3 KHOTBAH TENTANG KEDAULATAN ALLAH

Samuel T. Gunawan, M.Th.
2 KHOTBAH TENTANG KEDAULATAN ALLAH

KHOTBAH 1.AJARAN ALKITABIAH TENTANG KEDAULATAN ALLAH (BAGIAN 1)

“Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya” (Yesaya 46:9-11)

PENDAHULUAN:

Nas dalam Yesaya 46:9-11 di atas menunjukkan bahwa Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, adalah Allah yang berkuasa dan mengendalikan sejarah. Ia akan menggenapi apa yang Ia nubuatkan (katakan) dan melaksanakan apa yang Ia rencanakan (tetapkan). Apa yang dilakukannya adalah berdasarkan keputusan dan kehendakNya. Karena Ia Allah maka semua pasti akan terlaksana, dan disini Ia mengajak Israel untuk percaya mutlak kepadaNya. Jadi ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu berdaulat! 

Ajaran tentang kedaulatan Allah (sovereighnty of God) adalah suatu ajaran Kristen yang penting. Tetapi sangat disayangkan, mendengar kata “kedaulatan Allah” ini beberapa orang langsung bersikap dogmatis, saat berpikir dan menghubungkannya dengan teologi Calvinis-Reformed. Ini adalah pikiran yang keliru! Mengapa? Karena kedaulatan Allah adalah ajaran Alkitab. Charles C. Ryrie, seorang pakar teologi Dispensasional, menyebutkan kedaulatan Allah sebagai salah satu dari karakteristik kesempurnaan Allah. Memang harus diakui bahwa teologi Calvinis-Reformed sangat menekankan kedaulatan Allah. Karena dalam teologi Calvinis-Reformed kedaulatan Allah dianggap sebagai prinsip dasar dan inti teologinya, atau sebagaimana yang Arthur Pink amati, bahwa doktrin kedaulatan Allah merupakan “fondasi teologi Kristen... pusat gravitasi dalam sistem kebenaran Kristen; matahari yang menjadi pusat tata surya”. Tetapi, sekali lagi, kita tidak boleh mengabaikan apalagi membuang begitu saja ajaran kedaulatan Allah ini hanya karena teologi Calvinis-Reformed telah menggunakannya sebagai terminologi khusus (istilah teknis) dalam sistem teologinya, karena ajaran tentang kedaulatan Allah ini memang diajarkan dalam Alkitab. Paul Enns mengatakan, “Pengakuan Wesminster yang historis menerangkan kedaulatan Allah: ‘Keputusan (kedaulatan atau rencana) Allah adalah tujuan kekalNya, menurut dorongan kemauanNya sendiri, dan dengan itu, demi kemuliaanNya sendiri, Ia menentukan sebelumnya apa yang terjadi’. Pernyataan seperti itu mencengangkan, bukan? Itulah pernyataan yang akurat, seluruhnya berdasarkan Kitab Suci”.Tetapi beberapa orang mendapat kesulitan dengan gagasan ini. Charles C. Ryrie mengatakan “Kedaulatan Allah sepertinya bertentangan dengan kebebasan atau tanggung jawab manusia. Tetapi meskipun hal itu mungkin tampaknya memang demikian, kesempurnaan kedaulatan adalah jelas diajarkan dalam Kitab Suci, maka itu tidak boleh disangkal karena ketidaksanggupan kita untuk mempertemukannya dengan kekebasan atau tanggung jawab”. Jadi disini, baik Paul Enns maupun Charles C. Ryrie, yang jelas-jelas bukan teolog Calvinis-Reformed, sama-sama menekankan bahwa ajaran tentang kedaulatan Allah ini penting karena diajarkan dalam Alkitab. 

ARTI DAN DEFINISI KEDAULATAN ALLAH

W.J.S Poerwadarminta menyebutkan berdaulat sebagai “mempunyai kekuasaan yang tertinggi atau hak dipertuan”, dan kedaulatan sebagai “kekuasaan yang tertinggi atau hak dipertuan atas suatu pemerintahan”. Webster’s mengartikan kata berdaulat (sovereign) sebagai “yang berkuasa; pemerintahan/kedaulatan tertinggi”. Kata berdaulat ini berasal dari kata Latin “superanus” yang berarti “diatas, melebihi atau melampaui”. Henk Ten Napel mengartikan sovereighnty sebagai “kuasa tertinggi; kedaulatan”. James M. Boice menjelaskan kedaulatan Allah sebagai berikut, “Ia memiliki otoritas yang mutlak dan memerintah atas ciptaanNya”. 

Louis Berkhof saat membahas atribut-atribut kedaulatan Allah menyatakan, “kedaulatan Allah sangat ditekankan di dalam Alkitab. Allah adalah Pencipta, dan kehendakNya adalah sebab dari segala sesuatu. Dalam hubungan dengan karya penciptaanNya maka langit dan bumi dan segala sesuatu adalah miliknya. Ia berjubahkan otoritas mutlak atas malaikat-malaikat di surga dan manusia di bumi. Ia memegang segala sesuatu dalam kuasaNya, dan menentukan akhir dari segalanya sebagaimana mereka telah ditentukan untuk demikian. Ia memerintah sebagai Raja dalam arti yang sebenar-benarnya, dan segala sesuatu bergantung padaNya, dan segalanya harus melayani Dia”.  Selanjutnya Berkhof menyatakan, “Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah dalam arti bahwa Ia telah dengan penuh kedaulatan sejak dari kekekalan menetapkan apa saja yang akan terjadi dan melakukan karya kedaulatanNya dalam kehendakNya atas semua ciptaan, baik yang alamiah maupun yang rohaniah, sesuai dengan rencana yang telah Ia tetapkan sejak semula. Hal ini sangat sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Paulus ketika ia berkata bahwa Allah ‘di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya’” (Ef 1:11). 

Charles C. Ryrie mengartikan kedaulatan sebagai berikut: “Kata ini berarti keutamaan, kepala, yang tertinggi. Kedaulatan mula-mula berbicara tentang kedudukan (Allah adalah Pribadi yang utama di alam semesta), kemudian tentang kuasa (Allah adalah yang tertinggi kekuasaanNya di alam semesta”. Selanjutnya Ryrie manambahkan, “Seseorang yang berdaulat dapat menjadi seorang diktator (Allah tidak), atau seorang yang berdaulat dapat melepaskan tanggung jawab penggunaan kuasaNya (Allah tidak). Akhirnya Allah sepenuhnya menguasai segala sesuatu, walaupun Ia mungkin memilih untuk membiarkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditentukanNya”. 

Tony Evans menuliskan, “Kedaulatan Allah berkaitan dengan peraturanNya dan pengawasanNya yang mutlak atas segala ciptaanNya. Allah menguasai secara mutlak kejadian dan peristiwa manusia. Sebagai Allah Dia duduk di atas tahta semesta alam. Segala sesuatu yang terjadi, terlaksana entah karena secara langsung disebabkanNya atau dengan sadar diizinkanNya. Tiada satupun yang masuk dalam atau ada di luar sejarah yang tidak ada dalam pengawasan Allah yang sempurna”.

