Matius 5:20: Kebenaran yang Melebihi Orang Farisi dan Ahli Taurat
Pendahuluan
Salah satu pernyataan paling menantang dari Yesus terdapat dalam Matius 5:20:
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Ayat ini muncul dalam Khotbah di Bukit, yang menjadi salah satu ajaran paling penting dalam Perjanjian Baru. Dalam konteks tersebut, Yesus menegaskan standar kebenaran yang berbeda dari apa yang dipraktikkan oleh ahli Taurat dan orang Farisi.
Bagi pendengar Yesus saat itu, pernyataan ini sangat mengejutkan. Orang Farisi dikenal sebagai kelompok paling religius, tekun menjalankan hukum, dan sangat dihormati dalam masyarakat Yahudi. Namun, Yesus berkata bahwa kebenaran yang mereka tunjukkan tidak cukup untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Artikel ini akan mengupas eksposisi Alkitab tentang Matius 5:20, makna kebenaran yang dimaksud, perbandingannya dengan legalisme Farisi, serta pandangan para pakar teologi, kemudian menutup dengan aplikasi praktis bagi orang percaya masa kini.
1. Konteks Matius 5:20
a. Khotbah di Bukit
Khotbah di Bukit (Matius 5–7) adalah ringkasan etika Kerajaan Allah. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk hidup berbeda dari dunia, termasuk standar moral yang lebih tinggi dari sekadar formalitas agama.
b. Posisi Ayat 20 dalam Pasal 5
Ayat ini menjadi kunci untuk memahami enam antitesis yang Yesus ajarkan setelahnya (“Kamu telah mendengar... tetapi Aku berkata kepadamu...”, ay. 21–48). Artinya, Yesus menekankan bahwa hukum Taurat bukan hanya soal tindakan lahiriah, tetapi soal hati dan motivasi batiniah.
c. Makna “orang Farisi dan ahli Taurat”
-
Ahli Taurat: pengajar hukum, pakar Alkitab PL, yang menafsirkan dan mengajar.
-
Orang Farisi: kelompok religius yang menekankan ketaatan ketat pada hukum dan tradisi lisan.
Bagi masyarakat Yahudi, mereka adalah teladan kesalehan. Namun, Yesus menyingkapkan bahwa kesalehan mereka bersifat dangkal dan munafik.
2. Eksposisi Kata Kunci
a. “Kebenaran” (Yunani: dikaiosynÄ“)
Istilah ini bukan sekadar moralitas eksternal, tetapi hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Yesus menuntut kebenaran yang berasal dari hati yang diperbarui, bukan hanya kepatuhan legalistik.
b. “Lebih benar” (Yunani: perisseusÄ“)
Kata ini berarti “berlimpah, melampaui, melebihi”. Artinya, Yesus tidak menuntut “lebih banyak aturan”, melainkan kualitas kebenaran yang berbeda secara esensial.
c. “Kerajaan Sorga”
Konsep utama dalam Injil Matius, menunjuk pada pemerintahan Allah atas umat-Nya. Masuk dalam Kerajaan berarti hidup dalam relasi yang benar dengan Allah melalui ketaatan sejati.
3. Apa yang Salah dengan Kebenaran Orang Farisi?
Yesus menolak legalisme Farisi karena:
-
Munafik – Mereka menekankan penampilan luar, bukan hati (Matius 23:27).
-
Selektif – Mereka memilih aturan yang menguntungkan mereka, namun mengabaikan hal-hal yang lebih penting, seperti keadilan dan belas kasihan (Matius 23:23).
-
Penuh kesombongan – Mereka menggunakan hukum untuk membanggakan diri, bukan memuliakan Allah.
-
Tradisi manusia – Mereka menambahkan hukum buatan manusia di atas hukum Allah (Markus 7:8–9).
Jadi, masalah mereka bukan kurang religiusitas, tetapi fokus yang salah.
4. Kebenaran yang Dikehendaki Yesus
Yesus menuntut kebenaran yang:
-
Bersumber dari hati – Tidak hanya menghindari membunuh, tetapi juga marah (Matius 5:22).
-
Murni dalam motivasi – Tidak hanya menghindari perzinahan fisik, tetapi juga pikiran cabul (Matius 5:28).
-
Mengasihi musuh – Bukan sekadar mengasihi teman, tetapi juga musuh (Matius 5:44).
-
Berorientasi pada Allah – Semua tindakan dilakukan demi kemuliaan Allah, bukan pujian manusia (Matius 6:1).
Inilah kebenaran Kerajaan Allah, yaitu kehidupan yang dipimpin oleh kasih, kerendahan hati, dan ketaatan sejati.
