Kasih Injili, Damai Sejahtera Gereja, dan Kesatuan Tubuh Kristus

Kasih Injili, Damai Sejahtera Gereja, dan Kesatuan Tubuh Kristus

Pendahuluan: Keindahan yang Sering Terlupakan

Di tengah perdebatan teologis, perbedaan denominasi, dan ketegangan gerejawi, satu pertanyaan mendesak muncul: apakah kasih Injili masih menjadi napas kehidupan gereja?

Judul “Evangelical Love, Church Peace, and Unity” (Kasih Injili, Damai Sejahtera Gereja, dan Kesatuan) menyentuh inti dari kehidupan komunitas Kristen. Teologi Reformed yang kokoh dalam doktrin tidak pernah dimaksudkan untuk menghasilkan kekerasan hati atau perpecahan yang tidak perlu. Sebaliknya, Reformasi lahir dari kerinduan untuk memulihkan gereja kepada Injil — dan Injil menghasilkan kasih.

Dalam artikel ini, kita akan mengeksposisi dua bagian penting Alkitab:

  • Yohanes 13:34–35 — perintah kasih yang baru

  • Efesus 4:1–6 — panggilan untuk memelihara kesatuan Roh

Kemudian kita akan menggali pemikiran para teolog Reformed seperti John Calvin, Herman Bavinck, John Owen, Francis Turretin, Jonathan Edwards, Abraham Kuyper, Sinclair Ferguson, dan R. C. Sproul untuk melihat bagaimana kasih Injili menjadi fondasi damai sejahtera dan kesatuan gereja.

I. Kasih Injili: Perintah yang Berakar pada Salib

Eksposisi Yohanes 13:34–35

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

1. “Perintah Baru”: Apa yang Baru?

Yesus menyebutnya “perintah baru.” Padahal kasih kepada sesama sudah ada dalam Taurat.

Yang baru bukanlah konsep kasih, tetapi standarnya:

“Sama seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Standar kasih Kristen bukanlah ukuran manusia, melainkan kasih Kristus yang berkorban.

John Calvin menafsirkan bahwa kasih Kristus menjadi pola dan sumber kasih gereja. Ia bukan hanya teladan, tetapi juga kuasa yang memungkinkan kasih itu.

Kasih Injili adalah kasih yang:

  • Bersumber dari penebusan

  • Dipelihara oleh Roh Kudus

  • Berorientasi pada kemuliaan Allah

2. Kasih sebagai Tanda Identitas Gereja

Yesus berkata bahwa dunia akan mengenal murid-murid-Nya melalui kasih mereka.

R. C. Sproul menegaskan bahwa ortodoksi tanpa kasih menghasilkan kekerasan rohani. Namun kasih tanpa kebenaran menghasilkan kompromi.

Teologi Reformed selalu menekankan keseimbangan:

  • Kasih tanpa kebenaran adalah sentimentalitas.

  • Kebenaran tanpa kasih adalah kekejaman.

Kasih Injili berdiri di atas kebenaran Injil.

II. Damai Sejahtera Gereja: Panggilan untuk Memelihara Kesatuan

Eksposisi Efesus 4:1–6

“...berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.”

1. Kesatuan yang Sudah Diberikan

Paulus tidak berkata “ciptakan kesatuan,” melainkan “peliharalah kesatuan.”

Dalam teologi Reformed, kesatuan gereja bersifat objektif karena didasarkan pada:

  • Satu tubuh

  • Satu Roh

  • Satu Tuhan

  • Satu iman

  • Satu baptisan

Herman Bavinck menegaskan bahwa gereja adalah organisme rohani yang disatukan oleh karya Kristus.

Kesatuan sejati bukan hasil kompromi doktrin, tetapi hasil karya Roh.

2. Kerendahan Hati sebagai Fondasi Damai

Paulus menyebut:

  • Rendah hati

  • Lemah lembut

  • Sabar

  • Saling membantu dalam kasih

John Owen menyatakan bahwa sebagian besar konflik gereja bukan lahir dari doktrin, tetapi dari kesombongan hati.

Teologi Reformed yang benar selalu menghasilkan kerendahan hati karena ia mengajarkan:

  • Ketidaklayakan total manusia

  • Anugerah yang mutlak

  • Ketergantungan pada Allah

Jika keselamatan adalah anugerah, tidak ada ruang untuk kesombongan rohani.

