainkan perlu cinta kasih Allah untuk memperbaharui dunia. Di sini manusia mulai menganggap Kekristenan seharusnya membawa optimisme kepada dunia ini.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel adalah orang yang membawa dunia masuk ke dalam filsafat Relativisme dengan pemikiran silogismenya. Hegel adalah profesor dari Karl Marx. Ia sendiri dipengaruhi oleh Fichte dan Schelling, dua filsuf Jerman yang meneruskan pikiran Immanuel Kant. Hegel menganggap pikirannya tentang “tesis, antitesis, dan sintesis” menjadi pikiran cemerlang yang memberikan pemahanan realita bagi dunia. Ia meletakkan filsafat di posisi tertinggi seluruh pengetahuan—bukan theologi. Tetapi setelah dia mati, langsung empat pemikir utama melawannya, yaitu Ludwig Feuerbach, Friedrich Nietzsche, Søren A. Kierkegaard, dan Karl Marx. Empat orang melawannya, sehingga seluruh kesimpulannya hanya dianggap sebagai satu tesis yang menghasilkan empat antitesis yang lain untuk melawan dia. Pikiran relativisme Hegel memberikan warna bagi theologi di Tübingen School sehingga mereka mulai meninggalkan segala kemutlakan.

Optimisme yang melanda seluruh Eropa disaingi oleh seorang yang jernih matanya yaitu Oswald Spangler, dengan bukunya yang berjudul “The Decline of The West” (Runtuhnya Dunia Barat). Tetapi benarkah keruntuhan Barat diikuti oleh kebangkitan Asia? Tidak! Asia hanya tumbuh bagai gelembung sabun yang akan meletus karena tidak mempunyai dasar yang kokoh. Bagaimanapun Barat masih memiliki fondasi Kekristenan sebagai tulang punggung, yang tidak diterima oleh banyak orang modern, tetapi di bawah sadar, sedalam-dalamnya pikiran dan sistem nilai mereka tetap didirikan di atas fondasi Kekristenan.

Setelah 50 tahun menapaki abad ke-20, manusia mulai melihat kelemahan-kelemahan pemikiran modern, karena semua yang diterima dan dijunjung tinggi dalam abad ke-20 hanya tiruan pemikiran abad ke-19. Maka saya mengatakan dengan keluhan, “Abad ke-20 hanya menyediakan wadah tetapi tidak menyediakan isi.” Content with container baru penting; container without content adalah kosong. Abad ke-20 membuat tape recorder untuk merekam dan menyanyikan lagu abad ke-19. Abad ke-20 kita membuat concert hall yang besar tetapi diisi oleh lagu-lagu dari abad-abad lalu. Itu karena lagu-lagu yang baru kebanyakan tidak bermutu. Musik yang indah membawa manusia mengerti harkatnya sebagai manusia. Musik yang bernilai membawa manusia menghadapi kesulitan, bahkan ketika menghadapi kematian pun masih mempunyai pegangan. Musik yang bermutu, sampai kita mati pun, tetap memberikan kekuatan hidup untuk manusia bukan hanya untuk mengisi kekosongan diri saja.

Demikian pula gerakan Reformed akan membawa manusia kembali kepada mutu yang sejati. Abad ke-20 ber-container tapi tidak ber-content. Abad ke-20 berpikiran tajam sekali, tetapi tidak berarah; Abad ke-20 menghasilkan lukisan-lukisan modern dengan cara teknik yang baru, tetapi tidak memberikan makna hidup. Sorokin mengatakan, “Lihatlah lukisan abad ke-15; meskipun bentuknya tidak anatomis, memberikan pengharapan manusia berbakti kepada Tuhan. Doanya, matanya, tangannya, sucinya membawa manusia menuju kepada kekekalan yang tinggi sekali. Sedangkan abad ke-19 dan 20, perkembangan filsafat seni lukis diwarnai oleh realisme, impresionisme, abstrak, fabianisme, kubisme. Yang dilukis yaitu pelacur, pedagang di tengah jalan, pengemis, dan gambaran orang-orang yang tidak jelas makna hidupnya. Itulah yang mewarnai lukisan abad ke-20.”

