Apakah Yesus Punya Tuhan?

Apakah Yesus Punya Tuhan?

PENDAHULUAN

Pertanyaan “Apakah Yesus punya Tuhan?” bukanlah pertanyaan baru, melainkan sebuah isu kristologis yang telah dibahas sejak abad pertama, terutama karena beberapa ayat dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Yesus berbicara tentang “Allah-Ku”. Misalnya:

  • Yohanes 20:17 – “Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

  • Matius 27:46 – “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

  • Wahyu 3:12 – “Nama Allah-Ku… bait Allah-Ku… kota Allah-Ku…”

Ayat-ayat ini sering dipakai oleh kelompok yang menyangkal keilahian Yesus.
Namun para teolog Reformed justru melihat ayat-ayat ini sebagai penegasan doktrin Kristus sebagai Allah yang menjadi manusia, bukan penolakan.

Dalam artikel ini kita akan membahas:

  1. Bagaimana para teolog Reformed memahami ayat-ayat tersebut.

  2. Perbedaan antara Natur Ilahi dan Natur Manusia Kristus.

  3. Penjelasan teologi Reformasi tentang hubungan Yesus dengan Bapa.

  4. Eksposisi ayat-ayat yang menyebut Yesus memiliki “Allah”.

  5. Kesimpulan teologis: apakah Yesus secara esensi punya Tuhan?

Artikel ini memuat pemikiran teolog-teolog Reformed seperti:

  • John Calvin

  • B.B. Warfield

  • John Owen

  • Herman Bavinck

  • Louis Berkhof

  • Geerhardus Vos

I. KUNCI DASAR KRISTOLOGI REFORMED: DUA NATUR DALAM SATU PRIBADI

Teologi Reformed mengikuti Konsili Chalcedon (451 M), yakni:

Yesus Kristus adalah satu pribadi dengan dua natur: Ilahi dan manusiawi. Ia 100% Allah dan 100% manusia. Tanpa pencampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian, tanpa pemisahan.

Teolog Reformed Louis Berkhof menulis:

“Yesus sebagai Anak Allah tidak memiliki Tuhan di atas-Nya; tetapi sebagai manusia, Ia tunduk kepada Allah Bapa.”

Hal ini berarti:

  • Sebagai Allah → Yesus tidak punya Tuhan

  • Sebagai manusia → Yesus tunduk kepada Allah

  • Sebagai Mesias → Ia hidup dalam ketaatan kepada Bapa

Dengan landasan ini kita bisa memahami ayat-ayat yang menyebut Yesus memiliki “Allah”.

II. MENGAPA YESUS MENYEBUT ALLAH SEBAGAI “ALLAH-KU”?

Beberapa alasan teologis:

1. Yesus berbicara dari natur manusia-Nya

Kalvin berkata:

“Ketika Yesus menyebut Allah sebagai Tuhan-Nya, Ia melakukannya dalam natur manusia-Nya, sebagaimana Ia mengambil posisi sebagai hamba.”

Yesus adalah:

  • Allah sejati,

  • tetapi juga manusia sejati.

Sebagai manusia:

  • Ia berdoa,

  • Ia berserah,

  • Ia menyembah Allah,

  • Ia hidup dalam ketergantungan kepada Bapa.

Ini tidak membatalkan keilahian-Nya.

Seperti yang dikatakan B.B. Warfield:

“Manusia Yesus memiliki relasi manusiawi kepada Allah, sementara Pribadi-Nya tetap adalah Allah Yang Mahatinggi.”

2. Yesus adalah Adam kedua yang hidup dalam ketaatan sempurna

Yesus datang sebagai:

  • Adam terakhir (1 Korintus 15:45),

  • Hamba TUHAN (Yesaya 42–53),

  • Penyembah sejati.

Sebagai manusia sempurna, Ia:

  • tunduk kepada Allah,

  • menaati Taurat,

  • menunjukkan kehidupan manusia ideal.

Karena itu Ia berkata “Allah-Ku”.

Herman Bavinck menulis:

“Kristus, dalam natur manusia-Nya, memulihkan ketaatan yang tidak pernah dicapai oleh Adam.”

3. Yesus sedang menjalankan misi mesianis-Nya

Sebagai Mesias, Yesus menjalani posisi:

  • diutus,

  • di bawah otoritas Bapa,

  • dalam ketaatan mutlak.

John Owen berkata:

“Yesus sebagai Mesias adalah hamba Allah; Ia mengambil posisi tunduk demi keselamatan umat-Nya.”

4. Perbedaan peran dalam Trinitas, bukan perbedaan esensi

Dalam Trinitas:

  • semua Pribadi sama-sama Allah,

  • namun ada perbedaan peran:
    Bapa mengutus, Anak diutus, Roh memampukan.