5. Pandangan Para Pakar Alkitab
a. John Stott
Dalam bukunya The Message of the Sermon on the Mount, Stott menegaskan bahwa kebenaran yang Yesus tuntut adalah kebenaran yang berasal dari hati yang diperbarui oleh Roh Kudus, bukan sekadar ketaatan eksternal.
b. D.A. Carson
Carson menulis bahwa pernyataan Yesus dalam Matius 5:20 adalah “pembalikan paradigma.” Ia menjelaskan bahwa kebenaran orang Farisi menekankan pada hukum yang bisa diukur, tetapi Yesus menuntut kebenaran yang lebih dalam, yang meliputi motivasi dan relasi dengan Allah.
c. R.T. France
France berpendapat bahwa Yesus menekankan perbedaan kualitatif bukan kuantitatif. Kebenaran orang Farisi tidak salah karena terlalu ketat, melainkan karena tidak cukup mendasar: mereka gagal memahami maksud sejati hukum Taurat.
d. John Calvin
Calvin menekankan bahwa ayat ini menunjukkan ketidakcukupan hukum untuk menyelamatkan. Manusia tidak bisa mencapai kebenaran sejati melalui usaha sendiri, melainkan hanya melalui anugerah Kristus yang memperbarui hati.
e. Martin Lloyd-Jones
Dalam Studies in the Sermon on the Mount, Lloyd-Jones menulis bahwa kebenaran Kristen tidak dimulai dari luar ke dalam (aturan → hati), melainkan dari dalam ke luar (hati → perbuatan).
6. Hubungan dengan Doktrin Pembenaran oleh Iman
Matius 5:20 menegaskan ketidakmungkinan manusia mencapai kebenaran dengan usaha sendiri. Paulus menggemakan hal ini dalam Roma 3:20–22:
“Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat... Tetapi sekarang kebenaran Allah tanpa hukum Taurat telah dinyatakan, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.”
Jadi, kebenaran yang Yesus maksud adalah kebenaran yang dianugerahkan Allah melalui Kristus, yang kemudian menghasilkan ketaatan sejati.
7. Aplikasi Praktis
a. Kebenaran Kristen Lebih dari Ritual
Orang percaya tidak boleh puas dengan ibadah formal, doa panjang, atau pelayanan lahiriah. Allah menuntut hati yang tulus dan hidup yang berbuah.
b. Motivasi yang Murni
Kita dipanggil untuk melayani bukan demi reputasi atau pujian, melainkan demi kemuliaan Allah.
c. Kekudusan dalam Pikiran dan Hati
Yesus menekankan pentingnya kekudusan internal. Orang Kristen harus menjaga pikiran, perasaan, dan motivasi di hadapan Allah.
d. Mengasihi dengan Radikal
Kebenaran sejati ditunjukkan melalui kasih kepada musuh, pengampunan, dan kerelaan berkorban.
e. Ketergantungan pada Kristus
Tidak seorangpun dapat mencapai standar ini tanpa anugerah Kristus dan kuasa Roh Kudus. Maka, orang percaya harus hidup dalam iman dan pertobatan setiap hari.
8. Tantangan bagi Gereja Masa Kini
-
Formalisme agama – Gereja berisiko jatuh ke dalam rutinitas tanpa kehidupan rohani sejati.
-
Kemunafikan – Sama seperti orang Farisi, banyak orang Kristen tergoda untuk menjaga penampilan luar tanpa hati yang murni.
-
Relativisme moral – Dunia modern mengabaikan standar kebenaran Allah; gereja harus berpegang pada kebenaran Kristus.
9. Kesaksian Sejarah Gereja
Sepanjang sejarah, banyak tokoh gereja yang menekankan kebenaran sejati:
-
Agustinus menekankan kasih sebagai inti hukum.
-
Martin Luther menegaskan pembenaran oleh iman, bukan perbuatan.
-
Reformator lain menekankan transformasi hati sebagai bukti kebenaran Injil.
10. Kesimpulan
Matius 5:20 adalah panggilan Yesus agar orang percaya tidak puas dengan legalisme lahiriah, tetapi mengejar kebenaran yang sejati dari hati. Kebenaran ini bukan hasil usaha manusia, melainkan karya anugerah Allah melalui Kristus.
Yesus mengajar bahwa masuk ke dalam Kerajaan Allah hanya mungkin bila kita memiliki kebenaran yang melampaui ahli Taurat dan Farisi—yaitu kebenaran Injil yang mengubah hati dan menghasilkan kehidupan yang berkenan kepada Allah.
Oleh karena itu, gereja masa kini harus kembali kepada inti Injil: bukan sekadar ritual, tetapi kehidupan dalam kasih, kerendahan hati, dan ketaatan sejati kepada Allah.
.jpg)