TANGGAPAN APAKAH IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL?

By Samuel T. Gunawan.
TANGGAPAN APAKAH IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL?
(Sebuah tanggapan terhadap artikel Ev. Dance S. Suat, MBS yang berjudul 


Ev. Dance S. Suat, MBS adalah seorang Fundamentalis Baptis. Lulusan Master of Biblical Study (MBS) dari Graphe International Theological Seminary (GITS), Jakarta. Menurut pengakuannya, sejak tahun 2004 mengajar di seminary tersebut. 

Pernyataan pendahuluan dalam artikel Ev. Dance S. Suat, MBS yang berjudul “IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL” kelihatannya merupakan satu contoh dari tafsiran Alkitab yang keluar dari konteks (out of context). Ketika membaca artikel ini dan beberapa artikel lain yang ditulisnya, saya jadi meragukan slogan “Kekristenan yang Alkitabiah” yang didengungkannya. Sebab secara logis, dapat dipastikan bahwa tidaklah mungkin seseorang bisa mengajarkan Kekristenan yang Alkitabiah jika ia menafsirkan Alkitab dengan cara yang tidak Alkitabiah. 

Berikut kutipan penyataan pembukaan artikel tersebut “Pada umumnya orang Kristen berasumsi, bahwa kegiatan pemberitaan Injil merupakan tugas setiap orang percaya. Namun bagaimana kalau ternyata Iblis pun turut memberitakan Injil? Dalam Kisah Para Rasul 16: 16-18 menceritakan, bahwa seorang perempuan yang mempunyai roh tenung turut bersama-sama dengan Paulus dalam pemberitaan Injil.“Orang-orang ini adalah hamba Allah yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan ” (Kisah Para Rasul 16:17), demikianlah kata-kata yang diucapkan perempuan yang memiliki roh tenung itu. 

Kalimat yang diucapkan perempuan tenung tersebut sangat menarik, siapakah yang menyangka bahwa itu adalah pernyataan Iblis. Kamuflase Iblis tidak dapat menipu Rasul Paulus dan Silas, karena mereka adalah pelayan Kristus yang penuh Roh Kudus. Mereka mengetahui bahwa Injil yang disampaikan perempuan tenung bersumber dari Iblis. 

Penting bagi kita untuk mengetahui cara Rasul Paulus dan Silas membongkar kamuflase Iblis, terutama kita yang hidup di zaman okultis. Bahkan beberapa gerakan kekristenan dengan berani mendemostrasikan bentuk okultis dalam kebaktian-kebaktian mereka”. (Selengkapnya artikel tersebut bisa dibaca disini https://dancesuatbibleclass.wordpress.com/2011/12/06/iblis-aktif-memberitakan-injil/

TANGGAPAN SAYA:

1. Paling sedikit ada tiga kesalahan Ev. Dance S. Suat, MBS dalam menafsirkan Kisah Para Rasul 16:16-18 tersebut, yaitu: 

(1) Kesimpulan yang salah terhadap maksud teks tersebut ketika ia menyatakan bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa Iblis juga memberitakan Injil; 

(2) Kesimpulan yang salah tersebut disebabkan ia tidak menerapkan prinsip hermeneutik dan eksegesis yang tepat; 

(3) sebaliknya, ketimbang melakukan eksegesis yang tepat justru ia melakukan kesalahan eksegesis (exegetical fallacy) yang dikenal dengan istilah “eisegesis”. 

Eisegesis merupakan kebalikan dari eksegesis. Sementara eksegesis adalah usaha mencari tahu apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis kepada pembaca mula-mula dan membiarkan teks berbicara sebagaimana apa yang dimaksudkan oleh penulisnya kepada pembaca mula-mula dari teks tersebut, sebaliknya, eisegesis merupakan kesalahan karena memaksakan pemahaman atau makna suatu teks berdasarkan sesuatu ide yang didapatkan dari luar teks tersebut. 

