Markus 10:32–34 - Menuju Yerusalem: Jalan Salib dan Kedaulatan Kristus atas Penderitaan

Markus 10:32–34 - Menuju Yerusalem: Jalan Salib dan Kedaulatan Kristus atas Penderitaan

I. Pendahuluan: Yesus Menuju Yerusalem — Jalan yang Ditentukan Bapa

Markus 10:32–34 adalah salah satu momen paling menggugah dalam seluruh Injil Markus. Ini adalah pengumuman ketiga Yesus tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Tidak seperti dua pengumuman sebelumnya (Markus 8:31; 9:31), kali ini Yesus berbicara dengan ketenangan penuh kedaulatan saat Ia berjalan menuju Yerusalem — kota di mana Ia akan disalibkan.

Markus menggambarkan adegan ini dengan ketegangan rohani yang mendalam:

“Yesus berjalan mendahului mereka.”
Ia bukan korban keadaan; Ia adalah Gembala yang berjalan di depan kawanan-Nya menuju salib.

John Calvin menyebut bagian ini sebagai “the holy march of obedience” — perjalanan kudus ketaatan Yesus kepada kehendak Bapa.

II. Latar Belakang Kontekstual: Menuju Titik Puncak Injil Markus

Injil Markus dibangun dengan pola naratif yang menuntun pembaca ke satu tujuan utama: salib di Yerusalem.
Sejak awal pelayanan-Nya di Galilea, Yesus tahu bahwa misinya bukan sekadar mengajar dan menyembuhkan, tetapi memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45).

Perjalanan ke Yerusalem ini menandai transisi dari pelayanan umum menuju penderitaan pribadi.

  • Markus 1–9: Pelayanan dan mukjizat di Galilea.

  • Markus 10: Perjalanan menuju Yerusalem.

  • Markus 11–16: Minggu Sengsara dan Kebangkitan.

Dengan demikian, Markus 10:32–34 menjadi jembatan teologis antara kehidupan Yesus dan kematian-Nya — menunjukkan bahwa salib bukan kecelakaan sejarah, melainkan rancangan kekal Allah.

III. Eksposisi Ayat demi Ayat

a. Markus 10:32: “Yesus berjalan mendahului mereka...”

Gambaran ini sangat kuat. Dalam budaya Timur, pemimpin biasanya berjalan di tengah atau di belakang, tetapi Yesus justru berjalan di depan.
Ini menunjukkan:

  1. Keberanian dan kepastian misi. Ia tahu penderitaan menanti, tetapi Ia maju dengan taat.

  2. Kepemimpinan penuh kasih. Seperti Gembala yang baik (Yohanes 10:11), Ia tidak menyuruh murid-murid-Nya berjalan lebih dulu.

Murid-murid “takjub,” sedangkan orang banyak “takut.”
Mengapa? Karena mereka melihat ketenangan Yesus di tengah bahaya. Dalam diri-Nya, mereka melihat otoritas ilahi yang tak tergoyahkan.

R.C. Sproul berkomentar:

“Ketakutan dan kekaguman adalah reaksi yang wajar terhadap kesucian Kristus. Ia tahu bahwa salib menantinya, tetapi Ia tetap berjalan — bukan dengan terpaksa, melainkan dengan sukarela.”

Di sini, Markus ingin menekankan: penderitaan Kristus bukan kebetulan, tetapi pilihan sadar berdasarkan kasih.

b. Markus 10:33: “Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat...”

Ungkapan “diserahkan” (paradidōmi) menunjukkan tindakan yang aktif namun pasif sekaligus:

  • Secara manusiawi, Yesus “diserahkan” oleh Yudas, oleh Sanhedrin, dan oleh bangsa Yahudi.

  • Namun secara ilahi, Ia “diserahkan” oleh Bapa (Roma 8:32):

    “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua.”

John Calvin menulis:

“Kristus tidak diseret ke salib, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya karena ketaatan kepada Bapa dan kasih kepada kita.”

Imam-imam kepala dan ahli Taurat mewakili agama manusia yang menolak kasih karunia. Mereka adalah simbol dari penolakan teologis terhadap Injil, yakni ketika manusia lebih mencintai sistem keagamaan daripada Allah sendiri.

Dengan demikian, penderitaan Kristus bukan hanya masalah politik Romawi, tetapi konflik rohani antara kasih karunia dan legalisme.

c. Markus 10:34: “Mereka akan mengejek-Nya, meludahi-Nya, menghajar-Nya, dan membunuh-Nya...”

