INKARNASI KRISTUS (YOHANES 1:1-14)

INKARNASI KRISTUS (YOHANES 1:1-14)
Topik : Yesus adalah Firman Allah.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yohanes 1:1-3

Permulaan kitab Injil Yohanes mempunyai makna yang begitu penting dan dalam, sehingga kita harus mempelajarinya ayat demi ayat. Yohaneslah yang mempunyai pikiran bahwa Yesus tidak lain dan tidak bukan adalah firman Allah yang kreatif, yang memberi hidup dan terang, dan bahwa Yesus adalah kekuatan Allah yang menciptakan dunia. Yesus adalah pikiran Allah yang memelihara dan menopang dunia, yang datang ke bumi dalam bentuk jasmaniah manusia.

PADA MULANYA ADALAH FIRMAN

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.” (Yohanes 1:1-2)

Pada permulaan Injilnya, Yohanes mengemukakan tiga hal tentang firman itu; artinya Yohanes mengemukakan tiga hal tentang Yesus.

(1) Firman itu telah ada di sini pada permulaan dari segala sesuatu. 

Pikiran Yohanes kembali kepada ayat pertama dari seluruh Alkitab. “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1). Apa yang hendak dikatakan oleh Yohanes adalah, bahwa firman itu bukanlah salah satu atau sebagian dari benda-benda yang diciptakan. Firman itu telah ada di sana sebelum penciptaan. Firman itu bukanlah bagian dari dunia yang dijadikan di dalam waktu. Firman itu adalah bagian dari kekekalan dan sudah ada bersama-sama dengan Allah sebelum waktu dan dunia ada. Yohanes di sini berpikir tentang apa yang disebut pra-eksistensi Kristus.

Di dalam banyak hal, ide tentang pra-eksistensi ini sangat sulit untuk dimengerti, bahkan barangkali tidak mungkin untuk mengertinya. Namun sebenarnya ide itu hanya berarti suatu hal yang sederhana, praktis dan mengagumkan. Kalau firman itu ada bersama Allah sebelum waktu mulai, kalau firman Allah itu merupakan bagian dari kerangka hal-hal yang abadi, maka hal itu berarti bahwa Allah selalu sama dengan Yesus.

Seringkali kita menganggap bahwa Allah itu lalim dan suka menakut-nakuti. Kita juga seringkali menganggap bahwa perbuatan-perbuatan Yesus merobah kemarahan Allah menjadi kasih, serta merobah sikap Allah kepada manusia. Perjanjian Baru sebenarnya tidak mengenal ide samacam itu. Seluruh Perjanjian Baru, dan khususnya bagian Injil Yohanes yang kita pelajari ini, memberitahukanh bahwa Allah adalah sama dengan Yesus. Apa yang Yesus lakukan ialah membuka sebuah jendela yang nyata di dalam waktu sehingga kita boleh memandang kasih Allah yang abadi dan tak berubah itu.

Kita boleh bertanya: Bagaimana tentang beberapa hal yang kita baca di dalam Perjanjian Lama? Bagaimana tentang bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang perintah-perintah Alah untuk membinasakah kota-kota, manusia, laki-laki, perempuan dan anak-anak? Bagaimana tentang kemarahan, sifat menghancurkan, dan kecemburuan Allah seperti yang sering kita baca di dalam bagian-bagian yang lebih tua dari Alkitab? Jawabannya adalah: bukannya Allah yang telah berubah, melainkan pengetahuan manusia tentang Dia-lah yang berubah. Manusia menulis tentang hal-hal itu oleh karena mereka tidak mempunyai pengetahuan yang lebih baik tentang Allah, sampai di situlah tingkat pengetahuan manusia tentang Allah pada waktu itu.

Seorang anak kecil yang mempelajari sesuatu, harus mempelajari-nya tahap demi tahap. Ia tidak mulai dengan seluruh pengetahuan tentang sesuatu itu. Ia akan mulai dengan apa yang dapat ia tangkap dan mengerti, dan dari situ pengetahuannya bertambah-tambah. Kalau ia belajar tentang musik, ia tidak akan mulai dengan yang sulit-sulit seperti musik Bach dan lain-lain. Ia akan mulai dengan yang sederhana, lalu tahap demi tahap meningkat sampai pengetahuannya bertumbuh. Demikian jugalah antara manusia dengan Allah. Manusia hanya dapat menangkap dan mengerti sebagian saja dari hakekat dan tingkah laku Allah. Baru ketika Yesus datang, manusia dapat secara penuh dan sempurna melihat Allah. Allah sama dengan Yesus.

Ada suatu cerita tentang seorang gadis cilik yang diperhadapkan dengan bagian-bagian Perjanjian Lama yang berisi cerita-cerita penumpahan darah dan kekerasan. Apa yang dikatakannya? “Ah, itu terjadi sebelum Allah menjadi Kristen!” Kalau kita boleh meniru gadis cilik tersebut, maka kita dapat berkata juga, bahwa ketika Yohanes mengatakan firman itu sudah ada sejak permulaan, maka yang dimaksudkan Yohanes adalah bahwa Allah itu sudah Kristen sejak permulaan! Yohanes hendak memberitahukan, bahwa Allah sama dengan Yesus, sekarang dan pada waktu yang akan datang; tetapi manusia tidak pernah dapat mengetahui dan mengalami hal itu sampai Yesus datang.

(2) Selanjutnya Yohanes mengatakan, bahwa firman itu ada bersama dengan Allah. 

Apa yang ia maksudkan? Yang ia maksudkan ialah bahwa selalu ada hubungan yang paling dekat antara firman dan Allah. Dengan kata-kata lain yang lebih sederhana, antara Yesus dan Allah selalu ada hubungan yang paling intim. Hal itu berarti bahwa tidak ada orang lain, kecuali Yesus, yang dapat memberitahu kita tentang rupa Allah, kehendak Allah, kasih, hati dan pikiran Allah.

Kita ambil contoh dari kehidupan manusia. Jika kita ingin mengetahui pikiran serta perasaan seseorang tentang sesuatu, dan kalau kita tidak dapat bertanya langsung kepada orang yang bersangkutan, kita tidak akan minta tolong kepada kenalan orang tersebut atau kepada orang lain yang pernah mengenalnya; melainkan kita akan minta tolong kepada orang yang kita tahu mengenal secara akrab dan intim orang tersebut selama bertahun-tahun. Kita tahu bahwa teman intimnya ini akan mampu menguraikan pikiran dan isi hati orang yang kita maksud.

Seperti itulah yang kira-kira akan dikatakan oleh Yohanes tentang Yesus. Ia mengatakan bahwa Yesus selalu ada bersama dengan Allah. Secara manusiawi kita dapat katakan, bahwa begitu akrab dan intim hubungan antara Yesus dan Allah sehingga tidak ada rahasia apa-apa lagi antara Allah dan Yesus; dan bahwa karena itu maka Yesus adalah satu-satunya orang di seluruh alam semesta ini yang dapat mengungkapkan rupa dan perasaan Allah kepada kita.

(3) Akhirnya Yohanes mengatakan, bahwa firman itu adalah Allah. 

Perkataan ini agak sulit kita mengerti. Kesulitan itu makin nyata oleh karena bahasa Yunani, yang dipakai Yohanes, mempunyai cara yang tersendiri untuk mengutarakan sesuatu. Di dalam bahasa Yunani, kata benda selalu didahului oleh kata sandang. Di dalam bahasa Yunani kata untuk Allah adalah theos dengan kata sandang ho. Kalau orang Yunani berbicara tentang Allah, ia tidak hanya mengucapkan theos tetapi selalu ho theos. Sebaliknya kalau ada kata benda yang muncul tanpa kata sandang, maka kata benda tersebut lebih berarti kata sifat daripada kata benda. 

Di sini Yohanes tidak mengatakan bahwa firman itu adalah ho theos. Kalau ia katakan begitu, maka secara tegas dapat diterjemahkan firman itu identik dengan Allah. Tetapi Yohanes mengatakan bahwa firman itu adalah theos, tanpa kata sandang ho, sehingga artinya ialah bahwa firman itu mempunyai keberadaan, esensi, kualitas dan karakter seperti Allah. Kalau Yohanes mengatakan bahwa firman itu adalah Allah, ia tidak maksudkan bahwa firman itu identik dengan Allah; yang ia maksud ialah bahwa Yesus begitu sempurna seperti Allah di dalam pikiran, hati dan keberadaan, sehingga di dalam Dia kita dapat melihat rupa Allah secara sempurna.

Jadi tepat pada permulaan kitab Injilnya, Yohanes membeberkan, bahwa di dalam Yesus, dan hanya di dalam Dia saja, Allah dinyatakan kepada manusia; yaitu Allah yang ada dahulu, sekarang dan selanjutnya, dan yang mempunyai perasaan serta kehendak terhadap manusia.

PENCIPTA SEGALA SESUATU

“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yohanes 1:3)

Mungkin kita merasa aneh bahwa Yohanes memberikan penekanan yang begitu besar terhadap cara penjadian dunia, dan bahwa ia menghubungkan Yesus dengan karya penciptaan. Tetapi ia harus melakukan hal itu berhubungan dengan kecenderungan-kecenderungan tertentu yang ada pada zaman itu.

Pada masa hidup Yohanes ada semacam bidat yang disebut Gnostisisme. Ciri khusus bidat ini adalah pendekatannya yang secara intelektual dan filosofis terhadap Kekristenan. Kepercayaan yang sederhana dari seorang Kristen dirasa tidak cukup oleh para pengikut Gnostik. Dari Kekristenan itu mereka lalu mencoba menyusun suatu sistem filosofis. Mereka menyibukkan diri dengan soal adanya dosa, kejahatan, penderitaan dan kesedihan di dunia ini, lalu membuat suatu teori untuk menjelaskan hal-hal tersebut. Teori mereka sebagai berikut:

Pada mula pertama ada dua hal, yaitu Allah dan benda. Benda yang sudah ada itu adalah bahan mentah yang dipakai untuk menjadikan bumi. Benda tersebut telah bercela dan tidak sempurna. Dengan kata-kata lain, dunia ini bertitik pangkal pada sesuatu yang sudah bercela. Dunia ini dijadikan dari bahan yang sudah mengandung benih-benih cacat cela. Sebaliknya Allah adalah roh murni yang tidak akan pernah dapat bersentuhan dengan benda sama sekali, apalagi benda yang sudah bercacat. 

Oleh karena itu Allah tidak mungkin melakukan karya penciptaan sendiri. Untuk itu Allah memancarkan serangkaian pancaran yang ke luar dari diri-Nya sendiri. Setiap pancaran bergerak makin menjauh dari Allah; dan semakin jauh dari Allah semakin kurang juga pengenalannya tentang Allah. Dan pada kejauhan tertentu akan ada pancaran yang tidak mengenal Allah lagi. Lewat jarak ini pancaran-pancaran tersebut bukan hanya akan tidak peduli tentang Allah, tetapi malah bersikap memusuhi Allah. Akhirnya di dalam deretan pancaran tersebut ada satu pancaran yang menjadi begitu jauh dari Allah sehingga ia benar-benar tidak peduli tentang Allah dan benar-benar memusuhi Allah. 

Pancaran ini kemudian menjadi suatu kekuatan yang menjadikan bumi. Oleh karena ia begitu jauh dari Allah, maka ia dimungkinklan untuk menyentuh benda yang bercela dan jahat itu. Allah pencipta ini sama sekali terpisah dari Allah yang benar, dan secara mutlak bermusuhan dengan-Nya. Para pengikut Gnostik melangkah lebih jauh. Mereka mengatakan bahwa ilah pencipta itu adalah Allah Perjanjian Lama; dan bahwa Allah Perjanjian Lama ini bukan hanya sama sekali berbeda, tetapi juga sangat tidak peduli, serta sangat bermusuhan dsengan Allah, Bapa Yesus Kristus.

Kepercayaan seperti itu tersebar luas pada masa hidup Yohanes. Orang percaya bahwa dunia jahat dan bahwa dunia dijadikan oleh Allah yang jahat. Untuk melawan ajaran seperti itulah maka Yohasnes meletakkan dua dasar kebenaran Kristen. Pikiran yang memisahkan Allah dari dunia di mana kita tinggal itu telah menjadi latar belakang dari kenyataan, di mana berulang kali Perjanjian Baru mengemukakan hubungan antara Yesus dan peristiwa kejadian. 

Di dalam Surat Kolose 1:16, Paulus menulis: “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi.....segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” Di dalam surat 1 Korintus, ia menulis tentang Yesus Kristus “yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan.” Penulis Surat Ibrani berbicara tentang seseorang, yaitu sang Putra, yang “Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.” (Ibrani 1:2). Dengan kata-kata yang seperti itu, Yohanes dan para penulis Perjanjian Baru lainnya menekankan dua hal.

(1) Kekristenan percaya kepada apa yang disebut penciptaan dari ketiadaan. 

Kita tidak percaya bahwa Allah harus bekerja dengan benda asing dan jahat di dalam karya penciptaan-Nya. Kita tidak percaya bahwa dunia ini mulai dengan cacat cela di dalamnya. Kita tidak percaya bahwa dunia ini mulai dengan Allah dan sesuatu yang lain. Kepercayaan kita mengatakan, bahwa di balik segala sesuatu ada Allah, dan hanya Allah sendiri saja.

(2) Kekristenan percaya bahwa dunia ini adalah dunia milik Allah. 

Allah bukannya jauh terpisah dari dunia sehingga tidak ada kena-mengenanya, melainkan Ia sangat dekat dan terlibat dengan dunia. Para pengikut Gnostik mencoba menuduh sang pencipta atas adanya kejahatan di dunia. Sebaliknya Kekristenan percaya bahwa kesalahan yang ada di dunia ini adalah karena dosa manusia. Tetapi meskipun dosa itu telah membuat dunia cacat sehingga tidak bisa lagi seperti yang seharusnya, kita tidak akan pernah dapat merendahkan dunia karena secara essensial dunia ini adalah milik Allah. Kepercayaan sepertiu itu memberikan suatu makna yang baru terhadap harga dunia dan tanggung jawab kita kepadanya.