Sementara itu ahli lainnya, mengartikan kedaulatan Allah sebagai berikut: “kedaulatan Allah berarti bahwa Allah Pencipta dan Pemelihara, Sumber, Mahakuasa atau berkuasa mutlak, bebas dan tidak bergantung pada siapa dan apapun, Transenden dan Imanen, menyatakan diriNya dan kehendakNya, menyatakan diriNya dalam tiga Pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus”. 

Ringkasnya, kedaulatan Allah berarti “ bahwa Ia adalah Pribadi yang utama di alam semesta dan yang tertinggi kekuasaanNya di alam semesta. Ia mencipta, memelihara, dan memerintah segala sesuatu secara sempurna. Ia sepenuhnya menguasai segala sesuatu, dan semua mahluk ciptaan berada dibawahNya, dan ia berbuat segala sesuatu kepada mereka sesuai dengan yang dikehendakiNya. Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah itu sewenang-wenang, karena segala sesuatu yang dilaksanakanNya sesuai dengan rencanaNya dalam kekekalan menurut kehendakNya. Dengan demikian Allah bebas dan tidak dibatasi oleh apapun selain oleh kehendakNya sendiri, untuk merencanakan dan bertindak sesuai sesuai dengan yang dikehendakiNya.”.

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN MENDASAR SEBAGAI TITIK AWAL DARI AJARAN TENTANG KEDAULATAN ALLAH

Sebelum lebih jauh membahas perspektif Alkitab tentang kedaulatan Allah, kiranya perlu memperhatikan pemikiran-pemikiran mendasar sebagai berikut: Pertama, kedaulatan Allah berarti bahwa Allah adalah Pribadi yang utama dan yang tertinggi kekuasaanNya di alam semesta. Ia mencipta, memelihara, dan memerintah segala sesuatu secara sempurna. Ia sepenuhnya menguasai segala sesuatu, dan semua mahluk ciptaan berada dibawah kendaliNya, dan ia berbuat segala sesuatu kepada mereka sesuai dengan yang dikehendakiNya.

Kedua, satu-satunya sumber informasi yang benar tentang kedaulatan Allah adalah Allah sendiri. Karena Allah adalah satu-satunya Pribadi yang benar secara absolut dan dapat dipercaya. Ia telah mewahyukan (menyatakan) diriNya dan penyataan itu secara akurat dinyatakan dalam ke enam puluh enam kitab dari Kitab Suci (Alkitab). Dengan demikian, maka Kitab Suci adalah sumber utama dari pengetahuan manusia akan Allah, dan Alkitab harus dipandang sebagai kebenaran yang mutlak (absolut). Alkitab memberikan pandangan tentang kedaulatan Allah. Walau pun tidak memberikan deskripsinya secara lengkap, tetapi fakta-fakta (pernyataan) yang ada di Alkitab sudah cukup bagi kita untuk mengerti bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat. 

Ketiga, ajaran tentang kedaulatan Allah bukanlah ajaran dan rekayasa manusia, bukan juga hak eksklusif pandangan teologi tertentu, melainkan ajaran yang dinyatakan (diwahyukan) Allah di dalam Alkitab. Ada begitu banyak ayat Alkitab yang mangacu pada kedaulatan Tuhan, berikut ini beberapa diantaranya: Kejadian 14:19; 17:1; Kejadian 45:5-8; Keluaran 18:11; Ulangan 10:14,17; 1 Tawarikh 29:11,12; 2 Tawarikh 20:6; Nehemia 9:6; Mazmur 22:28; 47:2-8; 50:10-12; 95:3-5; 115:3; 135:5-6; 145:11-13; Amsal 16:33; 19:21; Yesaya 46:9-11; Yeremia 27:5; 29:11; Daniel 4:35; Matius 10:29-31; Lukas 1:51-53; Kisah Para Rasul 1:16-20; 17:24-26; Efesus 1:4-5; Wahyu 19:6.

Keempat, mustahil dapat secara sempurna memahami Allah yang tidak terbatas dengan pemikiran manusia yang terbatas. Allah adalah Pencipta dan kita adalah mahluk ciptaan, dan manusia hanya dapat mengenal Allah sejauh Ia memperkenalkan diriNya dan kehendakNya melalui firmanNya. Harus disadari bahwa ada hal-hal yang tidak akan pernah kita pahami sepenuhnya (secara tuntas) tentang Allah dan itu akan tetap menjadi misteri, karena melampuai kemampuan kita untuk memahaminya. Dalam hal ini kita harus berani untuk secara jujur mengakui keterbatasan kita tersebut. 


Kita perlu menyadari bahwa keterbatasan sistem teologi sama dengan keterbatasan dari pernyataan Kitab Suci. (Bandingkan Ulangan 29:29). Karena itu, kita harus berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan dengan cara (memaksa) menafsirkan bagian-bagian tertentu dari Alkitab apabila hal itu tidak didukung oleh pernyataan Alkitab. Tidaklah bijaksana memasukan atau memaksakan pendapat dengan bukti Alkitabiah yang tidak dapat dijamin kebenarannya. 

Kelima, bahwa di dalam membicarakan tentang kedaulatan Allah, kita perlu menghindari dua pandangan ekstrim, yaitu: Hiper-Calvinisme dan Arminianisme. Kedua pandangan teologi ini tidak pernah mencapai titik temu, karena keduanya berada pada garis yang berlawanan. Pandangan Hiper-Calvinis berpegang pada takdir atau disebut juga determinisme, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan manusia hanya bisa menerima apa yang sudah ditentukan tanpa bisa berbuat apa-apa. Menurut pandangan ini, manusia hanyalah “wayang” yang melakoni apa saja yang dikehendaki oleh “sang dalang”. Orang-orang yang begitu saja menerima segala sesuatu yang terjadi sebagai nasib (takdir) yang ditentukan, bersikap pasrah pada nasib dan tak ingin merubahnya, disebut fatalistik. Sebaliknya, pandangan Arminian lebih menekankan pada kehendak bebas (free will) manusia. Kehendak bebas adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membuat pilihan secara sukarela, bebas, dari segala kendala ataupun tekanan yang ada. Berbagai pilihan hanya melibatkan keputusan dan kehendak manusia tanpa melibatkan Tuhan. Pilihan diartikan sebagai penentuan atau pengambilan sesuatu berdasarkan keputusan atau kehendak sendiri. Disini, Allah hanya sebagai Pribadi yang merestui dan melegitimasi apa yang menjadi keputusan dan pilihan manusia. Jadi, sementara Hiper-Calvinisme menekankan kedaulatan Allah dan mengabaikan tanggung jawab manusia, sebaliknya Arminianisme justru menekankan tanggung jawab manusia dan mengabaikan kedaulatan Allah.

KHOTBAH 2. KEDAULATAN ALLAH: MANIFESTASI KEDAULATAN ALLAH (BAGIAN 2)

Ulangan 10:14 “Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah
yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya;”
1 Tawarik 29:11 “Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala”.
Mazmur 135:6 “TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi,
di laut dan di segenap samudera raya;”
Daniel 4:34 “Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar,
menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun.”

