Amsal 18:1-3 -Hikmat dan Kebodohan

Matthew Henry (1662 – 1714).

BAHASAN : Amsal 18:1-3 -Hikmat dan Kebodohan
Amsal 18:1-3 -Hikmat dan Kebodohan
Amsal 18:1. “Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.”
Bahasa aslinya di sini sulit, dan dipahami secara berbeda-beda.
1. Sebagian orang memandangnya sebagai teguran terhadap orang yang suka menyendiri. Apabila orang bermegah dalam menyendiri dari kehangatan dan pergaulan dengan orang lain, bermegah dalam menentang segala sesuatu yang dikemukakan sebelum mereka, dan mengedepankan gagasan-gagasan baru milik mereka sendiri, yang, meskipun begitu tidak masuk akal, mereka tetap pegang erat-erat, itu berarti bahwa mereka hanya memuaskan keinginan mereka atau hawa nafsu mereka untuk bermegah diri secara sia-sia. Dan mereka mencari-cari serta mencampuri apa yang sesungguhnya bukan urusan mereka.
Orang seperti itu mencari sesuai dengan keinginannya, selalu mencam-puri setiap urusan orang, dan berlagak menjatuhkan penghakiman atas perkara setiap orang. Dia suka bermuram durja dan tinggi hati. Begitulah pada umumnya orang-orang yang keras hati dan angkuh, dan dengan berbuat demikian mereka justru membuat diri mereka konyol dan menyusahkan orang lain.
2. Dalam terjemahan KJV yang kita miliki, ayat ini tampak dipandang sebagai dorongan agar orang bertekun mencari hikmat. Jika kita ingin memperoleh pengetahuan atau anugerah, kita harus menginginkannya, sebagaimana kita menginginkan apa yang kita perlukan dan apa yang akan membawa keuntungan besar bagi kita (1 Korintus 12:31).

Kita harus menyendiri (kjv: memisahkan diri – pen.) dari segala sesuatu yang akan membuat kita menyimpang dari usaha pencarian itu, atau menghambat kita di dalam melakukannya. Kita harus mengundurkan diri dari hiruk-pikuknya kesia-siaan dunia ini, kemudian mencari dan memanfaatkan segala sarana dan didikan hikmat. Kita harus rela bersusah payah dan mencoba segala cara untuk memperbaiki diri kita sendiri, mengenal beraneka macam pendapat, agar kita dapat menguji segala sesuatu dan berpegang teguh pada apa yang baik.
----------
HIKMAT DAN KEBODOHAN.

Amsal 18:2.“Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.”
Orang bebal bisa saja berpura-pura mengerti, dan mencari serta memanfaatkan sarana-sarana untuk mendapatkan pengertian, tetapi,
1. Hatinya tidak benar-benar bersuka di dalamnya. Itu hanya untuk menyenangkan teman-temannya atau mendatangkan pujian bagi dirinya. Ia tidak menyukai bukunya, atau pekerjaannya, atau Alkitabnya, atau doa-doanya. Ia lebih ingin menjadi orang bodoh yang terus bermain-main. Orang yang tidak bersuka di dalam didikan atau agama tidak akan mendapatkan apa-apa baik dari didikan maupun agama. Orang tidak akan mengalami kemajuan dalam hal didikan dan agama, jika ia memandangnya sebagai beban dan pekerjaan yang membosankan.
2. Ia tidak mempunyai maksud baik di dalamnya, tetapi hanya suka membeberkan isi hatinya, agar ada yang bisa dipamerkannya, ada sesuatu untuk menutup-nutupi kebodohannya, supaya ia tampak lebih baik, karena ia suka mendengar dirinya sendiri berbicara.
----------
HIKMAT DAN KEBODOHAN.
Amsal 18:3. “Bila kefasikan datang, datanglah juga penghinaan dan cela disertai cemooh.”
Ayat ini bisa mempunyai pengertian ganda :
1. Bahwa orang fasik suka mencemooh, dan mencela orang lain. Bila orang fasik datang ke dalam suatu kumpulan apa saja, datang ke ajaran-ajaran hikmat atau ke dalam jemaat-jemaat untuk beribadah, maka datanglah juga penghinaan terhadap Allah, terhadap umat-Nya dan hamba-hamba-Nya, dan terhadap segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan. Tidak ada hal lain yang bisa kita harapkan dari orang-orang yang cemar selain bahwa mereka akan menjadi pencemooh.

Mereka akan menjadi cela dan cemooh. Mereka akan mengolok-olok dan mengejek segala sesuatu yang sungguh-sungguh dan penting. Tetapi janganlah orang bijak dan baik memedulikannya, sebab ada pepatah kuno yang berkata, kefasikan seperti itu timbul dari orang fasik.
2. Bahwa orang fasik itu memalukan, dan mendatangkan penghinaan atas diri mereka sendiri, sebab Allah telah berkata bahwa orang-orang yang menghina Dia akan dipandang rendah. Begitu dosa masuk, aib akan mengikutinya, dan orang-orang berdosa menjadikan diri mereka sendiri tercela.

Dan mereka tidak hanya menarik penghinaan atas diri mereka sendiri, tetapi juga mendatangkan cela dan cemooh kepada keluarga mereka, kepada teman-teman mereka, kepada hamba-hamba Tuhan yang melayani mereka, dan kepada semua orang yang mempunyai hubungan apa saja dengan mereka. Oleh sebab itu, orang-orang yang ingin menjaga kehormatan mereka haruslah memper-tahankan kebajikan mereka.
Next Post Previous Post