Doktrin Pembenaran: Dasar Injil, Jantung Teologi Reformed, dan Penghiburan bagi Orang Berdosa
.jpg)
Pendahuluan: Artikel di Mana Gereja Berdiri atau Jatuh
Martin Luther menyebut doktrin pembenaran sebagai articulus stantis et cadentis ecclesiae — artikel di mana gereja berdiri atau jatuh. Walaupun Luther bukan bagian dari tradisi Reformed secara sempit, warisan Reformasi yang kemudian dikembangkan oleh para teolog Reformed seperti John Calvin, Theodore Beza, Francis Turretin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, Geerhardus Vos, John Murray, dan R. C. Sproul menempatkan pembenaran sebagai pusat Injil.
Doktrin pembenaran bukan sekadar konsep teologis abstrak. Ia adalah jawaban terhadap pertanyaan paling mendasar manusia:
Bagaimana orang berdosa dapat berdiri benar di hadapan Allah yang kudus?
Pertanyaan ini bukan isu akademik. Ia adalah persoalan hidup dan mati kekal.
Teologi Reformed menjawabnya dengan tegas:
Orang berdosa dibenarkan hanya oleh anugerah, hanya melalui iman, hanya oleh kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya.
I. Masalah Universal: Keadilan Allah dan Dosa Manusia
1. Kekudusan Allah
Segala pembahasan tentang pembenaran harus dimulai dengan karakter Allah. R. C. Sproul berulang kali menekankan bahwa krisis manusia bukan terutama masalah psikologis, tetapi masalah teologis: kita berdiri di hadapan Allah yang kudus.
Allah bukan sekadar lebih baik dari manusia. Ia kudus secara mutlak. Kekudusan-Nya berarti:
-
Ia sempurna dalam keadilan
-
Ia tidak mentoleransi dosa
-
Ia tidak dapat menyangkal karakter-Nya
Jika Allah mengabaikan dosa, Ia berhenti menjadi Allah yang adil.
2. Total Depravity: Ketidakmampuan Total Manusia
Teologi Reformed mengajarkan bahwa manusia setelah kejatuhan berada dalam kondisi ketidakmampuan total.
John Calvin menulis bahwa hati manusia adalah “pabrik berhala.” Dosa bukan sekadar perbuatan, melainkan kondisi natur.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa manusia:
-
Bersalah secara hukum
-
Rusak secara moral
-
Tidak mampu memenuhi standar ilahi
Dengan demikian, pembenaran bukan tentang memperbaiki sedikit moralitas manusia. Ia tentang menyelesaikan krisis hukum antara manusia dan Allah.
II. Definisi Pembenaran dalam Teologi Reformed
1. Tindakan Forensik
Pembenaran adalah tindakan hukum (forensik) Allah, di mana Ia:
-
Mengampuni dosa orang berdosa
-
Menganggapnya benar di hadapan-Nya
John Murray mendefinisikan pembenaran sebagai tindakan hukum Allah yang menyatakan orang berdosa benar berdasarkan kebenaran Kristus.
Pembenaran bukan:
-
Proses moral
-
Perubahan karakter
-
Transformasi batin
Itu adalah deklarasi hukum.
2. Pembedaan dengan Pengudusan
Herman Bavinck menekankan bahwa pembenaran dan pengudusan tidak boleh dicampur, tetapi juga tidak boleh dipisahkan.
-
Pembenaran → status hukum
-
Pengudusan → pembaruan hidup
Jika keduanya dicampur, Injil menjadi kabur.
Jika keduanya dipisah, iman menjadi mati.
III. Dasar Pembenaran: Kebenaran Kristus
1. Ketaatan Aktif dan Pasif Kristus
Teologi Reformed berbicara tentang dua aspek ketaatan Kristus:
-
Ketaatan pasif: penderitaan dan kematian-Nya menanggung hukuman dosa.
-
Ketaatan aktif: hidup-Nya yang sempurna dalam menaati hukum Allah.
Francis Turretin menekankan bahwa kita tidak hanya membutuhkan pengampunan dosa, tetapi juga kebenaran positif.
Kristus tidak hanya mati untuk menghapus dosa kita; Ia hidup untuk menyediakan kebenaran bagi kita.
2. Imputasi: Perhitungan Ilahi
Konsep kunci dalam pembenaran adalah imputasi.
Allah:
-
Mengimputasikan dosa kita kepada Kristus.
-
Mengimputasikan kebenaran Kristus kepada kita.
Inilah “pertukaran agung” (great exchange).
John Calvin menyebutnya sebagai misteri yang indah: Kristus mengambil apa yang menjadi milik kita, dan memberi kita apa yang menjadi milik-Nya.