Kedaulatan Allah berarti bahwa Ia adalah Pribadi yang utama di alam semesta dan yang tertinggi kekuasaanNya di alam semesta. Ia mencipta, memelihara, dan memerintah segala sesuatu secara sempurna. Ia sepenuhnya menguasai segala sesuatu, dan semua mahluk ciptaan berada dibawahNya, dan ia berbuat segala sesuatu kepada mereka sesuai dengan yang dikehendakiNya. Tetapi ini bukan berarti bahwa Allah itu sewenang-wenang, karena segala sesuatu yang dilaksanakanNya sesuai dengan rencanaNya dalam kekekalan menurut kehendakNya. Dengan demikian Allah bebas dan tidak dibatasi oleh apapun selain oleh kehendakNya sendiri, untuk merencanakan dan bertindak sesuai sesuai dengan yang dikehendakiNya.

Segala sesuatu yang terjadi, yang baik maupun yang jahat termasuk dalam kehendak Allah yang berdaulat. Tetapi itu tidak berarti bahwa Allah bertanggung jawab untuk dosa. Allah tidak bertanggung jawab atas tindakan berdosa manusia. Allah secara langsung menyebabkan terjadinya beberapa hal menurut kehendaknya yang efektif (mengarahkan), misalnya: Ia memilih Paulus sebagai rasul (Roma 1:1) dan memanggil kita untuk mencari keselamatan (Efesus 1:4). Sebaliknya, Allah mungkin membiarkan beberapa peristiwa terjadi menurut kehendaknya yang permisif (mengijinkan), tetapi ia tidak bertanggung jawab atas tindakan dosa. Misalnya, waktu bangsa Israel menuntut agar dipimpin seorang raja, maka hal itu sesuai dengan kehendak Allah yang berdaulat (Bandingkan Kejadian 17:6), tetapi umat Israel bertanggung jawab atas tindakan berdosa mereka, bukan Allah (1 Samuel 8:19-22).

Jadi jelaslah Alkitab mengajarkan bahwa Allah mempunyai rencana (Kisah Para Rasul 15:18) yang mencakup segala sesuatu (Efesus 1:11), yang dikuasaiNya (Mazmur 135:6), yang termasuk tetapi tidak melibatkan Dia di dalam kejahatan (Amsal 16:4), dan yang pada akhirnya adalah untuk kepujian bagi kemuliaanNya (Efesus 1:14). Allah adalah Allah yang berdaulat. KedaulatanNya meliputi seluruh alam semesta, mengendalikan setiap keadaan, mengendalikan alam dan makluk ciptaan, mengarahkan kehidupan baik individu maupun bangsa, serta mengarahkan sejarah sesuai kehendakNya. Berikut ini manifestasi kedaulatan Allah dalam segala sesuatunya.

Pertama, manifestasi kedaulatan Allah meliputi seluruh alam semesta. Alam semesta adalah suatu pemerintahan teokrasi, yaitu bahwa Allahlah yang memerintah seluruh alam semesta (Mazmur 103:19). Wilayah pemerintahan Allah disebut sebagai Kerajaan Allah. Istilah Kerajaan Allah dipakai sekitar 160 kali dalam PB. Kerajaan Allah ini bersifat universal dan kekal, artinya tidak pernah ada waktu dimana kerajaan Allah tidak ada. Ia tidak mempunyai awal dan akhir. Kerajaan Allah berkuasa, memerintah atas seluruh Kerajaan. Kerajaan Allah semuanya bersifat inklusif, termasuk dalamnya adalah diriNya sendiri, bidang kekuasanNya, semesta alam, para malaikat terpilih, surga, para malaikat yang jatuh dan semua ciptaan, dan umat manusia diatas bumi ini. Semuanya berada dibawah kendali dan kekuasaanNya. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang meliputi surga dan bumi. Alkitab menyatakan bahwa : (1) Dialah satu-satunya Raja yang berdaulat, Raja segala raja dan Tuan segala tuan (1 Timotius 6:15), tahtaNya di dalam surga, dan kerajaanNya menguasai seluruhnya (Mazmur 103:19); (2) Ia memelihara seluruh alam semesta dengan firmana kekuasaanNya supaya tetap ada (Nehemia 9:6; Ibrani 1:3); (3) Pemerintahan atas seluruh alam semesta ada padaNya (Ulangan 10:14; Mazmur 135:6; Daniel 4:35).

Kedua, manifestasi kedaulatan Allah atas alam. (1) Semua kekuatan alam dalam pengendalianNya (Mazmur 29); (2) Unsur-unsur alam dibawah perintahNya (Mazmur 68:10; Yunus 1:4); (3) Semua proses alam dalam pemerintahNya (Kejadian 8:22; Mazmur 107:33-34, 38; Yeremia 31:35).

Ketiga, manifestasi kedaulatan Allah atas makluk ciptaanNya. (1) Ia memelihara binatang-binatang dan memberikannya makanan (Mazmur 147-149); (2) PemeliharaanNya bahkan meliputi mahluk yang terkecil, seperti burung pipit (Matius 10:29); (3) Ia bisa memakai mahluk ciptaanNya untuk melaksanakan kehendakNya (Yunus 1:17; 2:10). Bahkan menunjuk burung gagak untuk membawa makanan dan daging bagi hamba-hambaNya (1 Raja-raja 17:6);

Keempat, manifestasi kedaulatan Allah atas manusia, bahkan manusia jahat juga. Allah juga memegang kendali atas manusia, yang baik maupun yang jahat. (1) Kadang-kadang Allah untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, menaruh kesabaran terhadap orang-orang jahat yang telah disiapkan untuk kebinasaan, justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya terhadap orang-orang, yang maksudnya hendak menyelamatkan mereka (Roma 9:22-23); (2) Kadang-kadang Allah mengusahakan orang-orang paling jahat ditinggikan, dengan maksud supaya mereka bekerja untuk maksud Allah tanpa mereka mengetahuinya (Yesaya 10: 5, 7); (3) Bahkan Ia memakai musuh-musuh umat-Nya untuk menghajar mereka dalam ketidaktaatan mereka (Hakim-hakim 2:14-15, 21-23, 3:12); (4) Di pihak lain, Ia mengeraskan hati musuh-musuh umat-Nya, sehingga mereka jatuh dalam tangan umat-Nya atau mereka memusnahkan diri sendiri (Hakim-hakim 7:22, Yoh: 11:20).

