Kejadian 10:1–5: Asal-usul Bangsa-bangsa dan Rencana Allah yang Kekal

Kejadian 10:1–5: Asal-usul Bangsa-bangsa dan Rencana Allah yang Kekal

1. Pendahuluan: “Tabel Bangsa-bangsa” Sebagai Cermin Rencana Allah

Pasal 10 Kitab Kejadian sering disebut sebagai “Tabel Bangsa-bangsa” (Table of Nations), karena di dalamnya dicatat asal-usul berbagai bangsa yang muncul setelah peristiwa air bah. Bagi pembaca modern, daftar nama-nama ini mungkin tampak seperti catatan genealogis yang kering, tetapi bagi teologi biblika, pasal ini merupakan jembatan antara sejarah keselamatan dan sejarah manusia secara umum.

Kejadian 10:1–5 membuka daftar keturunan Nuh, khususnya keturunan Yafet, salah satu dari tiga anak Nuh: Sem, Ham, dan Yafet. Melalui mereka, dunia pasca-air bah dipenuhi kembali. Namun, di balik daftar nama ini tersembunyi rencana providensial Allah, yang tidak hanya berhubungan dengan sejarah etnis, tetapi juga dengan penebusan universal yang kelak digenapi dalam Kristus.

John Calvin menyebut pasal ini “peta ilahi bangsa-bangsa,” di mana setiap nama bukan sekadar catatan historis, melainkan penegasan bahwa Allah berdaulat atas sejarah umat manusia.

2. Konteks Historis dan Teologis: Dunia Pasca-Air Bah

Setelah air bah, dunia memasuki era baru. Air bah telah menghapus generasi manusia yang jahat (Kejadian 6:5–7), dan Allah memulai kembali sejarah manusia melalui keluarga Nuh. Dalam Kejadian 9:1, Allah memerintahkan:

“Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.”

Kejadian 10 menunjukkan penggenapan awal dari perintah itu. Keturunan Nuh berkembang menjadi berbagai bangsa yang menempati wilayah-wilayah yang berbeda.

Namun, ini bukan sekadar catatan genealogis. Di baliknya, Allah sedang menata panggung dunia untuk rencana keselamatan universal yang akan datang melalui keturunan Sem—yaitu Abraham, Israel, dan akhirnya Yesus Kristus.

3. Analisis Teks dan Eksposisi Ayat

a. Kejadian 10:1: “Inilah keturunan Sem, Ham, dan Yafet, anak-anak Nuh.”

Ayat ini membuka seluruh bagian dengan formula khas kitab Kejadian: “Inilah keturunan (Toledot)...” Formula ini muncul berulang kali dalam kitab Kejadian untuk menandai permulaan bagian sejarah baru (bdk. Kejadian 2:4; 5:1; 11:10).

Tiga anak Nuh menjadi nenek moyang seluruh umat manusia. Ini menegaskan kesatuan ras manusia—bahwa seluruh umat manusia berasal dari satu sumber yang sama.
Teologi Reformed melihat hal ini sebagai dasar bagi doktrin “persaudaraan universal manusia”, sekaligus sebagai dasar untuk memahami dosa asal dan penebusan universal dalam Kristus.

Matthew Henry berkomentar:

“Walau manusia tersebar dan berbeda bangsa, mereka semua berasal dari satu darah yang sama; dengan demikian, Allah tetap menjadi Tuhan atas semua bangsa.”

b. Kejadian 10:2: “Keturunan Yafet adalah Gomer, Magog, Madai, Yawan, Tubal, Mesekh, dan Tiras.”

Ayat ini memulai daftar keturunan Yafet, yang secara geografis menempati wilayah utara dan barat dari Timur Tengah kuno, termasuk Eropa dan sebagian Asia Kecil.

  • Gomer diyakini menjadi nenek moyang bangsa Kimmeria di sekitar Laut Hitam.

  • Magog sering dihubungkan dengan bangsa-bangsa Skitia (daerah utara Laut Kaspia).

  • Madai menunjuk pada bangsa Media (Iran).

  • Yawan mewakili bangsa Yunani (Ionia).

