Kepentingan Besar Orang Kristen

Kepentingan Besar Orang Kristen

I. Pendahuluan: Pencarian Terbesar dalam Hidup Kristen

William Guthrie membuka karya klasiknya, The Christian’s Great Interest, dengan pertanyaan yang menggugah:

“Apakah aku benar-benar berada di dalam Kristus, dan apakah Kristus benar-benar berada di dalam aku?”

Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi moral, tetapi inti dari kehidupan Kristen itu sendiri. Guthrie menggunakan istilah “great interest” — kepentingan besar — untuk menunjuk pada hal yang paling penting dan mendesak bagi setiap manusia: apakah aku benar-benar diselamatkan?

Dalam zaman modern yang penuh dengan formalitas agama dan moralitas dangkal, pertanyaan ini menjadi semakin relevan. Banyak orang menyebut diri Kristen, namun tidak semuanya benar-benar hidup dalam Kristus. Guthrie menulis di tengah konteks Skotlandia abad ke-17 yang penuh kekacauan politik dan rohani, tetapi pesannya melampaui zamannya: “Keyakinan akan keselamatan bukan kemewahan rohani, tetapi kebutuhan rohani.”

II. Landasan Biblika: Panggilan untuk Menguji Diri

1. 2 Korintus 13:5 (AYT):

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu hidup dalam iman; selidikilah dirimu! Ataukah kamu tidak mengenal dirimu sendiri, bahwa Kristus Yesus ada di dalam kamu? Sebab, jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”

Ayat ini adalah pusat dari seluruh argumen Guthrie. Paulus menulis kepada jemaat Korintus yang penuh dengan karunia rohani, tetapi juga sarat dengan kemunafikan dan dosa tersembunyi. Ia tidak meminta mereka untuk menguji orang lain, tetapi mengujilah diri sendiri.

Kata Yunani peirazō berarti “menguji dengan maksud menemukan kebenaran yang sejati.” Dalam konteks iman, ini berarti pemeriksaan rohani mendalam terhadap hubungan kita dengan Kristus.

John Calvin dalam Commentary on 2 Corinthians menulis:

“Pemeriksaan diri bukan untuk membuat kita putus asa, tetapi agar kita dapat menemukan bukti bahwa Kristus sungguh bekerja di dalam kita.”

Teologi Reformed menegaskan bahwa iman sejati bukan sekadar pengakuan bibir, melainkan kesatuan hidup dengan Kristus yang menghasilkan buah nyata.

2. Yohanes 3:16 (AYT):

“Karena begitu besar kasih Allah kepada dunia ini sehingga Ia telah memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Ayat ini adalah fondasi keselamatan universal. Guthrie menegaskan bahwa kepastian keselamatan bukan didasarkan pada pengalaman mistik, tetapi pada janji objektif Allah dalam Injil.

Percaya kepada Kristus berarti menerima-Nya dengan hati yang sepenuhnya bersandar kepada kasih karunia-Nya. Iman sejati bukan sekadar pengetahuan intelektual, tetapi kepercayaan pribadi yang total kepada Kristus sebagai Juruselamat.

Thomas Watson, dalam A Body of Divinity, menulis:

“Iman sejati bukan hanya mengenal Kristus, tetapi juga memeluk-Nya; bukan hanya mendengar janji-Nya, tetapi mempercayakan seluruh hidup kepada janji itu.”

3. 1 Yohanes 5:13 (AYT):

“Semua hal ini kutuliskan kepada kamu yang percaya kepada nama Anak Allah supaya kamu tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”

Guthrie menekankan bahwa iman dan kepastian adalah dua hal yang berbeda, tetapi berhubungan erat.

  • Iman sejati menempatkan kita di dalam Kristus.

  • Kepastian iman memberi kita sukacita dalam Kristus.

Tujuan tulisan Rasul Yohanes adalah agar orang percaya “tahu” bahwa mereka memiliki hidup kekal — bukan sekadar berharap samar-samar.

R.C. Sproul menegaskan:

“Kepastian keselamatan bukan kesombongan rohani, tetapi bagian dari iman yang matang. Keraguan yang terus-menerus bukanlah tanda kerendahan hati, melainkan kurangnya pengertian akan janji Allah.”

III. Dua Pertanyaan Besar Menurut William Guthrie

Dalam The Christian’s Great Interest, Guthrie menyusun pembahasan teologinya berdasarkan dua pertanyaan utama:

  1. Bagaimana seseorang dapat menjadi orang Kristen sejati?

  2. Bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa ia adalah orang Kristen sejati?

Kedua pertanyaan ini membentuk dua pilar dalam doktrin keselamatan Reformed:

  • Pembenaran oleh iman (Justification)

  • Jaminan keselamatan (Assurance)

Mari kita bahas keduanya secara ekspositoris dan sistematis.

IV. Bagaimana Seseorang Menjadi Orang Kristen Sejati?

1. Iman yang menyelamatkan: dasar objektif keselamatan

Karya penebusan Kristus di salib adalah dasar objektif keselamatan. Guthrie mengingatkan bahwa keselamatan tidak dimulai dari pengalaman manusia, melainkan dari karya Allah.

