Kejadian 14:13–15: Iman yang Bertindak di Tengah Konflik

Kejadian 14:13–15: Iman yang Bertindak di Tengah Konflik

Pendahuluan: Iman yang Tidak Pasif

Kejadian 14 sering dianggap sebagai bagian naratif yang “asing” dalam kisah Abraham. Di tengah janji perjanjian, altar, dan ibadah, tiba-tiba muncul kisah peperangan antar raja, strategi militer, dan pengejaran bersenjata. Namun justru di sinilah teologi Alkitab memperlihatkan kedalamannya: iman sejati tidak pernah terlepas dari realitas dunia yang keras.

Kejadian 14:13–15 menampilkan Abram bukan hanya sebagai bapak orang beriman, tetapi juga sebagai pemimpin yang bertindak tegas demi keselamatan sesamanya. Dalam perspektif Reformed, perikop ini menyingkap hubungan erat antara iman dan tindakan, kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia, serta janji perjanjian dan realitas konflik.

Konteks Historis dan Redemptif Kejadian 14

1. Dunia yang Diliputi Kekerasan dan Kekuasaan

Kejadian 14 mencatat konflik geopolitik kuno antara koalisi raja-raja. Lot, keponakan Abram, terseret dalam konflik ini karena memilih menetap di Sodom (Kej. 13).

Herman Bavinck menegaskan bahwa Alkitab tidak pernah mengabstraksi iman dari sejarah:

“Penyataan Allah selalu terjadi di tengah dunia nyata yang ditandai dosa, konflik, dan kekuasaan.”

Abram hidup di dunia yang sama—dunia yang berbahaya—namun ia hidup di bawah janji Allah.

2. Abram: Peziarah dan Pejuang

Sebagai penerima janji Allah (Kej. 12), Abram dipanggil untuk hidup sebagai peziarah. Namun Kejadian 14 menunjukkan bahwa peziarah ini tidak pasif, tidak apatis, dan tidak menarik diri dari tanggung jawab moral.

John Calvin menulis:

“Iman tidak membebaskan manusia dari kewajiban kasih terhadap sesama, tetapi justru mengikatnya lebih kuat.”

Eksposisi Kejadian 14:13–15

Kejadian 14:13 – Panggilan untuk Bertindak

Seorang pelarian datang membawa kabar buruk: Lot tertawan. Abram disebut secara khusus sebagai “orang Ibrani”, istilah yang menegaskan identitasnya sebagai orang asing namun juga sebagai bagian dari rencana Allah.

Ia tinggal di dekat Mamre, bersama sekutu-sekutu non-Ibrani. Ini menunjukkan bahwa Abram hidup dalam relasi sosial dan politik yang nyata, tanpa mengorbankan kesetiaannya kepada Allah.

R.C. Sproul menegaskan bahwa iman alkitabiah selalu hidup dalam ketegangan antara “terpisah” dan “terlibat”.

Kejadian 14:14 – Respons Iman yang Konkret

Abram tidak berdebat, tidak menunda, dan tidak bersembunyi di balik janji ilahi. Ia segera bertindak.

Ia mengerahkan:

  • Orang-orang terlatih

  • Yang lahir di rumahnya

  • Dengan jumlah yang terbatas: 318 orang

Secara militer, ini tampak mustahil. Namun iman Abram tidak bersandar pada jumlah, melainkan pada Allah yang berjanji.

John Owen menulis:

“Iman sejati tidak meniadakan penggunaan sarana, tetapi menguduskan sarana tersebut di bawah ketergantungan kepada Allah.”

Abram mengejar musuh sampai ke Dan—tindakan yang menunjukkan komitmen total, bukan usaha setengah hati.

Kejadian 14:15 – Kemenangan yang Dikerjakan Allah

Strategi malam dan pembagian pasukan menunjukkan hikmat manusia. Namun keberhasilan mereka tidak dijelaskan secara naturalistis. Narasi Alkitab sengaja menyingkat detail untuk menekankan satu hal: Allah memberikan kemenangan.

Jonathan Edwards melihat kemenangan orang percaya bukan sebagai bukti kehebatan manusia, tetapi sebagai demonstrasi kemuliaan Allah yang bekerja melalui kelemahan.

Kedaulatan Allah dan Tanggung Jawab Manusia

Kejadian 14:13–15 adalah contoh klasik sinergi Reformed:

  • Allah berdaulat penuh atas hasil

  • Manusia bertanggung jawab penuh atas tindakan

Louis Berkhof menyatakan:

“Kedaulatan Allah tidak meniadakan kehendak manusia, tetapi menopangnya.”

Abram bertindak sepenuhnya, namun kemenangan itu tetap anugerah Allah.

Abram sebagai Bayangan Kristus

Dalam pembacaan redemptif-historis, Abram di sini menjadi bayangan Kristus:

  • Lot tertawan → umat yang tak berdaya

  • Abram mengejar musuh → Kristus menyerbu kerajaan dosa

  • Kemenangan → pembebasan

Sebagaimana Abram mempertaruhkan dirinya demi Lot, Kristus menyerahkan diri-Nya sepenuhnya demi umat-Nya.

Implikasi Etis dan Pastoral

1. Iman yang Bertanggung Jawab

Iman tidak boleh dijadikan alasan untuk pasivitas moral.

2. Kasih yang Berkorban

Abram mempertaruhkan keamanan demi kasih kepada Lot—bahkan kepada kerabat yang pernah memilih jalan berbeda.

3. Keberanian yang Bersandar pada Allah

Keberanian Kristen bukan nekat, melainkan ketaatan yang bersandar pada janji Allah.

Gereja dan Konflik Dunia

Kejadian 14 menolong gereja memahami bahwa:

  • Gereja hidup di dunia yang penuh konflik

  • Gereja tidak dipanggil untuk kekerasan, tetapi untuk tanggung jawab

  • Gereja harus bertindak adil, berani, dan berhikmat

Penutup: Iman yang Bergerak di Bawah Janji

Kejadian 14:13–15 mengajarkan bahwa iman sejati tidak melarikan diri dari dunia, tetapi bergerak di dalamnya dengan keyakinan bahwa Allah tetap berdaulat.

Abram menang bukan karena kekuatan, tetapi karena Allah setia pada janji-Nya. Demikian pula, umat Allah hari ini dipanggil untuk hidup berani, bertanggung jawab, dan taat—bukan demi kemenangan diri, tetapi demi kemuliaan Allah.

Next Post Previous Post