  • Tubal dan Mesekh dikaitkan dengan wilayah Anatolia.

  • Tiras kemungkinan besar menunjuk pada bangsa Thracia di Eropa tenggara.

Daftar ini bukan hanya peta etnografis, tetapi gambaran tentang penyebaran budaya dan bahasa setelah air bah.

c. Kejadian 10:3: “Keturunan Gomer adalah Askenas, Rifat, dan Togarma.”

  • Askenas sering dihubungkan dengan bangsa Askenazi di Eropa Timur (yang kelak menjadi istilah bagi Yahudi Eropa).

  • Rifat mungkin menunjuk pada bangsa di daerah Anatolia.

  • Togarma dihubungkan dengan daerah Armenia atau bagian timur Turki modern.

Ayat ini menunjukkan bahwa dari satu garis keluarga saja, muncul berbagai bangsa yang tersebar ke seluruh penjuru, menandakan keanekaragaman manusia yang dikehendaki Allah.

d. Kejadian 10:4: “Keturunan Yawan adalah Elisa, Tarsis, Kitim, dan Dodanim.”

Keturunan Yawan (Ionia/Yunani) menunjukkan ekspansi ke arah barat:

  • Elisa dikaitkan dengan bangsa Yunani di Eolis.

  • Tarsis sering diasosiasikan dengan Spanyol (Tartessos) — tempat yang jauh di barat dalam pandangan orang Timur Tengah kuno.

  • Kitim menunjuk pada Siprus.

  • Dodanim (Rodanim) kemungkinan besar adalah penduduk pulau Rodos.

Dengan demikian, ayat ini melukiskan ekspansi bangsa-bangsa pesisir Laut Tengah.

Menarik bahwa istilah “pesisir” atau “pulau-pulau” (ay. 5) sering digunakan dalam nubuat PL untuk menunjuk bangsa-bangsa non-Yahudi. Dengan kata lain, sejak awal, bangsa-bangsa pesisir ini telah termasuk dalam lingkup perhatian Allah.

e. Kejadian 10:5: “Dari merekalah tersebar bangsa-bangsa daerah pesisir...”

Inilah puncak dari bagian ini: penyebaran bangsa-bangsa sesuai dengan bahasa, keluarga, dan wilayahnya.

Frasa “menurut bahasa mereka” menunjukkan bahwa peristiwa Menara Babel (Kej. 11) sudah diketahui oleh penulis, tetapi di sini diceritakan secara tematik, bukan kronologis.
Kejadian 10 menggambarkan “hasil akhirnya”—penyebaran bangsa-bangsa—sementara Kejadian 11 menjelaskan “penyebabnya”—yaitu pengacauan bahasa oleh Allah.

4. Makna Teologis dari “Tabel Bangsa-bangsa”

a. Kesatuan Asal-usul Manusia

Semua bangsa berasal dari tiga anak Nuh, menegaskan bahwa manusia memiliki satu asal dan satu tujuan. Dalam teologi Reformed, ini menjadi dasar bagi doktrin imago Dei (gambar Allah) yang universal.

Herman Bavinck menulis:

“Asal yang satu berarti bahwa semua bangsa, betapa pun berbeda, tetap memantulkan satu gambar Allah yang sama. Tidak ada ruang bagi rasisme teologis.”

b. Kedaulatan Allah atas Sejarah dan Bangsa-bangsa

Kejadian 10 menunjukkan bahwa sejarah manusia tidak acak. Allah mengatur bangsa-bangsa, menetapkan batas-batas dan waktu mereka (lih. Kisah Para Rasul 17:26).
Setiap nama dalam daftar ini adalah bagian dari tatanan providensial Allah.

John Calvin menulis:

“Tidak ada satu pun bangsa yang lahir di luar pengetahuan dan kendali Allah; bahkan perbedaan mereka adalah rancangan hikmat-Nya.”

c. Rencana Penebusan Universal

Meskipun bangsa-bangsa ini tersebar, Allah tetap menyiapkan rencana keselamatan yang bersifat universal.
Keturunan Yafet, Ham, dan Sem kelak akan disatukan kembali dalam Kristus. Dalam Kejadian 9:27, Nuh bernubuat:

“Allah akan meluaskan tempat kediaman Yafet, dan ia akan tinggal di kemah Sem.”