Ada suatu cerita tentang seorang anak kecil. Ia tinggal di daerah perkampungan di suatu kota besar. Pada suatu hari ia dibawa ke desa. Ketika ia melihat tumbuh-tumbuhan yang sedang berbunga, ia bertanya: “Apakah Allah akan marah kalau aku memetik beberapa kuntum bunga-Nya?”Dunia ini adalah milik Allah, dan karenanya tidak ada satu hal pun yang lepas dari pengawasan-Nya. Sebab itu kita pun harus memakai semua hal di dunia ini dengan kesadaran bahwa hal-hal tersebut adalah milik Allah.

Orang Kristen tidak bisa mengecilkan dunia dengan pikiran bahwa dunia dijadikan oleh ilah yang ganas dan tak mau peduli. Sebaliknya ia malah menghargai dan memuliakannya dengan selalu mengingat bahwa Allah ada di mana-mana, di belakang dan di dalam dunia. Orang Kristen percaya, bahwa Kristus yang memperbaharui dunia adalah kawan-sekerja Allah pada waktu dunia pertama kali dijadikan. Ia juga percaya, bahwa di dalam karya pengampunan-Nya Allah berusaha membawa dunia yang dahulu milik-Nya kembali kepada-Nya

Topik : HIDUP DAN TERANG

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:4-5)

Di dalam menyusun suatu karya musik, seorang komponis seringkali memulainya dengan terlebih dahulu menyatakan thema-thema yang akan dijabarkannya di dalam karya tersebut. Itulah juga yang dilakukan oleh Yohanes di dalam kitab Injilnya. “Hidup” dan “Terang”; dua kata yang pokok dan besar, merupakan sebagian dari pokok penulisan kitab Injil ke-empat. Dua kata tersebut adalah sebagian dari thema-thema utama yang akan diperkembangkan dan diuraikan melalui penulisan kitab Injil ini. Marilah kita lihat lebih jauh.

Kitab Injil ke-empat mulai dan berakhir dengan ke-hidup-an. Pada permulaan kitab ini kita baca bahwa Yesus adalah kehidupan, dan pada akhir kitab kita baca bahwa tujuan Yohanes menulis Injil ialah agar manusia boleh “percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:31). Kata “hidup”terus menerus ada di bibir Yesus. Yesus merasa iba dan menyesal, bahwa manusia tidak mau datang supaya manusia mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). 

Yesus memastikan dan menjamin bahwa Ia memberikan hidup kepada manusia dan bahwa manusia tidak akan binasa sebab tak seorang pun dapat merebut manusia itu dari tangan-Nya (Yohanes 10:28). Ia mengatakan, bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Di dalam kitab Injil ini kata benda hidup (zoe) dipakai lebih dari tiga puluh lima kali, dan kata kerja hidup atau mempunyai hidup (zen) lebih dari lima belas kali. Kalau begitu, apakah yang Yohanes maksudkan dengan hidup?

(1) Secara sederhana Yohanes maksudkan bahwa hidup adalah lawan dari kehancuran, kutuk dan mati. Allah mengirimkan anak-Nya agar siapa pun orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan mempunyai hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Orang yang mendengar lalu percaya memperoleh hidup dan kekal dan tidak akan dihukum (Yohanes 5:24). Ada pertentangan yang tajam antara kebangkitan kepada hidup dan kebangkitan kepada penghukuman (Yohanes 5:29). Mereka yang diberi hidup oleh Yesus tidak akan binasa (Yohanes 10:28).

Di dalam Yesus ada suatu hal, yang memberikan ketenteraman kepada hidup manusia sekarang dan yang akan datang. Kita tidak dapat dikatakan hidup, atau memiliki hidup, sebelum kita menerima Yesus, menjadikan-Nya Juruselamat kita dan Raja kita. Memang ada orang yang hidup tanpa Kristus, tetapi sebenarnya ia tidak tahu apa hidup itu. Yesus adalah satu-satunya pribadi yang bisa membuat hidup itu sangat berharga dan dengan penyertaan Yesus maka mati atau kematian hanyalah suatu pendahuluan dari kehidupan yang penuh.

(2) Meskipun Yesus adalah pembawa kehidupan ini, Yohanes yakin bahwa pemberi hidup itu adalah Allah sendiri. Berkali-kali Yohanes memakai kata “Allah yang hidup”. Kata-kata ini juga dipakai di dalam kitab-kitab lain dalam Alkitab. Bapa sendiri, yang mengirim Yesus menghendaki agar setiap orang yang melihat Yesus dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 6:40). Yesus adalah pemberi hidup sebab Sang Bapa sudah memberikan perkenan-Nya tentang hal itu kepada Yesus (Yohanes 6:27). Yesus memberikan hidup kepada siapa saja yang telah diberikan Bapa kepada-Nya (Yohanes 17:2).

Di belakang semuanya ini ada Allah. Dengan kata-kata lain, Allah seolah-olah berkata: “Aku menciptakan manusia agar mereka memperoleh hidup; tetapi dengan dosa, mereka sudah mati. Aku telah mengirim Anak-Ku kepada mereka untuk memberitahu tentang hidup yang sebenarnya.”

(3) Kita masih harus terus bertanya, hidup ini apa? Berkali-kali kitab Injil ke-empat memakai kata-kata hidup yang kekal. Kata Yunani yang dipakai Yohanes untuk “kekal”adalah “aionos”. Jelaslah bahwa apa pun arti hidup yang “kekal”, ia bukanlah hanya hidup yang berlangsung terus. Mungkin saja hidup yang berlangsung terus menjadi suatu kutuk yang mengerikan, dan manusia sangat rindu agar kutuk yang demikian itu segera dilepaskan dari hidupnya. Sebaliknya, di dalam hidup yang kekal bukan hanya harus ada panjang kurun waktu, tetapi juga mutu atau kualitas tertentu.

Hidup ini menjadi suatu hal yang tidak layak kalau ia tidak mempunyai makna yang tertentu. Di sini kita menemukan jawabannya. “Aionos” adalah kata sifat yang sering dipakai untuk menyebut Allah. Hanya Allah-lah yang aionos, yang kekal, dalam arti kata yang sebenarnya. Karena itu, hidup yang kekal adalah hidup yang dijalani oleh Allah sendiri. Hidup yang kekal adalah hidup Allah sendiri. Yang ditawarkan Yesus kepada kita adalah hidup Allah sendiri itu. Hidup kekal adalah hidup yang mengenal sesuatu yang berasal dari ketenangan dan kekuatan hidup Allah sendiri. Kalau Yesus datang untuk memberikan hidup kekal kepada manusia, maka artinya ialah bahwa Ia mengundang manusia untuk memasuki kehidupan Allah tadi.

(4) Bagaimana kita memasuki hidup Allah itu? Kita memasukinya melalui iman percaya kepada Yesus Kristus. Kata kerja “percaya”(psteuein) terdapat tidak kurang dari tujuh puluh kali di dalam kitab Injil ke-empat. “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:36). Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.” (Yohanes 6:47). Adalah kehendak Alllah sendiri bahwa manusia harus melihat Anak, percaya kepada-Nya, dan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 5:24). Apakah maksud Yohanes dengan “percaya”? Ada dua hal yang ia maksudkan:

(a) Ia maksudkan bahwa kita harus yakin bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah. Ia mau agar kita menentukan sikap tentang Yesus itu. Kalau Yesus itu hanya manusia saja, maka tak ada alasan sama sekali bagi kita untuk menaati apapun yang dikehendaki-Nya. Kita harus benar-benar bergumul tentang tentang siapa Yesus itu. Kita harus melihat-Nya, belajar tentang Dia, meneliti-Nya, dan berpikir tentang Dia sampai kita mencapai kesimpulan bahwa Yesus tidak lain dan tidak bukan adalah Anak Allah.

(b) Tetapi percaya secara intelektual saja tidak cukup. Percaya kepada Yesus berarti menaati firman-Nya, menerima dan melakukan perintah-perintah-Nya sebagai hal yang secara mutlak mengikat, dan percaya tanpa ragu bahwa yang dikatakan-Nya adalah benar.

Bagi Yohanes, percaya berarti keyakinan pikiran bahwa Yesus adalah Anak Allah, kepercayaan dalam hati bahwa segala yang dikatakan Yesus adalah benar, pendasaran semua tindakan secara teguh hanya dengan firman-Nya. Kalau hal itu semua kita lakukan, maka kita tidak akan lagi hidup sebagaimana kita ada sekarang, melainkan kita benar-benar akan mulai hidup. Di situ kita akan tahu makna Hidup yang sebenarnya.

“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.”
Kata kunci kedua dan yang juga besar dari Yohanes adalah “terang”. Kata ini terdapat di dalam kitab Injil ke-empat tidak kurang dari dua puluh satu kali. Yesus adalah terang manusia. Tugas Yohanes Pembaptis adalah menunjukkan terang itu, yang adalah Kristus, kepada manusia. 

Yesus sendiri sebanyak dua kali menyebut diri-Nya sendiri terang dunia (Yohanes 8:12; 9:5). Terang ini bisa ada di dalam diri manusia (Yohanes 11:10), sehingga mereka bisa menjadi anak-anak terang (Yohanes 12:36). Yesus berkata: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang.” (Yohanes 12:46). Marilah kita mencoba mendalami ide tentang terang yang dibawa oleh Yesus ke dalam dunia itu. Ada tiga hal yang menonjol :

(1) Terang yang di bawa oleh Yesus itu adalah terang yang mengusir kekacau-balauan. Di dalam cerita kejadian, Roh Allah melayang-layang di atas kegelapan dan kekacau-balauan yang tak berbentuk yang sudah ada sebelum dunia dijadikan, dan berfirman “Jadilah terang.” (Kejadian 1:3). Terang yang baru dijadikan oleh Allah tersebut menelusuri dan masuk ke dalam kekacau-balauan yang kosong. Demikianlah juga Yesus adalah terang yang menerangi kegelapan (ayat 5). 

Ia adalah satu-satunya pribadi yang bisa menyelamatklan hidup dari kekacauan. Kalau Yesus tidak datang kepada kita, maka kita hanya akan bergantung kepada penderitaan-penderitaan dan ketakutan-ketakutan kita saja.

Kalau Yesus muncul di dalam hidup, maka terang pun muncul di situ. Salah satu hal yang sejak dahulu menakutkan di dunia ini ialah kegelapan. Ada sebuah cerita tentang anak kecil yang menginap di rumah orang lain. Di dorong oleh kemauan baik, maka tuan rumah mengizinkan si anak tidur dengan lampu yang tetap menyala. Tetapi dengan sopan si anak menolaknya. Lalu tuan rumah berkata: “Aku mengira engkau akan merasa takut kalau gelap.” Anak kecil itu menjawab: “Oh, tidak. Gelap itu ‘kan milik Allah.” Bagi kita, malam adalah terang seperti siang kalau Yesus bersama kita.

(2) Terang yang dibawa oleh Yesus adalah terang yang sanggup menerangi atau mengungkap hal-hal yang tidak kelihatan. Karena keterkutukannya maka manusia lebih mencintai kegelapan daripada terang. Manusia melakukan demikian itu karena perbuatan-perbuatan mereka jahat. Mereka membenci terang, sebab kalau tidak demikian maka perbuatan-perbuatan mereka yang jahat pasti akan terungkap (Yohanes 3:19-20). Terang yang di bawa oleh Yesus adalah terang yang memperlihatkan segala sesuatu sebagaimana adanya. Terang itu menyingkapkan topeng-topeng dan segala persembunyian. Terang itu menunjukkan segala sesuatu di dalam ketelanjangannya. Ia menunjukkan segalanya di dalam karekter dan nilainya yang benar.

Dahulu ada orang-orang sinis yang mengatakan, bahwa manusia membenci kebenaran karena kebenaran itu seperti terang yang tertuju ke mata yang sakit. Di dalam, puisi Caedmon terdapat suatu gambar yang aneh. Gambar itu adalah gambar tentang hari akhir. Di tengah gambar tersebut nampak Salib; dan Salib itu memancar suatu sinar aneh yang berwarna merah darah. Sinar itu mempunyai kemampuan yang aneh sedemikian rupa sehingga ia sanggup menunjukkan banyak hal sebagaimana adanya. Semua penutup luar, topeng-topeng, pembungkus luar dan pemalsuan-pemalsuan ditelanjanginya; dan segala sesuatu nampak telanjang sebagaimana sebenarnya ada.

Kita tidak pernah melihat diri kita sendiri sampai kita melihatnya telanjang di depan mata Yesus. Kita tidak pernah melihat kenyataan hidup kita sampai kita melihatnya di dalam terang Yesus. Yesus sering mendorong kita ke hadapan Allah dengan jalan menyatakan kenyataan diri kita sendiri kepada kita.

(3) Terang yang dibawa oleh Yesus adalah terang yang membimbing. 

Kalau orang tidak mempunyai terang itu, maka ia akan berjalan di dalam kegelapan dan tidak mengetahui ke mana berjalan di dalam kegelapan (Yohanes 12:46). Salah satu gambaran yang ada dalam cerita-cerita Injil yang tidak bisa dilewatkan oleh siapa pun adalah banyaknya orang yang bergegas datang kepada Yesus dan menanyakan: “Apa yang harus aku lakukan?”

Kalau Yesus masuk ke dalam hidup, maka berakhirlah masa menduga-duga dan meraba-raba, dan lenyaplah masa keraguan, ketidak-menentuan dan kebimbangan. Jalan yang gelap menjadi terang, sikap yang diselubungi oleh kegelapan yang tak menentu diterangi. Tanpa Yesus maka kita adalah laksana orang-orang yang berjalan meraba-raba di dalam kegelapan jalan yang tidak kita kenal. Dengan Yesus maka jalan itu bersih dan terang.