Kesalahan eksegesis yang dilakukan oleh Ev. Dance S. Suat, MBS terhadap teks Kisah Para Rasul 16:16-18 ini terjadi disebabkan ia membawa atau memasukkan idenya sendiri ke dalam teks tersebut, yaitu ide yang tidak dimaksudkan oleh teks tersebut. Hal ini bisa terjadi karena ia di dalam memahami teks dipengaruni oleh asumsi (anggapan) atau pandangan teologinya sendiri, sehingga memaksanya untuk menafsirkan teks tertentu tersebut sesuai dengan apa yang diinginkannya. 

Secara moral, kesimpulan pernyataannya beserta seluruh argumen yang dibangunnya diatas dasar penyataan tersebut bersifat menipu dengan membentuk opini yang reduksionistik bagi pembaca artikelnya, seakan-akan ia telah melakukan penggalian (eksegesis) kebenaran layaknya seorang ekseget yang handal. 

2. Ketika menyatakan, “Kalimat yang diucapkan perempuan tenung tersebut sangat menarik, siapakah yang menyangka bahwa itu adalah pernyataan Iblis”, maka Ev. Dance S. Suat, MBS telah bertindak ceroboh dalam menafsirkan teks Kisah Para Rasul 16:16-18 tersebut dengan memasukan nama figur yang tidak disebutkan dalam teks tersebut, yaitu Iblis. Ini adalah sebuah kesalahan yang fatal bagi sebuah penafsiran yang sehat. 

Perhatikanlah isi teks tersebut, “(16:16) Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. (16:17) Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.” (16:18) Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: “Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga keluarlah roh itu. (Kisah Para Rasul 16:16-18). Jelas di dalam teks tersebut tidak ada sama sekali disinggung tentang Iblis, tetapi yang disebutkan adalah roh tenung. 

Alkitab menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara Iblis dan roh tenung. Kata Yunani “pneuma puthôn” atau yang diterjemahkan dengan “roh tenung” dalam teks tersebut dapat berarti “roh peramal”, yaitu salah satu jenis dari roh-roh jahat. Dan di dalam konteks ayat tersebut, roh tenung itu berkaitan dengan puthôn yaitu seekor ular di kuil Delfi (Yunani Tengah) yang dikalahkan Dewa Apollo dalam mitologi Yunani yang dianggap mampu memberikan ramalan. Jadi perempuan yang disebutkan memiliki roh puthôn tersebut dianggap sebagai jurubicara yang memiliki kemampuan meramal atau memberi nasihat. 

Ini sama seperti yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, semacam orang yang kerasukan roh jahat melalui nyanyian, mantra, ramalan atau tenungan (Bandingkan Imamat 19:31; 20:6,27; Ulangan 18:11). 

Sedangkan “Iblis” yang tidak disebutkan sama sekali di dalam teks tersebut, dalam bahasa Yunani adalah “Diabolos” dalam King James Version (KJV) diterjemahkan “Devil” sebanyak 35 kali (AITB pada umumnya menerjemahkannya Iblis). Iblis juga disebut sebagai “Satanos” yang dalam KJV ditemukan sebanyak 19 kali dalam Perjanjian Lama dan 36 kali dalam Perjanjian Baru. Kata Ibrani “Satan” dan kata Yunani “Satanos”, yang dalam KJV pada umumnya diterjemahkan Satan, dalam AITB diterjemahkan dengan Iblis. Kata Satan dalam bahasa Ibrani berarti “pendakwa atau lawan”. 

Jadi jelas Iblis tidak disebutkan dalam teks tersebut, melainkan roh tenung atau roh peramal (pneuma puthôn). Dengan demikian, ketika Ev. Dance S. Suat, MBS memasukan figur (Iblis) yang tidak ada disebutkan dalam teks tersebut dan justru dengan sengaja mengabaikan apa yang disebutkan dengan jelas (roh tenung atau pneuma puthôn) dalam teks tersebut, maka hal yang dilakukannya tersebut bukan saja merupakan kesalahan eksegetis karena menghilangkan arti kata dan makna teks, tetapi juga merupakan tindakan yang ceroboh. 

Ia telah melanggar prinsip-prinsip tertentu dalam menafsirkan Alkitab (Lihat point 5 dibawah). Secara eksegetis, dengan mengeliminasi (menyingkirkan) kata “roh tenung” dalam teks tersebut ia telah mereduksi teks (atau kebenaran yang sesungguhnya) agar sesuai dengan keinginannya sendiri. 

