Apa yang Yesus Ajarkan tentang Neraka?

Pendahuluan:
Neraka adalah salah satu topik yang paling menakutkan dan kontroversial dalam ajaran Kristen. Banyak orang ingin menghindari pembicaraan tentangnya, tetapi Yesus sendiri sering berbicara tentang neraka lebih dari siapa pun dalam Alkitab. Dalam pengajaran-Nya, Yesus menggambarkan neraka sebagai tempat hukuman kekal yang nyata bagi mereka yang menolak kasih karunia Allah.
Apa sebenarnya yang Yesus ajarkan tentang neraka? Bagaimana para ahli teologi Reformed seperti John Calvin, R.C. Sproul, John Piper, Wayne Grudem, dan Michael Horton memahami pengajaran ini? Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi ajaran Yesus tentang neraka dan implikasinya bagi orang percaya.
1. Yesus Mengajarkan bahwa Neraka Itu Nyata
Salah satu hal pertama yang Yesus ajarkan tentang neraka adalah bahwa neraka adalah tempat yang nyata, bukan sekadar simbol atau metafora.
Dalam Matius 10:28, Yesus berkata:
“Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.”
R.C. Sproul dalam Essential Truths of the Christian Faith menekankan bahwa Yesus berbicara tentang neraka sebagai realitas yang harus ditakuti. Banyak orang mencoba menganggap neraka hanya sebagai keadaan psikologis atau ketidakhadiran Allah, tetapi Yesus menggambarkannya sebagai tempat yang nyata dengan penderitaan yang nyata.
Wayne Grudem dalam Systematic Theology juga menekankan bahwa Yesus tidak pernah menggambarkan neraka sebagai sesuatu yang bersifat sementara, melainkan sebagai hukuman yang kekal.
2. Yesus Menggambarkan Neraka sebagai Tempat Penderitaan Kekal
Yesus menggunakan berbagai istilah untuk menggambarkan neraka, dan semuanya menunjukkan penderitaan yang tak berkesudahan.
Dalam Markus 9:43-48, Yesus berkata:
“lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tangan dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan, di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.”
John Piper menjelaskan bahwa ungkapan “api yang tak terpadamkan” dan “ulat yang tidak mati” menunjukkan kesengsaraan yang tidak pernah berakhir. Ini bukan sekadar metafora untuk penderitaan emosional, tetapi penggambaran hukuman yang benar-benar mengerikan.
Michael Horton menambahkan bahwa Yesus sering menggunakan kata "Gehenna" untuk neraka, yang mengacu pada lembah di luar Yerusalem yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah dan pembakaran mayat. Ini menggambarkan kengerian dan kehinaan neraka sebagai tempat di mana orang-orang yang menolak Allah akan mengalami penghukuman yang adil.
3. Yesus Mengajarkan bahwa Neraka adalah Tempat Pemisahan dari Allah
Selain menjadi tempat penderitaan, Yesus juga menggambarkan neraka sebagai tempat keterpisahan total dari Allah.
Dalam Matius 7:23, Yesus berkata kepada mereka yang tidak taat:
“Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”
John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menjelaskan bahwa kutukan terbesar dalam neraka bukan hanya penderitaan fisik, tetapi terpisahnya manusia dari hadirat Allah. Manusia diciptakan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah, dan neraka adalah realitas di mana kasih karunia-Nya tidak lagi dapat dirasakan.
R.C. Sproul menekankan bahwa neraka bukanlah tempat di mana Iblis berkuasa, tetapi tempat di mana murka Allah dinyatakan atas mereka yang menolak-Nya. Ini adalah pembuangan total dari hadirat kasih dan anugerah Allah.
4. Yesus Mengajarkan bahwa Neraka adalah Hukuman yang Adil
Banyak orang merasa sulit menerima gagasan tentang neraka karena tampaknya tidak sesuai dengan kasih Allah. Namun, Yesus mengajarkan bahwa neraka adalah penghukuman yang adil bagi dosa.
