Habakuk 2:1-5: Hidup oleh Iman di Tengah Ketidakadilan
.jpg)
Pendahuluan
Kitab Habakuk adalah salah satu kitab nabi kecil dalam Perjanjian Lama yang sangat relevan sepanjang masa. Pesan kitab ini menyinggung pertanyaan universal: Mengapa Allah membiarkan ketidakadilan dan penderitaan terjadi?
Habakuk menuliskan keluhan dan doa kepada Allah ketika melihat kejahatan merajalela di Yehuda. Ia bertanya: "Sampai berapa lama lagi, ya TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?" (Habakuk 1:2). Pertanyaan ini sangat manusiawi, karena umat Allah sering bergumul dengan misteri penderitaan.
Dalam Habakuk 2:1-5, Allah menjawab dengan tegas. Nabi diperintahkan untuk menuliskan penglihatan tentang rencana Allah, termasuk penghakiman atas orang fasik. Pusat dari jawaban Allah adalah pernyataan terkenal:
"Orang benar akan hidup oleh percayanya." (Habakuk 2:4b)
Ayat ini menjadi dasar penting bagi teologi Perjanjian Baru, terutama dalam ajaran Paulus tentang pembenaran oleh iman (Roma 1:17; Galatia 3:11; Ibrani 10:38).
Artikel ini akan mengeksposisi Habakuk 2:1-5 secara mendalam, dengan mengaitkan konteks historis, analisis bahasa, pandangan pakar, serta penerapannya bagi orang percaya masa kini.
Teks Alkitab Habakuk 2:1-5
"Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara; aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. Sesungguhnya, orang sombong, orang itu tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. Orang sombong dan khianat, sombong mulutnya seperti dunia orang mati, tidak pernah puas; seperti maut ia tidak kenyang-kenyang, dikumpulkannya baginya segala bangsa dan dihimpunkannya baginya segala suku bangsa."
Latar Belakang Historis
-
Situasi Yehuda
Habakuk bernubuat sekitar abad ke-7 SM, menjelang pembuangan Babel. Yehuda saat itu berada dalam kondisi moral dan spiritual yang rusak: hukum diabaikan, kejahatan merajalela, dan orang benar tertindas. -
Pertanyaan Nabi
Habakuk bergumul mengapa Allah tampak membiarkan kejahatan. Ia juga heran mengapa Allah memakai bangsa yang lebih fasik (Babel) untuk menghukum Yehuda. -
Jawaban Allah
Allah menegaskan bahwa keadilan-Nya akan ditegakkan pada waktunya. Orang benar harus hidup dengan iman, sementara orang fasik akan menerima hukuman.
Eksposisi Ayat demi Ayat
1. Habakuk 2:1 – Menantikan Jawaban Tuhan
"Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara..."
-
Nabi menggambarkan dirinya seperti penjaga di menara kota, yang berjaga-jaga untuk melihat apa yang akan Allah lakukan.
-
Sikap ini menunjukkan kerinduan, kesabaran, dan kewaspadaan rohani.
John Calvin menafsirkan:
“Habakuk menempatkan dirinya seperti seorang penjaga rohani, siap untuk mendengarkan dan menaati firman Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa jawaban Allah hanya diperoleh melalui ketekunan dalam doa dan penantian.”
2. Habakuk 2:2 – Perintah untuk Menuliskan Penglihatan
"Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh..."
-
Allah memerintahkan nabi untuk menuliskan penglihatan dengan jelas, supaya semua orang dapat membacanya.
-
Kebenaran firman Allah harus disampaikan dengan tegas, gamblang, dan dapat dipahami oleh banyak orang.
Matthew Henry berkata:
“Firman Tuhan harus ditulis agar dapat diingat, diberitakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Apa yang ditulis tidak dapat dihapus oleh waktu.”
3. Habakuk 2:3 – Waktu Tuhan Pasti Tepat
"Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya... jika berlambat, nantikanlah itu..."
-
Allah menekankan bahwa penggenapan nubuat memiliki waktu tertentu yang sudah ditetapkan.
-
Meskipun tampak lambat, janji Allah tidak akan gagal.
-
Prinsip ini mengajarkan bahwa umat Allah harus belajar menantikan waktu Tuhan dengan sabar.
F.F. Bruce menegaskan:
“Allah tidak pernah terlambat. Penglihatan-Nya menuju penggenapan yang pasti. Tugas orang percaya adalah menantikan dengan iman.”
4. Habakuk 2:4 – Kontras antara Orang Sombong dan Orang Benar
"Sesungguhnya, orang sombong, orang itu tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya."
-
Orang sombong: merujuk pada bangsa Babel, yang congkak, penuh keserakahan, dan menindas bangsa lain.
-
Orang benar: mereka yang setia kepada Allah, hidup dengan iman, meskipun dalam penderitaan.