3. Lebih lanjut, kecerobohan Ev. Dance S. Suat, MBS terlihat ketika ia menyimpulkan bahwa Iblis juga memberitakan Injil, berdasarkan frase, “Orang-orang ini adalah hamba Allah yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan” (Kisah Para Rasul 16:17). 

Apabila diperhatikan, maka frase tersebut tidak ada sama sekali menyatakan atau mengindikasikan bahwa Iblis juga memberitakan Injil bersama rasul Paulus. Tetapi di dalam teks itu disebutkan bahwa perempuan yang memiliki roh tenung itu mengumumkan atau memberitahukan siapa dan apa yang dilakukan oleh rasul Paulus dan rekan-rekannya. 

Perhatikanlah bagaimana penulis Kisah Para Rasul menyatakannya demikian, “Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru, katanya: "Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan." (Kisah Para Rasul 16:17). 

Frase “ia mengikuti (haute katakolouthesa atau “perempuan ini terus mengikuti”) .... sambil berseru (ekrazo legousa atau”sambil terus mengucapkan atau memberitahukan) adalah bentuk present active participle dan imperfect active indicative, yang dapat diterjemahkan “ia terus mengikuti dan terus berseru”. 

Jadi perempuan yang memiliki roh tenung itu bukan memberitakan Injil tetapi mengumumkan bahwa rasul Paulus dan rekan-rekan lainnya adalah para hamba Allah pemberita jalan keselamatan. Tetapi tujuan dari perempuan ini mengumumkan hal itu karena ia hendak mengasosiasikan rasul Paulus dengan Zeus, dewa utama orang Yunani ketika ia menyebut Paulus sebagai hamba Allah (theos). Demikian juga dengan kata “jalan keselamatan” yang ditulis tanpa kata sandang di depannya, secara negatif, berarti “hanya sebagai salah satu dari banyak jalan keselamatan”. 

Ini bertentangan dengan Injil yang diberitakan rasul Paulus bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Karena itulah rasul Paulus tidak membiarkan roh tenung itu terus menerus menyerukan hal itu, tetapi ia segera mengusir keluar roh tenung dari perempuan itu. Karena (mungkin) apa yang dilakukan oleh perempuan yang memiliki roh tenung itu dianggap oleh rasul Paulus sangat merugikan (menyesatkan) dalam konteks pemberitaan Injil. 

Dengan demikian tidak ada sama sekali atau bahkan indikasi pun tidak ada bahwa Iblis juga memberitakan Injil, bahkan aktif memberitakan Injil seperti kesimpulan tafsiran Ev. Dance S. Suat, MBS terhadap Kisah Para Rasul 16:16-18, yang ceroboh itu.

4. Pernyataan Ev. Dance S. Suat, MBS bahwa Iblis aktif memberitakan Injil, bukan hanya merupakan pernyataan yang ceroboh tetapi merupakan pernyataan yang sesat dan menyesatkan. Pernyataan tersebut merupakan kamuflase dari Iblis! Atau ajaran dusta yang sedang ditaburkan oleh Iblis. Mengapa? Pertama, setiap kali Iblis disebutkan di dalam Alkitab maka sama sekali tidak ada disebutkan atau diindikasikan bahwa Ia aktif memberitakan Injil. 

Berikut ini daftar bagian atau ayat Alkitab yang menyebut tentang Iblis atau Satan, yaitu: Kejadian 3:15; Ayub 2:1; 1 Tawarikh 21:2; Zakharia 3:1-2; Matius 4:10; 12:26; 16:23; 25:41; Markus 1:13; 3:23,26; 4:15; 8:33; Lukas 4:2; 8:12; 10:18; 11:18; 13:16; 22:3, 31; Yohanes 6:70; 8:44; 13:2,27; Kisah Para Rasul 5:3; 10;38; 13:10; 26:18; Roma 16:20; 1 Korintus 5:5; 7:5; 2 Korintus 2:11; 11:14; 12:7; 12:8; Efesus 4:27; 6:11; 1 Tesalonika 2:18; 2 Tesalonika 2:9; 1 Timotius 1:20; 3:6,7; 5:15; 2 Timotius 2:26; Ibrani 2:14; Yakobus 4:7; 1 Petrus 5:8; 1 Yohanes 3:8,10; Yudas 1:9; Wahyu 2:9,19,12,24; 3:9; 12:9,12; 20:2,7,10). 

