Mazmur 24:1–2: Milik Tuhanlah Bumi

Pendahuluan
Mazmur 24:1–2 adalah deklarasi agung tentang kepemilikan mutlak Allah atas seluruh ciptaan. Di tengah dunia yang sering memandang manusia sebagai pusat segalanya, mazmur ini mengoreksi perspektif kita: bumi bukan milik manusia, melainkan milik Tuhan. Semua yang ada, terlihat maupun tidak, berdiri di bawah otoritas-Nya.
Dalam teologi Reformed, bagian ini berkaitan erat dengan doktrin kedaulatan Allah, ciptaan sebagai milik perjanjian, dan tanggung jawab manusia sebagai pengelola, bukan pemilik. Dua ayat ini menjadi fondasi bagi pemahaman Kristen tentang dunia, pekerjaan, harta, lingkungan, dan penyembahan.
Teks Mazmur 24:1–2 (Terjemahan)
1 TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.
2 Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
1. Pengakuan Iman tentang Kepemilikan Allah (Mazmur 24:1a)
“TUHANlah yang empunya bumi…”
Mazmur ini dimulai dengan klaim kepemilikan. Kata “empunya” menunjukkan hak milik penuh. Bumi bukan sekadar ciptaan Allah, tetapi milik-Nya secara hukum dan moral.
John Calvin menulis bahwa ayat ini “menghancurkan kesombongan manusia yang berpikir bahwa dunia ada untuk kepentingannya sendiri.” Semua yang manusia miliki hanyalah titipan.
Dalam teologi Reformed, ini terkait dengan doktrin kedaulatan Allah atas ciptaan. Allah bukan hanya Pencipta yang jauh, tetapi Pemilik yang aktif memerintah.
2. “Segala Isinya” – Tidak Ada Wilayah Netral
“…serta segala isinya…”
Frasa ini memperluas kepemilikan Allah: bukan hanya tanah dan laut, tetapi setiap unsur kehidupan.
Abraham Kuyper terkenal dengan pernyataannya:
“Tidak ada satu inci pun dalam seluruh keberadaan manusia di mana Kristus tidak berkata: ‘Itu milik-Ku.’”
Teologi Reformed menolak dualisme sakral-sekuler. Dunia kerja, seni, sains, politik, dan keluarga semuanya berada di bawah pemerintahan Allah.
3. “Dunia serta yang Diam di Dalamnya” – Kepemilikan atas Manusia
Allah bukan hanya pemilik alam, tetapi juga pemilik manusia.
Yehezkiel 18:4 berkata:
“Sesungguhnya, semua jiwa Aku punya!”
Herman Bavinck menekankan bahwa manusia adalah milik Allah dua kali: oleh penciptaan dan oleh pemeliharaan. Bahkan mereka yang menolak Allah tetap hidup dalam dunia milik-Nya dan bergantung pada anugerah umum-Nya.
4. Implikasi terhadap Kesombongan Manusia
Mazmur ini meruntuhkan klaim otonomi manusia. Dunia modern berkata, “Ini hidupku.” Mazmur 24 berkata, “Hidupmu milik Tuhan.”
R.C. Sproul menyatakan bahwa dosa pada dasarnya adalah “usaha manusia merebut hak kepemilikan yang hanya milik Allah.”
Kesombongan manusia lahir dari lupa bahwa kita hanyalah penyewa, bukan pemilik.
5. Dasar Kepemilikan: Allah sebagai Pencipta (Mazmur 24:2a)
“Sebab Dialah yang mendasarkannya…”
Kepemilikan Allah didasarkan pada karya penciptaan. Ia berhak karena Ia mencipta.
Dalam teologi Reformed, penciptaan bukan sekadar awal sejarah, tetapi dasar permanen otoritas Allah. Karena Allah Pencipta, maka Ia juga Raja.
Calvin menyebut penciptaan sebagai “teater kemuliaan Allah,” di mana setiap unsur alam memproklamasikan kebesaran-Nya.
6. Bahasa Puitis tentang Laut dan Sungai (Mazmur 24:2b)
“…di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.”
Dalam kosmologi kuno, laut melambangkan kekacauan. Mazmur ini menyatakan bahwa Allah mendirikan bumi di atas kekacauan itu—simbol bahwa Ia berdaulat atas ketidakstabilan.
Meredith Kline melihat gambaran ini sebagai bahasa perjanjian yang menunjukkan bahwa Allah menaklukkan kekacauan demi menciptakan tempat bagi umat manusia.
7. Pemeliharaan Ilahi (Providence)
Jika Allah mendirikan bumi, Ia juga menopangnya. Kepemilikan-Nya bukan pasif.
Bavinck menulis bahwa pemeliharaan Allah adalah “karya terus-menerus di mana Ia menjaga, mengatur, dan memimpin seluruh ciptaan menuju tujuan-Nya.”