Yesus berkata dalam Yohanes 6:44:

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa yang mengutus Aku tidak menarik dia.”

Dengan demikian, iman adalah anugerah ilahi (Efesus 2:8–9). Teologi Reformed menolak pandangan bahwa manusia dapat “memutuskan” untuk percaya dengan kekuatannya sendiri. Iman sejati lahir dari kelahiran baru oleh Roh Kudus.

Herman Bavinck menulis:

“Iman bukan hasil kehendak bebas manusia, melainkan respons hidup yang dihasilkan oleh Roh Kudus yang memperbarui hati.”

2. Pertobatan sejati: perubahan arah hidup

Iman sejati selalu disertai pertobatan sejati (repentance unto life). Guthrie menekankan bahwa tidak ada keselamatan tanpa pertobatan.

Pertobatan bukan sekadar penyesalan emosional, tetapi perubahan pikiran, hati, dan kehendak yang radikal terhadap dosa.

Thomas Watson berkata:

“Air mata penyesalan bukan pertobatan sejati jika hati masih mencintai dosa.”

Dalam konteks Reformed, pertobatan dan iman adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Kita berpaling dari dosa karena kita berpaling kepada Kristus.

3. Penerimaan Kristus secara pribadi

Guthrie menulis dengan sangat indah:

“Keselamatan bukan hanya bagi mereka yang percaya bahwa Kristus dapat menyelamatkan, tetapi bagi mereka yang menerima Dia untuk menyelamatkan diri mereka.”

Ini menegaskan aspek pribadi dari iman.
Mengenal Kristus bukan cukup melalui pengakuan rasional bahwa Ia ada, tetapi menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

John Calvin menggambarkan iman sebagai:

“Pengetahuan yang pasti dan teguh tentang kebaikan Allah yang disediakan bagi kita di dalam Kristus, yang dinyatakan kepada pikiran kita dan dimeteraikan dalam hati kita oleh Roh Kudus.”

V. Bagaimana Seseorang Dapat Tahu Bahwa Ia Adalah Orang Kristen Sejati?

1. Kesaksian internal Roh Kudus

Roma 8:16 berkata:

“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”

Guthrie menyebut ini sebagai “suara lembut dari surga” yang menguatkan hati orang percaya.
Namun, ia juga menegaskan bahwa kesaksian ini tidak selalu bersifat emosional, melainkan dapat berupa keyakinan batin yang konsisten terhadap kebenaran Injil.

Louis Berkhof menulis:

“Roh Kudus tidak memberikan wahyu baru, tetapi meneguhkan hati kita terhadap janji-janji Allah yang sudah dinyatakan dalam Firman.”

2. Buah iman dalam kehidupan sehari-hari

Yesus berkata dalam Matius 7:20:

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.”

Guthrie menguraikan bahwa tanda iman sejati bukan terletak pada pengalaman spektakuler, tetapi pada buah rohani yang konsisten.
Buah itu mencakup:

  • Kasih akan Firman Tuhan

  • Ketaatan yang tulus, bukan formalitas

  • Kebencian terhadap dosa

  • Kasih kepada sesama percaya

  • Sukacita dalam doa dan ibadah

Thomas Boston, teolog Reformed Skotlandia, menambahkan:

“Tanda paling pasti dari kelahiran baru bukan kehangatan perasaan, tetapi kebiasaan hidup yang berubah.”

3. Ketekunan dalam iman hingga akhir

Kepastian keselamatan juga tampak dari ketekunan iman (perseverance of the saints).
Teologi Reformed menegaskan bahwa mereka yang benar-benar diselamatkan akan tetap setia hingga akhir, bukan karena kekuatan mereka sendiri, tetapi karena pemeliharaan Allah.

Filipi 1:6 berkata:

“Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu akan meneruskannya sampai pada hari Kristus Yesus.”

R.C. Sproul menulis:

“Ketekunan bukan usaha mempertahankan keselamatan, melainkan bukti bahwa keselamatan itu nyata dan dikerjakan oleh Allah.”

VI. Tanda-Tanda Iman Palsu

Guthrie juga memperingatkan tentang bahaya keyakinan palsu.
Ada banyak orang yang merasa aman secara rohani, padahal hidupnya jauh dari Kristus. Ia mengidentifikasi beberapa tanda bahaya:

  1. Percaya tanpa pertobatan.
    Mereka percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat, tetapi tidak pernah meninggalkan dosa.

  2. Moralitas tanpa kasih karunia.
    Mereka hidup baik di mata manusia, tetapi tanpa kasih kepada Allah.

  3. Emosi religius tanpa ketaatan.
    Mereka menangis dalam ibadah, tetapi hidupnya tidak berubah.

  4. Pengetahuan teologis tanpa kehidupan rohani.
    Mereka tahu tentang Allah, tetapi tidak mengenal Allah secara pribadi.

