Titus 2:3: Peran Perempuan Tua dalam Gereja

Titus 2:3: Peran Perempuan Tua dalam Gereja

Pendahuluan

Kitab Titus adalah salah satu surat pastoral yang ditulis Rasul Paulus kepada muridnya, Titus, yang saat itu melayani di Kreta. Dalam surat ini, Paulus menekankan pentingnya pengajaran sehat, kehidupan kudus, dan struktur pelayanan yang tertib dalam jemaat. Salah satu bagian yang menarik adalah Titus 2:3, yang berbunyi:

“Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik.” (Titus 2:3, TB)

Ayat ini menjadi instruksi penting bagi peran perempuan tua (wanita yang lebih dewasa dalam iman maupun usia) di dalam jemaat. Paulus tidak hanya menekankan perilaku moral mereka, tetapi juga tanggung jawab rohani mereka dalam mendidik generasi yang lebih muda.

Artikel ini akan mengupas eksposisi Titus 2:3 berdasarkan teks Alkitab, konteks budaya, serta pendapat pakar teologi. Selain itu, kita akan melihat relevansi praktisnya bagi kehidupan gereja masa kini.

1. Konteks Kitab Titus

a. Latar Belakang

Pulau Kreta terkenal sebagai tempat dengan reputasi moral yang buruk. Paulus sendiri mengutip pepatah lokal dalam Titus 1:12, bahwa orang Kreta dikenal sebagai “pendusta, binatang buas yang malas dan rakus.” Karena itu, penggembalaan di sana menuntut standar hidup Kristen yang jelas agar jemaat tidak terbawa arus budaya sekitar.

b. Tujuan Surat Titus

Surat ini berfokus pada:

  1. Pengangkatan penatua dengan syarat moral yang tinggi (Titus 1:5-9).

  2. Menolak guru palsu yang mengajarkan ajaran sesat (Titus 1:10-16).

  3. Hidup kudus sesuai pengajaran sehat (Titus 2–3).

Dalam pasal 2, Paulus menjelaskan bagaimana berbagai kelompok dalam jemaat (orang tua, orang muda, hamba, dll.) harus hidup sesuai panggilan iman mereka.

2. Eksposisi Titus 2:3

Mari kita perhatikan frasa demi frasa dalam ayat ini.

a. “Demikian juga perempuan-perempuan yang tua”

Frasa ini menunjukkan bahwa instruksi tidak hanya berlaku bagi laki-laki (seperti dalam ayat 2), tetapi juga bagi perempuan yang lebih tua. Perempuan tua di sini bukan hanya soal usia, melainkan kedewasaan rohani yang menjadikan mereka teladan.

b. “Hendaklah mereka hidup sebagai orang beribadah”

Dalam bahasa Yunani digunakan kata hieroprepes yang berarti “layak bagi orang yang kudus,” atau “hidup dalam kesalehan.” Artinya, seluruh gaya hidup perempuan tua harus menunjukkan hormat kepada Allah, baik dalam perkataan, tindakan, maupun sikap.

c. “Jangan memfitnah”

Paulus menggunakan kata Yunani diabolos, yang sering dipakai untuk “iblis” karena berarti “pendusta” atau “penuduh.” Perempuan tua tidak boleh menjadi penyebar gosip atau fitnah, karena hal itu menghancurkan jemaat.

d. “Jangan menjadi hamba anggur”

Di Kreta, kebiasaan mabuk cukup umum. Paulus menekankan agar perempuan tua tidak diperbudak oleh anggur. Hidup kudus berarti menjauhi gaya hidup yang dikuasai oleh dosa dan hawa nafsu.

e. “Tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik”

Perempuan tua dipanggil menjadi pengajar yang baik (kalodidaskalos). Mereka bukan hanya teladan hidup, tetapi juga mendidik perempuan muda tentang kasih, keluarga, kesucian, dan kebajikan. Hal ini dilanjutkan dalam ayat 4–5.

3. Pandangan Para Pakar Teologi

a. John Calvin

Calvin dalam Commentary on Titus menegaskan bahwa Paulus menempatkan tanggung jawab penting pada perempuan tua agar kehidupan mereka menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Menurut Calvin, gosip dan mabuk adalah dua dosa umum di kalangan perempuan Kreta, sehingga Paulus menekankan pengendalian lidah dan nafsu.

b. Matthew Henry

Matthew Henry melihat bahwa peran perempuan tua sangat krusial dalam mendidik generasi muda. Ia menulis bahwa kehidupan kudus mereka adalah “khotbah tanpa kata” yang mengajar lebih kuat daripada perkataan.

c. William Barclay

Barclay menjelaskan bahwa di dunia Yunani-Romawi, perempuan sering dipandang rendah dan bahkan diperlakukan sebagai properti. Namun, Paulus justru memberikan martabat kepada perempuan tua dengan menugaskan mereka sebagai pendidik rohani. Ini adalah bentuk emansipasi yang sejati dalam Kristus.

d. John Stott

Stott menekankan bahwa Titus 2 memperlihatkan pola penggembalaan yang sehat: orang tua membimbing orang muda. Gereja yang sehat adalah gereja yang memiliki mentoring antargenerasi.

e. R.C. Sproul

Sproul menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan pentingnya discipleship (pemuridan) dalam lingkup rumah tangga dan komunitas kecil. Perempuan tua adalah agen pemuridan bagi perempuan muda, sama seperti Paulus bagi Timotius dan Titus.