Geerhardus Vos menjelaskan:

“Ketika Yesus berkata Allah-Ku, Ia tidak bicara tentang esensi-Nya sebagai Allah, tetapi relasi fungsional-Nya dalam sejarah keselamatan.”

III. EKS POSISI AYAT-AYAT YANG MENYEBUT YESUS PUNYA ‘ALLAH’

Mari kita menguraikan ayat-ayat utama menurut teologi Reformed.

1. Yohanes 20:17 – "Allah-Ku dan Allahmu"

Yesus berkata kepada Maria Magdalena:

“Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.”

Calvin mengatakan:

“Yesus membedakan ‘Allah-Ku’ dari ‘Allahmu’. Ia tidak menyebut Allah-Nya dalam derajat yang sama dengan kita, tetapi sebagai manusia Ia kembali kepada kemuliaan-Nya.”

Bahkan ayat ini menunjukkan bahwa:

  • Yesus menyebut Allah sebagai Bapa-Nya dalam cara yang unik,

  • Ia tidak menyebut murid-murid sebagai ‘saudara sekandung dalam natur Ilahi’.

2. Matius 27:46 – “Allah-Ku, Allah-Ku” di kayu salib

Ini kutipan langsung dari Mazmur 22.
Yesus mengutipnya sebagai:

  • ungkapan penderitaan manusia,

  • penggenapan nubuat,

  • ekspresi solidaritas dengan umat manusia.

Louis Berkhof menjelaskan:

“Seruan salib adalah ekspresi Kristus sebagai manusia yang menanggung murka Allah, bukan pengakuan bahwa Ia bukan Allah.”

Justru seruan itu:

  • menegaskan substitusi,

  • menyatakan pengorbanan,

  • menunjukkan bahwa Ia sedang menanggung dosa kita.

3. Wahyu 3:12 – Yesus menyebut ‘Allah-Ku’ setelah kebangkitan

Ini sering dipakai untuk menyangkal keilahian Yesus.
Namun teologi Reformed menegaskan bahwa:

Yesus dalam kebangkitan-nya tetap adalah Mesias—Pribadi yang telah dimuliakan namun masih memiliki natur manusia sepenuhnya.

Herman Bavinck menulis:

“Natur manusia Kristus tidak lenyap setelah kematian dan kebangkitan; Ia tetap manusia, tetap Hamba Allah, namun dalam kemuliaan.”

Karena itu:

  • Sebagai Allah → Ia tidak punya Tuhan.

  • Sebagai manusia mulia → Ia tetap menyebut Allah sebagai Tuhannya.

Ini bukan pengurangan keilahian, tetapi kesempurnaan inkarnasi.

4. Yohanes 14:28 – “Bapa lebih besar daripada Aku”

Teologi Reformed menjelaskan:

  • Sebagai Allah → Yesus sama dengan Bapa (Yohanes 1:1; Yohanes 10:30; Yohanes 5:18).

  • Sebagai manusia → Ia lebih kecil dari Bapa.

Ini disebut subordinasi fungsional (dalam misi), bukan subordinasi esensi.

Owen menegaskan:

“Perbedaan fungsi bukan perbedaan natur.”

IV. YESUS TETAP 100% ALLAH MENURUT TEOLOGI REFORMED

1. Yesus disebut Allah secara eksplisit

  • Yohanes 1:1

  • Yohanes 20:28

  • Titus 2:13

  • Ibrani 1:8

  • 1 Yohanes 5:20

Bahkan Allah Bapa berkata kepada Anak:

“Takhta-Mu, ya Allah…” (Ibrani 1:8)

Ini mustahil jika Yesus bukan Allah.

2. Yesus menerima penyembahan

Hanya Allah yang layak disembah (Matius 4:10), namun Yesus:

  • disembah para murid (Matius 14:33, 28:17)

  • disembah oleh malaikat (Ibrani 1:6)

  • menerima penyembahan Thomas (Yohanes 20:28)

Teolog Reformed B.B. Warfield berkata:

“Jika Yesus bukan Allah, penyembahan terhadap-Nya adalah penyembahan berhala; tetapi Perjanjian Baru memerintahkan kita untuk menyembah Dia.”

3. Yesus melakukan karya-karya Allah

  • mengampuni dosa (Markus 2:7–12)

  • menciptakan (Kolose 1:16; Yohanes 1:3)

  • memelihara alam semesta (Ibrani 1:3)

  • membangkitkan orang mati (Yoh 11)

  • menghakimi dunia (Matius 25:31–46)

Ini adalah atribut Allah semata.

4. Yesus memiliki kesetaraan dengan Bapa

Yohanes 5:23 berkata:

“Supaya semua orang menghormati Anak sama seperti menghormati Bapa.”

Ini bukan relasi ciptaan–Pencipta, tetapi:

relasi Allah Anak dengan Allah Bapa.

