6 Karakteristik Spiritual Hidup Anak-anak Terang - Efesus 5:1-21
Pendahuluan:
Surat Efesus dalam Perjanjian Baru memberikan panduan yang sangat berharga bagi orang percaya mengenai bagaimana hidup sebagai "anak-anak terang." Dalam Efesus 5:1-21, Paulus menguraikan enam karakteristik spiritual yang harus dimiliki oleh setiap orang yang ingin hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.Karakteristik-karakteristik ini mencakup meneladani Allah, hidup dalam kasih, menguji apa yang berkenan kepada Allah, hidup dengan hikmat, penuh dengan Roh Kudus, dan merendahkan diri dalam takut akan Tuhan. Melalui pemahaman dan penerapan dari ajaran ini, umat Allah dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan berkenan di hadapan-Nya.
2. Kedua, pada Efesus 5:2, Paulus menegaskan agar orang percaya mempraktikkan pola penyerahan diri sama seperti Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai korban demi manusia atas dasar kasih-Nya. Hidup dalam kasih yang dimaksudkan Rasul Paulus adalah dengan meneladani Kristus Yesus yang telah terlebih dahulu mengasihi, bahkan menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
Kesimpulan:
Efesus 5:1-21 memberikan panduan praktis bagi orang percaya untuk hidup sebagai anak-anak terang. Enam karakteristik spiritual yang diuraikan Paulus—meneladani Allah, hidup dalam kasih, menguji apa yang berkenan kepada Allah, hidup dengan hikmat, penuh dengan Roh Kudus, dan merendahkan diri dalam takut akan Tuhan—adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, orang percaya dapat menunjukkan kehidupan yang mencerminkan kasih dan kebenaran Allah, serta menjadi terang di dunia.
Ada enam hal yang dikelompokkan sebagai karakteristik spiritual dalam hidup menjadi anak anak terang menurut Efesus 5:1-21, yakni:
1. Pertama, pada Efesus 5:1, sebagai anak-anak terang, umat Allah dituntut untuk hidup dengan meneladani Allah yang diungkapkan Paulus dengan istilah menjadi “penurut-penurut Allah”, di mana kata “penurut” dalam bahasa Yunaninya adalah μιμητής (mimetes) yang berarti imitator atau peniru. Sama seperti Yesus yang meneladani Allah demikian juga umat-Nya. Paulus juga mendorong orang percaya untuk meneladani Kristus. Suatu peringatan bahwa hidup sebagai anak ada natur keilahian Allah di dalam diri orang percaya.
1. Pertama, pada Efesus 5:1, sebagai anak-anak terang, umat Allah dituntut untuk hidup dengan meneladani Allah yang diungkapkan Paulus dengan istilah menjadi “penurut-penurut Allah”, di mana kata “penurut” dalam bahasa Yunaninya adalah μιμητής (mimetes) yang berarti imitator atau peniru. Sama seperti Yesus yang meneladani Allah demikian juga umat-Nya. Paulus juga mendorong orang percaya untuk meneladani Kristus. Suatu peringatan bahwa hidup sebagai anak ada natur keilahian Allah di dalam diri orang percaya.
Pada Efesus 5:1 ini Rasul Paulus menegaskan bahwa menjadi penurut-penurut Allah yang dimaksudkan adalah seperti “anak-anak yang kekasih.” Dengan perkataan lain, kemungkinan ini menunjukkan penegasan bahwa sebagai imitator/peniru, harus dimengerti dalam kaidah sebagai anak-anak yang kekasih, yaitu ibarat hubungan orang tua dengan anaknya. Pada umumnya seorang anak menunjukkan sikap/perilaku yang menirukan sikap/perilaku orang tuanya.
2. Kedua, pada Efesus 5:2, Paulus menegaskan agar orang percaya mempraktikkan pola penyerahan diri sama seperti Kristus yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai korban demi manusia atas dasar kasih-Nya. Hidup dalam kasih yang dimaksudkan Rasul Paulus adalah dengan meneladani Kristus Yesus yang telah terlebih dahulu mengasihi, bahkan menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.
Bimo S. Utomo mengungkapkan bahwa karakteristik pengorbanan Kristus harusnya mampu menciptakan teladan bagi orang percaya untuk dapat saling mengasihi, di mana sikap yang paling mendasar untuk menciptakan suatu kasih yang berkorban adalah dengan cara melihat kepentingan bersama lebih utama dari kepentingan pribadi, saling memahami dan menghormati antara satu dengan yang lain.
Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa teladan Kristuslah yang menjadi ukuran bagi terlaksananya hidup dalam kasih yang dimaksudkan Rasul Paulus. Orang percaya tahu bahwa Kristus telah menyatakan diri-Nya untuk sebagai korban bagi umat-Nya. Itulah wujud kasih Allah bagi umat-Nya. Dan inilah wujud kasih orang percaya di mana seharusnya menyatakan kasih dengan sebuah tindakan pengorbanan, baik bagi Allah maupun manusia
3. Ketiga, dalam Efesus 5:10, Paulus menasihatkan untuk menguji apa yang berkenan kepada Allah. Ungkapan ini secara luas berarti orang percaya diminta untuk memiliki kemampuan untuk membedakan, menemukan, membuktikan, bahkan mendemonstrasikan (mempertontonkan) apa yang berkenan kepada TUHAN di dalam kehidupan.