Setiap napas manusia adalah bukti bahwa kita hidup di tanah milik Allah.
8. Dunia sebagai Milik Perjanjian
Mazmur ini juga memiliki konteks ibadah Israel. Umat datang ke Bait Allah dengan pengakuan bahwa dunia adalah milik Tuhan.
Teologi Reformed melihat ciptaan sebagai bagian dari rencana perjanjian Allah—bukan sekadar latar belakang keselamatan, tetapi arena di mana kemuliaan Allah dinyatakan.
9. Tanggung Jawab Penatalayanan
Jika Allah pemilik, manusia adalah pengelola.
Kejadian 1:28 memberi mandat budaya. Namun mandat ini bukan lisensi eksploitasi, melainkan panggilan penatalayanan.
Sproul menegaskan bahwa pengelolaan Kristen berarti menggunakan dunia “dengan rasa hormat kepada Pemiliknya.”
10. Kritik terhadap Materialisme
Mazmur ini menantang materialisme yang menganggap harta sebagai milik absolut manusia.
Ayub 1:21 berkata:
“TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil.”
Semua kepemilikan manusia bersifat sementara dan relatif.
11. Dasar Etika Sosial
Jika manusia milik Allah, maka setiap kehidupan memiliki martabat.
Teologi Reformed mendasarkan keadilan sosial pada fakta bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah, bukan sekadar unit ekonomi.
12. Dasar Penyembahan
Mazmur 24 sering dipakai dalam liturgi. Mengapa? Karena penyembahan dimulai dengan pengakuan kepemilikan Allah.
Ibadah bukan kita memberi kepada Allah, tetapi mengakui bahwa semuanya sudah milik-Nya.
13. Koreksi terhadap Sekularisme
Sekularisme memisahkan Tuhan dari dunia. Mazmur 24 menyatukan kembali keduanya.
Kuyper menegaskan bahwa Kristus adalah Raja atas semua bidang kehidupan. Tidak ada ruang netral.
14. Penghiburan bagi Orang Percaya
Jika dunia milik Tuhan, maka kekacauan dunia tidak lepas kendali.
Roma 8:28 memberi penghiburan bahwa Pemilik dunia juga mengatur segala sesuatu demi kebaikan umat-Nya.
15. Penghakiman atas Pemberontakan
Kepemilikan Allah berarti Ia berhak menghakimi.
Mazmur 24 bukan hanya penghiburan, tetapi juga peringatan bahwa manusia akan dimintai pertanggungjawaban.
16. Kristus sebagai Pewaris Segala Sesuatu
Ibrani 1:2 menyatakan bahwa Allah menjadikan Kristus “yang berhak menerima segala yang ada.”
Mazmur 24 menemukan penggenapannya dalam Kristus sebagai Raja atas ciptaan.
17. Hubungan dengan Penebusan
Penebusan bukan pelarian dari dunia, tetapi pemulihan dunia milik Allah.
Bavinck menulis bahwa anugerah tidak menghancurkan ciptaan, tetapi memperbaruinya.
18. Perspektif Eskatologis
Wahyu 11:15 menyatakan kerajaan dunia menjadi milik Tuhan dan Kristus-Nya.
Mazmur 24 menunjuk pada pemulihan akhir ketika kepemilikan Allah diakui secara universal.
19. Respons Pribadi
Jika bumi milik Tuhan, maka:
-
Hidupku milik-Nya
-
Waktuku milik-Nya
-
Hartaku milik-Nya
-
Pekerjaanku milik-Nya
Ketulusan iman terlihat dari bagaimana kita mengelola apa yang sebenarnya bukan milik kita.
20. Panggilan untuk Hidup Soli Deo Gloria
Mazmur 24:1–2 mengarahkan kita pada satu kesimpulan: hidup untuk kemuliaan Allah.
Calvin berkata bahwa tujuan utama hidup manusia adalah “memuliakan Allah dalam setiap aspek kehidupan.”
Kesimpulan
Mazmur 24:1–2 adalah deklarasi kosmik tentang kepemilikan dan kedaulatan Allah. Dunia bukan milik manusia, tetapi milik Tuhan yang mencipta, memelihara, dan menebusnya.
Dalam terang teologi Reformed, ayat ini mengajarkan:
-
Allah berdaulat penuh atas ciptaan
-
Manusia hanyalah penatalayan
-
Tidak ada wilayah netral dalam hidup
-
Dunia adalah panggung kemuliaan Allah
Kiranya pengakuan ini mengubah cara kita bekerja, beribadah, dan hidup setiap hari — sebagai pengelola setia di dunia yang sepenuhnya milik Tuhan.
Soli Deo Gloria.