Keluaran 8:25–27: Ibadah yang Tidak Dapat Ditawar

Keluaran 8:25–27: Ibadah yang Tidak Dapat Ditawar

Pendahuluan: Ketika Dunia Menawarkan Kompromi

Perikop Keluaran 8:25-27 ini muncul dalam konteks tulah keempat—lalat pikat—yang Tuhan datangkan atas Mesir. Setelah tekanan ilahi semakin berat, Firaun mulai melunak. Namun pelunakannya bukanlah pertobatan sejati. Ia menawarkan kompromi.

Inilah dinamika rohani yang selalu berulang dalam sejarah gereja: ketika kuasa dunia tidak lagi mampu menekan secara brutal, ia mencoba bernegosiasi dengan ibadah.

Dalam perspektif teologi Reformed, bagian ini bukan sekadar catatan sejarah pembebasan Israel, melainkan wahyu tentang:

  • Kekudusan Allah dalam ibadah

  • Kedaulatan Allah atas penguasa dunia

  • Bahaya kompromi rohani

  • Natur penyembahan sejati

  • Panggilan gereja untuk taat sepenuhnya

John Calvin dalam komentarnya atas Keluaran menegaskan bahwa peristiwa ini memperlihatkan bagaimana hati manusia berdosa selalu mencari cara untuk "menaati Allah tanpa benar-benar menaati-Nya."

I. Tawaran Firaun: Strategi Dunia untuk Mengontrol Ibadah (Keluaran 8:25)

"Pergilah, persembahkanlah korban kepada Allahmu di negeri ini."

Ini adalah tawaran kompromi pertama.

Firaun tidak lagi berkata, “Siapakah TUHAN itu?” (Keluaran 5:2). Ia sekarang mengizinkan korban dipersembahkan—tetapi di Mesir.

1. Ibadah Tanpa Pemisahan

Firaun bersedia mengizinkan ibadah, tetapi tanpa eksodus. Tanpa pemisahan. Tanpa ketaatan penuh.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa dunia tidak keberatan dengan agama selama agama itu tidak mengancam struktur kekuasaan dunia. Dunia dapat mentoleransi ibadah privat, tetapi menolak ketaatan publik kepada Allah yang berdaulat.

Dalam konteks ini, tawaran Firaun adalah:

  • Ibadah tanpa ketaatan penuh

  • Kebebasan tanpa transformasi

  • Agama tanpa eksodus

2. Teologi Reformed tentang Antitesis

Abraham Kuyper menegaskan prinsip antitesis: ada pertentangan mendasar antara kerajaan Allah dan kerajaan dunia.

Firaun mencoba menghapus antitesis itu.

Namun penyembahan sejati menuntut pemisahan dari sistem yang menentang Allah. Israel tidak dapat menyembah TUHAN secara sah di tanah perbudakan.

II. Jawaban Musa: Ibadah Tidak Bisa Disesuaikan dengan Dunia (Keluaran 8:26)

"Tidak mungkin kami berbuat demikian..."

Respons Musa tegas dan teologis.

1. Ibadah Harus Sesuai Perintah Allah

Musa berkata bahwa korban mereka adalah kekejian bagi orang Mesir.

Orang Mesir menganggap beberapa hewan korban Israel sebagai suci. Jadi ibadah Israel akan memicu konflik budaya.

Namun alasan utama bukan sekadar sensitivitas sosial, melainkan karena Allah telah menentukan tempat dan cara ibadah itu.

John Calvin menekankan prinsip regulatif ibadah:
Allah harus disembah menurut cara yang Ia tetapkan, bukan menurut kebijaksanaan manusia.

Musa tidak berkata:
“Baiklah, kita modifikasi saja bentuk ibadahnya.”

Ia berkata:
“Tidak mungkin.”

2. Kekudusan Allah Tidak Dapat Dikompromikan

Dalam teologi Reformed, kekudusan Allah berarti Ia sepenuhnya berbeda dari ciptaan dan tidak dapat dinegosiasikan.

R. C. Sproul menyatakan bahwa kekudusan Allah adalah atribut sentral yang menjelaskan semua tindakan-Nya.

Jika Israel beribadah di Mesir, itu berarti:

  • Mengaburkan identitas perjanjian

  • Menghilangkan simbol pembebasan

  • Mengaburkan perbedaan antara umat Allah dan dunia

III. “Tiga Hari Perjalanan”: Ibadah Menuntut Ketaatan Total (Keluaran 8:27)

"Kami harus pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya..."