Kelima, manifestasi kedaulatan Allah atas bangsa-bangsa. (1) Allah menetapkan batas bangsa-bangsa di bumi ini (Ulangan 32:8); (2) Ia berkuasa membuat suatu bangsa besar atau kecil (Obaja 2); (3) Dalam peristiwa-peristiwa di dunia dengan para penguasanya, Tuhan merendahkan pemimpin yang satu dan meninggikan yang lain (1 Samuel 16:1; Mazmur 75:8); (4) Ia memakai bangsa-bangsa lain untuk menghajar umat-Nya yang tidak taat (Yesaya 5:26; Amsal 3:9-11; 6:14; Habakuk 1:12); (5) Sejauh hal itu masih sepadan dengan tujuan-tujuan-Nya, Ia membiarkan bangsa-bangsa menuruti jalan-Nya masing-masing (Kisah Para Rasul 14:16); (6) Di belakang tindakan yang ganjil dan penuh kasih dari pihak para penguasa-penguasa yang tidak beriman, terhadap umat Allah pada waktu yang berbeda-beda, Allah bekerja dalam hati mereka tanpa mereka ketahui (Ezra 1:1). Misalnya Tiglat-Pileser (Yesaya 10:6-7), Koresy (Yesaya 41:2-4), Arthasasta (Ezra 7:21), dalam mengikuti yang dipilihnya sendiri, masing-masing membantu tercapainya kehendak Allah, walau dalam hidup pribadi mereka, mereka tidak taat kepada Allah, menuruti kehendak sendiri dan berdosa.

Keenam, manifestasi kedaulatan Allah atas sejarah. (1) Kekuasaan-Nya kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun (Daniel 4:34). Setiap kejadian dalam sejarah umat manusia langsung dalam pengendalian-Nya (Wahyu 9:15); (2) Ia menentukan zaman sejarah umat manusia dan batas-batas kediaman mereka (Kisah Para Rasul 17:26); (3) Allah bekerja secara tidak kelihatan dalam kejadian dan proses-proses, untuk melaksanakan tujuan-tujuan-Nya yang mengandung berkat-berkat. Tuhanlah yang mengutus Yusuf mendahului saudara-saudaranya ke tanah Mesir (Mazmur 105:16-22); Tuhan-lah yang membalikkan hati orang Mesir untuk membenci umat Allah (Mazmur 105:25); Tuhanlah yang memanggil Koresy, seorang penguasa bukan Yahudi, dan Koresy disebut “orang yang Kuurapi” oleh Tuhan, sebab Ia hendak memakainya untuk melaksanakan kehendak-Nya terhadap umat-Nya (Yesaya 44:28-45:4); (4) Contoh paling khas dimana Allah bekerja dalam suatu kejadian, yang mula-mula tidak diketahui manusia untuk melakukan kehendak-Nya, ialah penyaliban Yesus (Kisah Para Rasul 5:28; bnd 2:23); (5) Dalam semua kejadian sejarah itu, Allah melaksanakan tujuan-Nya mengumpulkan dalam satu tubuh, yaitu gereja, laki-laki dan perempuan dari setiap bangsa dan suku bangsa, yang diselamatkan oleh Kristus (Efesus 3:3-11). 

Ketujuh, manifestasi kedaulatan Allah atas politik dan pemerintahan. (1) Semua pemerintahan manusia di bumi didirikan berdasarkan kehendaknya dan beroperasi berdasarkan ketetapanNya (Roma 13:1-3; Mazmur 22:29); Misalnya, Allah menetapkan penguasa (Daniel 2:21); (2) Allah sangat memperhatikan dan memegang kendali terhadap pemerintahan dan politik bangsa-bangsa. Tidak ada sesuatu apapun yang terjadi di dalam pemerintahan-pemerintahan manusia yang tidak mengalir keluar dari pemerintahan Allah yang berkuasa (Amsal 21:1). (3) Dalam keseluruhan Alkitab kita melihat Allah menempatkan orang-orang secara strategis dalam wilayah politik dan pemerintahan. Allah memindahkan Yusuf ke dalam otoritas di Mesir (Kejadian 41:38-49). Allah menaikkan Daniel ke posisi dengan pengaruh yang besar di babel dan kemudian di Persia (Daniel 1:8-21; 2:46-49; 6:1-3). Allah menempatkan Nehemia dalam pemerintahan Persia sehingga tujuan-tujuanNya di jalankan (Nehemia 1:1-2:8). Allah juga menempatkan Ester sebagai ratu di Persia (Baca Kitab Ester) dan Debora sebagai hakim di Israel untuk mewujudkan agendaNya (Hakim-hakim 4-5). Sesungguhnya sebagai contoh keterlibatan Allah dalam urusan politik dan pemerintahan bangsa-bangsa adalah bangsa Israel. Hal ini terlihat dalam kitab seperti Keluaran, Ulangan, 1 dan 2 Samuel, 1 dan 2 Raja-raja, 1 dan 2 Tawarikh, dimana Allah sangat aktif mengangkat raja, menghakimi, dan menyingkirkan raja; (4) Pemerintahan-pemerintahan di dunia diberi otoritas dan kuasa untuk menjalankan keadilan berdasarkan hukum (Roma 13:4-5). Pemerintah tidak memerintah berdasarkan saran atau permohonan, melainkan berdasarkan hukum secara legal. Otoritas ini harus digunakan berdasarkan pertanggung jawaban kepada Allah. Kika suatu pemerintahan memberontak melawan otoritas Allah dan mencoba mengabaikan tanggung jawab kepada Allah, maka pemerintahan tersebut akan mengalami kesukaran bahkan hukuman Allah; (5) Penyataan politik terbesar di dalam Alkitab adalah bahwa ketika Yesus Kristus datang kembali ke bumi untuk memerintah, Dia akan menjadi “Raja segala raja, dan Tuan di atas segala Tuan” (Wahyu 19:16; bandingkan Kolose 1:16-17). 

Kedelapan, manifestasi kedaulatan Allah atas setiap keadaan. (1) Allah yang menentukan apa yang terjadi dalam peristiwa-peristiwa manusia (Amsal 16:33; bandingkan Yunus 1:7); (2) Ia berkuasa memperpendek hidup atau memperpanjangnya (Ayub 1:21; Mazmur 102:24); (3) Tuhan mendatangkan baik kebahagiaan maupun malapetaka (Yesaya 45:7); keberhasilan dan kemenangan dalam pertempuran (1 Samuel 11:13) dan kekuatan untuk memperoleh kekayaan (Ulangan 8:18) datang dari pada-Nya, begitu juga kekuatan mendatangkan penyakit atau menjauhkannya (Ulangan 7:15); (4) Kebutuhan sehari-hari yang paling sederhana masuk perhatian-Nya dan dalam pengendalian-Nya (Matius 6:30,33); (5) Kehendak Allah dapat dilaksanakan dalam apa yang kelihatan sekalipun nampak sebagai kebetulan (Keluaran 21:13; 1 Raja-raja 22:28,34) dan dianggap tidak berarti (Matius 10:29-30) 

Kesembilan, manifestasi kedaulatan Allah atas berbagai peristiwa demi kebaikan umatNya. (1) Pemeliharaan Allah meliputi juga perorangan (1 Petrus 5:6-7); (2) Ia melepaskan umatNya dari kesusahan (Mazmur 23;5; 34;8; 107:2); (3) Ia dapat menyerahkan umatNya kepada musuh-musuh mereka selama jangka waktu tertentu, guna menghajar mereka jika perlu (Hakim-hakim 3:8; 4:2; 6:1); (4) Allah mengandalikan keadaan sepenuhnya saat umatNya mengalami penganiayaan (Kisah Para Rasul 8:1; Filipi 1:28-29); (5) Ia memenuhi segala keperluan anak-anakNya selaras dengan kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19); (6) Ia turut bekerja dalam segala sesuatu pada kehidupan umatNya untuk mendatang kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, dan sesuai kehendakNya (Roma 8:28);

Kesepuluh, manifestasi kedaulatan Allah atas Iblis. Bahwa Allah memiliki kendali atas Iblis sangat jelas diajarkan dalam Alkitab. (1) Tuhan dapat mengekang Iblis jika Ia menghedakinya (Ayub 1:12); (2) Pada waktu tertentu Ia memberikan kekuasaan kepada Iblis untuk melakukan yang sejahat-jahatnya, tetapi Allah selalu memagang kendalinya (Wahyu 9:1; 20:7).