4. Keempat, Paulus juga dalam Efesus. 5:17 menerangkan bahwa anak-anak terang memiliki hikmat untuk mengusahakan hidup mengerti akan kehendak Tuhan dalam kehidupan, sehingga tidak disebut sebagai orang yang bodoh. Penggunaan istilah “usahakanlah” pada bagian ini menandakan bahwa orang percaya dituntut untuk benar-benar berusaha dan berjuang agar tidak dicap bodoh oleh Tuhan. Oleh karena itu, penting bagi anak-anak terang untuk hidup penuh hikmat dan tidak bodoh dalam mengerti kehendak Tuhan dan menjadi beda dengan dunia. Dalam hal pentingnya hikmat,
3. Ketiga, dalam Efesus 5:10, Paulus menasihatkan untuk menguji apa yang berkenan kepada Allah. Ungkapan ini secara luas berarti orang percaya diminta untuk memiliki kemampuan untuk membedakan, menemukan, membuktikan, bahkan mendemonstrasikan (mempertontonkan) apa yang berkenan kepada TUHAN di dalam kehidupan.
4. Keempat, Paulus juga dalam Efesus. 5:17 menerangkan bahwa anak-anak terang memiliki hikmat untuk mengusahakan hidup mengerti akan kehendak Tuhan dalam kehidupan, sehingga tidak disebut sebagai orang yang bodoh. Penggunaan istilah “usahakanlah” pada bagian ini menandakan bahwa orang percaya dituntut untuk benar-benar berusaha dan berjuang agar tidak dicap bodoh oleh Tuhan. Oleh karena itu, penting bagi anak-anak terang untuk hidup penuh hikmat dan tidak bodoh dalam mengerti kehendak Tuhan dan menjadi beda dengan dunia. Dalam hal pentingnya hikmat,
Harls Evan Siahaan pun mengungkapkan bahwa hikmat telah menjadi unsur yang mendasar dalam keberhasilan seseorang mengaktualisasi panggilan hidupnya. Pencapaian merupakan refleksi kualitas tiap-tiap orang, namun hikmat menjadi pembeda kualitas masing-masing orang tersebut.
5. Kelima, dalam Efesus 5:18, Paulus mengungkapkan hal ini, bahwa kepenuhan Roh Kudus tergantung pada tanggapan orang percaya terhadap kasih karunia yang diberikan kepada mereka untuk mencapai dan memelihara pengudusan. Maksudnya, seseorang tidak mungkin “mabuk oleh anggur” dan pada saat yang sama “penuh dengan Roh.” Paulus mengingatkan semua orang percaya tentang perbuatan atau sifat berdosa dan bahwa mereka yang melakukan itu tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah.
6. Keenam, Paulus juga dalam Efesus 5:21 mengungkapkan bahwa mau merendahkan diri dalam sikap takut akan Tuhan adalah sebuah sikap yang mulia dan tidak mudah karena banyak orang merendahkan diri dengan kepura-puraan. Bila seorang menjadi anak-anak terang yang dipenuhi Roh Kudus, mereka tentu akan memiliki hasrat untuk menyembah Allah, dan tentu saja akan dipenuhi dengan ucapan syukur dan bersikap rendah hati terhadap satu sama lain dan ini dapat terjadi karena rasa takut akan Tuhan bukan takut pada manusia
5. Kelima, dalam Efesus 5:18, Paulus mengungkapkan hal ini, bahwa kepenuhan Roh Kudus tergantung pada tanggapan orang percaya terhadap kasih karunia yang diberikan kepada mereka untuk mencapai dan memelihara pengudusan. Maksudnya, seseorang tidak mungkin “mabuk oleh anggur” dan pada saat yang sama “penuh dengan Roh.” Paulus mengingatkan semua orang percaya tentang perbuatan atau sifat berdosa dan bahwa mereka yang melakukan itu tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah.
6. Keenam, Paulus juga dalam Efesus 5:21 mengungkapkan bahwa mau merendahkan diri dalam sikap takut akan Tuhan adalah sebuah sikap yang mulia dan tidak mudah karena banyak orang merendahkan diri dengan kepura-puraan. Bila seorang menjadi anak-anak terang yang dipenuhi Roh Kudus, mereka tentu akan memiliki hasrat untuk menyembah Allah, dan tentu saja akan dipenuhi dengan ucapan syukur dan bersikap rendah hati terhadap satu sama lain dan ini dapat terjadi karena rasa takut akan Tuhan bukan takut pada manusia
Kesimpulan:
Efesus 5:1-21 memberikan panduan praktis bagi orang percaya untuk hidup sebagai anak-anak terang. Enam karakteristik spiritual yang diuraikan Paulus—meneladani Allah, hidup dalam kasih, menguji apa yang berkenan kepada Allah, hidup dengan hikmat, penuh dengan Roh Kudus, dan merendahkan diri dalam takut akan Tuhan—adalah kunci untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, orang percaya dapat menunjukkan kehidupan yang mencerminkan kasih dan kebenaran Allah, serta menjadi terang di dunia.