KEGELAPAN YANG JAHAT

“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:5)
Di sini kita temukan lagi salah satu kata yang penting bagi Yohanes, yaitu “kegelapan” (skotus, skotia). Kata ini terdapat sebanyak tujuh kali di dalam Injil Yohanes. Bagi Yohanes di dunia ini terdapat “kegelapan” yang sama nyatanya dengan “terang”.

(1) Kegelapan itu bersikap jahat terhadap terang. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan; namun walau kegelapan tersebut berusaha keras ia tidak dapat memadamkan terang itu. Orang yang berdosa mengasihi kegelapan dan membenci terang, sebab terang itu mengungkapkan banyak hal.

Ada kemungkinan bahwa di sini Yohanes meminjam pikiran orang lain. Sebagaimana kita tahu, Yohanes tidak akan ragu-ragu untuk mengambil alih ide-ide baru kalau dengan jalan seperti itu ia bisa menyajikan berita Kristen secara baik kepada orang lain. Pada masa hidup Yohanes, pikiran manusia banyak sekali dipengaruhi oleh agama yang terkenal di Persi, yaitu Zoroaster. 

Agama Zoroaster percaya bahwa di alam semesta ada dua kekuatan besar yang saling berlawanan, yaitu ilah terang yang bernama Ahriman, dan ilah gelap yang bernama Ormuzd. Alam semesta ini adalah sebuah medan perang bagi pertentangan kosmis yang abadi antara terang dan gelap. Yang menjadi persoalan bagi hidup manusia ialah memilih salah satu dari kedua kekuatan tersebut.

Di situ Yohanes berkata: “Ke dalam dunia ini Yesus datang; Ia adalah terang dunia. Di dunia ini ada suatu kegelapan yang berusaha menyepelekan Dia, membuang-Nya dari hidup, dan bahkan membunuh-Nya. Tapi di dalam Yesus ada kekuatan yang tak terkalahkan. Kegelapan itu dapat membenci-Nya, tetapi tak akan pernah dapat membebaskan diri dari-Nya.”

Sesungguhnya pernah juga dikatakan, bahwa “Semua kegelapan di dunia tidak dapat memadamkan nyala api yang terkecil pun.” Pada akhirnya terang yang tak terkalahkan itu akan mengalahkan kegelapan yang jahat. Yohanes menandaskan: “Pilihlah pihak yang akan engkau ikuti di dalam pertentangan abadi itu, dan pilihlah yang benar.”

(2) Kegelapan merupakan pelindung bagi kenyataan alamiah orang-orang yang membenci kebaikan. Manusia yang mempunyai perbuatan jahat itulah yang takut akan terang (Yohanes 3:19-20). Orang yang mempunyai hal-hal yang ingin disembunyikan adalah orang yang mencintai kegelapan; tetapi sebenarnya adalah sama sekali tidak mungkin untuk menyembunyikan sesuatu dari Allah. Sinar terang-Nya menyusup ke setiap sudut bayang-bayang dan kegelapan, serta mengungkap setiap kejahatan yang bersembunyi di dunia.

(3) Ada beberapa bagian dari Injil Yohanes yang menyatakan bahwa kegelapan seolah-olah berarti “ketidak-acuhan”, khususnya ketidak-acuhan yang dengan sengaja menolak terang Yesus Kristus. Yesus berkata: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan.” (Yohanes 8:12). Ia katakan kepada para murid-Nya, bahwa terang tersebut hanya akan ada bersama mereka untuk waktu yang singkat; hendaklah mereka berjalan di dalamnya; kalau mereka tidak mau maka kegelapan akan datang, dan orang yang berjalan di dalam kegelapan tidak mengetahui arah perjalanannya (Yohanes 12:35). Ia katakan lagi, bahwa Ia datang dengan terang-Nya agar manusia tidak lagi tinggal di dalam kegelapan (Yohanes 12:46).

Tanpa Yesus Kristus, maka siapa pun tidak akan dapat menemukan atau melihat jalannya. Orang tersebut sama seperti orang yang matanya ditutup rapat, atau bahkan seperti orang buta. Tanpa Yesus Kristus hidup ini akan tersesat. Goethe pernah berteriak minta terang, katanya: “Terang, berilah terang lagi!” Ada juga seorang pemimpin dari Skotland yang menjelang ajalnya berkata kepada kawan-kawannya, demikian: “Nyalakan lilin supaya ada terang, sehingga aku bisa melihat sampai ajalku.” Yesus adalah terang yang menunjukkan jalan bagi manusia, dan yang menerangi setiap jengkal dari jalan tersebut.

Pernah juga beberapa kali Yohanes memakai kata “kegelapan” secara simbolis. Kadang kala ia memakai kata tersebut dalam arti kegelapan yang lebih daripada kegelapan malam di bumi. Ia bertutur tentang Yesus yang berjalan di atas air. Pada waktu itu para murid telah berangkat dan sedang menyeberangi danau tanpa Yesus; lalu Yohanes menulis: “Hari sudah gelap (dan) Yesus belum juga datang mendapatkan mereka.” (Yohanes 6:17). 

Tanpa kehadiran Yesus maka yang ada hanya kegelapan yang mengancam. Dalam berita tentang kebangkitan Yesus, Yohanes menceritakan keadaan pada jam-jam pagi hari sebelum mereka yang mengasihi Yesus mengetahui bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Ia memulai ceritanya dengan mengatakan: “Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu.” (Yohanes 20:1). Pada saat itu Maria Magdalena mengalami kehidupan tanpa Yesus, dari dunia kehidupan seperti itu adalah laksana kegelapan.

Yohanes menulis juga tentang Perjamuan Malam Terakhir. Di dalamnya diceritakan bagaimana Yudas menerima roti lalu pergi memulai tindakan kejamnya untuk mengkhianati Yesus. Dengan bahasa simbolis yang menakutkan Yohanes mengatakan: “Yudas menerima roti itu lalu segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.” (Yohanes 13:30). Artinya Yudas telah mulai memasuki kehidupan yang gelap seperti gelapnya malam, yaitu kehidupan yang berkhianat terhadap Yesus.
Bagi Yohanes hidup tanpa Kristus adalah hidup di dalam kegelapan. Kegelapan berarti hidup tanpa Kristus, yang secara khusus berarti juga hidup menolak Kristrus.

Masih ada satu hal lagi yang perlu kita catat. Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan menjadi “menguasai” adalah “katalambanein”. Kata ini bisa mempunyai tiga macam arti:

a) Arti yang pertama ialah, bahwa kegelapan itu tidak akan pernah bisamengerti terang. Di dalam arti ini terkandung pengertian bahwa manusia di dunia tidak dapat mengerti kehendak Kristus dan jalan yang Kristus tunjukkan. Bagi manusia tersebut semuanya itu hanya merupakan ketololan belaka. Siapa pun tidak akan dapat mengerti Yesus kecuali kalau ia mau menyerahkan diri kepada-Nya.

b) Arti yang kedua ialah, bahwa kegelapan itu tidak akan pernah“mengalahkan” terang. Kata Yunani ‘katalambanein” dapat berarti “mengusahakan untuk melampaui lalu mempertahankan dan memenangkan.” Hal ini berarti, bahwa kegelapan dunia telah mengusahakan segala sesuatu yang mungkin untuk menyingkirkan Kristus, bahkan sampai menyalibkan-Nya, tetapi tidak pernah berhasil menghancurkan-Nya. Arti ini memberi penjelasan kepada makna tentang Kristus yang disalib dan Kristus yang menang.

c) Arti yang ketiga ialah, memadamkan nyala api atau bara. Arti inilah yang kita ambil di dalam pembahasan kita di sini. Meskipun manusia telah mengusahakan apa saja yang dapat mereka perbuat untuk mengaburkan dan memadamkan terang Allah di dalam Kristus, mereka tidak dapat berhasil. Walau ada usaha-usaha manusia seperti itu sepanjang zaman, sinar terang Kristus tetap bercahaya-cahaya kepada setiap generasi manusia.

Topik : SAKSI YESUS KRISTUS.

“Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.” (Yohanes 1:6-8)

Adalah hal yang aneh bahwa setiap ayat di dalam kitab Injil ke-empat yang menyebut nama Yohanes Pembaptis, menyebutnya dengan nada yang merendahkannya. Penjelasan mengenai hal itu adalah sebagai berikut. Yohanes Pembaptis adalah suatu suara kenabian. Selama empat ratus tahun suara kenabian telah tak terdengar dan di dalam diri Yohanes Pembaptis suara itu muncul lagi. Agaknya ada beberapa orang yang sangat mengagumi Yohanes Pembaptis, sehingga Yohanes mereka beri tempat yang lebih tinggi dari yang pantas baginya, Memang terdapat tanda-tanda akan adanya sebuah sekte yang menjunjung tinggi Yohanes Pembaptis. Kita temukan gema dari hal itu di dalam Kisah Para Rasul 19:3-4. Di Efesus Paulus bertemu dengan sekelompok orang yang hanya mengenal baptisan Yohanes Pembaptis.

Bukannya Kitab Injil ke-empat ingin mengkritik Yohanes Pembaptis atau merendahkan peranannya dengan cara menyebutkan namanya seperti di atas. Soalnya hanyalah bahwa Yohanes sendiri mengetahui akan adanya beberapa orang yang menempatkan Yohanes Pembaptis di atas tempat Yesus sendiri. Jadi di dalam seluruh kitab Injil ke-empat, Yohanes secara berhati-hati menunjukkan bahwa tempat Yohanes Pembaptis memang penting; tetapi tempat tersebut tokh masih harus di bawah tempat Yesus, Secara berhati-hati Yohanes katakan bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah sang terang, melainkan hanya seorang saksi terhadap terang itu (ayat . Ia tunjukkan secara jelas bahwa Yohanes Pembaptis sendiri mengaku bukan Kristus, bahkan juga bukan nabi besar yang pernah dijanjikan oleh Musa (Yohanes 1:20).

Ketika orang-orang Yahudi datang kepada Yohanes dan memberitahu bahwa Yesus telah mulai mengajar sebagai guru, mereka tentu telah mengharapkan bahwa Yohanes akan sakit hati atau menyesalkan gangguan tersebut. Tetapi kitab Injil ke-empat menceritakan bahwa Yohanes menolak untuk menjadi orang pertama di atas Yesus, sebaliknya ia menyatakan bahwa ia harus makin kecil sementara Yesus harus makin besar (Yohanes 3:25-30). Dikemukakan juga kemudian bahwa Yesus lebih berhasil menarik orang banyak daripada Yohanes (Yohanes 4:1). Dikemukakan lagi bahwa orang-orang mengakui bahwa Yohanes tidak dapat melakukan banyak hal seperti Yesus (Yohanes 10:41).

Ada beberapa orang di dalam gereja mula-mula itu yang memang ingin memberikan tempat yang tinggi kepada Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis sendiri tidak terlalu senang dengan keinginan tersebut, bahkan ia berusaha mencegahnya. Tapi penulis kitab Injil ke-empat mengetahui keadaan itu dan berusaha mengambil langkah-langkah yang baik untuk mencegah keinginan orang banyak itu.

Memang bisa saja terjadi bahwa orang lebih suka memuji si pengkhotbah ketimbang memuji Kristus. Mungkin saja terjadi bahwa mata orang banyak lebih lekat kepada si pemberita ketimbang kepada Sang Raja yang diberitakan. Tetapi Yohanes si Pekabar Injil dan pemberita itu berketetapan hati untuk berusaha agar tak seorang pun menggeser Kristus dari tempat-Nya yang paling mulia.

Kita perelu mencatat bahwa di dalam ayat-ayat yang kita bicarakan ini kita temukan lagi satu kata kunci yang penting bagi kitab Injil ke-empat. Kata itu ialah “saksi”. Kitab Injil ke-empat secara berturut-turut menampilkan tidak kurang dari delapan orang atau tokoh yang menjadi saksi akan tempat Yesus yang tertinggi.

(1) Yang pertama, adalah saksi Bapa. Yesus mengatakan: “Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku.” (Yohanes 5:37). “Bapa yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.” (Yohanes 8:18). Apa yang Yesus maksudkan dengan hal itu? Ada dua hal:

Pertama, Ia maksudkan sesuatu yang mengenai diri-Nya sendiri. Di dalam hati-Nya ada suara dalam dari Allah yang berbicara. Suara itu membuat-Nya tidak ragu-ragu tentang siapa Dia dan untuk apa Ia diutus Allah. Yesus tidak menganggap diri-Nya sebagai yang memilih tugas yang Ia lakukan. Sebaliknya Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah sendirilah yang telah mengutus-Nya ke dunia ini untuk hidup dan mati bagi manusia.

Kedua, Ia maksudkan sesuatu yang mengenai manusia. Kalau ada seseorang yang diperhadapkan dengan Kristus, maka dalam diri orang tersebut akan muncul keyakinan yang kuat, bahwa Kristus adalah Anak Allah. Pendeta Tyrrell pernah mengatakan, bahwa dunia tidak pernah bisa menghindarkan diri dari “orang yang disalib itu”. Ada kekuatan di dalam diri kita yang akan selalu membawa kita kembali memandang Kristus meskipun kita tidak menginginkannya. Kekuatan itu akan memberitahu kita bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juruselamat dunia. Kekuatan itu adalah saksi tentang Allah dan ia ada di dalam diri kita.

(2) Yang kedua adalah saksi Yesus sendiri. Yesus berkata : “Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri.” (Yohanes 8:18). “Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar.” (Yohanes 8:14). Apa artinya ini? Artinya ialah bahwa Yesus sebagaimana Ia ada, adalah saksi yang terbaik tentang diri-Nya. Yesus mengaku bahwa Ia adalah terang, hidup, kebenaran dan jalan. Ia mengaku sebagai Anak Allah dan ada bersama dengan sang Bapa. Ia mengaku sebagai Juruselamat dan Tuan semua manusia. Pengakuan-pengakuan seperti itu hanya akan merupakan suatu kejutan serta hujatan kalau hidup dan karakter Yesus sendiri tidak seperti yang diakui-Nya sendiri. Yesus sebagaimana Ia ada di dalam diri-Nya sendiri merupakan saksi yang terbaik bagi kebenaran pengakuan-Nya.