Saya bukan mengatakan kalimat sembarangan atau menjiplak. Saya bukan orang yang suka mengambil pikiran orang lain lalu mencurinya menjadi milik saya. Abad ke-20 adalah abad yang tidak berarah; abad ke-20 adalah abad yang bodoh sekali. Kita mengagumi Marxisme yang merupakan hasil pikiran abad ke-19 lalu dieksperimenkan di abad ke-20. Akhirnya, di mana pikiran Karl Marx merajalela, di situ ekonomi bangkrut. Ceauşescu, seorang diktator Rumania, mengatakan, “Apa salahnya Stalin? Mari kita menghargai orang yang mengubah satu negara petani menjadi negara terkuat dalam hal teknologi nuklir.”

Saya harus mengatakan membuat orang mati lebih gampang daripada membuat orang hidup. Kita mudah sekali membunuh seekor nyamuk yang kecil, tetapi tidak seorang pun bisa membuat nyamuk mati menjadi hidup. Membuat bom atom untuk membom ribuan, bahkan jutaan orang, sangatlah mudah. Itu bukan kekuatan hebat. Itu kekuatan perusak. Kierkegaard berkata, “Kekuatan manusia yang terhebat hanyalah kekuatan membunuh sesama manusia. Itu yang disebut sebagai super power.”

Abad ke-20 dimulai dengan semua kampung gelap, diakhiri dengan semua kampung ada lampu neon; Abad ke-20 dimulai dengan semua orang naik kuda, diakhiri dengan setiap negara memiliki kapal terbang; Abad ke-20 dimulai dengan orang berperang memakai batu dan kayu, diakhiri dengan bom nitrogen. Kelihatan hebat, tapi abad ke-20 adalah abad yang membunuh, abad yang saling membenci, abad yang tidak berisi, abad yang tidak berpengharapan. Kita membangun rumah yang tinggi mudah sekali, membangun orang bermoral tinggi tidak mudah. Pada waktu rumah-rumah tinggi dibangun di Jakarta, Beijing, dan Shanghai, pada saat yang sama korupsi makin hari makin meningkat.

Abad ke-20 diakhiri dengan semangat optimistik yang luar biasa, tetapi tidak lama kemudian Osama bin Laden mengejutkan semua utopia selama ini. Manusia baru tahu senjata nuklir tidak bisa membomnya, baru tahu militer sekuat Amerika tidak bisa menangkapnya. Apakah manusia hebat? Manusia semakin manja dan semakin sulit berjuang. Saya berdoa agar ketika saya mati, dunia akan melihat bahwa ada seorang yang sudah menjadi piatu sejak usia 3 tahun, boleh mengerjakan pekerjaan yang tidak mungkin dikerjakan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Tuhan.

Kita telah membicarakan abad ke-20 yang bodoh. Sekarang, bagaimana dengan keadaan gereja-gereja yang dibangun dan melayani di abad ini? Pada zaman ini, begitu banyak gereja yang mempunyai banyak pengunjung tetapi tidak berisi theologi. Banyak gereja yang besar telah menghancurkan kebudayaan yang agung dan menggantikan dengan budaya yang rendah dan hina. Budaya pujian yang agung, yang indah, yang diturunkan Tuhan melalui orang-orang seperti Johann Sebastian Bach, George Friedrich Händel, Ludwig van Beethoven, berusaha dibuang dan digantikan dengan lagu-lagu yang tidak bermutu di abad ini. Pujian yang indah ditolak oleh gereja, dan diganti dengan band modern serta lagu-lagu yang merusak moral dan intelektualitas sejati.

Saya harus berperang karena begitu banyak orang Kristen sedang dibodohi oleh zaman ini, oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, termasuk di dalam gereja. Banyak orang Kristen bagaikan anak kecil yang diberi pilihan untuk mendapatkan berlian atau permata plastik yang berwarna-warni, maka dia memilih permata plastik karena berwarna-warni, dan membuang berliannya. Hal ini karena ia tidak mengerti nilai dan kualitas berlian itu. Gejala seperti ini muncul di banyak gerakan Kharismatik saat ini. Mereka tidak suka musik yang bermutu, berita Firman yang bermutu; mereka lebih suka yang berwarna-warni, walaupun hanya berkualitas plastik, ketimbang berlian yang asli.

