Daya Tarik Salib Kristus

Daya Tarik Salib Kristus

Pendahuluan: Paradoks yang Mengguncang Dunia

Tidak ada simbol dalam sejarah manusia yang lebih paradoksal daripada salib. Ia adalah alat eksekusi paling memalukan dalam Kekaisaran Romawi—simbol kehinaan, penderitaan, dan kutuk. Namun justru simbol itulah yang menjadi pusat iman Kristen, inti pemberitaan gereja, dan sumber pengharapan bagi jutaan orang sepanjang sejarah.

Mengapa salib memiliki daya tarik yang demikian besar? Mengapa orang-orang rela meninggalkan kenyamanan, menghadapi penganiayaan, bahkan mati demi Kristus yang disalibkan? Rasul Paulus memberikan jawabannya:

“Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”
(1 Korintus 1:18, TB)

Ayat ini menyatakan dua respons yang bertolak belakang terhadap salib: kebodohan bagi yang binasa, tetapi kekuatan Allah bagi yang diselamatkan. Dalam tradisi teologi Reformed, salib bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan pusat rencana kekal Allah, puncak penyataan kemuliaan-Nya, dan dasar keselamatan manusia. Artikel ini akan mengeksposisi 1 Korintus 1:18 dan menguraikan daya tarik salib melalui refleksi para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Jonathan Edwards, Abraham Kuyper, R.C. Sproul, dan John Piper.

I. Salib sebagai Garis Pemisah: Kebodohan atau Kekuatan

1. Kebodohan bagi Mereka yang Binasa

Paulus tidak berusaha memperhalus pesan salib. Ia mengakui bahwa bagi dunia, pemberitaan tentang Mesias yang disalibkan adalah kebodohan. Dalam budaya Yunani yang mengagungkan filsafat dan rasionalitas, serta dalam tradisi Yahudi yang mengharapkan Mesias yang kuat secara politis, gagasan tentang Juruselamat yang mati di kayu salib tampak absurd.

Calvin menulis bahwa salib merendahkan kesombongan manusia. Dunia ingin keselamatan yang sesuai dengan hikmat dan kekuatannya sendiri. Namun salib menyatakan bahwa manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya.

R.C. Sproul menegaskan bahwa salib menyingkapkan dua kebenaran yang paling tidak ingin diterima manusia: kekudusan Allah dan keberdosaan manusia. Tanpa pemahaman tentang kekudusan Allah, salib tampak berlebihan; tanpa kesadaran akan dosa, salib tampak tidak perlu.

2. Kekuatan Allah bagi yang Diselamatkan

Sebaliknya, bagi mereka yang diselamatkan, salib adalah kekuatan Allah. Kata “kekuatan” (dynamis) menunjuk pada kuasa yang efektif dan nyata. Salib bukan sekadar simbol kasih, melainkan sarana Allah untuk menyelamatkan umat-Nya.

Herman Bavinck menekankan bahwa dalam salib, keadilan dan kasih Allah bertemu. Allah tidak mengabaikan dosa, tetapi menghukumnya dalam diri Kristus. Pada saat yang sama, Ia menyatakan kasih-Nya dengan menyediakan korban pengganti.

Daya tarik salib terletak pada kuasa penebusannya. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih; ia menciptakan realitas baru—pengampunan, pendamaian, dan hidup yang diperbarui.

II. Salib dalam Rencana Kekal Allah

1. Bukan Kecelakaan Sejarah

Dalam perspektif dunia, penyaliban Yesus mungkin tampak sebagai tragedi. Namun dalam teologi Reformed, salib adalah bagian dari rencana kekal Allah.

Calvin menegaskan bahwa Kristus diserahkan menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditetapkan. Tidak ada satu pun aspek penyaliban yang berada di luar kedaulatan Allah.

Abraham Kuyper menyatakan bahwa sejarah adalah panggung di mana Allah menggenapi tujuan-Nya dalam Kristus. Salib adalah pusat dari drama penebusan tersebut.

2. Penebusan Substitusioner

Inti daya tarik salib dalam teologi Reformed adalah doktrin penebusan substitusioner. Kristus mati sebagai pengganti umat-Nya.

John Owen menjelaskan bahwa Kristus menanggung murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada orang berdosa. Tanpa substitusi, tidak ada pendamaian sejati.

Sproul menambahkan bahwa Allah tetap adil dan pembenar orang berdosa karena hukuman dijatuhkan kepada Kristus. Di salib, keadilan tidak dikorbankan demi kasih; keadilan dipenuhi melalui kasih.

III. Hikmat Allah dalam Kebodohan Salib

Paulus melanjutkan dalam 1 Korintus 1 bahwa Allah memilih apa yang lemah untuk mempermalukan yang kuat. Salib membalikkan nilai dunia.