(3) Saksi yang ketiga adalah karya-karya-Nya sendiri. Yesus mengatakan: “Segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku.... memberi kesaksian tentang Aku.” (Yohanes 5:36), “Pekerjaan-pekerjaan Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku.” (Yohanes 10:25). Ia memberitahu Filipus tentang kebersamaan-Nya dengan Bapa, lalu mengatakan: “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.” (Yohanes 15:24).

Kita harus catat satu hal, yaitu bahwa kalau Yohanes berbicara tentang karya-karya atau pekerjaan-pekerjaan Yesus, ia tidak hanya menunjuk kepada mujizat-mujizat Yesus. Yang ia maksudkan adalah seluruh karya dan kehidupan Yesus setiap saat dan setiap hari. Tidak ada seorang pun yang dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan atau karya-karya besar seperti yang dilakukan oleh Yesus, kecuali kalau hubungannya dengan Allah begitu dekat seperti Yesus.

Demikian juga, tak seorang pun di dalam hidupnya sehari-hari dapat hidup dengan penuh kasih, belas kasihan, rasa sayang, pengampunan, pelayanan dan pertolongan, kecuali kalau ia ada di dalam Allah dan Allah ada di dalam dirinya. Untuk membuktikan bahwa kita adalah milik Kristus, kita tidak perlu membuat mujizat-mujizat. Yang perlu kita lakukan ialah hidup seperti Kristus setiap saat dan setiap hari. Melalui hal-hal biasa setiap hari itulah kita menunjukkan bahwa kita adalah milik Kristus.

(4) Yang ke-empat adalah kesaksian Alkitab. Yesus mengatakan: “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku.” (Yohanes 5:29). “Jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku.” (Yohanes 5:46). Filipus yakin serta berkata bahwa ia telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi (Yohanes 1:45). Sepanjang sejarah Israel orang-orang yang sangat menantikan hari kedatangan Mesias Allah. Mereka telah membuat gambaran-gambaran serta mengemukakan ide-ide tentang Mesias itu. Di dalam Yesus semuanya itu menjadi kenyataan. Dia yang sangat dinantikan oleh dunia telah datang.

(5) Saksi yang ke-lima adalah nabi yang terakhir, yaitu Yohanes Pembaptis. “Ia datang sebagai saksi untuk memberikan kesaksian tentang terang itu.” (ayat 7-8). Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian bahwa ia telah melihat Roh yang turun ke atas Yesus. Kesaksian para nabi mencapai puncaknya di dalam Yohanes Pembaptis. Yohanes inilah yang memberikan kesaksian tentang Yesus. Dan Yohanes Pembaptis adalah sasaran terakhir dari kesaksian semua nabi.

(6) Saksi yang ke-enam adalah orang-orang yang berhubungan dengan Yesus. Ada seorang wanita Samaria yang memberikan kesaksian tentang kuasa penyembuhan Yesus (Yohanes 9:25,38). Mereka yang menyaksikan mujizat yang dibuat oleh Yesus menyatakan keheranan mereka terhadap perbuatan Yesus itu (Yohanes 12:17).

Ada juga sebuah legenda yang menarik. Di dalam legenda itu diceritakan, bahwa Sanhedrin memerlukan saksi-saksi ketika Yesus diadili. Lalu datanglah sejumlah orang yang mau menjadi saksi. Mereka mengatakan: “aku pernah sakit kusta dan disembuhkan-Nya”; “aku dulu buta tetapi Ia mencelikkan mataku.”; “aku dahulu tuli tetapi Ia membuat aku bisa mendengar lagi.” Kesaksian-kesaksian semacam itu adalah kesaksian yang sangat tidak disukai oleh Sanhedrin. Di dalam setiap zaman dan generasi selalu saja ada orang-orang yang siap untuk memberikan kesaksian tentang perbuatan-perbuatan yang Kristus lakukan bagi mereka.

(7) Saksi yang ketujuh ialah para murid, dan khususnya penulis Injil sendiri. Yesus sendiri pernah mengatakan kepada para murid-Nya, demikian: “Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27). Penulis Injil adalah saksi pribadi dan sekaligus penjamin dari hal-hal yang dikatakan-Nya. Mengenai penyaliban Yesus, penulis Injil itu mengatakan: “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar.” (Yohanes 19:35). 

Penulis itu juga mengatakan: “Dialah murid yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya.” (Yohanes 21:24). Cerita yang telah ditulisnya bukanlah cerita isapan jempol, melainkan cerita tentang hal-hal yang telah dilihat dan dialaminya sendiri. Seorang saksi yang terbaik ialah saksi yang bisa mengatakan: “Kesaksian ini benar, sebab aku mengetahui dan mengalaminya sendiri.”

Saksi yang ke-delapan adalah Roh Kudus.“Jikalau Penghibur yang a kan Ku-utus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.” (Yohanes 15:26). Di dalam Surat Yohanes yang pertama, Yohanes menulis: “Dan Rohlah yang memberikan kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.” (1 Yohanes 5:6). Bagi orang Yahudi, Roh mempunyai dua fungsi. Roh membawa kebenaran Allah kepada manusia, dan memampukan manusia mengakui kebenaran tersebut ketika manusia melihatnya. Roh inilah yang bekerja di dalam hati kita sehingga kita mampu mengakui Yesus dan mempercayai kekuasaan-Nya.

Yohanes menulis kitab Injilnya untuk mengemukakan kesaksian yang tak dapat disangkal, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah pikiran Allah yang secara penuh dinyatakan kepada manusia

Topik : TERANG BAGI SETIAP ORANG.

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

Di dalam ayat di atas, Yohanes menerangkan Yesus dengan memakai kata yang sangat penting. Ia katakan bahwa Yesus adalah terang yang sesungguhnya. Di dalam bahasa Yunani ada dua kata yang artinya hampir sama. Kata itu ialah “alethes” dan “alethinos”.“Alethes” berarti “benar” (sebagai lawan kata salah), sedang “alethinos” berarti “asli”, “nyata” (sebagai lawan kata tidak nyata).

Apa yang dikatakan oleh Yohanes ialah bahwa Yesus adalah terang yang benar yang menerangi manusia. Sebelum Yesus datang, di dunia ini banyak sekali terang-terang yang lain yang diikuti oleh manusia. Ada terang yang seolah-olah mengandung kebenaran, ada pula yang seolah-olah menunjukkan kenyataan, dan ada pula terang yang sekejap berkilauan, menarik manusia, tapi membawanya ke jurang kegelapan dan meninggalkannya di sana terus. Sampai sekarang, terang seperti itu masih ada, dan masih ada juga manusia yang mengikutinya. Ada terang yang tidak benar, ada terang palsu, dan manusia masih juga mengikutinya. Di atas semuanya itu, Yesus adalah satu-satunya terang yang nyata, asli dan benar, yang membimbing manusia berjalan di jalan yang benar.

Yohanes mengatakan, bahwa dengan kedatangan-Nya di dunia ini, Yesus membawa terang yang nyata kepada manusia. Kedatangan Yesus adalah laksana terang yang bersinar-sinar, laksana datangnya sinar matahari di pagi buta. Seorang pendaki gunung menceritakan, bahwa pada suatu malam yang gelap dan berawan ia berdiri di suatu tebing. Tidak ada yang nampak kecuali kegelapan. Ia tidak menyadari bahaya yang berada di depannya. Tetapi, tiba-tiba datanglah kilat di langit, sehingga ia bisa melihat hampir segala sesuatu yang ada di depannya. Kedatangan Yesus Kristus ke dunia adalah laksana datangnya kilat di dalam kegelapan yang pekat. Ia menyinari segala sesuatu. Ia menyinari kegelapan manusia.

(1) Kedatangan Yesus melenyapkan bayang-bayang keragu-raguan. Sebelum Yesus datang manusia hanya bisa membuat dugaan saja tentang Allah. Ada seorang Yunani yang mengatakan: “Alangkah sulitnya untuk menemukan Allah; dan kalau Anda telah menemukan-Nya, maka tidaklah mungkin bagi Anda untuk memberitahu orang lain tentang Allah itu.” Orang yang masih memuja berhala beranggapan, bahwa Allah tinggal di dalam bayang-bayang kegelapan yang tak dapat ditembus oleh manusia atau di dalam terang yang tak dapat terhampiri. Tapi ketika Yesus datang, manusia bisa melihat rupa Allah dengan senyata-nyatanya. Batang-bayang dan kabut penyelubung telah tiada; masa yang penuh dengan dugaan-dugaan telah berakhir; tak ada lagi kesempatan serta makna dari sikap masa bodoh. Terang itu telah datang.

(2) Kedatangan Yesus melenyapkan bayang-bayang keputus-asaan. Yesus datang ke dunia yang penuh dengan keputus-asaan. Seneca pernah mengatakan: “Manusia menyadari ketidak-mampuannya di dalam menghadapi hal-hal yang sangat perlu.” Mereka merindukan tangan yang mau terulur menolong mereka. “Mereka membenci dosa-dosanya, tapi tidak bisa melepaskan diri dari dosa-dosa itu.” Manusia telah putus asa karena tidak pernah berhasil memperbaiki diri mereka sendiri maupun dunia. 

Tetapi dengan kedatangan Yesus Kristus, ada kekuatan baru yang masuk ke dalam hidup manusia. Yesus datang bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan kekuasaan. Ia datang bukan hanya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada manusia, tetapi juga untuk memampukan manusia berjalan di jalan itu. Ia bukan hanya memberikan perintah, tetapi juga menghadirkan diri-Nya sendiri sehingga di mana pun Ia berada, maka tidak ada hal yang tidak mungkin. Kegelapan yang meliputi pesimisme dan keputus-asaan ditiadakan-Nya untuk selamanya.

(3) Kedatangan Yesus melenyapkan kegelapan maut. Dunia zaman dahulu sangat takut akan maut. Bagi mereka maut merupakan kesudahan hidup yang sangat menakutkan jiwa manusia, atau penyiksaan kekal oleh para dewa dan sangat mengerikan. Tetapi dengan kedatangan, hidup, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus Kristus menunjukkan bahwa maut hanyalah jalan menuju ke kehidupan yang lebih besar. Di situ kegelapan ditiadakan. Di dalam salah satu cerita-ceritanya, Stevenson melukis sebuah gambar tentang seorang laki-laki yang lepas dari suatu perkelahian maut. Sambil meninggalkan tempat perkelahian orang itu bernyanyi di dalam hati: “Pahitnya maut telah berlalu.” Oleh karena Yesus, maka pahitnya maut telah berlalu bagi setiap orang.

Selanjutnya, Yesus adalah terang yang masuk ke dalam dunia menerangi setiap orang. Di zaman dulu orang-orang Yahudi bersikap sangat eksklusif. Orang-orang Yahudi membenci orang-orang non-Yahudi serta beranggapan bahwa mereka diciptakan hanya untuk bahan bakar api neraka. Sesungguhnya ada seorang nabi yang di dalam keprihatinannya melihat bahwa keberadaan bangsa Israel yang sebenarnya adalah menjadi terang bagi bangsa-bangsa (Yesaya 42:6; 49:6); tetapi bangsa Israel secara tegas selalu menolak hal itu. 

Dunia Yunani tidak pernah memimpikan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah bagi setiap orang. Bagi mereka pengetahuan adalah hanya untuk mereka sendiri. Dunia Romawi sangat merendahkan orang-orang non-Romawi, dan menganggap mereka biadap, keturunan manusia yang tak punya aturan. Tetapi Yesus datang untuk menjadi terang bagi setiap orang. Hanya Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus sajalah yang mempunyai hati dan dada yang lapang dan sanggup meliputi seluruh dunia dan isinya.

YESUS TIDAK DIKENAL DAN TIDAK DITERIMA

“Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” (Yohanes 1:10-11).

Ada dua hal yang tersirat di dalam pikiran Yohanes ketika ia menulis ayat ini.

(1) Ia melihat kepada zaman sebelum Yesus Kristus datang ke dunia dalam wujud manusia.

Sejak permulaan waktu, Logos Allah aktif di dunia. Pada permulaan karya penciptaan Allah, firman yang dinamis itu telah menjadikan dunia ini; dan sejak semula firman, Logos dan pikiran atau akal Allah itulah yang menjadikan dunia suatu keutuhan yang teratur dan manusia suatu makhluk yang berpikir. Kalau saja manusia itu mempunyai sedikit kemauan untuk melihat-Nya, maka Logos akan selalu dapat dikenal di dalam alam semesta ini.

Pengakuan iman Westminster mulai dengan mengatakan bahwa “sinar terang alam, keberadaan dan keberlangsungan segala yang hidup, benar-benar menyatakan kebaikan, hikmat dan kuasa Allah sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengenal Allah.” Zaman dahulu Paulus telah mengatakan, bahwa semua yang kelihatan di dunia ini telah dengan sengaja diciptakan oleh Allah sedemikian rupa, untuk membimbing akal budi manusia kepada hal-hal yang tidak kelihatan; dan bahwa kalau manusia mau melihat dunia ini dengan mata yang terbuka dan hati yang berpengertian, maka tidak bisa tidak, akal budinya telah akan tertuju kepada sang Pencipta dunia (Roma 1:19-20). Dunia ini selalu merupakan kenyataan yang sedemikian rupa, sehingga kalau dilihat dengan cara yang benar ia akan mengarahkan pikiran manusia kepada Allah.

