1 Tesalonika 1:1: Jemaat dalam Kasih Karunia dan Damai Sejahtera
Pendahuluan
Surat 1 Tesalonika adalah salah satu tulisan paling awal dari rasul Paulus dalam Perjanjian Baru. Ayat pembukaannya, “Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu” (1 Tes. 1:1), terlihat sederhana, namun menyimpan kedalaman teologis yang luar biasa.
Dalam tradisi Reformed, ayat ini dipandang sebagai pintu masuk untuk memahami natur gereja, identitas orang percaya, dan dasar dari hidup Kristen yang sejati. Artikel ini akan menguraikan eksposisi 1 Tesalonika 1:1 berdasarkan penafsiran beberapa pakar teologi Reformed, sekaligus memberikan aplikasi praktis bagi kehidupan gereja masa kini.
Latar Belakang Surat 1 Tesalonika
Tesalonika adalah kota penting di Makedonia, pusat perdagangan dan politik yang strategis. Paulus memberitakan Injil di sana (Kis. 17:1-9), namun karena penganiayaan, ia harus meninggalkan kota itu lebih cepat dari yang direncanakan. Meskipun demikian, jemaat yang baru bertumbuh di Tesalonika menunjukkan iman yang luar biasa, bahkan menjadi teladan bagi orang percaya lain di wilayah sekitarnya (1 Tesalonika 1:7-8).
Surat ini ditulis sekitar tahun 50-51 M, menjadikannya salah satu tulisan terawal dalam Perjanjian Baru. Tujuannya adalah untuk menguatkan jemaat di tengah penderitaan, meneguhkan pengajaran tentang kedatangan Kristus, dan menekankan kekudusan hidup.
Struktur Salam dalam 1 Tesalonika 1:1
Ayat ini dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama:
-
Pengirim surat: Paulus, Silwanus, dan Timotius.
-
Penerima surat: Jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.
-
Ucapan berkat: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.
Ketiga bagian ini, walaupun singkat, penuh dengan muatan teologis yang penting.
Eksposisi Bagian Pertama: Paulus, Silwanus, dan Timotius
Paulus: Rasul Kristus
John Calvin menekankan bahwa penyebutan Paulus di awal surat menunjukkan otoritas kerasulannya, sekaligus kasih pastoral terhadap jemaat. Paulus tidak menempatkan dirinya sebagai seorang diktator rohani, melainkan sebagai gembala yang rindu meneguhkan umat Allah.
Charles Hodge, teolog Reformed Amerika, menambahkan bahwa Paulus selalu menekankan identitasnya sebagai hamba Kristus, bukan sebagai pribadi yang mencari kehormatan. Hal ini mengajarkan gereja modern tentang kepemimpinan rohani yang rendah hati.
Silwanus (Silas)
Silwanus adalah rekan pelayanan Paulus yang setia. Ia ikut dalam perjalanan misi kedua Paulus dan dikenal sebagai seorang nabi serta pemimpin dalam gereja Yerusalem. Dengan menyebutkan Silwanus, Paulus menunjukkan bahwa pelayanan Injil adalah kerja tim, bukan individualistik.
Herman Bavinck menekankan bahwa keberadaan Silwanus dan Timotius bersama Paulus memperlihatkan prinsip persekutuan dalam pelayanan. Gereja Reformed memandang kerja sama tubuh Kristus sebagai bagian dari rencana Allah dalam membangun jemaat-Nya.
Timotius
Timotius adalah anak rohani Paulus yang muda, namun penuh iman. Kehadirannya dalam salam ini menunjukkan peran penting generasi baru dalam penginjilan. Matthew Henry mencatat bahwa Paulus tidak segan menaruh nama Timotius sejajar dengannya, sebagai bentuk dorongan dan pengakuan atas panggilan Allah dalam hidup Timotius.
Eksposisi Bagian Kedua: Jemaat Tesalonika
Jemaat yang “di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus”
Frasa ini sangat penting. Paulus tidak sekadar menyebut mereka sebagai jemaat di Tesalonika, tetapi sebagai jemaat yang “di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.”