Jonathan Edwards melihat dalam salib keindahan ilahi yang unik. Di sana, kemuliaan Allah bersinar paling terang justru melalui penderitaan dan kehinaan.

John Piper menekankan bahwa Allah paling dimuliakan ketika kita melihat kemuliaan-Nya dalam Kristus yang disalibkan. Salib menunjukkan bahwa kemenangan sejati datang melalui pengorbanan.

Herman Bavinck menyatakan bahwa dalam salib, seluruh sifat Allah dinyatakan secara harmonis: kekudusan, keadilan, kasih, dan hikmat.

IV. Mengapa Salib Menarik Hati Orang Percaya?

1. Kesadaran Akan Dosa

Seseorang tidak akan tertarik pada salib jika ia tidak menyadari dosanya. Dalam teologi Reformed, Roh Kudus terlebih dahulu meyakinkan dunia akan dosa.

Calvin menulis bahwa pengenalan akan diri sendiri membawa kita kepada pengenalan akan Kristus. Ketika hati menyadari beratnya dosa, salib menjadi satu-satunya harapan.

2. Keindahan Kasih Pengorbanan

Salib menarik karena ia menyatakan kasih yang tak tertandingi. Kristus memberikan diri-Nya bagi musuh-musuh-Nya.

Edwards berbicara tentang “afeksi religius”—kasih yang lahir dari melihat keindahan Kristus. Salib membangkitkan kasih yang mendalam dalam hati orang percaya.

3. Jaminan Pengampunan

Sproul menegaskan bahwa salib memberikan jaminan objektif pengampunan. Ini bukan perasaan subjektif, tetapi fakta historis dan teologis.

V. Salib dan Transformasi Kehidupan

1. Kerendahan Hati

Salib menghancurkan kesombongan. Tidak ada ruang untuk membanggakan diri ketika keselamatan adalah anugerah.

Calvin mengingatkan bahwa doktrin anugerah menghasilkan kerendahan hati sejati.

2. Hidup yang Berkorban

Kuyper menekankan bahwa orang yang telah disentuh oleh salib akan membawa nilai salib ke dalam dunia—hidup dalam kasih dan pengorbanan.

Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk memikul salib. Daya tarik salib tidak berhenti pada keselamatan; ia membentuk pola hidup.

VI. Dimensi Gerejawi: Pusat Pemberitaan

Paulus berkata bahwa ia tidak mau mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus dan Dia yang disalibkan.

Sproul memperingatkan bahwa gereja kehilangan kuasa ketika mengganti pesan salib dengan hiburan atau moralitas kosong.

Piper menyebut khotbah sebagai “expository exultation”—eksposisi yang meluap dalam sukacita atas salib Kristus.

VII. Daya Tarik Eskatologis

Dalam kitab Wahyu, Anak Domba yang disembelih menjadi pusat penyembahan surgawi.

Bavinck menulis bahwa kemuliaan Kristus yang disalibkan akan menjadi nyanyian kekal umat tebusan.

Salib tidak akan pernah kehilangan daya tariknya. Bahkan dalam kekekalan, umat Allah akan memuliakan Anak Domba yang telah disembelih.

VIII. Relevansi bagi Dunia Modern

Dunia modern menghargai kekuatan, prestasi, dan kemandirian. Salib menantang semua nilai itu.

Namun justru dalam dunia yang penuh kegagalan dan kehancuran, salib menawarkan pengharapan yang sejati.

Sproul menyatakan bahwa hanya Injil salib yang mampu menjawab masalah dosa manusia.

IX. Kristus yang Disalibkan sebagai Magnet Ilahi

Mengapa salib tetap menarik hati orang percaya?

  • Karena di sana Allah menyatakan kasih-Nya.

  • Karena di sana keadilan dipuaskan.

  • Karena di sana dosa diampuni.

  • Karena di sana hidup baru dimulai.

Calvin menyebut salib sebagai “cermin kasih Allah.” Piper menambahkan bahwa di salib kita melihat kemuliaan Allah paling jelas.

Kesimpulan: Kekuatan yang Mengubah Dunia

Daya tarik salib bukanlah daya tarik estetis atau sentimental. Ia adalah daya tarik ilahi—kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Bagi dunia, salib mungkin tetap menjadi kebodohan. Namun bagi mereka yang diselamatkan, salib adalah kekuatan Allah—pusat iman, sumber pengharapan, dan jaminan kemuliaan kekal.

Kiranya kita tidak hanya memahami salib secara intelektual, tetapi tertarik dan terpikat olehnya—sehingga hidup kita dibentuk oleh kasih Kristus yang disalibkan, sampai hari ketika Anak Domba yang telah disembelih dimuliakan selamanya.

Previous Post