Kisah Para Rasul 10:44–48: Roh Kudus, Baptisan, dan Kedaulatan Kasih Karunia Allah

Kisah Para Rasul 10:44–48 (AYT)
(44) Sementara Petrus masih mengucapkan kata-kata itu, Roh Kudus turun ke atas semua yang mendengarkan firman itu.
(45) Dan, orang-orang percaya yang bersunat, yang datang bersama Petrus, takjub karena karunia Roh Kudus telah dicurahkan, juga kepada bangsa-bangsa lain.
(46) Sebab, mereka mendengar orang-orang itu berbicara dalam berbagai bahasa dan memuliakan Allah. Lalu, Petrus berkata,
(47) “Bukankah tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi air untuk dibaptiskan kepada orang-orang yang sudah menerima Roh Kudus sama seperti kita ini?”
(48) Maka, Petrus memerintahkan mereka untuk dibaptis di dalam nama Kristus Yesus. Kemudian, orang-orang itu meminta supaya Petrus tinggal bersama mereka selama beberapa hari.
I. Pendahuluan: Sebuah Titik Balik dalam Sejarah Keselamatan
Perikop ini adalah salah satu titik balik paling monumental dalam sejarah keselamatan. Setelah berabad-abad Israel menjadi umat pilihan Allah secara etnis, sekarang Injil menembus batas ras, budaya, dan hukum Yahudi. Roh Kudus turun atas bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) yang mendengarkan firman yang diberitakan Petrus.
Dalam konteks naratif, ini adalah penggenapan langsung dari visi Petrus (Kis. 10:9–16) di mana Allah menyatakan bahwa apa yang telah Ia sucikan, manusia tidak boleh menyebutnya najis.
Peristiwa ini menandai awal resmi Gereja universal (ekklesia dari segala bangsa) dan menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang melampaui sekat manusia.
Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics:
“Kasih karunia Allah tidak terbatas oleh etnis atau kebudayaan. Kasih karunia itu bersifat katolik, yaitu universal dalam maksudnya dan personal dalam penerapannya.”
II. Kisah Para Rasul 10:44 — Roh Kudus Turun di Tengah Firman yang Diberitakan
“Sementara Petrus masih mengucapkan kata-kata itu, Roh Kudus turun ke atas semua yang mendengarkan firman itu.”
Perhatikan waktu dan cara turunnya Roh Kudus:
-
“Sementara Petrus masih berbicara” – belum selesai khotbahnya,
-
“Roh Kudus turun” – bukan karena emosi, bukan karena ritual, tetapi karena kuasa Firman Allah.
Ini menggambarkan prinsip utama dalam teologi Reformed:
Roh Kudus bekerja melalui Firman (Spiritus cum Verbo).
Louis Berkhof menulis dalam Systematic Theology:
“Roh Kudus tidak bekerja di luar Firman, melainkan melalui Firman. Roh Kudus menghidupkan Firman, dan Firman menjadi instrumen bagi kelahiran baru.”
1. Inisiatif Roh Kudus
Turunnya Roh Kudus bukan respons terhadap tindakan manusia, melainkan inisiatif Allah sendiri.
Ini menunjukkan kedaulatan kasih karunia Allah (sovereign grace) — Allah memilih kapan dan bagaimana Roh-Nya dicurahkan.
Dalam konteks Reformed, hal ini merupakan penggambaran dari regenerasi (kelahiran baru) — pekerjaan Allah yang sepenuhnya berasal dari atas, bukan hasil keputusan manusia.
R.C. Sproul berkata:
“Kelahiran baru bukan hasil keputusan kita untuk menerima Yesus, tetapi hasil keputusan Allah untuk menghidupkan kita.”
Jadi, ketika Roh Kudus turun di tengah firman, itu adalah bukti kedaulatan Allah dalam keselamatan.
2. Firman dan Roh tidak terpisahkan
Perikop ini juga menolak pandangan mistik yang memisahkan pengalaman Roh dari kebenaran Firman.