Ringkasnya, Alkitab menyatakan bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu. Apakah kita mengetahui atau tidak, mengakuinya atau tidak, Allah tetaplah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Justru berbagai bukti yang di dinyatakan di dalam Alkitab bertujuan membawa kita agar mengetahui dan mengakui kedaulatan Allah dalam kehidupan kita. Mengetahui dan mengakui kedaulatan Allah membawa kita kepada (1) Pemujaan dan penyembahan yang semakin dalam bagi Allah; (2) Memberi penghiburan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan kita; (3) Meneguhkan keyakinan akan kemahakuasaan dan kebaikan Tuhan yang pada akhirnya memberi kita rasa aman.

KOTBAH 3. KEDAULATAN ALLAH:PANDANGAN ALKITABIAH TENTANG KEJAHATAN (BAGIAN 6)
(Biblical View About Evil)

PROLOG

Selama berabad-abad, masalah kejahatan dan penderitaan telah dipakai sebagai “senjata” dan bukti penolakan terhadap eksistensi Allah. Para skeptis seperti David Hume, H.G. Well, Bertrand Russel telah menyimpulkan berdasarkan observasi mereka mengenai kejahatan dan penderitaan bahwa Allah itu tidak ada. David Hume1 mengungkapkan “Adakah Allah berkeinginan mencegah kejahatan, tetapi tidak mampu? Maka Ia tidak mahakuasa. Apakah Ia dapat namun, namun tidak ingin? Maka Ia jahat. Apakah Ia dapat maupun ingin: bagaimana bisa ada kejahatan?” 2

Jauh sebelum David Hume mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, filsuf Epicurus mengajukan pertanyaan yang sama hampir tiga ratus tahun sebelum Kristus lahir.3 Dan, orang-orang skeptis ini terus mengajukan pertanyaan yang sama ini hingga kini, hanya untuk berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Formula logis yang dipakai untuk melawan Theisme Kristen, menurut John M. Frame adalah sebagai berikut: “Premis pertama: Jika Allah Mahakuasa, Ia akan dapat mencegah kejahatan; Premis kedua: Jika Allah Mahabaik, Ia akan berkehendak untuk mencegah kejahatan; Kesimpulan: Jadi, jika Allah Mahakuasa dan Mahabaik, maka tidak akan ada kejahatan; Premis ketiga: Tetapi kejahatan ada; Kesimpulan: Oleh karena itu, tidak ada Allah yang Mahakuasa dan Mahabaik”. 3

Selanjutnya, Frame mengamati bahwa problem kejahatan ini “merupakan keberatan terhadap Teisme Kristen yang paling serius dan paling kuat”. Bahkan menurut Frame, “Profesor Walter Kaufmann.. selalu memaksudkan problem ini sebagai argumentasinya yang kuat untuk melawan Kekristenan.. Bagi dia realita kejahatan adalah penolakan yang sempurna terhadap teisme populer”. 4
Realita yang dapat dilihat disekitar kita tentang penderitaan, kekerasan, penindasan, perang, diskrimiasi, sakit penyakit, kematian, gempa bumi, badai, tsunami, dan lain-lain seolah-olah mendukung pendapat para skeptis tersebut. Bahkan setiap orang Kristen, mungkin pernah bertanya-tanya tentang masalah ini “mengapa Tuhan yang baik mengijinkan kejahatan?”. Karena itu adakah jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut? Dan bagaimana orang Kristen menanggapinya?


Masalah kejahatan dalam relasinya dengan keberadaan Allah adalah misteri yang tidak terpecahkan secara sempurna dalam kehidupan ini. Bahkan Alkitab tidak menjawab pertanyaan ini dengan tuntas. John M. Frame menyatakan “kita tidak mungkin menemukan jawaban yang sempurna bagi semua pertanyaan-pertanyaan ini”. Selanjutnya frame mengatakan “kita dapat memberikan sejumlah jawaban dalam pengertian yang lain. Jika yang anda inginkan kekuatan untuk tetap percaya ditengah penderitaan, Alkitab dapat memberikannya, dan bahkan memberikannya sevara berlimpah. Jika anda ingin ditolong agar tetap yakin kepada Tuhan walau pun kejahatan tidak dapat dijelaskan, ya, kita dapat menolong”. Walaupun jawaban tentang hal ini sulit dan pastilah menyisakan misteri hal ini tidak membebaskan kita untuk mempelajari dan menelitinya berdasarkan Alkitab. 5

BERBAGAI PANDANGAN MENGENAI KEJAHATAN

Masalah kejahatan dapat dipandang dalam bentuk yang paling sederhana sebagai konflik yang melibatkan tiga konsep, yaitu: kuasa Tuhan, kebaikan Tuhan, dan kehadiran kejahatan di dalam dunia. Penggunaan akal pikiran memberitahu kita bahwa ketiga hal tersebut sepertinya tidak mungkin benar pada saat yang bersamaan. Jawaban terhadap masalah kejahatan biasanya melibatkan modifikasi atau bahkan penolakan terhadap satu atau lebih dari tiga konsep yang ada, yaitu: membatasi kuasa Tuhan, membatasi kebaikan Tuhan, atau memodifikasi keberadaan kejahatan dengan menyebutnya sebagai ilusi.

Sebagai akibat dari keinginan manusia mendapatkan jawaban yang pasti mengenai masalah kejahatan ini, berbagai pandangan telah ditawarkan sebagai solusi dari pertanyaan-pertanyaan diatas, antara lain sebagai berikut: 6

Pertama, pendangan yang mendefinisikan kembali kejahatan sebagai kebaikan. Pandangan ini mengajarkan bahwa Tuhan menyebabkan semua hal terjadi, termasuk kejahatan. Karena segala sesuatu yang Tuhan lakukan itu baik, setiap peristiwa yang terjadi di bumi pada akhirnya harus menjadi baik. Pandangan ini bahkan tidak ragu-ragu memakai istilah determinisme (teologi takdir) untuk menggambarkan kenyataan bahwa Allah merupakan penyebab segala sesuatu yang terjadi, termasuk tindakan-tindakan manusia. Pandangan ini dianut oleh Gordon H. Clark, seorang penganut Calvinik ekstrim.