Sebaliknya, bukannya aktif memberitakan Injil, Alkitab menyatakan bahwa Iblis justru berusaha menghalangi perkembangan Injil (Silahkan baca ayat-ayat tersebut di atas). Kedua, apabila esensi Injil dipahami sebagai kebenaran historis dan teologis tentang Yesus Kristus dan karyaNya yang menyelamatkan manusia (Roma 1:16-17; 4:23-25; 1 Korintus 15:1-4; Galatia 1:12; 2 Timotius 2:8), maka merupakan hal yang kontradiktif jika dikatakan bahwa Iblis aktif memberitakan Injil, karena tujuan Iblis adalah membinasakan manusia. inti dari Injil adalah sebagai berikut : bahwa Injil itu merupakan kebenaran historis dan teologis tentang Yesus Kristus dan karyaNya yang menyelamatkan manusia. 

Karena itu saya jadi meragukan apakah Ev. Dance S. Suat, MBS benar-benar memahami apa itu Injil? Dugaan saya, ada kemungkinan ia memiliki pengertian yang kabur tentang Injil. (Untuk memahami esensi Injil silahkan baca artikel saya di : https://www.facebook.com/notes/samuel-t-gunawan/esensi-injil/1261408047241707).

Secara khusus dalam teks Kisah Para Rasul 16 ayat 17-18 tersebut di atas, seruan perempuan yang dirasuk roh tenung tersebut tidak menunjukkan bahwa Iblis aktif memberitakan Injil, melainkan roh tenung (sejenih roh jahat) yang hendak menyungsangkan (menyesatkan) Injil yang asli, ketika ia mengikuti rasul Paulus dan mengumumkan bahwa rasul Paulus dan rekan-rekan lainnya adalah para hamba Allah pemberita jalan keselamatan. 

Seperti yang saya telah jelaskan pada Point 3 di atas, bahwa tujuan dari perempuan ini mengumumkan bahwa rasul Paulus sebagai hamba Allah adalah untuk mengasosiasikan rasul Paulus dengan Zeus, dewa utama orang Yunani. 

Demikian juga ketika perempuan itu mengatakan “mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan”, maka yang ia maksudkan adalah bahwa rasul Paulus hendak memberitakan salah satu dari banyak jalan keselamatan”, karena kata Yunani “hodos sôtêrias” atau “jalan keselamatan” yang ditulis tanpa kata sandang di depannya, menunjukkan bahwa yang diberitakan oleh rasul Paulus hanyalah salah satu dari jalan keselamatan, bukan satu-satunya. 


Pengumuman yang diserukan perempuan tersebut sangat bertentangan dengan Injil yang diberitakan rasul Paulus dan para rasul lainnya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Perhatikanlah bahwa Lukas sebelumnya pernah menulis dengan tegas pernyataan rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul 4:12 bahwa “... keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”. 

Pernyataan rasul Petrus yang dicatat oleh Lukas tersebut hendak menegaskan bahwa keselamatan yang sesungguhnya (Yunani: hê sôtêria) hanya ada di dalam Yesus. Artinya jelas, bahwa tidak ada orang lain atau bahkan tidak ada nama lain, melainkan hanya Yesus Kristus saja satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia. Yesus sendiri mengatakan, “egô eimi hê hodos” atau dapat diterjemahkan “Akulah satu-satunya jalan” (Yohanes 14:6). 

Artikel definite atau kata sandang “hê” di depan kata “hodos” menunjukkan tidak ada yang lain, hanya Dia saja. Itulah sebabnya, dalam kasus di atas, rasul Paulus tidak membiarkan perempuan yang dirasuk roh tenung itu terus menerus mengumumkan pernyataan yang menyesatkan itu, tetapi ia segera mengusir roh tenung keluar dari perempuan itu. Dan roh tenung itupun keluar Kisah Para Rasul 16:18). 