Ini adalah nubuat awal tentang masuknya bangsa-bangsa (Yafet) ke dalam berkat Sem (Israel) melalui Injil Kristus.

5. Pendapat Para Teolog Reformed

a. John Calvin

Dalam Commentaries on Genesis, Calvin menulis:

“Pasal ini bukan sekadar silsilah, melainkan pengajaran bahwa penyebaran bangsa-bangsa terjadi bukan karena kebetulan, tetapi karena ketetapan Allah. Nama-nama yang tercatat di sini adalah saksi dari kedaulatan Allah dalam mengatur sejarah dunia.”

Calvin juga menegaskan bahwa Kejadian 10 adalah pengingat bahwa setiap bangsa, betapa pun besar atau kecil, berada di bawah pemerintahan Allah yang sama.

b. Matthew Henry

Henry menulis:

“Allah yang sama yang menghukum dunia dengan air bah, kini mengisinya kembali dengan bangsa-bangsa. Dari satu keluarga, Ia menjadikan banyak bangsa, untuk menunjukkan kuasa-Nya memelihara dan mengatur dunia.”

Ia menekankan bahwa penyebaran bangsa-bangsa bukan bentuk kekacauan, melainkan penggenapan janji Allah kepada Nuh bahwa bumi akan dipenuhi kembali.

c. Herman Bavinck

Dalam Reformed Dogmatics, Bavinck menyebut pasal ini sebagai “fondasi bagi teologi umum umat manusia.” Ia menulis:

“Tabel bangsa-bangsa di Kejadian 10 adalah dokumen kemanusiaan tertua yang menunjukkan bahwa Allah tidak hanya adalah Tuhan Israel, tetapi juga Tuhan seluruh bumi.”

d. Louis Berkhof

Berkhof memandang Kejadian 10 sebagai bukti doktrin providence (pemeliharaan Allah):

“Perkembangan sejarah, migrasi, dan pembentukan bangsa-bangsa adalah hasil dari pemerintahan Allah yang berdaulat. Tidak ada kebetulan dalam geografi atau sejarah umat manusia.”

e. R.C. Sproul

Sproul dalam salah satu kuliahnya tentang Kejadian berkata:

“Kejadian 10 menunjukkan bahwa Allah bekerja dalam sejarah politik dan etnis manusia, bukan hanya dalam konteks rohani. Kerajaan Allah meliputi seluruh ciptaan dan seluruh umat manusia.”

6. Aplikasi Teologi Reformed

a. Kedaulatan Allah dalam Sejarah Dunia

Bangsa-bangsa tidak muncul secara acak; Allah yang menetapkannya. Ini memberi makna bagi sejarah manusia modern—bahwa geopolitik, bahasa, dan budaya semuanya ada dalam kendali Allah.

b. Kesetaraan Manusia di Hadapan Allah

Karena semua bangsa berasal dari satu keluarga, tidak ada tempat bagi rasisme atau superioritas etnis.
Teologi Reformed memandang bahwa semua manusia sama-sama berdosa dan sama-sama membutuhkan kasih karunia Kristus.

c. Tanggung Jawab Gereja terhadap Misi Global

Pasal ini menegaskan cakupan universal dari misi Allah. Gereja tidak boleh eksklusif terhadap satu etnis atau bangsa tertentu.
Kisah Para Rasul 2 (Pentakosta) adalah penggenapan rohani dari Kejadian 10: berbagai bahasa disatukan kembali di bawah kuasa Roh Kudus.

7. Keterkaitan dengan Perjanjian Baru

Kejadian 10:1–5 menjadi dasar bagi pengajaran Perjanjian Baru tentang misi kepada segala bangsa.

  • Matius 28:19: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.”

  • Kisah 17:26: “Dari satu orang saja Allah telah menjadikan semua bangsa manusia.”

  • Wahyu 7:9: “Dari setiap bangsa, suku, kaum, dan bahasa berdiri di hadapan takhta Allah.”