Roh Kudus tidak turun di tengah keheningan atau ritual, tetapi ketika Firman diberitakan.
John Calvin dalam Commentary on Acts menulis:
“Petrus belum selesai berbicara ketika Roh Kudus turun, agar kita tahu bahwa kuasa Injil bukan dari kefasihan manusia, tetapi dari Allah yang menghidupkan melalui Firman-Nya.”
III. Kisah Para Rasul 10:45 — Kekaguman Orang Yahudi: Kasih Karunia untuk Bangsa-Bangsa Lain
“Orang-orang percaya yang bersunat... takjub karena karunia Roh Kudus telah dicurahkan, juga kepada bangsa-bangsa lain.”
Kata “takjub” di sini (Yunani: existēmi, artinya “terheran-heran sampai kehilangan kata”) menggambarkan kejutan teologis dan kultural.
Orang-orang Yahudi Kristen (yang bersunat) datang dengan Petrus karena mereka masih berpikir keselamatan adalah milik eksklusif Israel. Tetapi sekarang, mereka melihat bangsa lain menerima Roh Kudus dengan cara yang sama seperti mereka di Pentakosta.
1. Allah mematahkan tembok pemisah
Ini adalah penggenapan langsung Efesus 2:14–16 — Kristus telah meruntuhkan tembok pemisah antara Yahudi dan non-Yahudi.
Herman Ridderbos dalam Paul: An Outline of His Theology menulis:
“Peristiwa Kornelius adalah bukti bahwa rencana keselamatan Allah bersifat kosmis; Kristus datang bukan untuk membentuk sekte Yahudi yang diperluas, tetapi umat baru dari segala bangsa.”
2. Anugerah tidak mengenal batas etnis
Bagi teologi Reformed, hal ini menegaskan bahwa pemilihan Allah (election) bersifat universal dalam jangkauan, tetapi partikular dalam penerapan.
Artinya, kasih karunia ditawarkan bagi semua bangsa, tetapi hanya mereka yang dipilih oleh Allah yang benar-benar menerimanya oleh iman.
John Calvin berkomentar:
“Allah menunjukkan bahwa Roh-Nya bukan milik bangsa tertentu, melainkan milik umat-Nya yang sejati di mana pun mereka berada.”
Dengan kata lain, peristiwa ini memperluas horizon Injil: keselamatan bukan hanya untuk ‘orang dalam’, tetapi untuk mereka yang dulu dianggap najis dan jauh.
IV. Kisah Para Rasul 10:46 — Bukti Turunnya Roh Kudus: Bahasa dan Pujian
“Sebab, mereka mendengar orang-orang itu berbicara dalam berbagai bahasa dan memuliakan Allah.”
Bukti turunnya Roh Kudus adalah manifestasi yang serupa dengan peristiwa Pentakosta (Kis. 2:4). Mereka berbicara dalam berbagai bahasa dan memuliakan Allah.
Namun, fokusnya bukan pada fenomena karismatik, melainkan pada pengakuan ilahi bahwa bangsa-bangsa lain kini diakui oleh Allah sebagai umat-Nya.
1. Bahasa sebagai tanda universalitas Injil
Pada Pentakosta, bahasa-bahasa yang berbeda menandai bahwa Injil menembus batas linguistik dunia.
Sekarang, pada rumah Kornelius, tanda yang sama menunjukkan bahwa Injil juga menembus batas etnis dan spiritual.
John Stott menulis dalam The Message of Acts:
“Pentakosta Yahudi terjadi di Yerusalem; Pentakosta bangsa-bangsa terjadi di Kaisarea. Roh yang sama, tanda yang sama, keselamatan yang sama.”
2. Tujuan Roh Kudus: memuliakan Allah
Perhatikan: tanda utama dari kehadiran Roh Kudus bukan sekadar kemampuan berbicara bahasa roh, tetapi memuliakan Allah.
Charles Spurgeon menegaskan:
“Ketika Roh Kudus hadir, lidah manusia menjadi alat untuk memuji, bukan untuk meninggikan diri.”