Ayat ini menjadi inti teologi Habakuk, bahkan Perjanjian Baru. Paulus mengutipnya dalam Roma 1:17 dan Galatia 3:11 untuk menegaskan doktrin pembenaran oleh iman.
Martin Luther, saat merenungkan ayat ini, menemukan kebenaran Injil yang membebaskan:
“Ayat ini membuka pintu surga bagiku. Kebenaran Allah bukanlah murka yang menghukum, tetapi anugerah yang membenarkan orang berdosa melalui iman.”
5. Habakuk 2:5 – Gambaran Orang Sombong
"Orang sombong dan khianat, sombong mulutnya seperti dunia orang mati, tidak pernah puas..."
-
Keserakahan orang fasik digambarkan seperti maut yang tak pernah kenyang.
-
Babel menaklukkan bangsa-bangsa dengan kerakusan, tetapi akhirnya mereka sendiri akan dihukum Allah.
William Barclay menulis:
“Kesombongan selalu membawa kehancuran. Orang fasik mungkin menikmati kemenangan sementara, tetapi akhirnya mereka binasa karena kerakusan mereka sendiri.”
Tema Teologis dalam Habakuk 2:1-5
-
Iman sebagai dasar hidup orang benar.
Iman bukan sekadar percaya, tetapi keyakinan teguh untuk menantikan janji Allah meskipun situasi tampak gelap. -
Kesabaran dalam menantikan waktu Allah.
Allah bekerja dalam jadwal-Nya sendiri. Orang percaya dipanggil untuk tetap setia. -
Kontras antara iman dan kesombongan.
Kehidupan orang benar ditandai oleh iman, sementara kehidupan orang fasik ditandai oleh kesombongan dan kerakusan. -
Kedaulatan Allah atas sejarah.
Meski Babel tampak berkuasa, Allah tetap mengendalikan jalannya sejarah dan akan menghukum bangsa fasik.
Pandangan Para Pakar Alkitab
-
John Calvin: Menekankan bahwa ayat 4 adalah dasar iman Kristen, karena menunjukkan bahwa hidup orang percaya tidak bertumpu pada keadaan lahiriah, melainkan pada janji Allah.
-
Matthew Henry: Melihat ayat ini sebagai penghiburan besar bagi umat Allah, karena janji Tuhan pasti digenapi pada waktunya.
-
Charles Spurgeon: Berkhotbah tentang ayat ini dengan menegaskan bahwa iman adalah napas kehidupan orang Kristen: “Tanpa iman, kita tidak hidup rohani; dengan iman, kita berakar pada janji Allah.”
-
N.T. Wright: Menyebut Habakuk 2:4 sebagai “jembatan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru” karena menjadi dasar pengajaran Paulus tentang Injil.
Relevansi dan Aplikasi bagi Orang Percaya
-
Tetap setia di tengah penderitaan.
Seperti Habakuk, kita dipanggil untuk tetap percaya meski dunia penuh ketidakadilan. -
Hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan.
Banyak hal tampak tidak adil, tetapi iman memampukan kita melihat rencana Allah yang lebih besar. -
Menunggu dengan sabar.
Janji Allah tidak pernah gagal, meski seolah tertunda. Orang percaya harus sabar menantikan waktunya. -
Waspada terhadap kesombongan.
Kesombongan dan kerakusan seperti Babel hanya berujung pada kehancuran. -
Menjadi saksi di dunia.
Dengan hidup oleh iman, orang Kristen memberi kesaksian nyata tentang kuasa Injil.
Kesaksian Sejarah Gereja
-
Martin Luther menemukan doktrin pembenaran oleh iman dari Habakuk 2:4, yang memicu Reformasi Protestan abad ke-16.
-
Dietrich Bonhoeffer hidup dengan iman ketika melawan Nazi, meskipun akhirnya harus mati martir.
-
Banyak tokoh iman lainnya menunjukkan bahwa hidup oleh iman adalah prinsip yang relevan sepanjang masa.
Kesimpulan
Habakuk 2:1-5 adalah teks yang kaya dengan makna rohani dan teologis. Melalui teks ini, kita belajar bahwa:
-
Orang benar dipanggil untuk hidup oleh iman.
-
Janji Allah pasti digenapi pada waktunya.
-
Kesombongan membawa kehancuran, tetapi iman membawa kehidupan.
-
Hidup oleh iman adalah panggilan universal bagi umat Allah di segala zaman.
Pesan ini bukan hanya relevan di zaman Habakuk, tetapi juga bagi kita saat ini. Dunia penuh ketidakadilan, kesombongan, dan penderitaan, tetapi orang percaya dipanggil untuk tetap teguh, menantikan janji Allah, dan hidup oleh iman di dalam Kristus.