Apa yang dimulai sebagai penyebaran di Kejadian 10 akan berakhir dengan penyatuan dalam Kristus di Wahyu 7.

8. Struktur Klasik “Table of Nations” dan Signifikansinya

Anak NuhWilayah UtamaMakna Teologis
YafetUtara & Barat (Eropa, Laut Tengah)Gambaran bangsa-bangsa kafir yang akan masuk ke dalam berkat Sem
HamSelatan (Afrika, Kanaan, Mesir)Gambaran bangsa yang kuat namun sering melawan Allah
SemTimur (Mesopotamia, Arab, Israel)Garis keturunan Mesias

Dengan demikian, Kejadian 10 bukan hanya silsilah biologis, melainkan peta misi Allah yang menunjukkan bahwa dari satu keluarga kecil, seluruh bumi akan dipenuhi dengan bangsa-bangsa yang kelak akan mendengar kabar Injil.

9. Dimensi Hermeneutik: Antara Sejarah dan Wahyu

Para sarjana Reformed memahami bahwa Kejadian 10 tidak boleh dibaca sekadar sebagai teks sejarah, melainkan sebagai wahyu teologis.

  • Secara sejarah, teks ini menggambarkan perkembangan bangsa-bangsa awal dunia.

  • Secara teologis, teks ini menegaskan rencana Allah untuk memerintah seluruh bumi melalui keturunan Nuh, dan akhirnya melalui keturunan Abraham.

Geerhardus Vos dalam Biblical Theology menulis:

“Tabel bangsa-bangsa adalah jembatan antara penciptaan dan penebusan. Di dalamnya kita melihat bahwa Allah yang menciptakan dunia juga menebus dunia.”

10. Implikasi Etis dan Praktis

a. Rendah Hati dalam Perbedaan Budaya

Kejadian 10 menunjukkan bahwa keberagaman budaya adalah bagian dari rancangan Allah. Orang percaya harus menghargai perbedaan tanpa kehilangan identitas dalam Kristus.

b. Kesatuan dalam Misi

Bangsa-bangsa berbeda dalam bahasa dan budaya, tetapi gereja dipanggil untuk satu tujuan—mewartakan Injil kepada semua. Perbedaan bukan penghalang, melainkan sarana kemuliaan Allah.

c. Pengakuan akan Kedaulatan Allah

Di tengah gejolak bangsa-bangsa di dunia modern, orang percaya diingatkan bahwa Allah yang sama yang menetapkan bangsa-bangsa di Kejadian 10 tetap berdaulat atas sejarah dunia sekarang.

11. Kejadian 10 dan Pengharapan Eskatologis

Pasal ini menatap ke depan menuju pemulihan ciptaan. Setelah penyebaran bangsa-bangsa (Kej. 10–11), Allah memulai rencana penebusan melalui Abraham (Kej. 12).

Tujuan akhir dari sejarah bangsa-bangsa bukan perpecahan, melainkan penyatuan dalam Kristus. Dalam eskatologi Reformed, bangsa-bangsa akan dibawa masuk ke dalam kerajaan Allah, sebagaimana dinyatakan dalam Wahyu 21:24:

“Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam terang-Nya, dan raja-raja di bumi membawa kemuliaan mereka kepadanya.”

12. Kesimpulan: Allah yang Sama, Bangsa-bangsa yang Berbeda

Kejadian 10:1–5 bukan sekadar daftar nama kuno, tetapi pernyataan iman tentang Allah yang berdaulat atas seluruh umat manusia.

Melalui keturunan Yafet, Sem, dan Ham, Allah menata sejarah manusia menuju satu tujuan besar: pemulihan dan penyatuan seluruh bangsa di bawah pemerintahan Kristus.

Apa yang tampak sebagai catatan genealogis ternyata adalah peta kasih karunia Allah, di mana setiap nama, setiap bahasa, dan setiap bangsa memiliki tempat dalam rencana kekekalan-Nya.

Seperti ditulis oleh Calvin:

“Di dalam daftar nama ini, kita menemukan bukan hanya sejarah, tetapi juga injil—karena dari bangsa-bangsa inilah Allah akan memanggil umat-Nya dari segala penjuru bumi.”

Next Post Previous Post