Yesus menggambarkan dengan rinci penderitaan yang akan Ia alami.
Ia tahu segala sesuatu yang menanti-Nya: penghinaan, kekerasan, dan kematian.
Namun Ia tidak mundur.

Herman Bavinck menulis dalam Reformed Dogmatics:

“Kristus menanggung penderitaan bukan hanya dalam tubuh, tetapi dalam jiwa-Nya. Ia menanggung murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita. Penderitaan itu total, menyeluruh, dan penuh kesadaran.”

Setiap kata di ayat ini menunjukkan kedaulatan dan kesadaran Kristus terhadap misi penebusan-Nya.
Ia bukan sekadar nabi yang terbunuh, tetapi Penebus yang sengaja berjalan ke salib.

Dan puncaknya:

“Namun, sesudah tiga hari, Ia akan bangkit.”

Kata “namun” menandai titik balik Injil. Penderitaan bukan akhir cerita; kebangkitan adalah deklarasi kemenangan Allah atas dosa dan maut.

IV. Tema Sentral: Penderitaan Kristus dan Kedaulatan Allah

Dalam pandangan teologi Reformed, penderitaan Kristus harus selalu dipahami dalam kerangka kedaulatan Allah dan kasih karunia.
Tidak ada satu detail pun dalam penderitaan-Nya yang terjadi di luar rencana Allah.

1. Penderitaan Kristus adalah bagian dari dekret kekal Allah.

Yesaya telah menubuatkan:

“Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan Dia” (Yesaya 53:10).

Calvin menafsirkan ini sebagai bukti bahwa salib adalah pusat kehendak kekal Allah — bukan tragedi, melainkan kemenangan kasih karunia.

“Kristus tidak mati karena kebetulan atau karena manusia lebih kuat, tetapi karena Ia datang untuk taat sampai mati.”

2. Kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia.

Meskipun Allah menetapkan kematian Kristus, para pelaku (Yudas, Sanhedrin, dan bangsa-bangsa) tetap bertanggung jawab atas kejahatan mereka.
Seperti dikatakan Petrus dalam Kisah Para Rasul 2:23:

“Ia telah diserahkan menurut maksud dan rencana Allah, tetapi kamu telah menyalibkan dan membunuh-Nya.”

Herman Bavinck menulis:

“Dalam salib, kita melihat pertemuan misterius antara kedaulatan Allah dan kebebasan manusia. Manusia melakukan dosa, tetapi Allah memakai dosa itu untuk mendatangkan keselamatan.”

3. Salib adalah puncak kasih Allah dan ketaatan Kristus.

Filipi 2:8 berkata:

“Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Dalam ketaatan ini, Kristus menunjukkan kasih yang sempurna — kasih yang aktif, berdaulat, dan menebus.
Louis Berkhof menyebutnya “the active and passive obedience of Christ” — ketaatan Kristus dalam hidup dan mati menjadi dasar pembenaran kita.

V. Reaksi Murid dan Pelajaran Iman

1. Keterkejutan Murid

Murid-murid “takjub” (ay. 32). Mereka tidak dapat memahami mengapa Mesias yang berkuasa harus menuju kematian.
Dalam pikiran mereka, Mesias seharusnya membawa kemenangan politik, bukan penderitaan.

Namun, Yesus sedang membalikkan paradigma mereka:

“Kerajaan Allah datang melalui salib, bukan pedang.”

John Stott menulis:

“Salib adalah simbol terbalik dari dunia: dunia mencari kuasa lewat dominasi; Kristus menunjukkan kuasa lewat penyerahan.”

2. Ketakutan Orang Banyak

Orang-orang “takut” (ay. 32) — mungkin karena mereka sadar bahwa mengikuti Yesus berarti juga berjalan menuju penderitaan.

R.C. Sproul berkata:

“Mengikut Kristus berarti mengikut Dia di jalan yang sama: jalan salib. Kekristenan sejati selalu memiliki aroma penderitaan, karena Kristus sendiri adalah jalan itu.”

VI. Kristus yang Mengetahui dan Mengendalikan Segala Sesuatu

Salah satu aspek paling luar biasa dari teks ini adalah pengetahuan mendetail Yesus tentang penderitaan yang akan datang.

Ia tahu:

  • Akan diserahkan (oleh siapa).

  • Akan dihina (bagaimana).

  • Akan dibunuh (dengan cara apa).