Ilmu theologia selalu membedakan antara theologia alamiah dan theologia penyataan. Theologia penyataan berkecimpung dengan kebenaran-kebenaran yang langsung disampaikan Allah kepada manusia di dalam kata-kata para nabi, kata-kata Alkitab, dan puncaknya di dalam Yesus Kristus. Theologia alamiah berkecimpung dengan kebenaran-kebenaran yang dapat ditemukan oleh manusia melalui pemakaian pikiran dan akal budi manusia terhadap dunia di mana ia hidup. Sekarang bagaimanakah kita dapat melihat firman Allah, Logos Allah, akal atau pikiran Allah, di dunia yang kita diami ini?

a) Kita harus melihat ke luar (ke arah luar). Salah satu pikiran dasar Yunani mengatakan bahwa di mana ada keteraturan di situ tentu ada pikiran atau akal. Kalau kita lihat dunia ini maka kita akan menemukan adanya keteraturan yang mengagumkan. Planet-planet berjalan tetap pada jalur-jalur mereka. Gelombang-gelombang laut menepati waktu-waktu yang telah ditentukan untuk mereka. Musim tanam, musim menuai, musim panas, musim hujan, siang dan malam, datang silih berganti pada waktunya. 

Jelaslah bahwa di dalam alam ini ada keteraturan, dan dengan begitu jelas pula bahwa di baliknya ada pikiran atau akal yang mengatur. Akal itu tentu lebih besar daripada akal manusia sebab ia dapat menghasilkan hal-hal yang tak pernah bisa dicapai oleh akal manusia. Tak seorang pun yang dapat mnerubah siang menjadi malam atau sebaliknya. Tak seorang pun yang dapat membuat biji atau benih yang mempunyai potensi pertumbuhan di dalamnya. Tak seorang pun dapat membuat sesuatu yang bernyawa hidup.

Jikalau di dunia ini ada keteraturan di situ tentu ada akal. Dan jika di dalam keteraturan itu ada hal-hal atau benda-benda yang kejadiannya di luar kemampuan akal manusia, maka akal yang ada di balik keteraturan itu haruslah juga di atas dan di luar akal manusia. Dan dengan itu kita sampai kepada Allah. Memandang dunia sambil melihat hal yang ada di baliknya itu kita sebut melihat ke luar dunia. Melihat ke luar dunia berarti bertatap-muka dengan Pencipta dunia, yaitu Allah sendiri.

(b) Kita harus melihat ke atas. 

Keteraturan alam semesta yang mengagumkan itu dinampakkan secara paling jelas oleh perputaran dunia. Para ahli ilmu perbintangan mengatakan, bahwa di langit sana terdapat bintang-bintang yang jumlahnya sama dengan jumlah pasir di pantai. Kita tidak bisa membayangkan, betapa ramainya lalu lintas di langit itu! Namun ternyata bintang-bintang itu menepati jalur serta perputarannya sendiri-sendiri. 

Seorang ahli perbintangan bisa meramalkan secara terperinci, kapan dan di mana suatu planet akan muncul. Dia juga dapat meramalkan, kapan dan di mana akan terjadi gerhana matahari seratus tahun yang akan datang, dan berapa lama gerhana itu akan berlangsung. Telah dikatakan oleh banyak orang, bahwa “seorang ahli perbintangan tidak akan dapat menjadi seorang atheis.” Kalau kita melihat ke atas, ke langit, kita akan melihat Allah.

(c) Kita harus melihat ke dalam (ke arah dalam). 

Dari manakah kita memperoleh kekuatan untuk berpikir, menalar dan mengetahui? Dari mana kita memperoleh pengetahuan tentang yang benar dan yang salah? Mengapa orang yang paling jahat pun mengetahui di dalam relung hatinya bahwa perbuatannya jahat? Immanuel Kant mengatakan, bahwa ada dua hal yang meyakinkan dirinya tentang adanya Allah: 

(1) langit di atas yang penuh bintang dan 

(2) hukum moral di dalam dirinya sendiri.

Kita tidak pernah memberikan hidup kepada diri kita sendiri, dan kita tidak pernah memberikan nalar untuk membimbing dan mengarahkan hidup kita. Keduanya tentu berasal dari kekuatan atau kuasa yang ada di luar diri kita. Dari manakah penyesalan dan rasa bersalah berasal? Mengapa kita tidak pernah dapat melakukan apa yang kita sukai dan hidup damai? Jika kita melihat ke dalam diri kita sendiri, kita akan menemukan apa yang oleh Marcus Aurelius disebut “allah yang di dalam” dan yang oleh Seneca disebut ”roh suci yang mendiami roh kita”. Tanpa Allah tiada seorang pun yang dapat menerangkan dirinya sendiri.

(d) Kita harus melihat ke belakang.

 Seorang ahli sejarah bernama Froude mengatakan, bahwa seluruh sejarah adalah suatu pertunjukkan aksi hukum moral. Kerajaan-kerajaan timbul tenggelam, seperti dikatakan oleh Kliping : “Seluruh kebesaran kita yang kemarin, adalah sama dengan Niniveh dan Tyrus!” Kenyataan sejarah selalu menunjukkan, bahwa kemerosotan moral selalu bergandengan dengan kejatuhan bangsa. George Bernard Shaw pernah mengatakan: “Tidak ada bangsa yang tahan berdiri tanpa moral yang baik”. Seluruh sejarah secara praktis telah membuktikan adanya Allah.

Jadi seandainya Yesus tidak pernah datang ke dalam dunia dalam wujud manusia, maka masih mungkin juga bagi manusia untuk melihat firman, Logos dan akal Allah yang bertindak. Hanya saja, meskipun tindakan firman Allah itu ada dan dapat dilihat oleh semua orang, manusia tidak akan pernah mengenal Allah itu sendiri.

(2) Pada akhirnya firman Allah yang berkuasa mencipta dan mengatur benar-benar datang ke dunia di dalam wujud manusia Yesus Kristus.

Yohanes mengatakan, bahwa firman itu datang ke rumah milik-Nya sendiri tetapi orang-orang milik-Nya tidak mau menerima-Nya. Apa yang ia maksudkan dengan itu? Yang ia maksudkan ialah, bahwa ketika firman Allah itu masuk ke dalam dunia, firman itu tidak datang ke Roma atau Yunani atau Mesir, atau Kerajaan-kerajaan di Timur. Firman itu datang ke Palestina; secara khusus Palestina adalah tanah milik Allah dan orang-orang Yahudi adalah orang-orang milik Allah.

Sebutan-sebutan yang dipakai dalam Perjanjian Lama baik untuk tanah maupun untuk orang-orang yang mendiami Palestina menunjukkan hal tersebut. Tanah Palestina disebut juga tanah Tuhan. Allah menyebutnya tanah-Ku (Hosea 9:3; Yeremia 2:7, 16:18; Imamat 25:23). Bangsa Yahudi disebut harta kesayangan Allah (Keluaran 19:5; Mazmur 135:4). Mereka disebut umat kesayangan-Nya (Ulangan 7:6, 14:2, 26:18). Mereka disebut juga bagian Tuhan (Ulangan 32:9).

Yesus datang ke tanah milik kesayangan Allah dan kepada bangsa yang juga milik kesayangan Allah. Oleh karena itu, mestinya Yesus harus disambut oleh umat-Nya dengan tangan yang terbuka, pintu-pintu rumah yang terbuka lebar. Yesus mestinya harus disambut seperti seorang musafir yang kembali ke rumahnya sendiri. Bahkan lebih dari itu, Ia mestinya harus disambut sebagai seorang raja yang datang kepada miliknya sendiri. Tetapi dalam kenyataannya Ia malah ditolak. Ia diterima dengan kebencian dan bukan dengan penghormatan yang layak.

Di sini kita temukan tragedi yang dilakukan oleh bangsa yang menolak tugas yang semula dipersiapkan baginya. Bangsa itu semula dipersiapkan untuk menerima Yesus dengan segala penghormatan yang layak, namun sekarang menolak tugas itu. Tragedi itu bisa dilukiskan sebagai berikut: Ada orang tua yang telah dengan tekun membuat rencana, menabung, dan memberikan banyak pengorbanan agar anaknya kelak bisa hidup layak. 

Orang tersebut melakukan hal itu semua untuk mempersiapkan anak-anaknya bagi suatu tugas serta kesempatan baik yang akan datang. Tetapi ketika kesempatan baik itu tiba, si anak yang telah dipersiapkan dengan susah payah tersebut malah menolak untuk memakainya, atau malah gagal sama sekali menunaikan tugasnya. Kenyataan seperti itulah yang dialami Allah dengan bangsa milik-Nya sendiri. Allah mengalami tragedi dengan milik kesayangan-Nya.

Tentu kita akan keliru kalau kita beranggapan bahwa Allah hanya mempersiapkan orang-orang Yahudi saja. Allah ternyata juga mempersiapkan setiap orang, laki-laki, wanita, dan anak-anak di dunia ini untuk tugas-tugas yang telah direncanakan-Nya sendiri. Seorang novelis menceritakan tentang seorang gadis yang menolak untuk berkenalan dengan hal-hal yang mengotori hidup. Ketika gadis itu ditanya tentang sebab penolakan itu, ia menjawab: “Pada suatu ketika akan ada sesuatu yang bagus yang masuk ke dalam hidupku, dan aku harus siap untuk itu.” Tragedinya ialah bahwa terlalu banyak jumlah orang yang menolak tugas yang diberikan Allah kepada mereka.

Dengan cara lain yang lebih dekat dengan keadaan kita sekarang, apa yang dimaksud itu dapat kita katakan sebagai berikut: hanya sedikit saja jumlah orang yang keberadaannya sama seperti apa yang seharusnya. Dunia ini terlalu penuh dengan orang-orang yang tidak pernah tahu kemungkinan-kemungkinan yang ada di dalam diri mereka sendiri. Hal itu barangkali terjadi karena kelemahan dan kemalasan, rasa malu dan takut, dan keterlibatan yang hanya terbatas pada hal-hal kecil dan sampingan yang kurang berarti. Tapi itulah kenyataannya.

Kita memang tidak perlu dan tidak boleh beranggapan, bahwa tugas yang disediakan oleh Allah bagi kita adalah tugas-tugas yang selalu besar atau tugas-tugas yang hasilnya akan harus diketahui orang banyak. Tugas-tugas dari Allah itu boleh jadi sangat sederhana, seperti misalnya: mendidik anak secara baik, mengunjungi dan berbicara kepada orang yang mengalami kesulitan hidup, melakukan hal-hal kecil secara baik, menolong orang lain dengan tangan, suara atau pikiran kita. 

Melalui segala pengalaman hidup kita, ternyatalah bahwa Allah mempersiapkan kita bagi sesuatu. Dan kenyataan itu tetap ada sekarang. Hanya saja, kalau tugas itu tiba, banyak sekali orang yang menolaknya; bahkan mereka tidak tahu bahwa mereka menolaknya. Sungguh suatu tragedi.

Semua yang terjadi di dunia ini tercakup di dalam kata-kata sederhana dari Yohanes: “Ia datang ke rumah milik-Nya sendiri – dan orang-orang milik-Nya tidak mau menerima-Nya.”Hal itu terjadi dengan Yesus pada zaman dahulu dan terjadi juga dengan Yesus saat ini.

Bacaan : Yohanes 1:1-14.
Topik : MENJADI ANAK-ANAK ALLAH.

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yohanes 1:12-13)

Ketika Yesus datang, tidak setiap orang menolak-Nya. Ada beberapa orang yang menerima dan benar-benar menyambut-Nya. Kepada mereka Yesus memberikan hak untuk menjadi anak Allah.
Di sini tersirat makna bahwa seseorang tidak secara otomatis atau alamiah adalah anak Allah. Makna yang tersirat ialah bahwa ia harus menjadi anak Allah. Kita perlu mengerti hal tersebut melalui bahasa manusia, sebab bahasa yang demikian itulah yang bisa kita mengerti.

Ada dua macam anak. Macam yang pertama ialah anak yang tak pernah berbuat apa-apa kecuali menikmati apa yang ada di rumah. Sepanjang masa mudanya ia menikmati rumah dan isinya, tanpa berbuat sesuatu untuk seisi rumah dan keluarga. Ia menganggap sebagai kewajiban orang tuanya untuk mengusahakan segala sesuatu, bahkan berkorban baginya. Ia hanya memakai dan menikmati semua yang diusahakan oleh orang tuanya, tanpa ada usaha sedikit pun untuk membuatnya layak melakukan hal itu, apalagi membalasnya. 

Ketika ia dewasa dan menempati rumahnya sendiri, ia tidak merasa perlu untuk berhubungan dengan rumah orang tuanya lagi. Baginya orang tua telah menunaikan tugas baginya, dan selesailah semuanya. Tak perlu ada hubungan lagi. Ia merasa tidak ada hubungan apa pun yang masih harus dipelihara, ataupun hutang yang masih harus dibayar. Anak semacam itu adalah tetap anak orang tuanya. Ia ada sebagaimana ia hidup adalah juga karena orang tuanya. Tetapi di antara dia dan orang tuanya tidak ada hubungan kasih dan keakraban. Orang tuanya telah memberinya segala sesuatu dalam kasih tetapi si anak tidak membalas sama sekali.

Macam yang kedua alah anak yang tetap ingat dan tahu apa yang telah dan sedang dilakukan oleh orang tuanya baginya. Ia memakai setiap kesempatan untuk menyatakan terima kasihnya dengan jalan berusaha menjadi seorang anak seperti yang diidam-idamnkan oleh orang tuanya. Makin ia bertumbuh dewasa makin ia dekat dengan orang tuanya. Hubungannya dengan orang tua menjadi hubungan persekutuan dan persahabatan. Bahkan ketika ia dewasa dan tinggal di rumahnya sendiri, hubungan itu masih berlangsung tereus. Ia sadar bahwa ada hutang yang tak akan pernah bisa ia bayar kembali kepada orang tuanya.