Ini bukan jarak geografis semata, melainkan jarak teologis.

1. Eksodus sebagai Tipologi Keselamatan

Geerhardus Vos menafsirkan eksodus sebagai peristiwa tipologis yang menunjuk kepada keselamatan dalam Kristus.

Padang gurun adalah:

  • Tempat perjumpaan dengan Allah

  • Tempat pembentukan identitas umat

  • Tempat perjanjian diteguhkan

Israel tidak hanya keluar dari Mesir; mereka dipanggil untuk masuk ke dalam relasi penyembahan.

2. Seperti yang Difirmankan-Nya

Frasa ini penting.

Musa mendasarkan seluruh argumennya pada firman Allah.

Herman Ridderbos menekankan bahwa ketaatan sejati selalu bersifat firman-sentris.

Bukan:

  • Apa yang terasa praktis

  • Apa yang aman secara politik

  • Apa yang diterima budaya

Melainkan:

  • Apa yang difirmankan Tuhan

IV. Dinamika Hati Firaun: Agama Tanpa Pertobatan

Firaun adalah contoh klasik dari apa yang Jonathan Edwards sebut sebagai “emosi religius tanpa transformasi hati.”

Ia:

  • Mengakui kuasa Allah secara pragmatis

  • Memberi konsesi sementara

  • Tetapi tidak menyerahkan diri

Teologi Reformed menyebut ini sebagai respons non-regeneratif.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa tanpa kelahiran baru, manusia tetap memberontak, bahkan ketika ditekan oleh penghakiman.

V. Relevansi bagi Gereja Masa Kini

1. Kompromi Modern

Dunia hari ini juga berkata:

  • “Silakan beribadah, tetapi jangan eksklusif.”

  • “Silakan percaya, tetapi jangan menyatakan kebenaran mutlak.”

  • “Silakan menjadi rohani, tetapi jangan memengaruhi publik.”

Itu adalah tawaran Firaun versi modern.

2. Bahaya Ibadah di Tanah Perbudakan

Gereja dapat tergoda untuk:

  • Menyesuaikan pesan agar diterima

  • Mengurangi kebenaran agar tidak ofensif

  • Menghindari tema dosa dan penghakiman

Namun John Owen mengingatkan bahwa ketika gereja menyesuaikan diri dengan dunia, ia kehilangan kuasa rohaninya.

VI. Kristus sebagai Penggenapan Eksodus

Eksodus adalah bayangan.

Kristus adalah realitas.

Ia membawa umat-Nya keluar dari:

  • Perbudakan dosa

  • Kuasa Iblis

  • Kerajaan kegelapan

Dan membawa mereka kepada penyembahan sejati.

Sinclair Ferguson menekankan bahwa keselamatan bukan hanya pembebasan dari hukuman, tetapi pembebasan untuk ibadah.

VII. Teologi Ibadah dalam Perspektif Reformed

1. Prinsip Regulatif

Allah menentukan bagaimana Ia disembah.

2. Pemisahan Rohani

Gereja dipanggil untuk berbeda.

3. Ketaatan Total

Setengah ketaatan adalah ketidaktaatan.

4. Kristus sebagai Pusat

Semua ibadah sejati berpusat pada Kristus.

VIII. Dimensi Eskatologis

Eksodus menunjuk kepada pembebasan akhir.

Seperti Israel keluar dari Mesir untuk menyembah, demikian gereja akan keluar dari dunia ini menuju penyembahan kekal.

Wahyu 15 menggambarkan umat yang ditebus menyanyikan nyanyian Musa dan Anak Domba—menghubungkan eksodus lama dengan keselamatan akhir.

IX. Refleksi Pastoral

  1. Apakah kita menerima kompromi rohani?

  2. Apakah ibadah kita dibentuk oleh firman atau budaya?

  3. Apakah kita sungguh keluar dari “Mesir”?

Keluaran 8:25–27 menantang kita untuk melihat bahwa ibadah sejati tidak dapat dinegosiasikan.

Penutup: Tidak Mungkin Kami Berbuat Demikian

Jawaban Musa harus menjadi jawaban gereja sepanjang zaman:

“Tidak mungkin.”

Tidak mungkin menyembah Allah dengan cara dunia.
Tidak mungkin taat setengah-setengah.
Tidak mungkin memisahkan keselamatan dari kekudusan.

Allah yang kudus menuntut ibadah yang kudus.
Dan hanya melalui Kristus—Anak Domba sejati—kita dapat mempersembahkan korban yang berkenan kepada-Nya.

Next Post Previous Post