Ringkasnya: Di dalam teks Kisah Para Rasul 16:16-18 tidak ada sama sekali menyebutkan atau bahkan mengindikasikan bahwa Iblis memberitakan Injil, bahkan aktif memberitakan Injil seperti kesimpulan tafsiran yang ceroboh dan menyesatkan oleh Ev. Dance S. Suat, MBS. Justru kita dapat melihat kamuflase (tipu muslihat) Iblis di dalam pernyataan Ev. Dance S. Suat, MBS bahwa Iblis aktif memberitakan Injil. 

Pernyatan sensasional murahan dan bersifat menipu tersebut benar-benar menyesatkan. Ini dapat dianggap sebagai taktik tipuan dari Iblis yang sangat berbahaya, sebab mengindikasikan bahwa Iblis juga berperan dalam pemberitaan Injil. Sebaliknya, bahkan diseluruh Alkitab, kita menemukan bahwa ketika Iblis disebutkan, ia tidak pernah diasosiakan dengan pemberitaan Injil. Justru, Iblis diasosiasikan sebagai oknum yang menghalangi, menghambat dan konfrotasi terhadap pemberitaan Injil. 

Ironisnya ialah kecerobohan dan pernyataan yang menyesatkan tersebut dilakukan oleh seorang pemegang gelar akademis Master of Biblical Study dan mengaku sebagai seorang pengajar Alkitab, serta berslogan “Kekristenan yang alkitabiah”. 

Karena itu, saya bertanya kepada Sdr. Ev. Dance S. Suat, MBS “Darimanakah dan bagaimanakah caranya ia mendapatkan tafsirannya yang menyesatkan itu?” Berhentilah berslogan sebagai seorang Kristen Alkitabiah apabila masih mempertahankan cara penafsiran Alkitab tetapi tidak dengan cara yang Alkitabiah. 

Melalui tanggapan dan kritik ini, Ev. Dance S. Suat, MBS seharusnya tertantang untuk membaca kembali keseluruhan pasal 16 Kisah Para Rasul, untuk kemudian melakukan penafsiran yang berhati-hati sehingga tidak menghasilkan tafsiran yang sesat dan menyesatkan itu, karena keluar dari konteks dan maksud dari suatu teks yang akhirnya dipakai oleh Iblis sebagai alat untuk memutarbalikan kebenaran.

5. Apabila eksegesis dipahami merujuk kepada prinsip-prinsip penafsiran yang benar, wajar, dan sehat untuk menemukan arti dari suatu teks, maka tidak bisa terhindarkan bahwa eksegesis akan diwujudkan dalam serangkaian argumen dan kesimpulan yang menunjukkan bahwa eksegesis itu telah dilakukan dengan tepat. 

Setelah memperhatikan dengan cermat, paling sedikit ada 3 (tiga) prinsip penafsiran Alkitab yang telah dilanggar secara langsung oleh Ev. Dance S. Suat ketika ia menafsirkan Kisah Para Rasul 16:16-18 tersebut, yaitu: 

(1) Melanggar prinsip menafsir menurut konteksnya, yaitu menafsirkan kata, frase, kalimat dan ayat dengan terlebih dahulu mempertimbangkan konteksnya. Ini penting karena tanpa mempelajari konteksnya maka pengertian kita terhadap kata, frase, kalimat dan ayat tersebut menjadi tidak lengkap, khususnya jika ada kaitan pengertian yang tidak dapat dilepaskan satu dengan yang lain. 

(2) Melanggar prinsip menentukan arti kata aslinya. Ini berarti harus menafsirkan sesuai dengan arti kata atau kata-kata yang tepat sebagaimana dimaksudkan oleh penulis aslinya, dengan cara menemukan definisi kata itu dan apa artinya yang tepat sesuai dengan konteks zaman atau budaya waktu penulisannya.

(3) Melanggar prinsip menafsir sesuai tata bahasa (gramatika). Arti dari sesuatu bagian atau paragraf harus ditentukan oleh penyelidikan kata-kata yang ada di dalamnya dan hubungannya dalam kalimat. Tata bahasa terdiri dari beberapa unsur penting, misalnya: subjek, objek, kata kerja, kata keterangan waktu, tempat, cara, kata ganti dan kata sambung. 