Kedua, pandangan yang menyimpulkan bahwa Tuhan tidak berbuat banyak untuk mengatasi kejahatan di dunia karena Ia tidak mampu. Pandangan ini mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan sebuah dunia yang benar-benar memberikan kebebasan bagi para penghuninya. Kebebasan yang tidak akan dilanggarNya. Tuhan juga mengambil risiko besar dalam menciptakan dunia ini, sebab menurut pandangan ini, Tuhan memilih untuk tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Tuhan tidak menetapkan berbagai kejadian yang berlangsung di bumi. Sebaliknya, segala sesuatu yang terjadi merupakan konsekuensi yang timbul dari hukum-hukum fisika dan kebebasan manusia yang Tuhan masukan ke dalam dunia ini. Tuhan akan melakukan sesuatu tentang kejahatan dan penderitaan jika Dia bisa. Namun, sistem yang telah diciptakanNya, dan masa depan yang Dia sendiri tidak dapat pastikan, membuatnya tidak dapat melakukan apa-apa. Pandangan ini juga menyimpulkan Allah ingin orang-orang benar hidup bahagia, tetapi kadang Ia tidak dapat merealisasikannya. Ada hal-hal dimana Allah memang tidak dapat mengendalikannya. Allah itu baik, tetapi Ia tidak cukup berkuasa untuk mendatangkan hal-hal yang baik yang Ia inginkan. Pendek kata, Allah itu terbatas. Pandangan ini dipegang oleh Edgar S. Brightman, profesor filsafat dari Universitas Boston, dan juga Dipegang oleh Rabbi Harold Kushner.

Ketiga, pandangan yang menyimpulkan bahwa kejahatan itu hanyalah ilusi. Pandangan ini menolak sama sekali realitas dari kejahatan. Pandangan ini berargumen bahwa masalah kejahatan, penyakit, dan kematian itu tidak nyata dan hanya merupakan ilusi dari pikiran yang fana. Pandangan ini anut oleh Marry Baker Eddy pendiri dari Christian Science.

Keempat, pandangan yang mengajarkan bahwa Tuhan begitu berkuasa sehingga jika orang-orang cukup beriman, Tuhan akan melindungi mereka dari berbagai akibat hidup di dalam dunia yang jatuh dalam dosa. Kemakmuran materi dan kesehatan fisik tersedia bagi setiap orang percaya. Pandangan ini dipegang oleh para penganut teologi kemakmuran atau Injil Kemakmuran.

Kelima, pandangan yang berpagang pada keyakinan bahwa Tuhan benar-benar memerintah dari tahtaNya di surga. Dia juga tidak senang melihat penderitaan anak-anakNya. Meskipun demikian, Tuhan begitu berkuasa sehingga Dia dapat bekerja melalui sistem dunia yang sudah jatuh dalam dosa itu untuk mengenapi tujuan-tujuanNya. Menurut pandangan ini, suatu hari kelak Tuhan akan menghancurkan kejahatan untuk selama-lamanya. Tetapi sampai hal itu terjadi, Dia terus memimpin jalanNya sejarah menuju akhir yang sudah ditetapkanNya. Pandangan ini adalah pandangan tradisional yang dianut oleh banyak kaum Injili.

PEMIKIRAN DASAR MENGENAI KEJAHATAN

Sebelum lebih jauh membahas tentang kejahatan dan pandangan Alkitab mengenai hal ini, perlu diperhatikan empat pemikiran mendasar mengenai kejahatan sebagai berikut: 7

Pertama, kejahatan dapat didefinisikan sebagai absennya atau ketiadaan dari sesuatu yang baik. kejahatan merupakan kerusakan atau devisiasi (penyimpangan) dari apa yang sebenarnya. kejahatan ada sebagai kerusakan dari sesuatu yang baik.

Kedua, kejahatan tidak memiliki esensi dari dirinya sendiri. Kejahatan tidak eksis secara sendirinya, ia ada di dalam sesuatu dan bukan di dalam dirinya sendiri. Misalnya, lubang itu riil, tapi hanya ada dalam sesuatu yang lain. Kita bisa katakan tidak adanya tanah sebagai sebuah lubang, tapi lubang tidak bisa dipisahkan dari tanah. Misalnya, Kelapukan pada pohon terjadi karena adanya pohon. Tidak ada kelapukan jika tidak ada pohon. Kebusukan pada gigi hanya dapat terjadi selama gigi itu ada.

Ketiga, kejahatan itu adalah sesuatu yang aktual, bukan ilusi. Walaupun kejahatan itu tidak eksis dari dirinya sendiri, tidak berarti bahwa kejahatan itu adalah sesuatu yang abstrak atau hanya khayalan belaka. Kejahatan itu nyata, dapat dilihat, dan dialami.
Keempat, kejahatan dapat dikategorikan dalam dua bentuk, yaitu kejahatan moral dan kejahatan natural. Kejahatan moral adalah kejahatan yang dilakukan oleh agen atau pelaku-pelaku moral yang bebas. Contoh dari kejahatan moral ini adalah perang, kriminalitas, diskriminasi, perbudakan, pembantaian, dan lain-lain. Kejahatan natural adalah kejahatan yang tidak melibatka kehendak dan tindakan manusia tetapi merupakan aspek alam yang bekerja melawan manusia. Contoh dari kejahatan natural ini adalah badai, tsunami, gempa bumi, banjir, gunung meletus, dan lain-lain.

RINGKASAN PANDANGAN ALKITABIAH TENTANG KEJAHATAN

Sekedar mengingatkan kembali, tentu saja keterbatasan jawaban kita sama dengan keterbatasan dari pernyataan Kitab Suci. Kita harus berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan dengan cara menafsirkan bagian-bagian tertentu dari Alkitab apabila hal itu tidak didukung oleh pernyataan Alkitab. Tidaklah bijaksana memasukan atau memaksakan pendapat dari luar Alkitab dengan bukti Alkitabiah yang tidak dapat dijamin kebenarannya. Kadang-kadang hal ini didorong oleh keinginan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab oleh Alkitab. Karena itu saat mempelajari tanggapan Alkitab tentang kejahatan ini, kita perlu memperhatikan fakta-fakta sebagai berikut.

Fakta 1. Untuk dapat membedakan antara kejahatan dan kebaikan seseorang perlu memiliki titik acuan atau tolok ukur yang tak terbatas, yang benar-benar baik dan sempurna. Tidak ada apapun di alam semesta yang dapat memenuhi kriteria tersebut, kecuali Allah. Karena itu, titik acuan yang tak terbatas untuk membedakan kebaikan dari kejahatan dapat ditemukan hanya di dalam Pribadi Allah, karena hanya Allah sendiri yang dapat memenuhi kriteria atau definisi “benar-benar baik atau baik secara absolut (mutlak). Dua fakta dari Alkitab berikut ini menegaskan hal ini. Pertama, adalah bahwa Allah sepenuhnya benar. Paulus menegaskan “...Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi." (Roma 3:4) Kedua, keadaan natur manusia yang berdosa dan patut mendapatkan hukuman Allah. Paulus menegaskan “seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak” (Roma 3:10-12). Keadaan ini disebut dengan kerusakan total (total depravity). 