  • Akan bangkit (kapan).

Ini menunjukkan dua hal penting dalam teologi Reformed:

1. Kristus adalah Allah sejati yang berdaulat atas sejarah.

Tidak ada satu detik pun dari penderitaan-Nya yang di luar kendali-Nya.

2. Kristus adalah manusia sejati yang rela menderita demi umat-Nya.

Ia tahu rasa sakit yang menanti, tetapi Ia tetap maju — bukan karena paksaan, melainkan karena kasih.

Seperti dikatakan Spurgeon:

“Ia menatap salib itu tanpa gemetar, karena Ia melihat di baliknya wajah mempelai-Nya, gereja yang akan ditebus-Nya.”

VII. Tafsir Reformed: Dari Calvin hingga Sproul

TeologPandangan Utama
John CalvinMenekankan bahwa Yesus secara sadar dan sukarela menuju salib karena ketaatan kepada Bapa. Salib adalah ekspresi tertinggi dari providensi Allah.
Matthew HenryMelihat perjalanan ini sebagai pelajaran tentang keberanian rohani dan ketaatan mutlak Kristus.
Herman BavinckMenyebut penderitaan Kristus sebagai “peristiwa sentral dalam sejarah dunia” di mana kasih dan keadilan Allah bertemu.
Louis BerkhofMenjelaskan bahwa penderitaan Kristus terdiri dari ketaatan aktif (hidup sempurna) dan pasif (kematian di salib).
R.C. SproulMenyebut Markus 10:32–34 sebagai bukti supremasi Kristus atas sejarah: Ia adalah Raja yang berjalan menuju takhta-Nya di kayu salib.

VIII. Implikasi Teologis

  1. Kristus Berdaulat atas Salib.
    Ia bukan korban, tetapi Raja yang menaklukkan dosa melalui ketaatan.

  2. Salib Adalah Pusat Injil.
    Tanpa salib, tidak ada Injil. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah inti iman Reformed.

  3. Kekristenan Sejati Meniru Jalan Salib.
    Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya” (Markus 8:34).
    Jalan murid adalah jalan salib, bukan kemuliaan duniawi.

  4. Penderitaan Kristen Adalah Bagian dari Pemuridan.
    Seperti Kristus, kita dipanggil untuk menderita bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai sarana pengudusan dan kesaksian.

IX. Aplikasi Praktis bagi Orang Percaya

1. Percaya pada Kedaulatan Allah di Tengah Penderitaan

Jika Yesus sendiri berjalan menuju penderitaan dalam ketaatan, maka kita pun dipanggil untuk mempercayai kedaulatan Allah ketika hidup tidak sesuai rencana.

Seperti dikatakan Calvin:

“Jalan ke surga selalu melewati salib.”

2. Mengikuti Kristus dengan Keberanian Kudus

Yesus berjalan di depan murid-murid-Nya. Ia tidak hanya memberi perintah, tetapi memberi teladan.
Mengikut Dia berarti berjalan di belakang-Nya, apa pun harga yang harus dibayar.

Thomas Watson menulis:

“Salib bukan tanda kutuk, tetapi mahkota yang disiapkan bagi murid Kristus sejati.”

3. Menemukan Penghiburan dalam Kebangkitan

Penderitaan Yesus tidak berhenti di salib.
Ayat 34 menutup dengan janji:

“Namun, sesudah tiga hari, Ia akan bangkit.”

Kebangkitan adalah jaminan bahwa setiap penderitaan dalam Kristus akan berakhir dalam kemuliaan.

X. Penutup: Salib Adalah Takhta Kemuliaan Kristus

Markus 10:32–34 memperlihatkan wajah Yesus yang penuh wibawa dan kasih: Raja yang berjalan ke salib untuk menebus umat-Nya.
Ia tahu penderitaan yang menanti-Nya, tetapi Ia tidak berbalik.
Ia tahu penghinaan yang akan diterima-Nya, tetapi Ia tidak gentar.
Ia tahu kematian akan menjemput-Nya, tetapi Ia melihat kebangkitan di ujung jalan itu.

Seperti disimpulkan oleh Bavinck:

“Salib adalah mahkota Kristus; penderitaan adalah kemenangan-Nya.”

Bagi setiap orang percaya, ini berarti bahwa jalan ke kemuliaan selalu melewati salib.
Kita berjalan di belakang-Nya — bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keyakinan bahwa yang berjalan di depan kita telah menang.

Next Post Previous Post