Markus 13:14: Pembinasa Keji dan Panggilan untuk Berjaga-jaga

Markus 13:14: Pembinasa Keji dan Panggilan untuk Berjaga-jaga

Teks Alkitab: Markus 13:14 (TB)

“Apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya—para pembaca hendaklah memperhatikannya—maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan.”

Pendahuluan: Nubuat yang Menggetarkan dan Menguji Iman

Markus 13 sering disebut sebagai Khotbah Eskatologis Yesus. Dalam pasal ini, Kristus berbicara tentang kehancuran Bait Allah, penderitaan besar, dan tanda-tanda zaman akhir. Ayat 14 menjadi pusat perhatian karena istilahnya yang misterius: “Pembinasa keji.”

Ayat ini bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi juga wahyu tentang bagaimana Allah bekerja melalui penghakiman dan bagaimana umat-Nya harus hidup dalam kewaspadaan iman.

Dalam teologi Reformed, teks ini dipahami dalam kerangka penggenapan historis dan pola eskatologis yang berulang, tanpa jatuh pada spekulasi sensasional. Para teolog seperti John Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, R. C. Sproul, dan Sinclair Ferguson menekankan pentingnya membaca Markus 13 dalam terang seluruh sejarah penebusan.

Latar Belakang Perjanjian Lama: Akar Istilah “Pembinasa Keji”

Istilah “Pembinasa keji” (Yunani: to bdelygma tēs erēmōseōs) merujuk langsung pada nubuat Daniel (Daniel 9:27; 11:31; 12:11). Dalam konteks Daniel, istilah ini menunjuk pada tindakan pencemaran tempat kudus oleh kekuatan kafir.

John Calvin menafsirkan bahwa dalam konteks aslinya, Daniel berbicara tentang penodaan Bait Allah oleh Antiokhus Epifanes. Namun Yesus mengangkat istilah ini untuk menunjuk pada peristiwa yang akan datang—kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M oleh tentara Romawi.

Geerhardus Vos menegaskan bahwa Yesus tidak sekadar mengutip Daniel secara literal, tetapi menggunakan pola tipologis: pencemaran lama menjadi bayangan dari penghakiman yang lebih besar.

Eksposisi Markus 13:14

1. “Apabila kamu melihat…”

Yesus berbicara tentang suatu tanda yang dapat dikenali. Ini bukan peristiwa tersembunyi, tetapi sesuatu yang nyata dan historis.

R. C. Sproul dalam pendekatan preteris parsialnya menekankan bahwa banyak bagian Markus 13 menemukan penggenapan utama dalam kehancuran Yerusalem. Tanda ini menjadi peringatan bagi orang percaya pada masa itu untuk melarikan diri sebelum kota itu dihancurkan.

Namun teologi Reformed juga mengakui bahwa penghakiman historis ini menjadi pola bagi penghakiman akhir.

2. “Pembinasa keji berdiri di tempat yang tidak sepatutnya”

Frasa ini menunjuk pada tindakan pencemaran terhadap tempat kudus. Secara historis, ini tergenapi ketika pasukan Romawi memasuki dan menghancurkan Bait Allah.

Herman Bavinck melihat peristiwa ini sebagai momen peralihan besar dalam sejarah penebusan: berakhirnya sistem Bait Allah dan penegasan bahwa Kristus adalah Bait sejati.

Dalam perspektif redemptif-historis, kehancuran Bait bukan kegagalan rencana Allah, melainkan penggenapan nubuat Kristus dan penegasan bahwa zaman baru telah dimulai.

3. “Para pembaca hendaklah memperhatikannya”

Frasa ini unik dan menunjukkan bahwa Markus menulis dengan kesadaran pastoral. Ia mengundang pembaca untuk memahami tanda zaman.

Sinclair Ferguson menekankan bahwa Alkitab tidak diberikan untuk memuaskan rasa ingin tahu eskatologis, tetapi untuk membentuk kewaspadaan rohani.

4. “Melarikan diri ke pegunungan”

Perintah ini sangat praktis. Yesus tidak memerintahkan perlawanan militer, tetapi pelarian.

John Calvin mencatat bahwa ketaatan kepada Kristus dalam hal-hal praktis sering kali menjadi alat keselamatan fisik dan rohani.

Menurut tradisi gereja awal, orang-orang Kristen di Yerusalem benar-benar melarikan diri ke Pella sebelum kehancuran kota.

Dimensi Teologis yang Mendalam

1. Kedaulatan Allah dalam Penghakiman

Kehancuran Yerusalem bukan kecelakaan sejarah. Itu adalah bagian dari penghakiman Allah atas penolakan terhadap Mesias.

Louis Berkhof menegaskan bahwa penghakiman Allah selalu adil dan bertujuan menyatakan kekudusan-Nya.

2. Transisi dari Bayangan ke Kepenuhan

Bait Allah sebagai pusat ibadah Perjanjian Lama kini digantikan oleh Kristus sendiri.

Herman Bavinck menulis bahwa seluruh sistem korban dan bait mencapai klimaksnya dalam pribadi Yesus.

3. Pola Eskatologis yang Berulang

Walaupun ayat ini memiliki penggenapan historis, ia juga mencerminkan pola akhir zaman: penyesatan, pencemaran, dan penderitaan sebelum kedatangan Kristus.

Teologi Reformed menghindari spekulasi futuristik yang berlebihan, tetapi tetap mengakui bahwa sejarah bergerak menuju penghakiman terakhir.

Perspektif Kristologis

Yesus bukan hanya nabi yang meramalkan kehancuran, tetapi Raja yang berdaulat atas sejarah.

Ironisnya, Ia sendiri akan dihukum dan disalibkan tidak lama setelah menyampaikan nubuat ini.

Geerhardus Vos menyatakan bahwa salib Kristus adalah pusat sejarah penebusan, dan kehancuran Yerusalem menegaskan transisi menuju perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Nya.

Aplikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini

  1. Hidup dalam kewaspadaan rohani

  2. Tidak melekat pada simbol lahiriah

  3. Memahami bahwa penghakiman Allah itu nyata

  4. Mengandalkan Kristus sebagai Bait sejati

R. C. Sproul menegaskan bahwa pesan utama teks ini bukanlah spekulasi tentang antikristus, melainkan panggilan untuk berjaga-jaga.

Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari

  • Sensasionalisme eskatologis

  • Mengabaikan konteks sejarah abad pertama

  • Menafsirkan setiap peristiwa modern sebagai penggenapan langsung

Teologi Reformed menekankan keseimbangan antara penggenapan historis dan harapan eskatologis.

Penutup: Penghakiman, Peringatan, dan Pengharapan

Markus 13:14 mengingatkan kita bahwa Allah serius terhadap kekudusan-Nya. Bait dapat dihancurkan, sistem religius dapat runtuh, tetapi kerajaan Allah tidak tergoyahkan.

Kristus memanggil umat-Nya untuk berjaga-jaga, taat, dan tidak terikat pada struktur dunia yang sementara. Pada akhirnya, penghakiman sejarah menunjuk kepada penghakiman terakhir—dan hanya mereka yang berlindung dalam Kristus yang akan berdiri teguh.

Next Post Previous Post