Roh Kudus tidak datang untuk menghasilkan sensasi rohani, melainkan untuk menuntun hati kepada penyembahan sejati.
V. Kisah Para Rasul 10:47 — Baptisan: Tanda Lahiriah dari Anugerah Batiniah
“Bukankah tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi air untuk dibaptiskan kepada orang-orang yang sudah menerima Roh Kudus sama seperti kita ini?”
Pernyataan Petrus ini bersifat teologis dan pastoral sekaligus. Ia melihat fakta: Roh Kudus telah dicurahkan terlebih dahulu, maka tidak ada alasan untuk menolak tanda lahiriah dari keselamatan — yaitu baptisan.
1. Urutan yang mengejutkan: Roh Kudus sebelum baptisan
Biasanya, dalam tradisi Yahudi dan bahkan di awal pelayanan Gereja, baptisan mendahului penerimaan Roh Kudus.
Namun, di sini urutannya dibalik oleh Allah sendiri — Roh Kudus turun dahulu, lalu baptisan diberikan.
Ini menunjukkan bahwa baptisan bukan penyebab keselamatan, melainkan tanda dan meterai dari kasih karunia yang sudah diterima.
Louis Berkhof menulis:
“Sakramen tidak menimbulkan iman, tetapi menguatkan iman yang telah diberikan oleh Roh Kudus. Baptisan adalah tanda lahiriah dari kenyataan rohani yang sudah dikerjakan Allah.”
2. Tidak ada manusia yang dapat menghalangi karya Allah
Kalimat retoris Petrus — “Siapa yang dapat menghalangi?” — menunjukkan otoritas Allah dalam memberi kasih karunia.
Jika Allah telah menerima mereka, tidak ada tradisi manusia yang berhak menolak mereka.
Ini sejalan dengan prinsip Reformed Sola Gratia (hanya oleh kasih karunia):
Allah bebas memberikan anugerah-Nya kepada siapa pun yang Ia kehendaki, tanpa mempertimbangkan status, ras, atau perbuatan.
VI. Kisah Para Rasul 10:48 — Dibaptis dalam Nama Yesus Kristus
“Maka, Petrus memerintahkan mereka untuk dibaptis di dalam nama Kristus Yesus.”
Baptisan “dalam nama Yesus” berarti pengakuan iman yang eksplisit kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
1. Pengakuan Iman yang nyata
Mereka tidak hanya menerima Roh, tetapi juga menyatakan iman mereka secara publik melalui baptisan.
Dalam teologi Reformed, baptisan adalah tanda eksternal dari perjanjian kasih karunia (covenant of grace).
John Calvin menulis:
“Baptisan adalah meterai yang meneguhkan kepada kita bahwa dosa-dosa kita telah diampuni dan bahwa kita telah disatukan dengan Kristus.”
Dengan demikian, baptisan di sini bukanlah permulaan keselamatan, tetapi pengakuan terbuka atas keselamatan yang telah dikerjakan Allah.
2. Persatuan dengan Kristus
Dalam Roma 6:3–4, Paulus menegaskan bahwa baptisan melambangkan kematian terhadap dosa dan kebangkitan kepada hidup baru dalam Kristus.
Peristiwa di rumah Kornelius menunjukkan bahwa persatuan dengan Kristus tidak terbatas pada Israel, melainkan meluas ke semua bangsa.
3. Petrus tinggal bersama mereka
“Kemudian, orang-orang itu meminta supaya Petrus tinggal bersama mereka selama beberapa hari.”
Ini bukan sekadar detail naratif, melainkan tanda persekutuan yang baru antara Yahudi dan non-Yahudi.
Dulu Petrus tidak akan makan bersama bangsa-bangsa lain (lihat Galatia 2:12), tetapi kini ia tinggal bersama mereka — tanda bahwa Injil telah menembus batas sosial dan ritual.
VII. Implikasi Teologi Reformed dari Kisah 10:44–48
Bagian ini sarat dengan prinsip utama teologi Reformed, yaitu kedaulatan Allah dalam keselamatan dan kesatuan umat pilihan di dalam Kristus.
