Amsal 18:4-8 - Bahasa Kebodohan
Matthew Henry (1662 – 1714).
BAHASAN : Amsal 18:4-8 - Bahasa Kebodohan

BAHASAN : Amsal 18:4-8 - Bahasa Kebodohan

Amsal 18:4. “Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir.”
Dalam pepatah-pepatah ini, urutannya tampak dibalik dengan cara yang elok.
1. Sumber hikmat adalah seperti air yang dalam. Orang yang cerdas dan berpengetahuan memiliki perbendaharaan yang baik tentang hal-hal yang berguna, yang memperlengkapinya dengan sesuatu untuk disampaikan dalam segala kesempatan yang berkaitan dan bermanfaat pada kesempatan itu. Sumber hikmat ini seperti air yang dalam, yang tidak beriak, namun tidak pernah mengering.
2. Perkataan mulut orang yang seperti itu adalah seperti batang air yang mengalir. Apabila ia melihat ada alasan untuk berbicara, itu akan mengalir secara alami dari dirinya, mengalir dengan amat mudah, amat bebas, dan amat lancar. Perkataannya bersih dan segar, perkataannya itu membersihkan dan menyegarkan. Dari airnya yang dalam di sana, mengalirlah apa yang perlu dialirkan, untuk menyirami segala sesuatu di sekelilingnya, seperti aliran-aliran air membasahi tanah yang ada di bawahnya.
----------
BAHASA KEBODOHAN.
Amsal 18:5. “Tidak baik berpihak kepada orang fasik dengan menolak orang benar dalam pengadilan.”
Ayat 5 ini dengan pantas mengecam orang-orang yang bertugas menja-lankan keadilan tetapi menyelewengkan penghakiman,
1. Dengan mengabaikan kejahatan-kejahatan orang, dan melindungi serta membiarkan orang-orang yang melakukan penindasan dan kekerasan, karena mereka berkedudukan, atau kaya, atau berbuat baik kepada mereka. Apa pun dalih yang dipakai orang untuk berbuat demikian, tentulah tidak baik berpihak kepada orang fasik seperti itu. Perbuatan demikian merupakan pelanggaran terhadap Allah, peng-hinaan terhadap keadilan, kejahatan terhadap umat manusia, dan pelayanan sebenar-benarnya kepada kerajaan dosa dan Iblis. Yang harus diperhatikan adalah baik buruknya perkara, bukan orangnya.
2. Dengan memberikan alasan untuk melawan hukum dan keadilan, karena orang yang bersangkutan miskin dan hina di dunia, atau tidak berasal dari pihak atau golongan yang sama, atau merupakan orang asing dari negeri lain. Ini berarti menolak orang benar dalam pengadilan, yang seharusnya didukung, dan yang oleh Allah akan ditegakkan.
----------
BAHASA KEBODOHAN.
Amsal 18:6-7. “Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan. Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.”
Salomo sudah sering kali menunjukkan kejahatan apa yang diperbuat orang fasik terhadap orang lain dengan lidah mereka yang tidak dikendalikan. Di sini ia menunjukkan kejahatan apa yang mereka perbuat terhadap diri mereka sendiri.
1. Mereka melibatkan diri sendiri di dalam pertengkaran: bibir orang bebal, tanpa alasan atau keperluan apa pun, menimbulkan perbantahan, dengan melontarkan gagasan-gagasan bodoh yang terpaksa harus ditentang orang lain, dan dengan begitu dimulailah pertengkaran. Atau dengan mengucapkan kata-kata yang membangkitkan amarah, yang akan mengundang kebencian, dan menuntut pengusutan. Atau dengan membuat orang melakukan pertentangan, dan menantang mereka untuk berduel kalau berani.
Orang yang congkak, suka marah-marah, dan suka mabuk-mabukan, adalah orang bodoh, yang bibirnya menimbulkan perbantahan. Bisa saja orang bijak, tanpa dikehendakinya, terseret ke dalam pertengkaran, tetapi bodohlah orang yang sengaja memasukinya sementara ia bisa menghindarinya, dan ia pasti akan menyesalinya, namun itu sudah terlambat.