REFERENSI: TANGGAPAN APAKAH IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL? 

Brake, Andrew., 2016. Menjalankan Misi Bersama Yesus: Nasihat-Nasihat Bagi Gereja Dari Kisah Para Rasul. Terjemahan, Penerbit ANDI: Yogyakarta.

Braga, James., 1982. Cara Menelaah Alkitab, Penerbit Gandum Mas : Malang.

Carson, D.A., 2009. Kesalahan-Kesalahan Eksegetis. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.

Clark, Howard, ed. 2010. The Learning Bible Contemporary English Version. Dicetak dan diterbitkan Lembaga Alkitab Indonesia : Jakarta.

Conner, Kevin J & Ken Malmin., 1983. Interprenting The Scripture. Edisi Indonesia dengan judul Hermeneuka, Terjemahan 2004. Penerbit Gandum Mas: Malang. 

Cox, Alan D., 1988. Penafsiran Alkitabiah : Prinsip-prinsip Hermeneutik. Yayasan Lembaga Sabda : Yokyakarta. 

Douglas, J.D., ed, 1993. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini. Jilid 2. Terjemahkan Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta. 

Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.

Drewes, B.F., 2014. Tafsiran Alkitab: Kisah Para Rasul. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.

Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 1 & 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Fee, Gordon D., 2008. New Testament Exegesis. Edisi Ketiga. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 2009. New Dictionary of Theology. jilid 2, terjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang. 

Fisher, Don L., 1987. Pra Hermeneutik. Penerbit Gandum Mas : Malang.

Gunawan, Samuel T., 2009. Pengantar Hermeneutika Alkitab. Diktat. Dicetak dan diterbitkan oleh BESEI Ministries: Palangka Raya.

Gunawan, Samuel., 2014. Apologetika Kharismatik: Kharismatik Yang Kukenal dan Kuyakini. Penerbit Bintang Fajar Ministries: Palangka Raya.

Guthrie, Donald., 2010. New Tastemant Theology. 2 Jilid, Terjemahan. Penerbit BPK : Jakarta.

Klein, William W, Craig L. Blomberg, Robert L. Hubbard., 2012. Introduction Biblical Interpretation. Jilid 1 & 2, terjemahan, Literatur SAAT: Malang.

Mounce, William D., 2011. Basics of Biblical Greek, edisi 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Ngandas, Deky Hidnas Yan., 2013. Paradigma Eksegetis Penting dan Harus. Penerbit Indie Publising: Depok.

Osbone, Grant R., 2012. Spiral Hermeneutika: Pengantar Komprehensif Bagi Penafsiran Alkitab. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.

Pfeiffer F. Charles & Everett F. Harrison., ed. 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Volume 1,2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas Malang. Ryrie, Charles C., 1991. Teologi Dasar. Jilid 1, Terjemahan, Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta.

Schafer, Ruth., 2004. Belajar Bahasa Yunani Koine: Panduan Memahami dan Menerjemahkan Teks Perjanjian Baru. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta. 

Stein, Robert H., 2015. Prinsip-Prinsip Dasar dan Praktis Penafsiran Alkitab. Terjemahan, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.

Stuart, Douglas & Gordon D. Fee., 2011. Hermeneutik: Menafsirkan Firman Tuhan Dengan Tepat. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang. 

Susanto, Hasan., 2003. Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid I & II. Penerbit Literatur SAAT : Malang. 

___________., 2011. Hermeneutika: Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab. Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Utley, Bob., 2011. Kumpulan Komentari Panduan belajar Perjanjian Baru: Kisah Para Rasul. Terjemahan, diterbitkan Bible Lesson International: Marshall, Texas.

Virkler A. Henry & Karelynne Gerber Ayayo.,2015. Hermeneutik: Prinsip-Prinsip dan Proses Interpretasi Alkitabiah. Terjemahan, Penerbit Andi: Yogyakarta.

Zuck, Roy B, editor., 2011. A Biblical of Theology The New Testament. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.TANGGAPAN APAKAH IBLIS AKTIF MEMBERITAKAN INJIL?  
Next Post Previous Post