Jadilah orang yang masih mau dididik, rela untuk dikritik, dan mau belajar, agar lebih mengerti dan lebih bertumbuh! Saya sangat berharap banyak anak muda yang boleh bertobat, lalu berjuang bersama di dalam gerakan yang betul-betul mau peka akan kehendak dan kebenaran Allah tanpa kompromi. Orang-orang bermutu tidaklah banyak. Harap kita bisa menghormatinya dan tidak membuangnya. Bach jangan dibuang, Händel jangan dibuang, Mozart jangan dibuang, Mendelssohn jangan dibuang. Sebelum Bach membuat sebuah kantata, ia selalu berlutut dan berdoa: “Tuhan beri kekuatan kepadaku.” Dan sesudah selesai membuat kantata tersebut, dia menulis: “Soli Deo Gloria, J. S. Bach.” Saya percaya banyak musik yang agung lebih sulit dibuat daripada mempersiapkan khotbah yang agung.

Mari kita melihat dan mengerti abad ke-20 yang sudah lewat. Komunisme telah membawa kebangkrutan, Eksistensialisme telah memberikan kekosongan, Rasionalisme dan Scientisme telah membawa kehancuran dunia. Dan kebodohan yang paling bodoh dari abad ke-20 adalah: membuang firman. Abad ke-20 menghina firman Tuhan, menafsir sembarangan, mengganti firman dengan mimpi-mimpi dan berbagai bayangan-bayangan manusia, mengganti firman dengan keyakinan diri, iman positivisme, dan semangat mistik.

Di dalam kitab Ulangan Tuhan berkata, “Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.” Yang memerintahkan kita untuk berperang bukanlah manusia, tetapi Allah sendiri. Kita harus berperang karena perintah Tuhan. Jika Saudara mengasihi Tuhan, jangan sembarangan menafsirkan Alkitab, jangan memutarbalikkan, mengeksploitasi, dan memanipulasi Firman Tuhan demi memuaskan keinginan dan pikiran manusia. Dari mana ada ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa kalau seorang dipenuhi Roh Kudus akan jatuh telentang dan kejang-kejang? Kapan dan di mana Alkitab menunjukkan bahwa orang yang dipenuhi Roh Kudus tertawa berjam-jam tanpa kesadaran diri? Begitu banyak penipuan melanda gereja pada masa kini. Kita tidak boleh menjual hak sulung kebenaran firman Tuhan demi mendapatkan market. Orang membujuk saya untuk tidak terlalu keras melawan, karena ada semangat oikumene. Tetapi itu bukan kebenaran Allah. Peperangan harus terus berjalan, bahkan jika mungkin, kaum pilihan pun mau dijatuhkan dan dikalahkan. Kebenaran Allah tidak bisa dikompromikan.

Seorang Kristen yang kaya mau berinvestasi di Cina, dan saya katakan kepadanya agar tidak terlalu percaya. Kemudian dia membuat perjanjian bahwa ia akan membangun banyak rumah sakit dan menunjang semua keperluan medisnya, tetapi dengan satu syarat, yaitu diizinkan mendirikan “Christian Tibet Hospital.” Pemerintah Cina setuju. Setelah semua dibangun, ketika peresmian, nama “Christian” dicabut, dan tersisa hanya “Tibet Hospital.” Ini namanya pandai, dan sekaligus licik luar biasa. Inilah Komunisme, inilah Atheisme. Dunia seperti ini hanya mau keuntungan dan bukan kebenaran. Celakanya banyak orang Kristen dan gereja Kristen juga sama: mau keuntungan dan bukan kebenaran. Banyak pemimpin gereja mengatakan kepada saya, jika pakai cara Pak Stephen Tong, tidak bisa mendatangkan banyak orang. Bagi saya, kalau tidak mau datang untuk bertobat, lebih baik tidak usah datang. Kalau kita tidak mau memberitakan Injil dengan sungguh, tidak ada anak-anak rohani yang kita lahirkan.