V. PERSPEKTIF TEOLOG REFORMED SECARA LEBIH DALAM

John Calvin

Calvin menjelaskan:

“Ketika Yesus menyebut Allah sebagai Tuhan-Nya, Ia berbicara sebagai manusia. Natur manusia-Nya selalu mengambil posisi tunduk.”

Namun Calvin juga menegaskan:

“Kristus adalah Allah dari kekekalan. Tidak ada waktu ketika Ia tidak ada.”

Herman Bavinck

Bavinck membahas “dua kesadaran Kristus”:

  • kesadaran ilahi,

  • kesadaran manusia.

Ia berkata:

“Kristus tidak kehilangan keilahian-Nya saat Ia menyebut Allah sebagai Tuhannya. Itu adalah ekspresi dari natur manusia-Nya.”

B.B. Warfield

Warfield melihat ayat-ayat ini sebagai harmoni antara:

Kristus yang rendah hati dalam inkarnasi
dan
Kristus yang ditinggikan dalam keilahian.

Ia menulis:

“Kristus memiliki relasi manusiawi kepada Allah, namun Ia tetap Allah yang menyatakan diri.”

John Owen

Owen menulis panjang lebar tentang Kristus sebagai:

  • Allah sejati,

  • manusia sejati,

  • hamba sejati Allah.

Menurut Owen:

“Yesus memiliki Tuhan dalam kapasitas sebagai Hamba Allah yang sempurna, bukan sebagai Allah Kekal.”

Louis Berkhof

Berkhof menegaskan:

“Ungkapan ‘Allah-Ku’ yang diucapkan Yesus tidak menyangkut keilahian-Nya; itu menyangkut kemanusiaan-Nya.”

VI. MENJAWAB PERTANYAAN: “APAKAH YESUS PUNYA TUHAN?”

Berdasarkan eksposisi ayat dan teologi Reformed, jawabannya adalah:

1. Sebagai Allah – Tidak, Yesus Tidak Punya Tuhan

Dalam natur Ilahi-Nya:

  • Ia adalah Allah sejati,

  • sehakikat dengan Bapa,

  • kekal, tidak diciptakan,

  • sumber kehidupan.

Allah tidak punya Tuhan.

2. Sebagai manusia – Ya, Yesus menyebut Allah sebagai Tuhannya

Karena Ia menjadi manusia sejati:

  • Ia berdoa,

  • taat kepada Bapa,

  • bergantung pada Allah,

  • menggenapi peran Mesias.

Ini tidak membatalkan keilahian-Nya.

3. Sebagai Mesias – Ia adalah Hamba yang taat kepada Allah

Dalam misi keselamatan, Yesus menjalankan posisi kehambaan.

Karena itu dalam posisi fungsional:

Yesus memiliki Tuhan
tetapi dalam esensi:
Yesus adalah Tuhan

VII. APLIKASI PRAKTIS BAGI ORANG PERCAYA

1. Inkarnasi menunjukkan kerendahan hati Kristus

Allah mau turun menjadi manusia:

  • merasakan kelemahan,

  • mengalami penderitaan,

  • tunduk sebagai hamba.

Ini teladan kerendahan hati bagi kita.

2. Yesus sebagai manusia memberi teladan doa dan ketaatan

Jika Yesus berdoa dan bergantung kepada Allah,
maka kita harus lebih lagi.

3. Kita memiliki Juru Selamat yang memahami kelemahan kita

Ibrani 4:15:
Ia mengalami seperti kita, namun tidak berdosa.

Maka kita dapat datang kepada-Nya dengan percaya.

4. Keilahian Yesus memberi kepastian keselamatan

Karena Yesus adalah Allah:

  • kematian-Nya cukup untuk menebus,

  • kebangkitan-Nya pasti,

  • keselamatan kita kokoh.

KESIMPULAN BESAR: DUA NATUR, SATU PRIBADI

Pertanyaan “Apakah Yesus punya Tuhan?” dijawab dengan tegas oleh teologi Reformed:

1. Dalam natur Ilahi-Nya → Tidak, Yesus tidak punya Tuhan

Karena Ia adalah:

  • Allah dari Allah,

  • Terang dari Terang,

  • Allah benar dari Allah benar.

2. Dalam natur manusia-Nya → Ya, Yesus menyebut Allah sebagai Tuhan-Nya

Karena Ia:

  • menjadi hamba,

  • menjadi manusia sejati,

  • menjalani ketaatan sempurna.

3. Sebagai Mesias → Ia tunduk kepada Allah Bapa dalam fungsional, bukan dalam esensi

Oleh karena itu, ayat-ayat yang menyebut Yesus punya Tuhan:

  • bukan membuktikan Yesus bukan Allah,

  • melainkan membuktikan bahwa Sang Allah benar-benar menjadi manusia.

Dan ini adalah inti Injil:

Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia.

Soli Deo Gloria.

Next Post Previous Post