Dalam macam yang pertama hubungan antara anak dan orang tua makin merenggang, sedang dalam macam yang kedua hubungan itu justru makin akrab. Meskipun keduanya adalah sama-sama anak, tetapi mereka berbeda satu dari yang lain. Anak yang kedua benar-benar menjadi anak, sedangkan anak yang pertama tidak pernah.

Hubungan yang kita maksudkan di atas dapat juga dilukiskan dengan cara yang berikut. Ada seorang mahasiswa yang mengaku sebagai murid dari seorang guru besar yang terkenal. Ketika ada orang lain yang bertanya kepada guru besar itu tentang mahasiswa tersebut, sang guru besar menjawab: “Mungkin mahasiswa tersebut pernah mengikuti kuliah-kuliah saya, tetapi ia bukan murid saya.” Ada perbedaan yang sangat besar antara mengikuti kuliah-kuliah seorang dosen dan menjadi murid dari dosan tersebut. Di situ mungkin saja ada kontak atau pertemuan, tetapi bukan persekutuan. Di situ mungkin saja terjadi hubungan, tetapi bukan persahabatan.

Semua orang adalah anak-anak Allah dalam arti bahwa mereka ada dan hidup karena Allah. Tetapi hanya beberapa orang saja yang benar-benar menjadi anak Allah, dalam arti mempunyai hubungan yang benar, akrab, intim dan mendalam dengan Allah. Yohanes menyatakan dengan tegas, bahwa manusia bisa memasuki hubungan semacam itu hanya lewat Yesus Kristus. Hanya lewat Yesus Kristus manusia benar-benar bisa menjadi anak Allah.

Kalau Yohanes mengatakan, bahwa hubungan yang akrab dan mendalam sebagai anak Allah itu tidak terjadi dari darah, maka ia bermaksud melukiskan dan menerangkan hubungan itu dengan memakai alam pikiran Yahudi. Orang Yahudi percaya bahwa secara jasmaniah seorang lahir oleh karena adanya persatuan antara benih bapanya dan darah ibunya. Tetapi anak yang dimaksud oleh Yohanes tidak lahir oleh karena naluri, keinginan atau kehendak manusia. Anak yang dimaksud oleh Yohanes lahir hanya dari Allah sendiri. Kita tidak dapat membuat diri kita menjadi anak Allah. 

Kalau kita ingin menjadi anak Allah, maka kita harus memasuki hubungan persahabatan dengan Allah melalui kehendak dan kekuatan-Nya sendiri. Ada jurang besar yang tak terjembatani antara yang manusiawi dan yang ilahi. Manusia bisa menjalin hubungan itu kalau Allah sendiri yang membuka jalannya. Hubungan itu bisa terjadi kalau Allah sendiri yang mulai menjembatani jurang tersebut.

Kita ambil contoh yang lebih sederhana. Seorang kebanyakan tidak akan dapat mendekati raja dengan maksud akan menjalin persahabatan. Kalau ada persahabatan antara keduanya, tentu raja itulah yang harus mulai dan bukan sebaliknya. Ada tidaknya hubungan itu sama sekali tergantung kepada si raja, dan bukan kepada si kebanyakan. Begitu juga dengan hubungan antara kita dan Allah. Dengan upaya apapun kita tidak akan dapat masuk ke dalam persekutuan dengan Allah, karena kita adalah manusia dan Dia Allah. Kita hanya akan dapat masuk ke dalam persekutuan itu kalau Allah melalui anugerah-Nya yang besar, turun kepada manusia dan membuka jalan yang mengarah kepada-Nya.

Meskipun begitu perlu dicatat bahwa di sini pun ada segi manusiawinya juga. Apa yang Allah tawarkan, harus diterima secara pantas oleh manusia. Orang tua mungkin telah berusaha memberikan kasih, nasihat dan persahabatannya kepada anaknya, tetapi si anak mungkin menolak semuanya dan lebih senang memilih jalannya sendiri. Demikian juga dengan Allah. Allah menawarkan hak kepada kita untuk menjadi anak-anak-Nya tetapi kita tidak harus menerimanya.

Kalau kita dengan sungguh-sungguh menerima tawaran tersebut, maka penerimaan kita itu terjadi melalui percaya di dalam nama Yesus Kristus. Apa artinya ini? Di dalam alam pikiran dan bahasa Ibrani, nama mempunyai arti yang tersendiri. Mungkin bagi kita hal ini agak aneh. Bagi pikiran Yahudi, nama bukan hanya berarti sebutan atau panggilan bagi seseorang. Tetapi lebih dari itu. Contoh umpamanya, Mazmur 9:11, “Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu.” Secara jelas yang dimaksudkan di sini bukanlah bahwa orang yang mengenal nama Allah, yaitu YHWH, percaya kepada-Nya. 

Yang dimaksudkan adalah bahwa yang mengenal karakter, hakekat dan rupa Allah, akan dengan sukacita percaya kepada-Nya di dalam segala hal. Mazmur 20:8, “Orang ini memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi kita bermegah dalam nama Tuhan, Allah kita.” Jelaslah bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah kita bermegah oleh karena nama Allah adalah YHWH, melainkan karena kita mengenal Allah itu siapa.

Oleh karena itu, percaya di dalam nama Yesus berarti percaya kepada Yesus sebagaimana Ia ada. Yesus adalah perwujudan dari kebaikan, kasih, kelemah-lembutan dan pelayanan. Ajaran yang pokok dan besar dari Yohanes adalah bahwa di dalam Yesus kita melihat pikiran dan sikap Allah kepada manusia. Kalau kita percaya hal itu, maka kita pun percaya bahwa Allah itu sama dengan Yesus. Sama seperti Yesus yang baik hati dan mengasihi, demikian juga Allah.

Percaya di dalam nama Yesus adalah percaya bahwa Allah sama dengan Yesus. Dan hanya dengan percaya seperti itu kita dapat menyerahkan diri kita kepada Allah dan menjadi anak-anak-Nya. Kalau di dalam Yesus kita telah melihat Allah itu siapa, barulah kita berani menganggap diri kita mampu untuk menjadi anak-anak Allah. Kalau tidak, ya tidak. Hanya Yesuslah yang membuka kemungkinan bagi kita untuk menjadi anak-anak Allah.

Topik : Firman Yang Menjadi Manusia.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14)

Di sini kita berhadapan dengan kalimat yang isinya sangat penting. Yohanes menulis kitab Injilnya demi isi yang penting dalam kalimat ini. Ia telah berpikir dan berbicara tentang firman Allah, yaitu firman yang penuh kuasa, kreatif dan dinamis, yang menjadi sarana Allah menjadikan langit dan bumi serta segala isinya. Firman itu juga membimbing, mengarahkan dan mengatur alam semesta dan pikiran manusia. Sifat-sifat firman yang seperti itu sudah diketahui dan merupakan hal yang biasa bagi orang-orang Yahudi dan Yunani.

Dengan kalimat yang terdapat dalam ayat 14 di atas, Yohanes mau mengatakan hal yang lain, yang mengejutkan dan yang paling sulit masuk akal orang-orangYahudi dan Yunani. Ia secara sederhana mengatakan: “Firman yang menciptakan dunia ini, dan akal atau pikiran ilahi yang mengendalikan keteraturan dunia ini, telah menjadi seorang pribadi yang dapat kita pandang dan lihat dengan mata telanjang.”

Kata Yunani yang dipakai untuk “melihat” firman ini ialah “theasthai”. Di dalam Perjanjian Baru kata ini dipakai lebih dari dua puluh kali, dan selalu dipakai dalam arti ”melihat dengan mata kepala.” Melihat yang dimaksud bukanlah melihat secara rohani dengan mata iman atau mata hati. Yohanes dengan tegas menyatakan, bahwa firman itu sungguh-sungguh telah datang ke bumi dalam wujud manusia dan dapat dipandang serta dilihat dengan mata manusia biasa. Ia katakan: “Jika kamu ingin melihat rupa dari firman atau akal ilahi yang mengatur dunia ini, lihatlah Yesus yang dari Nazaret itu!”

Di sinilah perbedaan antara Yohanes dengan pikiran-pikiran yang telah ada sebelumnya, Itulah juga hal yang sama sekali baru yang dibawa olehnya ke dalam dunia Yunani, Dan untuk maksud itulah ia menulis kitab Injilnya. Seorang ahli agama Kristen bernama Agustinus mengatakan, bahwa sebelum ia masuk Kristen ia telah membaca dan mempelajari tulisan para ahli filsafat non-Kristen dan tulisan-tulisan lain, tetapi ia tidak pernah menemukan tulisan yang memberitahukan bahwa firman itu telah menjadi daging.

Hal firman menjadi daging merupakan sesuatu yang tidak mungkin di dalam pikiran Yunani. Orang Yunani sama sekali tidak pernah memikirkan bahwa Allah kita bisa hadir dalam wujud badani. Bagi orang Yunani tubuh atau badan itu jahat, rumah penjara tempat jiwa dibelenggu, dan suatu kuburan tempat membatasi ruang gerak roh. Plutarchus, yaitu seorang Yunani yang terpelajar, bahkan tidak percaya bahwa Allah mau secara langsung mengendalikan kejadian-kejadian yang ada di dunia ini. 

Kalau Allah harus melakukan hal itu, tentu Ia harus melakukannya dengan bantuan para wakil dan pengantara. Mengapa? Sebab bagi Plutarchus, melibatkan Allah dalam kejadian dan peristiwa di dunia merupakan hujatan yang amat besar. Philo, seorang ahli filsafat lainnya, malah sama sekali tidak pernah berbicara tentang keterlibatan Allah ke dalam dunia. 

Ia berkata: “Jiwa Allah tidak pernah turun kepada kita manusia; apalagi turunnya itu mengambil wujud badani.”Marcus Aurelius, seorang kaisar Roma yang besar dan pengikut ajaran Stoa, menganggap badan atau tubuh sangat rendah dibandingkan dengan roh. “Oleh karena itu, hinakanlah tubuh daging, tulang dan jaringan yang ada di dalamnya, jaringan saraf yang ruwet, pembuluh-pembuluh darah dan nadi,” “Susunan seluruh tubuh adalah suatu kekacauan.”

Berita yang disampaikan oleh Yohanes merupakan berita yang sangat menggemparkan, bahkan menghancurkan pandangan-pandangan yang disebutkan di atas. Yohanes memberitakan, bahwa Allah dapat dan mau menjadi seorang pribadi manusia, bahwa Allah dapat masuk ke dalam kehidupan kita, bahwa yang kekal itu dapat muncul di dalam waktu, dan bahwa dengan cara-caranya, manusia biasa sungguh-sungguh dapat melihat-Nya.

Pengertian tentang Allah yang ada dalam wujud manusia merupakan pengertian yang baru dan sangat mengejutkan, sehingga tidak mengherankan kalau ada banyak orang, termasuk warga gereja sendiri, yang tidak dapat mempercayainya.

Apa yang dikatakan oleh Yohanes ialah bahwa firman itu telah menjadi sarx. Kata Yunani “sarx” adalah kata yang selalu dipakai oleh Paulus untuk menyebut “daging”, hakekat manusia dengan segala kelemahan serta kemungkinannya untuk jatuh ke dalam dosa. Yang mengejutkan banyak orang adalah justru pikiran yang ada di belakang pemakaian dan pengenaan kata “daging” tersebut bagi Allah. Mereka yang terkejut dan menolak pikiran itu, khususnya para warga gereja waktu itu, ternyata cukup banyak. Mereka lalu membentuk satu kelompok yang disebut kelompok Decotis.

Nama “decotis” berasaal dari kata bahasa Yunani “dokein” yang artinya “menyerupai”. Orang-orang docetis itu beranggapan bahwa pada kenyataannya Yesus hanyalah hantu, tubuh manusiawi-Nya bukan tubuh yang nyata, dan Ia tidak bisa merasa lapar, lelah, susah dan duka. Bagi mereka Yesus adalah roh yang tak berbadan, tapi nampak dalam bentuk manusia. Yohanes tidak bisa mengelakkan pertentangan antara dirinya dengan para docetis itu. 

Hal itu secara lebih terang nampak di dalam Suratnya yang Pertama. “Demikianlah kita mengenal Roh Allah; setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengakuYesus tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh anti Kristus.” (1 Yohanes 4:2-3). Kalau kita lihat lebih jauh, maka jelaslah bahwa docetisme itu muncul dari penilaian yang salah dan yang tidak senang dengan kata-kata yang menyebut Yesus sebagai yang benar-benar, sungguh-sungguh dan nyata-nyata manusia. Bagi Yohanes pandangan para docetis ini bertentangan dengan seluruh Injil Kristen.

Kalau kita renungkan, maka kita pun mungkin sering hanya mau menerima kenyataan bahwa Yesus adalah sepenuhnya Allah, dan cenderung melupakan kenyataan yang lain yaitu bahwa Yesus adalah juga sepenuhnya manusia. Kalimat “Firman itu telah menjadi daging” merupakan proklamasi yang agung tentang kemanusiaan Yesus yang sepenuhnya. Proklamasi seperti itu mungkin hanya kita temukan di dalam tulisan Yohanes.

Di dalam Yesus kita melihat bahwa firman Allah yang kuasa mencipta itu mengambil wujud manusia bagi diri-Nya sendiri. Di dalam Yesus kita melihat akal Allah, yang berkuasa mengendalikan segala sesuatu, mengambil wujud manusia untuk diri-Nya sendiri. Di dalam Yesus kita melihat Allah yang hidup secara manusiawi. Di dalam Yesus kita melihat kehidupan manusiawi yang benar. Dan kehidupan yang seperti itulah yang Allah kehendaki dari kita semua.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Ayat di atas mungkin merupakan satu-satunya ayat yang terbesar di dalam Perjanjian Baru, dan karena itu kita perlu mempelajarinya lebih jauh agar kita bisa lebih mengenal kekayaan isinya.
Kita telah melihat bahwa Yohanes memakai beberapa kata yang penting di dalam tulisannya. Kata-kata tersebut muncul terus-menerus dan menguasai pikirannya, dan menjadi pokok atau thema berita yang diuraikannya. Ada tiga kata penting lagi yang juga dipakai oleh Yohanes.

