Kebebasan bagi Orang Tertawan Menurut Alkitab
Pendahuluan
Salah satu tema besar dalam Alkitab adalah kebebasan. Dari kitab Keluaran yang mencatat pembebasan Israel dari perbudakan Mesir, hingga Injil Yesus Kristus yang membawa kebebasan rohani bagi manusia, Alkitab konsisten mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang membebaskan.
Ungkapan “Liberty to the Captives” (kebebasan bagi orang-orang tertawan) muncul secara khusus dalam Yesaya 61:1 dan kemudian dikutip oleh Yesus dalam Lukas 4:18 sebagai penggenapan nubuat Mesianik. Dalam konteks ini, Yesus Kristus datang untuk membebaskan mereka yang tertawan, baik secara fisik, emosional, maupun rohani.
Artikel ini akan menguraikan eksposisi biblika tentang kebebasan bagi orang tertawan, makna teologisnya, pandangan beberapa pakar Alkitab, serta aplikasinya bagi gereja masa kini.
1. Dasar Biblis: Yesaya 61:1 dan Lukas 4:18
a. Yesaya 61:1
“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan kebebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara.”
Yesaya menubuatkan kedatangan Sang Mesias yang akan membawa kabar baik dan pembebasan. Bagi bangsa Israel yang sering mengalami pembuangan dan penindasan, nubuat ini adalah pengharapan besar.
b. Lukas 4:18
Yesus membacakan nubuat ini di sinagoga Nazaret:
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang tawanan, dan penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang yang tertindas.”
Dengan ini, Yesus menyatakan bahwa nubuat Yesaya digenapi dalam diri-Nya. Pembebasan ini bukan sekadar pembebasan politik, tetapi pembebasan rohani dari dosa, kuasa iblis, dan maut.
2. Makna “Captives” (Orang-Orang Tertawan)
Secara historis, orang-orang Israel memahami kata “tertawan” sebagai mereka yang dibuang ke Babel atau bangsa-bangsa lain. Namun dalam terang Perjanjian Baru, istilah ini memiliki makna lebih luas:
-
Tertawan oleh dosa – Yohanes 8:34: “Setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.”
-
Tertawan oleh hukum Taurat – Galatia 3:23 menyebut manusia “dikurung dan tertawan” di bawah hukum.
-
Tertawan oleh kuasa iblis – 2 Timotius 2:26: manusia yang “terjebak dalam jerat iblis yang menguasai mereka.”
-
Tertawan oleh ketakutan dan maut – Ibrani 2:15: Yesus membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perbudakan oleh ketakutan akan maut.
Jadi, captives dalam perspektif Alkitab adalah gambaran seluruh umat manusia yang hidup dalam dosa tanpa Kristus.
3. Eksposisi Teologis: Kebebasan dalam Kristus
a. Yesus sebagai Pembebas Sejati
Kristus datang bukan sekadar untuk menyembuhkan secara fisik, melainkan untuk memberikan kebebasan sejati:
-
Dari rasa bersalah akibat dosa (Roma 8:1).
-
Dari kuasa dosa yang memperbudak manusia (Roma 6:18).
-
Dari hukuman kekal (Roma 6:23).
b. Hubungan dengan Tahun Yobel
Yesaya 61 berhubungan erat dengan konsep Yobel (Imamat 25), di mana setiap 50 tahun semua budak dibebaskan, tanah dikembalikan, dan hutang dihapuskan. Kristus adalah penggenapan Yobel sejati—Dialah yang memberikan kebebasan penuh, bukan hanya setiap 50 tahun, tetapi kekal.
c. Kebebasan Bukan Anarki
Kebebasan dalam Kristus bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan bebas melayani Allah. Paulus berkata dalam Galatia 5:13:
“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
4. Pandangan Para Pakar Alkitab
a. John Calvin
Calvin menafsirkan Yesaya 61 dan Lukas 4 sebagai deklarasi Yesus bahwa Injil adalah pembebasan sejati dari dosa. Ia menekankan bahwa manusia tidak bisa membebaskan dirinya sendiri; hanya anugerah Kristus yang sanggup memerdekakan.