III. Kasih Injili dalam Perspektif Teologi Reformed

1. Jonathan Edwards: Kasih sebagai Tanda Iman Sejati

Edwards dalam Religious Affections menyatakan bahwa kasih kepada Allah dan sesama adalah tanda utama kelahiran baru.

Kasih bukan sekadar emosi, tetapi disposisi hati yang diperbarui.

2. John Calvin: Gereja sebagai Ibu Rohani

Calvin menyebut gereja sebagai “ibu” orang percaya.

Ia menekankan bahwa kita tidak dapat memiliki Allah sebagai Bapa jika kita menolak gereja sebagai ibu.

Ini berarti bahwa kesatuan gereja bukan opsi sekunder, tetapi bagian dari kehidupan iman.

IV. Bahaya terhadap Damai Sejahtera Gereja

1. Perpecahan karena Ambisi Pribadi

Abraham Kuyper memperingatkan bahwa konflik sering kali muncul ketika gereja lebih mencerminkan budaya politik daripada karakter Kristus.

2. Kompromi demi Kesatuan Palsu

Kesatuan tidak boleh dibangun di atas pengabaian doktrin inti.

Francis Turretin menegaskan bahwa ada perbedaan antara:

  • Kesalahan yang menghancurkan Injil

  • Perbedaan sekunder yang masih dapat ditoleransi

Gereja dipanggil untuk membedakan keduanya dengan hikmat.

V. Kristus sebagai Dasar Kesatuan

Efesus 2 menyatakan bahwa Kristus adalah damai sejahtera kita.

Ia merobohkan tembok pemisah.

Kesatuan gereja tidak didasarkan pada kesamaan budaya, tetapi pada darah Kristus.

Sinclair Ferguson menekankan bahwa gereja adalah komunitas orang-orang berdosa yang diampuni.

Jika kita mengingat bahwa kita semua berdiri karena anugerah, maka kesabaran akan tumbuh.

VI. Dimensi Perjanjian dan Tubuh Kristus

Teologi Reformed melihat gereja dalam kerangka perjanjian.

Allah mengikat umat-Nya dalam satu komunitas.

Tubuh Kristus adalah realitas rohani yang melampaui batas lokal dan historis.

Herman Bavinck menulis bahwa kesatuan gereja adalah refleksi dari kesatuan Tritunggal.

Sebagaimana Bapa, Anak, dan Roh Kudus satu dalam esensi dan tujuan, demikian gereja dipanggil untuk mencerminkan kesatuan itu.

VII. Aplikasi Pastoral

1. Mengasihi dalam Perbedaan

Tidak semua perbedaan adalah alasan untuk perpecahan.

Kita harus membedakan antara:

  • Doktrin esensial

  • Preferensi pribadi

2. Menjaga Lidah dan Sikap

Banyak konflik gereja dimulai dari kata-kata yang tidak dijaga.

Kasih Injili memanggil kita untuk berbicara benar dalam kasih.

3. Berdoa bagi Kesatuan

Kesatuan bukan produk organisasi, tetapi karya Roh.

Gereja harus terus berdoa agar Roh Kudus memelihara damai sejahtera.

VIII. Perspektif Eskatologis

Kesatuan gereja sekarang adalah bayangan dari kesatuan sempurna di masa depan.

Wahyu menggambarkan umat dari segala bangsa bersatu dalam penyembahan.

Kasih Injili hari ini adalah persiapan bagi persekutuan kekal itu.

IX. Ketegangan antara Kebenaran dan Kasih

Teologi Reformed mengajarkan bahwa:

  • Kebenaran harus dijaga tanpa kompromi.

  • Kasih harus dipraktikkan tanpa kepahitan.

John Murray menulis bahwa integritas doktrin dan kelembutan hati bukan dua hal yang bertentangan.

Penutup: Kemuliaan Kristus dalam Gereja yang Bersatu

Kasih Injili bukan tambahan opsional. Ia adalah tanda kehidupan baru.

Damai sejahtera gereja bukan sekadar kondisi sosial, melainkan buah dari karya Roh Kudus.

Kesatuan bukan keseragaman, tetapi harmoni dalam kebenaran.

Gereja yang mengasihi dengan kasih Kristus akan memancarkan kemuliaan-Nya kepada dunia.

Kiranya kita menjadi gereja yang:

  • Teguh dalam doktrin

  • Lembut dalam kasih

  • Sabar dalam perbedaan

  • Setia dalam kesatuan

Karena pada akhirnya, dunia akan mengenal Kristus bukan hanya melalui pengakuan iman kita, tetapi melalui kasih kita satu sama lain.


Next Post Previous Post