4. Kesalahan yang Harus Dihindari

Dalam ayat ini, Paulus menyebutkan dua dosa utama:

  1. Fitnah (gosip) → Merusak persekutuan jemaat.

  2. Kecanduan anggur → Merusak kesaksian iman.

Dua hal ini bukan kebetulan, sebab keduanya erat kaitannya dengan kelemahan manusia dalam berbicara dan mengendalikan diri. Paulus ingin agar perempuan tua menjadi teladan dalam lidah dan kehidupan pribadi.

5. Tugas Positif: Mengajar yang Baik

Ayat ini menutup dengan tanggung jawab besar: mengajar hal-hal yang baik.

a. Bentuk Pengajaran

  • Pengajaran lewat teladan (1 Petrus 3:1-2).

  • Pengajaran verbal: menasihati, mendorong, mendidik.

b. Materi Pengajaran

Dilanjutkan dalam Titus 2:4-5:

  • Mengasihi suami dan anak-anak.

  • Hidup bijaksana dan suci.

  • Rajin mengurus rumah tangga.

  • Tunduk kepada suami.

c. Tujuan Pengajaran

Agar firman Allah tidak dihujat (Titus 2:5). Kehidupan yang benar akan menjadi kesaksian bagi dunia.

6. Aplikasi Bagi Gereja Masa Kini

a. Pentingnya Teladan Perempuan Dewasa

Gereja membutuhkan perempuan-perempuan yang matang dalam iman untuk menjadi mentor dan teladan bagi generasi muda.

b. Bahaya Gosip dalam Jemaat

Fitnah dan gosip adalah racun bagi persekutuan Kristen. Perempuan tua dipanggil menjaga lidah mereka agar membangun, bukan meruntuhkan.

c. Kehidupan yang Kudus di Tengah Budaya Modern

Sama seperti perempuan Kreta harus menolak mabuk, perempuan Kristen masa kini harus melawan gaya hidup hedonisme, materialisme, dan kecanduan (entah alkohol, media sosial, atau hal lain).

d. Pemuridan Antargenerasi

Prinsip Titus 2:3-5 bisa diterapkan melalui program mentoring gereja, di mana perempuan yang lebih tua rohani membimbing yang lebih muda dalam doa, pernikahan, pengasuhan anak, dan iman.

7. Relevansi Teologis

a. Kehidupan Kudus adalah Bukti Injil

Paulus menekankan bahwa gaya hidup jemaat akan menjadi kesaksian bagi masyarakat Kreta. Demikian juga, kesalehan perempuan tua membuktikan kuasa Injil.

b. Perempuan Memiliki Peran dalam Pendidikan Rohani

Titus 2:3 menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar “penonton” dalam gereja, melainkan bagian penting dalam pembinaan iman.

c. Peran Roh Kudus

Hanya dengan pertolongan Roh Kudus perempuan tua dapat hidup kudus, mengendalikan lidah, menolak dosa, dan mengajar hal-hal yang baik.

8. Kesaksian Sejarah Gereja

Dalam sejarah, banyak perempuan tua yang dipakai Tuhan:

  • Monika, ibu Agustinus, yang doanya membawa pertobatan putranya.

  • Susanna Wesley, ibu John dan Charles Wesley, yang menjadi guru rohani bagi anak-anaknya.

  • Perempuan-perempuan Reformed di abad ke-16 yang mendidik keluarga mereka di tengah penganiayaan.

Semua ini membuktikan bahwa peran perempuan tua sangat besar dalam menjaga iman generasi selanjutnya.

9. Tantangan Masa Kini

  1. Budaya individualisme → menghambat mentoring antargenerasi.

  2. Kesibukan modern → membuat perempuan sulit meluangkan waktu untuk mendidik yang lebih muda.

  3. Pengaruh media sosial → gosip, fitnah, dan berita palsu semakin marak.

Namun, Titus 2:3 tetap relevan untuk mengingatkan bahwa perempuan tua dipanggil menjadi garam dan terang di tengah dunia yang gelap.

Kesimpulan

Titus 2:3 adalah panggilan mulia bagi perempuan tua dalam jemaat:

  • Hidup kudus sebagai orang beribadah.

  • Menjaga lidah dari gosip dan fitnah.

  • Mengendalikan diri dari kecanduan dan kebiasaan duniawi.

  • Mengajar perempuan muda hal-hal yang baik.

Eksposisi ayat ini menunjukkan bahwa peran perempuan tua sangat penting dalam menjaga kemurnian iman dan kelangsungan gereja. Para pakar teologi menegaskan bahwa kehidupan kudus dan pengajaran yang benar dari perempuan dewasa iman adalah fondasi bagi pemuridan Kristen.

Bagi gereja masa kini, ayat ini menjadi panggilan untuk membangun budaya mentoring antargenerasi, menolak dosa gosip, dan meneguhkan teladan hidup kudus. Dengan demikian, gereja dapat menjadi terang bagi dunia, dan nama Allah tidak dihujat, melainkan dimuliakan.

Next Post Previous Post