2. Mereka mengundang untuk dihajar: mulut orang bebal, sebagai aki-batnya, berseru meminta pukulan. Sebelumnya Salomo sudah menga-takan apa yang pantas untuk dihukum dengan pukulan, dan sekarang masih saja ia mengatakan apa yang perlu ditegur, dan ditahan dengan pukulan, seperti Ananias yang secara tidak adil menyuruh orang-orang untuk menampar mulut Paulus.
3. Mereka melibatkan diri sendiri di dalam kehancuran: mulut orang bebal, yang sudah menjadi, atau akan menjadi, kebinasaan bagi orang lain, pada akhirnya akan menjadi kebinasaan bagi dirinya sendiri, mungkin dari pihak manusia. Mulut Simei menjadi kebinasaan bagi dirinya sendiri, begitu pula dengan mulut Adonia, yang berbicara melawan akal sehatnya sendiri.
Dan apabila orang bodoh, dengan perkataannya yang bodoh, berlindung di balik benteng pertahanannya sendiri, dan menyangka dapat lolos dengan cara membenarkan atau memberikan macam-macam alasan atas apa yang dikatakannya, benteng pertahanannya itu akan berbalik menyerangnya, dan bibirnya tetap menjadi perangkap bagi jiwanya, yang kian lama kian menjeratnya.
Bagaimanapun, apabila karena perkataan mereka yang jahat manusia akan dijebloskan ke dalam penjara Allah, maka mulut mereka akan menjadi kebinasaan bagi mereka. Dan kehancuran mereka akan diperparah sedemikian rupa sampai-sampai setetes air pun, setitik penghiburan, tidak akan diberikan untuk menyejukkan lidah mereka, yang merupakan jerat bagi mereka dan yang akan menyiksa mereka.
----------
BAHASA KEBODOHAN.
Amsal 18:8. “Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan yang masuk ke lubuk hati.”
Pemfitnah adalah orang yang secara sembunyi-sembunyi bercerita dari rumah ke rumah. Ceritanya itu mungkin sedikit banyak mengandung kebenaran, tetapi merupakan rahasia yang tidak patut untuk diceritakan, atau yang dengan cara rendah disalahartikan, dan dihiasi dengan warna-warna palsu.
Semuanya itu disampaikan dengan maksud untuk menghancurkan nama baik orang, untuk memutuskan tali persahabatan mereka, untuk menebarkan kejahatan di antara sesama saudara dan tetangga, dan membuat mereka menentang satu sama lain. Nah, perkataan orang-orang seperti itu di sini dikatakan,
1. Seperti orang yang sedang terluka (begitu arti tersiratnya). Mereka berpura-pura amat prihatin dengan kemalangan-kemalangan yang menimpa si ini dan si itu, dan turut merasakan penderitaan mereka. Mereka berpura-pura berbicara tentang orang-orang itu dengan perasaan yang amat sangat sedih dan rasa enggan yang tak terba-yangkan.
Mereka tampak seolah-olah terluka sendiri karenanya, padahal sebenarnya mereka bersukacita karena ketidakadilan, senang dengan cerita itu, dan menyampaikannya dengan bangga dan senang hati. Seperti itulah perkataan mereka tampaknya. Tetapi perkataan mereka itu masuk seperti racun ke lubuk hati, sebab pilnya sudah dipoles seperti itu, dan digula-gulai seperti itu.
2. Seperti luka-luka (itulah yang dapat dibaca dalam teksnya), seperti luka-luka yang dalam, luka-luka yang mematikan, luka-luka di lubuk hati. Venter medius vel infimus – di bagian tengah atau bagian bawah perut, di rongga atau daerah perut, yang di sana luka-luka bersifat mematikan. Perkataan pemfitnah melukai orang yang difitnah, melukai nama baik dan kepentingannya, dan melukai orang yang diceritai fitnah itu, melukai kasih dan kemurahan hatinya.
Perkataannya itu menimbul-kan dosa baginya, yang merupakan luka bagi hati nurani. Mungkin ia tampak meremehkannya, tetapi perkataan itu melukainya secara tidak sadar, dengan menjauhkan rasa sayangnya terhadap orang yang seharusnya dikasihinya.