Ketika masih pemuda, saya pernah berjanji dalam satu tahun akan menyebarkan 5.000 traktat. Saya pakai uang saya sendiri untuk membeli traktat, lalu mau membagikannya. Saya naik kereta dari Surabaya ke Pasuruan, supaya saya bisa membagi traktat di kereta. Setelah saya berdoa minta kekuatan dari Tuhan, di hadapan saya duduk seorang dengan kumis yang tebal, alisnya hitam luar biasa, polisi bintang dua. Saya gemetar. Saya mau beritakan Injil, tetapi kenapa pertama-tama harus berhadapan dengan orang yang sedemikian galak. Tetapi Tuhan mengingatkan saya bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kalau mengasihi dia, apakah kita menginginkan agar dia menerima keselamatan? Lalu saya berdiri, traktat pertama saya berikan kepada polisi galak tadi dan berkata, “Bapak silakan baca Yesus Juruselamat dunia.” Saya mengira dia akan membentak saya lalu menyeret saya turun dari kereta api. Ternyata dugaan saya salah. Ternyata polisi itu menerima dan berkata terima kasih. Saya baru tahu bahwa orang galak ketika tersenyum manisnya luar biasa. Pertama kali saya sadar polisi itu sopan sekali, sekalipun kelihatannya galak. Lalu dia mulai membaca. Saya mulai lebih berani, saya membagi terus traktat satu persatu, gerbong demi gerbong semua dibagi. Hari itu ratusan traktat yang saya bagi. Saya adalah seorang yang dilahirkan minder dan penakut, karena saya seorang yang tidak memiliki ayah sejak usia tiga tahun. Hidup saya begitu susah. Tetapi Tuhan membentuk saya menjadi orang yang berani luar biasa. Lalu, dari manakah kuasa peperangan itu bisa kita dapatkan?

Pertama, kuasa ada pada panggilan urapan konfirmasi dari Tuhan sendiri. Jika Engkau berperang sendiri, tidak disertai oleh Tuhan, tidak diurapi oleh Tuhan, tidak jelas panggilan Tuhan, pasti engkau gagal. Kita perlu sungguh-sungguh menyadari panggilan Tuhan dan menanti konfirmasi-Nya yang jelas, agar kita tidak berperang sendiri. Banyak pendeta kurang sadar dan kurang konfirmasi mengenai hal ini, sehingga mereka kehilangan kuasa yang sejati.

Kedua, kuasa datang dari hidup suci. Kalau engkau hidup suci, perkataan Saudara mengandung kuasa. Kalau hidup saudara berkompromi, najis, berzinah, tamak, korupsi, maka tidak mungkin ada kuasa rohani yang menyertai saudara. Saya berharap suatu hari ada satu laskar pemuda-pemudi hasil NREC yang mengabdi menjadi orang suci sebagai alat di dalam tangan Tuhan yang dibersihkan. [National Reformed Evangelical Convention (NREC), sebuah konvensi nasional dari Gerakan Reformed Injili setiap tahun, untuk menggugah dan mengajarkan kebenaran Alkitab seturut Theologi Reformed. Acara ini diikuti sekitar 1200 peserta dari seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri.]

Andrew Gih seorang yang dipakai Tuhan untuk memanggil saya menjadi hamba Tuhan. Saya sudah mendengar khotbahnya sebanyak lebih dari 200 kali sejak usia 12 tahun. Andrew Gih mengatakan, “Jikalau engkau pulang, dan di rumah ada gelas emas, ada gelas perak, ada gelas kayu, ada gelas tanah liat, tetapi yang emas kotor, yang perak dalamnya hitam, yang kayu dalamnya ada kotoran burung, hanya yang paling murah yaitu yang dari tanah liat yang bersih baru dicuci, engkau menggunakan yang mana?” Saya baru sadar Tuhan senang memakai “perabot” yang bersih. Pemuda-pemudi yang begitu mudah jatuh dalam dosa seks, melihat satu dua kali VCD porno lalu mencari pelacur, lalu tetap memakai jas dan berdasi ke gereja menjadi anggota paduan suara, celakalah engkau! Jikalau tidak menuntut kesucian tak mungkin berperang bagi Tuhan. Berdiri di pinggir orang suci bisa takut, tapi orang suci yang hanya mementingkan diri itu tidak berguna. Orang suci yang bisa mengalirkan kesuciannya kepada orang lain dan tetap mempunyai cinta kasih kepada orang yang lebih rendah dari dia, itulah orang yang mirip Yesus Kristus. Siapa orang suci? Orang suci adalah orang yang hanya punya satu niat yaitu mau menyenangkan hati Tuhan. Ketika kita hidup dan melayani, kita mau seluruh hidup kita memperkenan hati Tuhan. Itulah kesucian hidup.