1. Kedaulatan Kasih Karunia
Allah yang memulai, memanggil, menebus, dan menyucikan.
Roh Kudus turun bukan karena manusia mempersiapkan diri, melainkan karena Allah telah menetapkan waktu dan tempatnya.
“Kasih karunia bukan reaksi terhadap iman manusia; iman adalah hasil dari kasih karunia itu sendiri.” — R.C. Sproul
2. Kasih Karunia Bersifat Universal dalam Jangkauan
Meskipun Allah memilih secara khusus, Injil tetap ditawarkan kepada semua orang.
Ini disebut universalitas Injil dengan partikularitas penebusan.
Herman Bavinck menulis:
“Kristus adalah Penebus dunia dalam keluasan kasih karunia-Nya, dan Penebus umat pilihan dalam efektivitas karya-Nya.”
3. Kesatuan Roh dan Firman
Roh Kudus tidak bekerja di luar Firman.
Petrus memberitakan Injil, dan di tengah pemberitaan itu Roh Kudus turun.
Ini menegaskan pentingnya pelayanan Firman dalam Gereja: tanpa Firman, tidak ada kelahiran baru.
4. Sakramen sebagai Tanda Kasih Karunia
Baptisan menegaskan realitas rohani, bukan menciptakannya.
Dalam teologi Reformed, sakramen tidak bekerja secara magis, tetapi mengokohkan iman yang sejati.
5. Gereja Sebagai Komunitas Global
Peristiwa di rumah Kornelius menggenapi janji Abraham bahwa “di dalam engkau semua bangsa akan diberkati.”
Gereja sejati tidak dibatasi oleh bangsa, bahasa, atau adat, tetapi oleh iman yang satu kepada Kristus.
VIII. Aplikasi Bagi Orang Percaya Masa Kini
-
Percaya bahwa Roh Kudus bekerja melalui Firman.
Bukan pengalaman emosional yang menjamin kehadiran Roh Kudus, melainkan ketaatan terhadap Firman yang diberitakan. -
Hindari sikap eksklusif dalam iman.
Kasih karunia Allah melampaui batas budaya, denominasi, dan tradisi. Gereja harus terbuka untuk semua yang Allah panggil. -
Jangan menghalangi orang datang kepada Kristus.
Petrus bertanya, “Siapa yang dapat menghalangi?” Gereja harus berhati-hati agar tidak menggantikan kasih karunia dengan aturan manusia. -
Baptisan sebagai panggilan untuk hidup kudus.
Baptisan bukan akhir, tetapi awal hidup baru dalam Kristus yang disertai ketaatan dan penyembahan. -
Hidup dalam persekutuan sejati.
Petrus tinggal bersama bangsa-bangsa lain karena Injil menghancurkan tembok pemisah. Orang percaya dipanggil untuk mencerminkan kesatuan yang lahir dari kasih karunia.
IX. Kesimpulan: Allah yang Menyertakan yang Tidak Layak
Peristiwa di rumah Kornelius mengajarkan bahwa tidak ada orang yang terlalu najis untuk disentuh oleh kasih karunia Allah.
Kornelius tidak menjadi Kristen karena ketekunan moralnya, tetapi karena Allah berinisiatif menjamahnya melalui Firman dan Roh Kudus.
John Calvin menutup komentarnya atas perikop ini dengan kalimat sederhana namun dalam:
“Ketika Allah membuka pintu, siapa kita untuk menutupnya?”
Perikop ini mengingatkan kita bahwa Injil adalah kuasa Allah bagi setiap orang yang percaya — baik Yahudi maupun Yunani, baik orang kudus maupun pendosa yang baru tersentuh kasih karunia.
Maka, setiap kali Gereja memberitakan Firman, kita percaya bahwa Roh Kudus yang sama masih bekerja hari ini, mengubah hati, memanggil umat-Nya, dan memperluas kerajaan kasih karunia Kristus sampai ke ujung bumi.