Fakta 2. Tuhan memiliki kontrol atas dunia dan alam semesta ini. Sejarah dunia dan alam semesta bergerak menurut rencana atau ketetapan Tuhan yang berdaulat. Dunia dan alam semesta tidak bekerja secara kebetulan. Westminster Confession menyatakan “Allah, Sang Pencipta Agung segala sesuatu, menopang, mengarahkan, mengatur, dan memerintah semua ciptaan, tindakan, dan perihal, dari yang terbesar, hingga yang terkecil, dengan providensinya yang paling bijaksana dan kudus, seturut prapengetahuanNya yang sempurna, dan keputusan kehendakNya yang bebas dan tidak berubah, untuk memuji kemuliaan kebijaksanaan, kuasa, keadilan, kebaikan, dan kasih setiaNya”.8 Orang Kristen Kristen menyakini bahwa Tuhan memiliki suatu rencana yang mencakup segala sesuatu yang terjadi, dan bahwa Dia saat ini sedang berkarya mewujudkan rencananya tersebut. Rencana Tuhan ini kita disebut juga ketetapan Tuhan (Devine decree). Tuhan mempunyai satu ketetapan utama (Devine decree) yang terdiri dari bagian-bagian ketetapan (the decrees of God) yang mengikutsertakan segala sesuatu yang terjadi sebagaimana dikatakan oleh Paul Enns “Rencana berdaulat Allah adalah rencana tunggal yang menurutsertakan segala sesuatu. Jika Allah Mahakuasa Ia pasti mempunyai rencana maha arif yang mencakup segala sesuatu... Sebagai Arsitek Agung, Allah telah membentangkan cetak biru (blue print) untuk segala sesuatu yang terjadi. Ia mempunyai rencana utama, dan Ia membuatNya sesuai dengan kehendakNya sendiri”. 9

Fakta 3. Tuhan berdaulat dalam melaksanakan kehendakNya. Kedaulatan Allah dinyatakan bukan saja dalam kehendakNya tetapi juga didalam kemahakuasaanNya, atau dalam kuasa untuk melakukan kehendakNya. Allah Mahakuasa sehingga sanggup melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya (Daniel 4-35). Ada dua aspek dari kehendak Allah yaitu: Kehendak Allah yang mengarahkan (efektif) dan kehendak Allah yang mengizinkan (permisif). Beberapa hal dimana Allah terlihat sebagai penggerak yang secara aktif menjadikan semua peristiwa, yaitu: menciptakan (Yesaya 45:18); mengontrol alam semesta (Daniel 4:35); menetapkan penguasa (Daniel 2:21); memilih orang untuk diselamatkan (Efesus 1:4). Beberapa hal menunjukkan kehendak Allah yang mengizinkan, yaitu: Allah mengizinkan kejatuhan, dosa dan kejahatan, tetapi Ia bukan pencipta dosa dan kejahatan (Yakobus 1:13). Perbuatan-perbuatan dosa dan kejahatan tidak akan menggagalkan rencanaNya; Dia tetap dapat bekerja bahkan melalui sistem dunia yang sudah jatuh dalam dosa itu untuk mengenapi tujuan-tujuanNya. Jadi, dalam hal kehendak Allah yang permisif itu pun, Allah mengarahkan semuanya bagi kemuliaan-Nya (Matius 18:7; Kisah 2:23). 10

Fakta 4. Allah tidak memaksa orang melakukan hal yang tidak diinginkan orang itu. Ketetapan Allah yang berdaulat itu tidak menghancurkan kebebasan (freedom) seseorang atau hubungan sebab akibat, sebaliknya penetapan oleh Allah ini merupakan dasar bagi keberlangsungan hal ini. Fakta bahwa Allah memberikan kebebasan memilih kepada manusia memperlihatkan bahwa rencana (ketetapan) Allah memiliki potensi untuk menghasilkan kejahatan, tetapi asal-usul kejahatan sebenarnya datang dari manusia yang mengarahkan keinginannya menjauh dari Allah dan menuju kepada keinginannya sendiri. Dengan kata lain sebagaimana yang ditegaskan oleh Norman Gleiser dan Jeff Amanu “Allah menciptkan fakta kebebasan, manusia melakukan tindakan bebas tersebut; ciptaan membuatnya menjadi aktual”. Manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya (baca Kejadian pasal 1-3).11

Fakta 5. Saat Tuhan menciptakan, semua yang diciptakannya itu baik, bahkan sungguh amat baik (Kejadian 1:12,18,21,25,31). Tidak ada dosa, tidak ada kejahatan, tidak ada rasa sakit, dan tidak ada kematian. Salah satu hal baik yang diciptakan Tuhan adalah bahwa mahkluk ciptaanNya memiliki kebebasan untuk memilih yang baik. Agar mereka benar-benar memiliki pilihan, Allah harus mengijinkan sesuatu yang berbeda dengan yang baik supaya bisa ada pilihan. Karena itu Allah mengijinkan para malaikat dan manusia untuk memilih yang baik atau yang tidak baik (jahat). Fakta bahwa manusia yang menggunakan pilihan bebas yang diberikan Allah untuk memberontak terhadap Tuhan tidak mengejutkanNya. Tuhan tidak menciptakan kejahatan, namun Dia mengijinkan kejahatan. Jikalau Tuhan tidak mengijinkan kejahatan, manusia dan malaikat melayani Tuhan sebagai keharusan dan bukan karena pilihan. Tuhan mengijinkan kemungkinan terjadinya kejahatan supaya kita bisa betul-betul memilih mau menyembah Tuhan atau tidak. Jika tidak pernah menderita dan mengalami yang jahat, dapatkah kita betul-betul mengetahui betapa indahnya surga? Tuhan tidak menciptakan kejahatan, Dia mengijinkannya. Jikalau Tuhan tidak mengijinkan kejahatan, kita akan menyembah Dia secara terpaksa dan bukan karena kita memilih dengan kemauan sendiri.

Fakta 6. Kemerosotan terjadi setelah kejatuhan, dimana manusia (Adam dan Hawa) menggunakan kehendak bebas yang diberikan oleh Allah untuk memilih tidak taat kepada Allah (kejadian 3). Setelah Adam dan Hawa membuat kejahatan menjadi aktual pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22), dan akibat natur dosa itulah kita sekarang ini terus menggunakan kehendak bebas itu untuk membuat kejahatan itu menjadi aktual (Markus 7:20-23). Bahkan kejahatan natural seperti gempa bumi, badai, banjir dan hal-hal lainnya yang serupa, berakar dari penyalahgunaan kehendak bebas manusia. Saat ini kita hidup dalam dunia yang telah jatuh dan karena itu, rentan terhadap bencana alam yang tidak akan terjadi jika manusia tidak meberontak melawan Allah pada mulanya (Roma 8:20-22). Taman Eden tidak memiliki bencana alam, penderitaan atau kematian sampai setelah Adam dan Hawa berdosa (baca Kejadian pasal 1-3). Bencana, penderitaan dan kematian ini akan terus terjadi hingga Tuhan mengakhiri kejahatan untuk selama-lamanya saat Ia mengkremasi langit dan bumi yang sudah usang ini dan menggantikannya dengan langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:4).