b. Matthew Henry
Henry menulis bahwa “kebebasan bagi orang tawanan” bukanlah pembebasan politik, tetapi lebih tinggi, yaitu pembebasan dari belenggu rohani. Injil adalah kunci yang membuka pintu penjara dosa.
c. N.T. Wright
Dalam pandangan Wright, Yesus mengumumkan program Kerajaan Allah: mengalahkan kuasa kejahatan, membebaskan manusia dari penindasan rohani, dan memulihkan ciptaan.
d. Derek Kidner
Kidner melihat bahwa kebebasan yang diberikan Kristus tidak hanya pribadi, tetapi juga komunitas. Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang membebaskan, bukan menindas.
e. John Stott
Stott menekankan bahwa pembebasan Injil mencakup tiga aspek: rohani (dari dosa), moral (dari kuasa iblis), dan sosial (keadilan bagi yang tertindas). Dengan kata lain, Injil harus menyentuh seluruh aspek kehidupan.
5. Dimensi Kebebasan Kristen
a. Kebebasan dari Dosa
Manusia tidak lagi diperbudak oleh dosa, melainkan hidup sebagai ciptaan baru (2 Korintus 5:17).
b. Kebebasan dari Rasa Takut
Kristus membebaskan manusia dari rasa takut akan maut (Ibrani 2:15).
c. Kebebasan dari Hukum Taurat
Kristus adalah penggenapan hukum, sehingga orang percaya tidak lagi terikat pada hukum sebagai sarana keselamatan (Roma 10:4).
d. Kebebasan untuk Melayani
Kebebasan Kristen adalah kebebasan yang aktif: membangun sesama, mengasihi, dan menjadi saksi Kristus.
6. Aplikasi Praktis bagi Gereja
a. Memberitakan Injil sebagai Kabar Pembebasan
Gereja dipanggil untuk setia memberitakan Injil yang membebaskan manusia dari dosa.
b. Pelayanan kepada Orang Tertindas
Seperti Yesus yang peduli pada orang miskin, tertawan, dan tertindas, gereja harus hadir di tengah masyarakat untuk melayani mereka yang menderita.
c. Menjadi Komunitas yang Membebaskan
Gereja tidak boleh menjadi tempat perbudakan hukum atau tradisi, melainkan komunitas kasih yang memberi ruang pertumbuhan rohani.
d. Kebebasan dalam Kekudusan
Kebebasan sejati tidak bertentangan dengan kekudusan. Justru dalam kekudusan, orang percaya merasakan kebebasan yang sejati.
7. Tantangan Zaman Modern
Banyak orang modern mengartikan kebebasan sebagai bebas tanpa batas. Namun, kebebasan tanpa kebenaran justru berakhir pada perbudakan dosa. Pornografi, narkoba, materialisme, dan egoisme adalah bentuk “penjara modern” yang menawan manusia.
Injil tetap relevan: hanya Kristus yang sanggup memerdekakan dari semua bentuk perbudakan ini.
8. Kesaksian Sejarah Gereja
Sejak abad pertama, orang Kristen dikenal sebagai komunitas yang membawa kebebasan:
-
Mereka menentang praktik perbudakan.
-
Mereka mengangkat martabat perempuan.
-
Mereka merawat orang miskin dan sakit.
Gereja sepanjang sejarah menjadi agen pembebasan sejati karena mengikuti teladan Kristus.
9. Kesimpulan
“Liberty to the Captives” adalah inti Injil. Yesus datang untuk membebaskan manusia dari dosa, iblis, maut, dan ketakutan. Pembebasan ini lebih besar daripada kebebasan politik atau sosial—ini adalah kebebasan rohani yang membawa hidup kekal.
Para pakar Alkitab sepakat bahwa Yesus adalah penggenapan nubuat Yesaya. Gereja dipanggil untuk memberitakan kabar baik ini, melayani yang tertindas, dan menjadi komunitas yang mempraktikkan kebebasan dalam kasih.
Kebebasan sejati bukanlah kebebasan untuk hidup sesuka hati, tetapi kebebasan untuk melayani Allah dan sesama. Inilah kabar Injil yang harus terus digaungkan: Kristus telah datang untuk membawa kebebasan bagi orang-orang tertawan.
.jpg)