(1) Kata yang pertama adalah anugerah.

Kata “anugerah” ini mengandung dua pikiran pokok:

(a) Pikiran pokok yang pertama adalah adanya sesuatu yang diterimakan kepada seseorang, meskipun orang tersebut sebenarnya tidak pantas dan tidak berhak menerimanya.

Kata “anugerah” mengandung arti adanya sesuatu yang kita terima meskipun sebenarnya kita tidak akan pernah dapat memperolehnya melalui usaha dan bagi diri kita sendiri. Kenyataan bahwa Allah telah datang ke dalam dunia untuk hidup dan mati bagi manusia bukan suatu hal yang terjadi karena usaha atau hak manusia. Kenyataan itu terjadi semata-mata karena kasih yang sejati dari Allah saja. Kata “anugerah” menekankan dua hal sekaligus, yaitu kenistaan manusia dan kebaikan Allah yang tanpa batas.

(b) Pikiran pokok yang kedua adalah keindahan.

Di dalam bahasa Yunani modern kata “anugerah” berarti “indah, menarik hati”. Di dalam Yesus kita melihat bahwa Allah itu benar-benar menarik hati. Dahulu orang selalu berpikir tentang Allah dalam hubungan-Nya dengan soal kuasa, kebesaran atau keagungan, kekuatan dan hukuman. Mereka terpancang pada pikiran tentang kuasa Allah yang akan menghancurkan semua lawan dan mengalahkan semua pemberontakan. Tetapi di dalam Yesus kita semua diperhadapkan dengan kasih Allah yang lembut.

(2) Kata yang kedua adalah kebenaran.

Kata ini merupakan salah satu kata yang paling banyak dipakai di dalam Injil Yohanes. Kita seringkali menemuinya di situ. Secara singkat saja kita akan mempelajari dan mencatat apa yang dikatakan oleh Yohanes tentang Yesus dan kebenaran.

(a) Yesus adalah perwujudan dari kebenaran. Ia berkata: “Akulah kebenaran.” (Yohanes 14:6). Untuk melihat kebenaran kita harus melihat Yesus. Bagi setiap orang biasa hal ini merupakan sesuatu yang indah dan kekal. Memang ada orang yang sanggup mengerti hal-hal yang abstrak, tetapi kebanyakan orang lebih mudah berpikir dengan gambaran yang nyata. Kita bisa berbicara panjang lebar tentang keindahan secara abstrak, yang akhirnya akan membawa kita kepada definisi yang mendekati arti keindahan. Tetapi kalau kita dapat secara nyata menunjukkan benda yang indah, maka semuanya menjadi lebih jelas.

Sejak manusia mulai berpikir tentang Allah, manusia telah mencoba untuk membuat definisi tentang siapa dan apa Allah itu. Tetapi akal dan pikiran mereka yang kerdil itu tidak pernah sampai kepada definisi yang diinginkannya. Sekarang kita bisa menghentikan semua usaha tersebut lalu melihat kepada Yesus Kristus serta berkata: “Yesus itulah Allah”. Yesus datang kepada manusia untuk memperlihatkan Allah itu kepada manusia, sehingga orang-orang yang biasa maupun para ahli pikir sama-sama boleh mengenal Allah seakrab mungkin.

(b) Yesus adalah pewarta atau penyampai (komunikator) kebenaran. Ia memberitahu para murid-Nya, bahwa jika mereka tetap bersama-Nya mereka akan mengetahui kebenaran (Yohanes 8:31). Ia memberitahu Pilatus bahwa tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini adalah menyaksikan kebenaran (Yohanes 18:37).

Orang tentu akan mengerumuni guru atau pengkhotbah yang benar-benar bisa memberi mereka bimbingan yang kuat dan teguh di dalam urusan hidup dan pikiran yang kacau. Yesus adalah tokoh yang demikian itu. Dialah yang menyingkap tabir bayang-bayang dan menjadikan semuanya terang. Dialah yang menunjukkan jalan yang benar bagi kita di tengah-tengah kesimpang-siuran hidup. Dialah yang memampukan kita menentukan pilihan yang benar di tengah-tengah kebingungan untuk mengambil keputusan. Dialah yang memberitahu kita tentang apa yang harus dipercaya di tengah-tengah suara-suara yang menyesatkan.

(c) Bahkan ketika Yesus meninggalkan dunia ini secara badaniah, Roh-Nya masih tetap bersama kita untuk membimbing kita ke dalam kebenaran.Roh Yesus adalah Roh Kebenaran (Yohanes 14:16; 15:26; 16:13). Dia tidak hanya meninggalkan sebuah buku petunjuk dan sejumlah ajaran. Untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan, kita tidak perlu harus meneliti buku-buku pegangan yang sering sulit dimengerti. Sekarang pun, kalau kita ingin tahu apa yang harus kita lakukan bisa bertanya kepada Yesus, karena Roh-Nya benar-benar ada bersama kita. Roh-Nya akan senantiasa berdiam di dalam diri setiap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada-Nya.

(d) Kebenaran itu memerdekakan kita (Yohanes 8:32). Di dalam kebenaran itu ada kekuatan yang memerdekakan. Anak kecil sering memperoleh gambaran yang salah dan menakutkan tentang sesuatu, dan karenanya ia bisa merasa sangat ketakutan. Tetapi kalau ia diberitahu tentang hal yang benar, ia terbebaskan dari ketakutannya. Seseorang yang sakit mungkin merasa takut, lalu ia berobat ke dokter. 
Meskipunh penyakitnya itu mungkin cukup gawat, tetapi dengan nasihat dokter ia setidak-tidaknya terbebaskan dari ketakutan yang tak menentu yang selama ini menghantui pikirannya.

Kebenaran yang dibawa Yesus membebaskan kita dari ketakutan untuk berhubungan dengan Allah. Kalau tadinya kita merasa takut, merasa tidak pantas dan bersalah kepada Allah, maka kebenaran Yesus membebaskan kita dari semua perasaan itu. Kebenaran itu membebaskan kita dari frustasi, kelemahan dan kekalahan. Yesus Kristus adalah pembebas yang agung di dunia ini.

(e) Kebenaran itu bisa menimbulkan rasa sakit hati. Banyak orang yang telah berusaha membunuh Yesus karena Yesus memberitahukan kebenaran kepada mereka (Yohanes 8:40). Kebenaran itu bisa mengutuk dan membeberkan kesaalahan-kesalahan seseorang. Orang-orang yang sinis mengatakan: “Kebenaran dapat menjadi seperti sinar terang yang tertuju ke mata yang sakit.” Mereka juga mengatakan, bahwa guru yang tidak pernah menjengkelkan bukanlah guru yang baik. 

Orang bisa saja menutup mata dan telinganya terhadap kebenaran; mereka bisa saja membunuh orang yang memberitakan kebenaran. Tetapi kebenaran akan tetap berdiri teguh. Dengan menolak mendengarkan suara yang memberitakan kebenaran tak seorang pun dapat menghancurkan kebenaran itu. Pada akhirnya kebenaran itu akan sampai juga kepadanya.

(f) Kebenaran itu dapat juga tidak dipercaya (Yohanes 8:45). Ada dua alasan utama untuk tidak mempercayai kebenaran. Alasan pertama untuk tidak percaya adalah, bahwa untuk bersikap jujur agaknya merupakan hal yang terlalu baik. Alasan yang kedua adalah bahwa tidak sedikit orang yang sudah terpukau oleh kebenaran yang setengah-setengah sedemikian rupa sehingga mereka tidak mau berubah. Di dalam banyak hal kebenaran yang setengah-setengah itu merupakan musuh yang paling jahat dari kebenaran yang utuh.

(g) Kebenaran bukanlah sesuatu yang abstrak. Kebenaran adalah sesuatu yang harus diberlakukan (Yohanes 3:211). Kebenaran adalah sesuatu yang harus diketahui dengan akal dan pikiran, diterima di dalam hati, dan diberlakukan di dalam kehidupan nyata.

(3) Kata yang ketiga, adalah kemuliaan.

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yohanes 1:14)

Studi, pemikiran dan perenungan yang dilakukan seumur hidup pun tidak akan dapat mengungkapkan seluruh kebenaran yang ada di dalam ayat ini. Di atas kita telah mempelajari dua kata pokok yang juga merupakan thema dari ayat ini, yakni anugerah dan kebenaran. Sekarang kita mempelajari yang ketiga, yakni kemuliaan. Berkali-kali Yohanes memakai kata ini dalam hubungannya dengan Yesus Kristus. Terlebih dahulu kita akan pelajari apa yang Yohanes katakan tentang kemuliaan Kristus. Setelah itu kita akan mencoba mengerti serba sedikit apa yang Yohanes maksudkan.

(a) Hidup Yesus Kristus adalah manifestasi atau pernyataan kemuliaan. Ketika Yesus membuat mujizat merobah air menjadi anggur di kota Kana di Galilea, Yohanes mengatakan bahwa Yesus menyatakan kemuliaan-Nya (Yohanes 2:11). Melihat Yesus dan mengalami kuasa serta kasih-Nya sama derngan memasuki suatu kemuliaan yang baru.

(b) Kemuliaan yang Ia nyatakan adalah kemuliaan Allah. Kemuliaan itu tidak Yesus terima dari manusia (Yohanes 5:41). Ia tidak mengejar kemuliaan-Nya sendiri, melainkan kemuliaan Dia yang mengutus-Nya (Yohanes 7:18). Sang Bapa sendirilah yang memuliakan Yesus (Yohanes 8:50, 54). Di dalam kebangkitan Lazarus, Marta tidak akan melihat kemuliaan lain kecuali kemuliaan Bapa (Yohanes 11:4). Pembangkitan Lazarus dari kematian adalah untuk kemuliaan Bapa, dan dengan demikian sang Anak pun akan dimuliakan (Yohanes 11:4). Kemuliaan yang ada pada Yesus, yang melekat pada-Nya, yang terpancar pada diri-Nya, dan yang berlaku pada-Nya, adalah kemuliaan Allah.

(c) Namun demikian, kemuliaan itu adalah juga kemuliaan-Nya sendiri. Menjelang akhir hidup-Nya Yesus berdoa, kiranya Allah memuliakan Dia dengan kemuliaan yang telah Ia miliki sejak sebelum dunia ada (Yohanes 17:3). Yesus tidak memancarkan sinar kemuliaan pinjaman; kemuliaan itu adalah milik-Nya sendiri secara sah.

(d) Kemuliaan milik-Nya sendiri itu dipancarkan kepada para murid-Nya. Kemuliaan yang diberikan Yesus kepada mereka adalah kemuliaan yang diberikan Bapa kepada Yesus (Yohanes 17:22). Jadi Yesus seolah-olah berbagi kemuliaan dengan Allah, dan para murid berbagi kemuliaan dengan Yesus. Kedatangan Yesus adalah juga kedatangan kemuliaan Allah di antara manusia.

Apa yang Yohanes maksudkan dengan semuanya itu? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus melihat ke dalam Perjanjian Lama. Bagi orang Yahudi, tentang “Sekhinah” sangat penting. “Sekhinah” adalah sebuah kata dari bahasa Ibrani, yang berarti “yang bertempat tinggal.” Kata ini di dalam Perjanjian Lama dipakai untuk kehadiran Allah yang nyata di antara manusia.

Di dalam perjalanan di padang gurun Sinai, dan sebelum bangsa Israel diberi makanan manna, mereka “memalingkan mukanya ke arah padang gurun, maka tampaklah kemuliaan Tuhan dalam awan.” (Keluaran 16:10). Sebelum Sepuluh Perintah Allah diberikan, “kemuliaan Tuhan diam di atas gunung Sinai.” (Keluaran 24:16). Ketika Kemah Pertemuan telah berdiri dan diperlengkapi, “kemuliaan Tuhan memenuhi Kemah Suci.” (Keluaran 40:34). 

Ketika Bait Allah yang didirikan oleh Salomo diresmikan dan dipersembahkan kepada Tuhan, para imam tidak dapat masuk untuk menyelenggarakan kebaktian “sebab kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Tuhan.” (1 Raja-raja 8:11). Ketika Yesaya memperoleh penglihatan di dalam Bait Allah ia mendengar paduan suara malaikat yang bernyanyi bahwa “seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.”(Yesaya 6:3). Yehezkiel yang sedang dikuasai Roh Tuhan melihat “gambar kemuliaan Tuhan.” (Yehezkiel 1:28).

Di dalam Perjanjian Lama kemuliaan Tuhan datang pada saat-saat kehadiran Allah. Denmgan begitru dapat kita katakan secara sederhana, bahwa kemuliaan Tuhan berarti kehadiran Allah.

Di dalam usaha menguraikan kemuliaan Yesus, Yohanes memakai gambaran yang mudah. Seorang ayah bisa memberikan wibawa dan kehormatannya kepada anak laki-lakinya yang tertua. Seorang pewaris kerajaan atau putra mahkota tentu sudah dibekali dengan kemuliaan ayahnya. Yesus pun demikian. Di dalam Yesus yang datang ke dunia ini, orang melihat kemuliaan dan keagungan Allah yang berpusat pada kasih. Di dalam Yesus yang datang ke dunia ini, orang melihat keajaiban Allah, dan keajaiban-Nya itu adalah kasih.

Manusia melihat bahwa kemuliaan dan kasih Allah itu satu dan sama. Kemuliaan Allah tidaklah sama dengan kemuliaan seorang penguasa yang lalim. Kemuliaan Allah adalah kemuliaan kasih. Kemuliaan-Nya tidak menjadikan kita merasa takut dan hina, malah sebaliknya menjadikan kita tak henti-hentinya untuk kagum, mengasihi dan memuji Allah di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat umat manusia

Bacaan : Yohanes 3:16-21.