Dalam Matius 25:46, Yesus berkata tentang orang-orang yang tidak beriman:
“Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Wayne Grudem menunjukkan bahwa ayat ini menegaskan bahwa sama seperti surga itu kekal, demikian pula neraka. Jika kita menerima kekekalan surga, kita juga harus menerima kekekalan neraka.
John Piper menjelaskan bahwa karena dosa adalah pelanggaran terhadap Allah yang tak terbatas, maka hukuman yang diberikan juga harus sesuai dengan keadilan-Nya yang tak terbatas. Inilah sebabnya mengapa neraka itu kekal dan bukan sekadar hukuman sementara.
Michael Horton menambahkan bahwa setiap orang yang masuk neraka adalah mereka yang dengan sadar dan sengaja menolak kasih karunia Allah. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menyalahkan siapa pun selain diri mereka sendiri.
5. Yesus Mengajarkan bahwa Neraka Itu Tak Terelakkan bagi Mereka yang Menolak Injil
Yesus sering kali memperingatkan bahwa tidak semua orang akan diselamatkan.
Dalam Lukas 16:19-31, Yesus menceritakan kisah tentang Lazarus dan orang kaya. Orang kaya itu dihukum di dalam neraka, sementara Lazarus diterima di pangkuan Abraham.
John Calvin menafsirkan kisah ini sebagai bukti bahwa setelah kematian, tidak ada kesempatan kedua untuk bertobat. Neraka adalah hukuman yang pasti bagi mereka yang mengabaikan Allah selama hidup mereka.
R.C. Sproul menambahkan bahwa kisah ini menunjukkan bahwa orang yang berada di neraka tetap dalam keadaan pemberontakan mereka. Bahkan ketika orang kaya itu melihat penderitaannya, ia tidak meminta belas kasihan Allah, tetapi hanya ingin air untuk meringankan penderitaannya.
John Piper menjelaskan bahwa ini menunjukkan bahwa neraka bukan hanya tempat hukuman, tetapi juga tempat di mana hati manusia tetap mengeras terhadap Allah.
6. Yesus Memberikan Satu-Satunya Jalan untuk Terhindar dari Neraka
Meskipun Yesus mengajarkan tentang neraka, Ia juga menawarkan jalan keluar melalui Injil.
Dalam Yohanes 3:16, Yesus berkata:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Wayne Grudem menekankan bahwa keselamatan dari neraka tidak bisa didapatkan dengan usaha manusia, tetapi hanya melalui iman dalam Kristus.
Michael Horton menambahkan bahwa Yesus tidak hanya berbicara tentang neraka untuk menakut-nakuti orang, tetapi untuk menunjukkan betapa mendesaknya mereka harus datang kepada-Nya untuk keselamatan.
John Piper menegaskan bahwa memahami ajaran Yesus tentang neraka seharusnya membawa kita kepada pertobatan dan keinginan untuk memberitakan Injil kepada orang lain.
Kesimpulan: Bagaimana Kita Menanggapi Ajaran Yesus tentang Neraka?
Yesus tidak berbicara tentang neraka untuk menyebarkan ketakutan yang tidak perlu, tetapi untuk menunjukkan pentingnya keselamatan di dalam Dia. Berikut adalah beberapa respons yang seharusnya kita miliki terhadap ajaran ini:
-
Bertobat dan Percaya kepada Kristus
- Neraka adalah realitas yang mengerikan, tetapi Yesus telah menyediakan jalan keselamatan bagi kita.
-
Hidup dalam Rasa Syukur
- Jika kita telah diselamatkan dari murka Allah, kita harus hidup dengan rasa syukur dan ketaatan.
-
Memberitakan Injil dengan Kesungguhan
- Jika neraka itu nyata, kita harus memiliki beban untuk memberitakan Injil kepada orang lain agar mereka tidak binasa.
-
Menyerahkan Penghakiman kepada Allah
- Kita tidak boleh mencoba memahami keadilan Allah dengan ukuran manusia. Allah adalah hakim yang sempurna, dan kita harus mempercayai kebijaksanaan-Nya.
Seperti yang dikatakan Yesus dalam Matius 7:13-14:
“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; tetapi sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”
Soli Deo Gloria!