Fakta 7. Tetap ada pengharapan bagi manusia ditengah-tengah dunia yang telah jatuh dan penuh kejahatan ini. Dunia yang telah jatuh saat ini bukanlah dunia yang terbaik bagi orang-orang percaya. Allah masih belum selesai dalam melaksanakan rencana atau ketetapannya, jadi Ia masih berurusan dengan dunia dan kejahatan. Kejahatan suatu saat akan berakhir sesuai dengan ketetapan Tuhan. Hanya karena kejahatan belum dihancurkan sekarang ini tidak berarti bahwa kejahatan tidak akan pernah dihancurkan. Alkitab menjelaskan, akan datang satu hari ketika Tuhan akan mengakhiri kejahatan untuk selama-lamanya. Wahyu 19 menjelaskan Yesus akan datang kembali suatu hari untuk memusnahkan semua musuh Tuhan dan untuk mendirikan pemerintahanNya yang adil dan benar di bumi.12 Mengapa Allah tidak melakukannya saat ini, penundaan ini sebenarnya adalah perwujudan dari anugerahNya. Rasul Petrus berkata “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9). Selanjutnya Rasul Petrus mempertegas bahwa suatu saat langit dan bumi yang usang ini akan dikremasi oleh Allah “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap” (2 Petrus 3:10), dan segera digantikan dengan langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:1), dimana “maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu”(Wahyu 21:4). Sampai hal tersebut terlaksana, Tuhan terus memimpin dan mengontrol jalannya sejarah menuju akhir yang telah ditetapkanNya (wahyu 12). Dia melindungi dan menyelamatkan orang-orang percaya. Meskipun demikian seperti yang ditunjukkan oleh kitab Ayub, kadang-kadang Tuhan mengijinkan kita melalui berbagai bentuk penderitaan. Perhatikanlah Ayub dalam Ayub 1-2, dimana Iblis ingin menghancurkan Ayub, dan Tuhan mengijinkan Iblis berbuat apa saja, kecuali membunuh Ayub. Tuhan mengijinkan ini untuk membuktikan kepada Iblis bahwa Ayub adalah orang benar karena dia mencintai Tuhan, bukan karena Tuhan telah memberkati dia dengan berlimpah. Tuhan berdaulat dan mengontrol segala sesuatu yang terjadi. Iblis tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mendapatkan “ijin” dari Tuhan. Bahkan masa-masa seperti yang dialami Ayub, bagi orang percaya menjadi sarana yang membawa kemuliaan bagiNya.

EPILOG

Berdasarkan fakta-fakta diatas kita menolak pendapat logis yang keliru para skeptis yang mengatakan “Jika Allah Mahakuasa, Ia akan dapat mencegah kejahatan. Jika Allah Mahabaik, Ia akan berkehendak untuk mencegah kejahatan. Jadi, jika Allah Mahakuasa dan Mahabaik, maka tidak akan ada kejahatan. Tetapi kejahatan ada. Oleh karena itu, tidak ada Allah yang Mahakuasa dan Mahabaik”. 

Sebaliknya, Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa keberadaan kejahatan di dunia terlihat sinkron dengan eksistensi Allah yang Mahakuasa dan Mahabaik. Berdasarkan fakta-fakta Alkitabiah yang telah dipaparkan diatas dapat dismpulkan secara logis bahwa “jika Allah mahabaik, Ia akan mengalahkan kejahatan. Jika Allah mahakuasa, Ia dapat mengalahkan kejahatan. Maka, karena kejahatan masih belum dikalahkan, natur dari kemahkuasaan dan kebaikan dari Allah adalah jaminan bahwa kejahatan pada akhirnya akan dikalahkan”. 13

Suatu saat di masa depan, Kristus akan kembali, melucuti kuasa si jahat, dan menghakimi semua manusia untuk segala perbuatannya selama di bumi (Matius 25:31-46; Wahyu 20:11-15). Keadilan dan kebaikan akan mutlak menang. Mereka masuk dalam kekekalan tanpa mengakui keberadaan Allah, dan tidak mengakui mempercayai Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan akan mengerti seberapa efektifnya Allah telah berurusan dengan masalah kejahatan, tetapi saat itu terjadi mereka telah binasa di neraka untuk selama-lamanya. Alkitab menegaskan “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua" (Wahyu 20:8).

Berbahagialah kita yang dipilih Allah berdasarkan anugerahNya, walaupun untuk beberapa saat kita menderita sekarang ini di dunia. Karena kita mengingat surga tersedia bagi “mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu” (Wahyu 20:27).

REFERENSI
Beker, Charles. F., 1994. A Dispensasional Theology, terjemahan, Penerbit Alkitab Anugerah: Jakarta.
Berkhof, Louis., 2011. Teologi sistematika. Jilid 1, Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Boice, James M., 2011. Dasar-Dasar Iman Kristen. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Conner, Kevin J., 2004. The Fondation of Christian Doctrine. Terjemahan, Pernerbit Gandum Mas: Malang.
Cornish, Rick., 2007. Five Minute Theologian. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.
Douglas, J.D., ed, 1996. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I dan II. Terj, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta.
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
_________., 2000. Approaching God, 2 jilid. Terjemahan, Penerbit Interaksara : Batam.
Erickson J. Millard., 2003. Teologi Kristen. Jilid 1 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 2009. New Dictionary of Theology. jilid 1, terjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House: Grand Rapids, Michigan.
____________., 2009. Christian Beliefs. Terjemahan, Penerbit Metanonia Publising: Jakarta.
Morris, Leon., 2006. Teologi Perjanjian Baru. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Napel, Henk Ten., 2006. Kamus Teologi Inggris-Indonesia. Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta
Palmer. Edwin., 2005. Lima pokok Calvinisme. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Pfeiffer, Charles F & Eferett F. Herrison., ed, 2004. The Wycliffe Bible Commentary, volume 2, Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Poerwadarminta, W.J.S, Penyusun., 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Pustaka: Jakarta.
Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology. 2 Jilid, Terjemahan, Penerbit Andi Offset: Yoyakarta.
Sproul, R.C., 1997. Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Susilowati, Daru & Lyndon Saputra, Penyusun., 2008. Webster’s Kamus Lengkap Inggris-Indonesia.Diterbitkan Karisma Publising Group: Tangerang.
Stamps, Donald. C, ed., 1994. Full Life Bible Studi. Penerbit Gandum Mas : Malang.
Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Williamson, G.I., 2012. Westminster Confession of Faith. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta. 3 KHOTBAH TENTANG KEDAULATAN ALLAH.
Next Post Previous Post