Topik : PERWUJUDAN KASIH ALLAH.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Semua orang besar mempunyai ayat-ayat pilihan yang berbeda-beda. Tetapi ayat ini telah menjadi ayat pilihan setiap orang Kristen. Bagi setiap hati yang sederhana, di dalam ayat ini tersimpan inti pokok dari Injil. Ayat ini memuat hal-hal besar tertentu.

(1) Ayat ini mengatakan, bahwa prakarsa bagi semua tindakan keselamatan ada pada Allah. Kadang-kadang Kekristenan itu disajikan sedemikian rupa, sehingga seolah-olah Allah itu tidak berperanan sama sekali, dan bahwa Allah harus dibujuk-bujuk agar mau mengampuni. Seringkali orang berbicara seolah-olah Allah itu keras, sedangkan Yesus itu lembut, mengasihi dan mengampuni. 

Acapkali orang-orang menyajikan berita Kekristenan sedemikian rupa, sehingga seolah-olah Yesus telah melakukan sesuatu yang telah mengubah sikap Allah kepada manusia, yaitu dari sikap menghukum ke sikap mengampuni. Tetapi ayat kita di atas tadi menyatakan, bahwa semua hal itu mulai dari Allah sendiri. Allah-lah yang mengutus Anak-Nya, dan Ia melakukan hal itu karena Ia mengasihi manusia. Di belakang semuanya itu adalah kasih Allah sendiri.

(2) Ayat ini menyatakan bahwa sumber utama keberadaan Allah adalah kasih. Adalah mudah untuk membayangkan Allah sebagai yang memandang manusia dengan ketidak-acuhan, ketidak-taatan serta pemberontakan manusia itu. Adalah mudah untuk membayangkan Allah sebagai yang berkata: “Aku akan menghancurkan mereka , menghajar mereka, menghukum mereka serta mencambuk mereka sampai mereka bertobat.” Adalah mudah untuk membayangkan Allah sebagai yang mencari kesetiaan manusia untuk memuaskan keinginan kuasa-Nya dan untuk menyatakan bahwa alam semesta ini adalah bawahan-Nya.

Hal yang sangat menakjubkan dari ayat ini ialah bahwa ayat ini memberi tahu kita tentang Allah yang bertindak bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, tetapi untuk kepentingan kita. Bukan untuk memuaskan nafsu kuasa-Nya, bukan untuk menaklukkan dunia ini, melainkan untuk memuaskan kasih-Nya. Allah bukanlah seorang raja absolut yang memperlakukan setiap orang sebagai taklukan yang bisa diperlakukan semena-mena. Allah adalah Bapa yang tidak bisa bahagia kalau anak-anak-Nya yang tersesat belum kembali ke rumah. Allah tidak menghajar manusia untuk tunduk menyerah. Ia rindu kepada manusia dan memanggil mereka dalam kasih.

(3) Ayat itu menyatakan luasnya kasih Allah. Yang dikasihi Allah adalah dunia, dan bukan bangsa, orang-orang baik, orang-orang yang mengasihi-Nya; tetapi dunia ini. Artinya, Allah mengasihi orang yang tidak dapat dikasihi dan tidak dapat mengasihi. Orang yang sendirian yang tidak punya teman yang mengasihinya. Orang yang mengasihi Allah dan orang yang tak pernah berpikir tentang Allah. Orang yang bersandar pada kasih Allah dan orang yang menolak kasih Allah. Semua itu termasuk di dalam kasih Allah yang amat lapang dan inklusif itu. Sebagaimana kata Agustinus: “Allah mengasihi masing-masing kita seolah-olah hanya masing-masing kita inilah yang dikasihi-Nya.”
Selanjutnya, di dalam ayat tersebut ada ungkapan yang berbicara tentang percaya kepada Yesus, 

Ungkapan itu sedikit-dikitnya mempunyai tiga makna.

(1) Ungkapan berarti kita percaya dengan segenap hati bahwa Allah adalah seperti yang diberitakan oleh Yesus. Hal itu berarti percaya bahwa Allah mengasihi kita, memperhatikan dan memelihara kita, dan bahwa Allah tidak berkehendak lain kecuali mengampuni kita.

Bagi orang Yahudi adalah sulit sekali untuk mempercayai hal seperti itu. OrangYahudi melihat Allah sebagai tokoh yang memaksakan hukum-Nya kepada umat-Nya sreta menghukum mereka kalau mereka melanggar hukum-hukum tersebut. Orang Yahudi melihat Allah sebagai seorang hakim dan manusia sebagai yang tertuduh di hadapan pengadilan-Nya. 

OrangYahudi melihat Allah sebagai yang selalu meminta korban-korban dan persembahan. Untuk menghadapi-Nya manusia harus membayar harga yang sudah ditetapkan. Sulit sekali bagi orang Yahudi untuk membayangkan Allah tidak sebagai hakim yang segera akan memberikan vonis. Sulit juga bagi mereka untuk membayangkan Allah tidak sebagai seorang mandor yang segera akan memukul. Sama sulitnya bagi mereka untuk membayangkan Allah sebagai seorang Bapa yang tidak mempunyai kerinduan lalu kecuali kembalinya anak-anaknya yang telah berbuat salah.

Untuk menceritakan hal itu kepada manusia diperlukan korban hidup dan kematian Yesus Kristus. Dan kita tidak dapat mulai menjadi Kristen kalau kita tidak mempercayai hal itu dengan sepenuh hati kita.

(2) Bagaimana kita dapat yakin bahwa Yesus benar-benar tahu apa yang dikatakan-Nya? Hal apa yang menjamin, bahwa berita sukacita Yesus yang hebat itu memang benar? Di sini kita sampai kepada pokok kedua dalam hal kepercayaan. Kita harus percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, bahwa pikiran Allah ada di dalam Yesus, bahwa Yesus benar-benar mengenal Allah dengan baik, dekat dengan Allah, satu dengan Allah, dan bahwa Ia dapat mengungkapkan kepada kita kebenaran yang mutlak dari Allah.

(3) Tetapi kepercayaan masih mempunyai elemen yang ketiga. Kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang mengasihi sebab kita percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan oleh karena itu kita percaya bahwa apa yang dikatakan Yesus tentang Allah adalah benar. Elemen yang ketiga itu adalah yang berikut. Kita harus memandang segalanya atas dasar kenyatan bahwa apa yang Yesus katakan itu benar. 

Apa saja yang Ia katakan harus kita lakukan; apabila Ia memberikan perintah maka kita harus menaati-Nya. Kalau ia menghendaki agar kita menyerahkan diri kita seutuhnya kepada anugerah Allah, kita harus lakukan. Kita harus menaaati Yesus dan kata-kataNya. Setiap hal dan tindakan hidup yang terkecil pun harus dilakukan dengan ketaatan yang bulat kepada-Nya.

Jadi percaya kepada Yesus mengandung tiga elemen yang berikut : 
(1) percaya bahwa Allah adalah Bapa yang mengasihi; 
(2) percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang karenanya menuturkan kepada kita tentang kebenaran Allah dan hidup; dan 
(3) ketaatan bulat yang teguh kepada Yesus Kristus.

KASIH DAN PENGHARAPAN

“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah." (Yohanes 3:17-21)

Di sini kita diperhadapkan dengan salah satu paradoks dari kitab Injil ke-empat, yaitu paradoks antara kasih dan penghakiman. Kita baru saja membicarakan kasih Allah, dan sekarang dengan tiba-tiba kita diperhadapkan dengan penghakiman, hukuman dan pernyataan kesalahan. Yohanes baru saja mengatakan, bahwa karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia mengutus Anak-Nya ke dalam dunia. Kemudian ternyata ia meneruskan dengan cerita, bahwa Yesus berkata: “Aku datang ke dunia untuk menghakimi.” (Yohanes 9:39). Bagaimana kita harus mengerti kedua-duanya itu?

Bukankah hal yang tidak mungkin untuk mengajak orang menghayati kasih, namun kemudian penghayatan itu berubah menjadi penghakiman. Bukanlah hal yang tidak mungkin untuk mengajak seseorang berbuat sesuatu yang membawa kesenangan dan berkat, namun perbuatan itu ternyata berubah menjadi suatu penghakiman.

Kita ambil contoh sebagai berikut. Umpamanya saja, kita suka sekali kepada musik, dan merasa sangat dekat dengan Allah apabila kita mendengar musik simfoni yang kadang-kadang nyaring, berat dan ribut. Kemudian kita ingin memperkenalkan pengalaman itu kepada seorang teman yang sama sekali tidak tahu musik. Kita ajak teman itu mendengarkan musik, memberi kesempatan kepadanya untuk menikmati keindahan yang tak nampak, namun kita niikmati. 

Maksud kita hanyalah untuk mengajak teman tersebut menikmati suatu keindahan yang sama sekali baru baginya. Tetapi apa yang kemudian terjadi? Segera setelah kita bawa teman tersebut masuk ke gedung pertunjukan musik, ia melihat sekeliling gedung, duduk gelisah, dan kelihatan sangat bosan dengan pertunjukan musik tersebut. Teman itu telah menghakimi dirinya sendiri, bahwa ia tak punya perasaan seni musik sama sekali. Pengalaman yang kita maksudkan untuk memberinya kebahagiaan baru, ternyata telah berubah menjadi suatu penghakiman.

Hal seperti itu selalu terjadi kalau kita memperhadapkan seseorang dengan sesuatu yang benar. Kita bisa membawa orang tersebut melihat karya seni yang besar, mendengarkan pidato atau khotbah dari pembicara yang ulung, memberikan buku bacaan yang bagus, atau sekedar melihat pemandangan alam. Reaksi yang akan muncul dari orang tersebut adalah penghakiman. Kalau ia sama sekali tidak menemukan keindahan atau rasa kagum, maka kita tahu bahwa orang tersebut memang buta terhadap hal-hal seperti itu.

Ada seorang pengunjung satu museum lukisan, dan oleh si penjaga ia di bawa keliling untuk melihat lukisan yang indah-indah, yang tak ternilai, yang dilukiskan oleh para pelukis terkenal. Pada akhir perjalanan keliling museum itu orang tersebut berkata: “Ya, saya pikir saya telah melihat-lihat lukisan-lukisan tua di museum ini.” Pengantar itu menjawab dengan tenang: “Pak, lukisan-lukisan itu tidak lagi dipajang untuk dinilai; para pengunjungnyalah yang perlu dinilai.” Semua reaksi manusia itu hanya menunjukkan ketidak-tahuannya yang patut dikasihani.

Demikian juga dengan orang-orang yang diperhadapkan dengan Yesus. Kalau ada orang yang diperhadapkan dengan Yesus dan jiwanya memberikan respons atau jawaban terhadap keajaiban dan keindahan Yesus, maka orang tersebut ada di jalan keselamatan. Tetapi kalau dalam keadaan berhadapan dengan Yesus itu orang tersebut sama sekali tidak melihat sesuatu yang indah dan bermakna, maka ia sudah terhakimi. Reaksi itu telah menghakimi dirinya sendiri.

Allah mengutus Yesus di dalam kasih. Allah mengutus-Nya untuk keselamatan manusia; tetapi apa yang telah dikirimkan dengan kasih itu sekarang telah menjadi kutukan. Bukannya Allah yang telah mengutuk manusia, Allah hanya mengasihinya. Manusia itu sendirilah yang telah mengutuk dirinya sendiri. Orang yangmemberikan reaksi kasar dan jahat kepada Yesus lebih mengasihi kegelapan ketimbang terang.

Hal yang hebat dari orang yang benar-benar baik, ialah bahwa ia selalu mempunyai perasan terkutuk di dalam dirinya meskipun tidak sepenuhnya disadarinya. Kalau kita membandingkan diri kita dengan orang seperti itu, maka kita akan tahu keadaan kita sendiri.

Alcibiades, seorang Athena yang pandai tapi terbuang, adalah teman akrab Socrates yang setiap kali selalu berseru: “Socrates, aku benci padamu, sebab setiap kali aku bertemu denganmu, engkau selalu mencerminkan keadaanku yang sebenarnya.” Orang yang selalu bergulat dan bergaul-akrab dengan pekerjaan-pekerjaan jahat, tidak ingin adanya sinar terang yang dipancarkan kepadanya. Tetapi orang yang bergulat dan melakukan tugas-tugas yang terhormat tidak akan pernah takut kepada terang.

Ada seorang arsitek yang datang kepada Plato serta menawarkan sejumlah uang agar Plato mau membangun sebuah rumah baginya, dengan kamar-kamar yang harus tertutup rapat sehingga tak mungkin orang melihat ke dalamnya. Plato menjawab: “Aku akan berikan uang dua kali lipat jumlahnya untuk membangun rumah yang kamar-kamarnya penuh dengan terang dan setiap orang bisa melihat.”

Hanya para pelaku kejahatan saja yang tidak mau melihat dirinya sendiri serta tidak menghendaki orang lain melihatnya. Orang semacam itu tentu saja akan membenci Yesus Kristus, sebab Kristus akan menunjukkan keadaan yang sebenarnya dari orang tersebut; dan itulah yang sebenarnya ingin dilihat oleh orang tersebut. Orang itu mengasihi kegelapan yang menyelubungi dirinya ketimbang terang yang membuka selubung tersebut.

Melalui reaksinya kepada Yesus, maka seseorang itu sebenarnya malah menunjukkan keberadaan dirinya sendiri serta membeberkan keadaan jiwanya. Kalau ia memandang Yesus dengan kasih, bahkan dengan kerinduan yang sangat, maka baginya ada harapan. Tetapi kalau ia tidak melihat apa-apa yang menarik di dalam Kristus, ia telah menghakimi dirinya sendiri. Yesus yang telah diutus dengan kasih malah menjadi penghakiman bagi orang tersebut. INKARNASI KRISTUS (YOHANES 1:1-14)
Next Post Previous Post