Kisah Para Rasul 11:19: Injil yang Tersebar Melalui Penderitaan
.jpg)
Terjemahan Kisah Para Rasul 11:19 (Terjemahan Baru – TB)
Kisah Para Rasul 11:19
“Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja.”
Pendahuluan: Gereja yang Bertumbuh di Tengah Tekanan
Kisah Para Rasul 11:19 membawa kita pada salah satu paradoks terbesar dalam sejarah gereja: penganiayaan tidak memadamkan Injil, melainkan justru menyebarkannya. Ayat ini tampak singkat, namun sarat dengan makna teologis yang dalam. Ia menjadi jembatan antara kematian Stefanus (Kis. 7) dan lahirnya gereja Antiokhia, pusat misi non-Yahudi yang kelak memainkan peranan besar dalam sejarah Kekristenan.
Dalam perspektif teologi Reformed, ayat ini menyingkap hubungan erat antara kedaulatan Allah, penderitaan umat-Nya, dan kemajuan misi Injil. Apa yang dimaksudkan manusia untuk menghancurkan gereja justru dipakai Allah untuk menggenapi rencana-Nya yang kekal.
Konteks Historis dan Naratif Kisah Para Rasul 11
1. Kematian Stefanus sebagai Titik Balik
Penganiayaan besar terhadap gereja Yerusalem dimulai setelah Stefanus dirajam sampai mati. Stefanus adalah martir Kristen pertama, dan kematiannya menandai eskalasi penolakan terhadap Injil.
John Calvin menulis:
“Darah para martir tidak pernah dicurahkan tanpa maksud ilahi; Allah mengubah kekejaman manusia menjadi benih gereja.”
(Commentary on Acts)
Kematian Stefanus bukan kegagalan misi, melainkan alat ilahi untuk mendorong gereja keluar dari zona nyaman Yerusalem.
2. Gereja yang Tersebar, Bukan Hancur
Kata “tersebar” dalam ayat ini penting. Gereja tidak dibubarkan, tetapi didispersikan. Dalam istilah teologi Reformed, ini adalah contoh nyata providensia Allah: Allah mengatur bahkan penderitaan untuk tujuan penebusan.
Herman Bavinck menyatakan:
“Providensia Allah bukan hanya memelihara ciptaan, tetapi juga mengarahkan sejarah keselamatan menuju tujuannya.”
Eksposisi Kisah Para Rasul 11:19
1. “Banyak Saudara-saudara Telah Tersebar”
Yang tersebar bukan rasul-rasul, melainkan jemaat biasa. Ini menunjukkan bahwa misi gereja bukan hanya tugas pemimpin rohani, tetapi panggilan seluruh umat Allah.
R.C. Sproul menegaskan:
“Gereja mula-mula bertumbuh bukan terutama melalui program, tetapi melalui kesetiaan orang-orang biasa dalam keadaan luar biasa.”
2. Penganiayaan sebagai Sarana Misi
Penganiayaan muncul sebagai akibat kebencian terhadap Injil, namun Allah menggunakannya sebagai sarana penggenapan Amanat Agung.
John Owen melihat penderitaan sebagai bagian dari pemurnian gereja:
“Allah sering memakai api penderitaan untuk memurnikan iman dan memperluas kesaksian umat-Nya.”
Ini selaras dengan doktrin Reformed tentang kedaulatan Allah atas kejahatan—Allah tidak menjadi pencipta dosa, tetapi berdaulat menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.
3. Injil Diberitakan “kepada Orang Yahudi Saja”
Bagian terakhir ayat ini menunjukkan keterbatasan pemahaman gereja mula-mula. Mereka setia memberitakan Injil, tetapi masih terikat oleh batas etnis.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa pewahyuan Allah bersifat progresif. Gereja mula-mula masih berada dalam proses memahami luasnya rencana Allah bagi bangsa-bangsa.
Ayat ini mempersiapkan pembaca untuk kejutan besar dalam sejarah gereja: Injil bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi, yang akan berkembang di Antiokhia.
Teologi Reformed tentang Penderitaan dan Misi
1. Penderitaan Bukan Kebetulan
Dalam teologi Reformed, penderitaan bukan kecelakaan sejarah. Allah yang berdaulat mengizinkan penderitaan untuk tujuan yang lebih besar.
John Calvin menulis:
“Tidak ada penderitaan yang terjadi di luar tangan Bapa yang penuh hikmat.”
2. Misi sebagai Karya Allah yang Berdaulat
Ayat ini menegaskan bahwa misi bukan terutama strategi manusia, melainkan karya Allah yang menggerakkan umat-Nya—bahkan melalui penderitaan.
Jonathan Edwards melihat misi sebagai ekspresi kemuliaan Allah:
“Allah dimuliakan ketika Injil-Nya menjangkau bangsa-bangsa, meskipun melalui jalan yang penuh air mata.”
Dari Yerusalem ke Antiokhia: Pergeseran Pusat Misi
Kisah Para Rasul 11:19 membuka jalan bagi munculnya Antiokhia sebagai pusat misi dunia. Dari kota inilah Paulus dan Barnabas diutus.
Ini menunjukkan bahwa Allah tidak terikat pada satu pusat religius. Gereja dapat berkembang di mana saja ketika Injil diberitakan dengan setia.
Implikasi Pastoral dan Gerejawi Masa Kini
1. Gereja di Tengah Tekanan
Gereja masa kini sering mengaitkan keberhasilan dengan kenyamanan dan kebebasan. Kisah Para Rasul 11:19 menantang paradigma ini.
2. Setiap Orang Percaya adalah Saksi
Injil tersebar bukan melalui struktur besar, tetapi melalui orang-orang biasa yang setia di tengah penderitaan.
3. Keterbatasan yang Dipakai Allah
Meskipun mereka hanya memberitakan Injil kepada orang Yahudi, Allah tetap memakai ketaatan mereka sebagai langkah awal rencana yang lebih besar.
Kristus sebagai Pola Tertinggi
Sebagaimana gereja tersebar melalui penderitaan, demikian pula Kristus membawa keselamatan melalui salib. Jalan penderitaan adalah jalan kemuliaan dalam rencana Allah.
Penutup: Injil Tidak Terbelenggu
Kisah Para Rasul 11:19 mengajarkan bahwa Injil tidak dapat dibungkam oleh penganiayaan. Gereja mungkin tersebar, tetapi Injil justru meluas.
Dalam terang teologi Reformed, ayat ini menguatkan iman kita bahwa:
-
Allah tetap berdaulat di tengah penderitaan
-
Gereja tetap bermisi di tengah tekanan
-
Injil akan mencapai tujuan yang telah Allah tetapkan