IV. Sola Fide: Oleh Iman Saja
1. Iman sebagai Alat, Bukan Dasar
Iman bukan dasar pembenaran. Ia adalah alat penerima.
R. C. Sproul menegaskan:
Kita tidak dibenarkan karena iman kita berkualitas tinggi, tetapi karena iman menghubungkan kita kepada Kristus.
Iman adalah tangan kosong yang menerima anugerah.
2. Iman Sejati dan Buahnya
John Calvin menegaskan bahwa iman sejati tidak pernah sendirian.
Ia selalu menghasilkan:
-
Pertobatan
-
Ketaatan
-
Buah Roh
Namun buah itu bukan dasar pembenaran, melainkan bukti kehidupan baru.
V. Pembenaran dan Perjanjian
1. Perjanjian Karya dan Perjanjian Anugerah
Teologi Reformed memahami pembenaran dalam kerangka perjanjian.
-
Dalam Perjanjian Karya, Adam gagal memenuhi tuntutan hukum.
-
Dalam Perjanjian Anugerah, Kristus sebagai Adam kedua memenuhi tuntutan itu.
Geerhardus Vos menekankan bahwa Kristus adalah kepala perjanjian yang baru.
Ketaatan-Nya diperhitungkan kepada umat-Nya sebagaimana kegagalan Adam diperhitungkan kepada keturunannya.
VI. Dimensi Pastoral: Penghiburan bagi Hati yang Gelisah
1. Kepastian Keselamatan
Jika pembenaran didasarkan pada performa kita, maka kita tidak pernah memiliki kepastian.
Namun karena ia didasarkan pada karya Kristus yang sempurna, orang percaya dapat memiliki damai sejahtera.
John Owen menyatakan bahwa penghiburan Injil terletak pada fakta bahwa pembenaran bergantung pada Kristus, bukan pada stabilitas perasaan kita.
2. Kebebasan dari Rasa Bersalah yang Melumpuhkan
Pembenaran membebaskan dari tuduhan Setan.
Setan disebut “pendakwa.”
Tetapi Allah adalah Hakim tertinggi.
Ketika Allah menyatakan benar, tidak ada dakwaan yang dapat bertahan.
VII. Kesalahpahaman tentang Pembenaran
1. Antinomianisme
Sebagian menyalahgunakan pembenaran sebagai alasan hidup sembarangan.
Teologi Reformed menolak ini.
Pembenaran menghasilkan kasih kepada Allah, bukan kebebasan untuk berdosa.
2. Legalistik
Sebaliknya, ada yang mencampurkan pembenaran dengan usaha manusia.
Itu menghancurkan Injil.
John Calvin berkata bahwa mencampurkan sedikit saja usaha manusia ke dalam dasar pembenaran adalah merampas kemuliaan Kristus.
VIII. Perspektif Eskatologis
Pembenaran sekarang adalah deklarasi pendahuluan dari penghakiman akhir.
Pada hari terakhir, orang percaya tidak akan berdiri berdasarkan kebenaran diri sendiri, tetapi berdasarkan kebenaran Kristus yang telah diperhitungkan.
Herman Bavinck menyatakan bahwa pembenaran sekarang adalah awal dari pembebasan final yang akan dinyatakan sepenuhnya dalam kemuliaan.
IX. Kristus sebagai Pusat Pembenaran
Semua aspek doktrin ini berpusat pada Kristus.
Tanpa Kristus:
-
Tidak ada dasar hukum
-
Tidak ada imputasi
-
Tidak ada pengampunan
-
Tidak ada kepastian
Kristus adalah kebenaran kita.
X. Implikasi bagi Kehidupan Kristen
-
Kerendahan hati — kita tidak menyelamatkan diri.
-
Penyembahan — keselamatan sepenuhnya karya Allah.
-
Keberanian rohani — kita berdiri dalam kebenaran Kristus.
-
Kasih kepada sesama — kita yang diampuni dipanggil mengampuni.
Penutup: Kemuliaan Anugerah
Doktrin pembenaran adalah mahkota Injil. Di dalamnya kita melihat:
-
Keadilan Allah ditegakkan
-
Kasih Allah dinyatakan
-
Dosa dihukum
-
Orang berdosa dibebaskan
Di salib, keadilan dan kasih bertemu.
Pembenaran bukan teori dingin, melainkan kabar baik yang mengubah hidup.
Karena Kristus telah mati dan bangkit, orang berdosa dapat berdiri di hadapan Allah tanpa takut.
Bukan karena dirinya layak.
Bukan karena usahanya cukup.
Tetapi karena Kristus adalah kebenarannya.