Calvin menafsirkan ini sebagai penekanan pada identitas rohani gereja. Jemaat bukan hanya sekumpulan orang di suatu lokasi geografis, melainkan komunitas yang memiliki dasar ilahi.
Louis Berkhof menambahkan bahwa penyebutan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus dalam satu nafas adalah pengakuan implisit akan keilahian Kristus. Jemaat berada dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal.
Gereja sebagai Identitas yang Kudus
Menurut John Stott, kata “jemaat” (ekklesia) dalam konteks ini berarti orang-orang yang dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi milik Allah. Hal ini menegaskan doktrin pemilihan Allah (Election), yang sangat ditekankan dalam tradisi Reformed.
Martyn Lloyd-Jones juga mengingatkan bahwa identitas gereja selalu berakar pada Allah, bukan pada kekuatan manusia. Inilah sebabnya mengapa gereja di Tesalonika bisa bertahan meskipun menghadapi penganiayaan yang berat.
Eksposisi Bagian Ketiga: Kasih Karunia dan Damai Sejahtera
Kasih Karunia
Dalam hampir semua suratnya, Paulus selalu menyebut kasih karunia lebih dulu sebelum damai sejahtera. Mengapa? Karena menurut Calvin, kasih karunia adalah sumber dari segala berkat rohani. Tanpa kasih karunia Allah, tidak ada damai sejahtera sejati.
Reformed theology menekankan sola gratia (hanya oleh anugerah). Jemaat Tesalonika dapat hidup dalam iman bukan karena kekuatan mereka sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah yang menopang.
Damai Sejahtera
Kata damai sejahtera (shalom) dalam tradisi Ibrani bukan hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi kelengkapan, kesejahteraan, dan keselarasan dengan Allah.
Cornelius Van Til menegaskan bahwa damai sejahtera sejati hanya dapat ditemukan dalam Kristus, karena hanya melalui pendamaian di salib kita bisa hidup berdamai dengan Allah.
Implikasi Teologis 1 Tesalonika 1:1
-
Natur Gereja – Gereja sejati adalah mereka yang berada “di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus.”
-
Kepemimpinan Kristen – Paulus memberi teladan kepemimpinan yang rendah hati dan kolaboratif.
-
Sumber Berkat – Kasih karunia dan damai sejahtera adalah berkat utama yang mengalir dari Allah Tritunggal.
-
Pengakuan Kristologi – Menyamakan Yesus Kristus dengan Allah Bapa dalam salam pembuka adalah bukti pengakuan akan keilahian Kristus sejak gereja mula-mula.
Aplikasi Praktis Bagi Gereja Masa Kini
-
Mengenali identitas gereja – Gereja bukan hanya lembaga sosial, tetapi komunitas yang hidup dalam Allah Tritunggal.
-
Memelihara kepemimpinan yang melayani – Pemimpin rohani dipanggil untuk rendah hati, bekerja sama, dan meneguhkan iman jemaat.
-
Menghidupi kasih karunia – Setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kesadaran bahwa semua yang kita miliki adalah karena kasih karunia Allah.
-
Mengejar damai sejahtera – Damai sejahtera bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi harus diwujudkan dalam relasi dengan sesama dan dalam kesaksian Injil.
Kesimpulan
1 Tesalonika 1:1, meskipun terlihat hanya sebagai salam pembuka, ternyata sarat dengan kebenaran teologis yang kaya. Paulus, bersama Silwanus dan Timotius, menyapa jemaat sebagai komunitas yang berakar dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ia menegaskan bahwa kasih karunia dan damai sejahtera adalah warisan utama orang percaya.
Bagi teologi Reformed, ayat ini meneguhkan doktrin tentang natur gereja, kasih karunia, dan Kristologi. Gereja dipanggil untuk terus hidup dalam kasih karunia Allah, menikmati damai sejahtera Kristus, dan menjadi saksi Injil di tengah dunia.
.jpg)