Katekismus Singkat Westminster

Katekismus Singkat Westminster

Pendahuluan

Salah satu warisan terbesar dari tradisi Reformed adalah Westminster Shorter Catechism (Katekismus Singkat Westminster) yang disusun pada abad ke-17 oleh Westminster Assembly (1643–1649). Katekismus ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman dasar tentang iman Kristen, khususnya kepada jemaat dan anak-anak, melalui bentuk tanya-jawab.

Katekismus Singkat Westminster mengandung 107 pertanyaan yang mencakup doktrin Allah, Kristus, Roh Kudus, hukum Allah, dosa, keselamatan, iman, doa, dan sakramen. Karya klasik An Exposition of the Assembly's Shorter Catechism oleh Thomas Boston, Thomas Watson, dan teolog Puritan lainnya, menjadi panduan penting dalam menjelaskan makna setiap pertanyaan dan jawabannya berdasarkan Alkitab.

Artikel ini akan mengupas eksposisi katekismus tersebut, ditinjau dari sudut pandang Alkitab dan beberapa pakar teologi Reformed, serta menunjukkan relevansinya bagi kehidupan orang percaya masa kini.

I. Latar Belakang Katekismus Singkat Westminster

1. Sejarah Penyusunan

Westminster Assembly diselenggarakan oleh parlemen Inggris dengan tujuan menyusun pengakuan iman dan katekismus yang seragam bagi gereja-gereja Reformasi di Inggris, Skotlandia, dan Irlandia. Hasilnya adalah Westminster Confession of Faith, Larger Catechism, dan Shorter Catechism.

Shorter Catechism dimaksudkan untuk penggunaan pendidikan dasar iman Kristen, sehingga dibuat ringkas, sederhana, namun penuh dengan kedalaman teologis.

2. Struktur Katekismus

Struktur Katekismus Singkat Westminster dapat dibagi ke dalam dua bagian besar:

  1. Pertanyaan 1–38: Apa yang harus dipercayai manusia mengenai Allah.

  2. Pertanyaan 39–107: Apa yang dituntut Allah dari manusia (hukum Allah, iman, doa, sakramen).

Dengan demikian, katekismus ini mencakup iman dan praktik Kristen.

II. Eksposisi Pertanyaan-Pertanyaan Kunci

1. Tujuan Hidup Manusia (Pertanyaan 1)

Q1: Apakah tujuan utama hidup manusia?
A: Tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.

Dasar Alkitab:

  • 1 Korintus 10:31 – “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

  • Mazmur 73:25-26 – “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”

Menurut Thomas Watson, jawaban ini merangkum seluruh maksud hidup manusia: memuliakan Allah melalui ketaatan, ibadah, dan kesaksian hidup; serta menikmati Allah melalui relasi kasih dan persekutuan kekal.

2. Allah dan Tritunggal (Pertanyaan 4–6)

Q4: Apakah Allah itu?
A: Allah adalah Roh, ada dalam diri-Nya sendiri, tidak terbatas, kekal, tidak berubah, Mahakuasa, Mahatahu, Mahakudus, adil, murah hati, dan penuh kebenaran.

Eksposisi Alkitab:

  • Yohanes 4:24 – “Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

  • Maleakhi 3:6 – “Sebab Aku, TUHAN, tidak berubah.”

John Calvin dalam Institutes menekankan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu, dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada apapun. Katekismus menegaskan kemahakuasaan Allah, sehingga manusia hanya dapat mengenal-Nya melalui pewahyuan-Nya.

3. Dosa dan Kejatuhan (Pertanyaan 14–19)

Q14: Apakah dosa itu?
A: Dosa adalah ketidaktaatan terhadap hukum Allah atau pelanggaran atasnya.

Dasar Alkitab:

  • 1 Yohanes 3:4 – “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.”

Thomas Boston menjelaskan bahwa dosa bukan sekadar kelemahan, melainkan pemberontakan terhadap hukum Allah. Akibat dosa, seluruh umat manusia berada di bawah kutuk dan membutuhkan penebusan.

4. Penebusan dalam Kristus (Pertanyaan 20–28)

Q20: Apakah Allah membiarkan seluruh umat manusia binasa dalam keadaan dosa dan sengsara?
A: Allah, dari kasih karunia-Nya yang cuma-cuma, memilih beberapa orang untuk diselamatkan melalui seorang Penebus.