Ketiga, kuasa dari firman itu sendiri. Khotbah yang hanya teori manusia belaka, tidak akan memberikan kuasa rohani. Keitka saya mengkhotbahkan firman Tuhan, perintah, janji, nasehat, dan teguran Tuhan, meskipun tidak enak didengar, setiap kalimat mengandung kuasa Tuhan. Tuhan meminta kita untuk terus berjuang. Kita harus menghemat dan menekan waktu kita. Saya merasa bahwa waktu-waktu saya begitu diperas, tetapi kita mengerjakan hal yang bermakna. Squeeze the time. Itulah yang menjadi moto hidup saya. Banyak pendeta tidak mau bekerja seperti saya.

Keempat, kuasa dari urapan Roh Kudus yang memenuhi seseorang. Roh Kudus memenuhi seseorang, karena orang ini memberikan seluruh hidupnya kepada Kristus. Pengertian kepenuhan Roh Kudus saat ini sudah banyak diselewengkan oleh orang Kharismatik dan pengertiannya sudah dirusakkan oleh ajaran-ajaran yang salah. Orang berpikir, kalau penuh Roh Kudus akan tertawa-tawa di lantai, atau berbicara yang tidak dimengerti dan tidak sadar, atau goyang-goyang, bahkan berteriak-teriak. Alkitab menyatakan bahwa ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, pasti orang tersebut menjunjung tinggi salib, ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, orang tersebut pasti memberitakan Alkitab, ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, orang tersebut pasti hidup suci, ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, pasti orang tersebut memiliki buah Roh Kudus. Pengertian yang mutlak seperti ini tidak banyak diajarkan.

Saudara-Saudara, peperangan kita sangat sengit, peperangan kita sangat besar dan kita perlu ingat bahwa Indonesia bukan negara Kristen. Tuhan ingin kita bersaksi di tengah-tengah bangsa ini. Maka perlu ada orang yang bersaksi bagi Tuhan. Bersaksi bagi Tuhan harus dengan keberanian. Dan kuasa keberanian diberikan Tuhan kepada orang yang ada panggilan, orang yang hidup suci, orang yang menjunjung tinggi Firman, orang yang hatinya bersih, orang yang hatinya penuh dengan cinta kasih dari Tuhan Yesus. Maukah Saudara ikut berperang? Maukah kita membuat setan takut kepada pelayanan kita?

Penutup:

Orang yang betul-betul berfungsi sebagai saksi Tuhan yang baik, Allah memperkenan dia mendapat berkat sekalipun begitu lelah, dan memberikan penghiburan dan sukacita kepadanya. Seorang yang tidak beres pelayanannya dibiarkan oleh setan, diampuni oleh pimpinan gereja, dan ditepuk-tangani oleh banyak orang atau pesuruh-pesuruh Iblis, dan dibiarkan oleh Tuhan. Jikalau kita melayani sampai Tuhan membiarkan kita, pasti setan senang, dan orang Kristen mengampuni kita. Itu berarti kita gagal total. Jika kita menjadi hamba Tuhan, menjadi saksi Kristus yang diperkenan Tuhan, pasti setan benci kepada kita, berusaha menghancurkan dan menyerang kita. Maukah engkau dipakai Tuhan menjadi hamba Tuhan yang setia, baik, dan berkuasa? PEPERANGAN SEGALA ABAD ( THE BATTLE OF THE AGES)
Amin.
Next Post Previous Post