John Owen memperingatkan:

“Ada banyak orang yang mengenal doktrin tentang keselamatan, tetapi tidak pernah mengenal kuasa keselamatan itu di dalam diri mereka.”

VII. Kepastian Keselamatan: Antara Janji dan Pengalaman

Guthrie menulis dengan keseimbangan yang luar biasa antara objektivitas janji Injil dan subjektivitas pengalaman iman.
Ia menegaskan bahwa jaminan keselamatan tidak pernah berdiri di atas perasaan kita, tetapi di atas firman dan karya Kristus yang sudah selesai.

Namun, pengalaman rohani tetap memiliki tempat penting. Roh Kudus membawa janji itu ke dalam hati orang percaya sehingga mereka dapat berkata seperti Paulus:

“Aku tahu kepada siapa aku percaya” (2 Timotius 1:12).

Herman Bavinck menulis:

“Iman yang sejati selalu memiliki elemen kepastian karena Allah yang menjadi objeknya tidak berubah. Namun, kesadaran akan kepastian itu bisa naik dan turun seiring dengan kondisi rohani manusia.”

VIII. Peranan Roh Kudus dalam Meneguhkan Hati Orang Percaya

Roh Kudus adalah sumber, penggerak, dan penjamin iman. Ia bukan hanya membangkitkan iman di awal, tetapi juga meneguhkan iman itu sampai akhir.

Efesus 1:13–14 berkata:

“Kamu dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan itu. Ia adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya.”

Guthrie menyebut Roh Kudus sebagai “meterai surgawi” atas janji keselamatan.
Tanpa karya Roh Kudus, iman hanya menjadi pengetahuan kosong. Tetapi dengan Roh Kudus, iman menjadi kehidupan baru.

Jonathan Edwards, meskipun bukan sezaman dengan Guthrie, memiliki pandangan serupa:

“Roh Kuduslah yang mengubah iman dari teori menjadi pengalaman yang hidup.”

IX. Bahaya Ekstrem: Putus Asa dan Keangkuhan

Guthrie memperingatkan dua ekstrem yang harus dihindari dalam mencari kepastian keselamatan:

  1. Putus asa rohani (spiritual despair):
    Mereka yang terlalu fokus pada dosa dan merasa tidak layak diselamatkan.
    Guthrie menasihati mereka untuk melihat kepada salib, bukan kepada diri sendiri.

    Ia menulis:

    “Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi darah Kristus, tetapi banyak orang yang terlalu besar dalam pandangan diri mereka untuk menerima pengampunan itu.”

  2. Keangkuhan rohani (false confidence):
    Mereka yang merasa pasti diselamatkan tanpa bukti kehidupan baru.
    Guthrie memperingatkan bahwa kepastian tanpa kekudusan adalah ilusi setan.

John Calvin berkata:

“Keyakinan sejati lahir dari kerendahan hati; keyakinan palsu lahir dari kesombongan hati.”

X. Aplikasi Praktis bagi Orang Percaya Masa Kini

1. Periksa diri dengan rendah hati.

Ujian iman bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memurnikan.
Ketika kita menemukan kelemahan, kita diundang untuk kembali kepada Kristus.

2. Bangun keyakinan di atas janji, bukan perasaan.

Keselamatan tidak bergantung pada keadaan emosional, tetapi pada kebenaran objektif salib Kristus.

3. Pelihara kehidupan rohani melalui disiplin kasih karunia.

Doa, Firman, persekutuan, dan sakramen adalah sarana Allah untuk meneguhkan iman kita.

4. Jadilah saksi kasih karunia.

Kepastian keselamatan bukan hanya untuk ketenangan pribadi, tetapi agar kita menjadi alat kesaksian bagi dunia.

XI. Kesimpulan: “Kepastian yang Memuliakan Allah”

The Christian’s Great Interest adalah panggilan bagi setiap orang percaya untuk menemukan Kristus, mengenal Kristus, dan yakin akan Kristus.

William Guthrie menutup bukunya dengan kalimat penuh harapan:

“Mereka yang berpegang pada Kristus tidak akan pernah ditolak; tangan-Nya yang kuat akan memeluk mereka sampai akhir.”

Keselamatan bukanlah lotre rohani. Allah ingin umat-Nya tahu bahwa mereka milik-Nya.
Sebagaimana 1 Yohanes 5:13 menyatakan, tujuan iman bukan hanya hidup kekal, tetapi keyakinan akan hidup kekal itu.

Penutup Teologis

Dalam terang teologi Reformed, “Kepentingan Besar Orang Kristen” mencakup dua realitas yang tak terpisahkan:

  • Objektivitas Injil — karya penebusan Kristus yang sempurna dan cukup.

  • Subjektivitas iman — pengalaman rohani yang nyata karena Roh Kudus.

Di antara keduanya, Allah memanggil kita untuk hidup dalam kepastian, bukan keraguan.
Sebab, sebagaimana R.C. Sproul katakan:

“Kepastian keselamatan adalah kemuliaan Injil — bukan karena kita setia, tetapi karena Kristus setia.”

Next Post Previous Post