Roma 5:8 – “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

Di sini terlihat doktrin pemilihan (election) dan penebusan Kristus yang sentral dalam teologi Reformed. Watson menekankan bahwa penebusan adalah karya kasih karunia semata, bukan hasil usaha manusia.

5. Justifikasi, Adopsi, dan Pengudusan (Pertanyaan 33–35)

  • Justifikasi (Q33): Allah membenarkan orang berdosa oleh iman di dalam Kristus (Roma 5:1).

  • Adopsi (Q34): Orang percaya diangkat menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12).

  • Pengudusan (Q35): Roh Kudus memperbarui manusia menurut gambar Allah (Efesus 4:24).

John Owen menegaskan bahwa tiga aspek ini adalah buah utama dari anugerah Allah yang bekerja dalam keselamatan. Justifikasi menyangkut status hukum, adopsi menyangkut relasi, dan pengudusan menyangkut transformasi hidup.

6. Hukum Allah (Pertanyaan 39–81)

Bagian ini menekankan Sepuluh Perintah Allah sebagai pedoman hidup orang percaya. Katekismus mengajarkan bahwa hukum diberikan bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menuntun hidup dalam kebenaran.

Calvin menyebut hukum sebagai “cermin” yang menunjukkan dosa, “pagar” yang menahan kejahatan, dan “panduan” yang menuntun orang percaya dalam kesalehan.

7. Doa dan Sakramen (Pertanyaan 82–107)

Doa Bapa Kami dipaparkan sebagai pola doa yang sempurna. Sakramen (baptisan dan Perjamuan Kudus) dijelaskan sebagai tanda dan meterai anugerah Allah.

Herman Bavinck menekankan bahwa sakramen bukan hanya simbol kosong, melainkan sarana anugerah di mana Allah menguatkan iman umat-Nya.

III. Pandangan Beberapa Teolog Reformed tentang Katekismus

  1. Thomas Watson – Dalam bukunya A Body of Divinity, ia menjelaskan Katekismus dengan gaya pastoral, menekankan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Thomas Boston – Menulis An Illustration of the Shorter Catechism, menyoroti aspek pengajaran iman bagi keluarga dan jemaat.

  3. John Owen – Memberikan eksposisi mendalam tentang keselamatan dan kuasa anugerah dalam hubungannya dengan jawaban-jawaban katekismus.

  4. Herman Bavinck – Melihat Katekismus Westminster sebagai ringkasan iman Kristen yang kokoh dan universal.

  5. Louis Berkhof – Menggunakan Katekismus ini sebagai referensi utama dalam Systematic Theology, khususnya dalam bab tentang dosa, keselamatan, dan sakramen.

IV. Relevansi Katekismus bagi Orang Percaya Masa Kini

  1. Pendidikan Iman Anak dan Jemaat
    Katekismus adalah sarana efektif untuk menanamkan dasar iman Kristen sejak dini.

  2. Pertahanan terhadap Ajaran Sesat
    Dengan katekismus, jemaat memiliki kerangka iman yang kokoh untuk menolak ajaran palsu.

  3. Kehidupan Rohani yang Tertib
    Doa, sakramen, dan hukum Allah dalam katekismus menolong orang percaya hidup sesuai firman.

  4. Identitas Reformed yang Kuat
    Katekismus Westminster menjadi identitas teologi Reformed yang alkitabiah dan sistematis.

V. Kesimpulan

An Exposition of the Assembly's Shorter Catechism menolong kita memahami kedalaman doktrin Reformed dengan sederhana namun padat. Setiap pertanyaan dan jawaban berakar pada Alkitab, memberi fondasi iman yang teguh, serta menuntun orang percaya untuk hidup bagi kemuliaan Allah.

Thomas Watson menyebut katekismus ini sebagai “peta jalan menuju surga,” sementara Bavinck menegaskannya sebagai “ringkasan iman Kristen yang paling kokoh.”

Oleh karena itu, Katekismus Singkat Westminster tetap relevan bagi gereja masa kini—untuk mengajar, meneguhkan, dan menuntun umat Allah agar hidup sesuai dengan tujuan utama mereka: memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.


Next Post Previous Post