Keluaran 8:24: Negeri yang Menderita karena Murka Allah

Keluaran 8:24: Negeri yang Menderita karena Murka Allah

Teks Alkitab: Keluaran 8:24 (TB)

“TUHAN berbuat demikian; maka datanglah banyak-banyak pikat ke dalam istana Firaun dan ke dalam rumah pegawai-pegawainya dan ke seluruh tanah Mesir; negeri itu menderita karena pikat itu.”

Pendahuluan: Ketika Allah Bertindak dan Negeri Menderita

Keluaran 8:24 berdiri sebagai kesaksian yang tajam tentang tindakan aktif Allah dalam sejarah. Ayat ini bukan sekadar laporan tentang wabah lalat (pikat), tetapi pernyataan teologis bahwa Allah yang kudus dan berdaulat sedang menghakimi dosa secara nyata dan terukur. Kalimat pembuka ayat ini—“TUHAN berbuat demikian”—menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan fenomena alam biasa, melainkan tindakan ilahi yang disengaja.

Dalam teologi Reformed, teks ini dibaca sebagai bagian dari narasi penebusan yang lebih besar, di mana Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Tuhan yang berdaulat atas alam, sejarah, dan penguasa-penguasa dunia. Tulah-tulah Mesir tidak boleh direduksi menjadi kisah mukjizat spektakuler semata, tetapi harus dipahami sebagai wahyu tentang karakter Allah: Ia adalah Allah yang kudus, adil, setia pada perjanjian-Nya, dan tidak dapat dipermainkan oleh kuasa manusia mana pun.

John Calvin menegaskan bahwa tulah-tulah Mesir diberikan bukan hanya untuk menghukum Mesir, tetapi untuk mendidik umat Allah tentang siapa Dia yang mereka sembah.

Latar Belakang Redemptif-Historis Keluaran 8

1. Konteks Penindasan dan Penebusan

Bangsa Israel hidup dalam perbudakan Mesir selama ratusan tahun. Allah mendengar seruan umat-Nya dan bertindak untuk melepaskan mereka. Tulah-tulah adalah sarana Allah untuk:

  • Menyatakan kuasa-Nya

  • Menghakimi ilah-ilah Mesir

  • Membebaskan umat perjanjian-Nya

Herman Bavinck menekankan bahwa penebusan dalam Alkitab selalu bersifat historis dan konkret—Allah bertindak dalam ruang dan waktu.

2. Posisi Tulah Keempat

Keluaran 8:24 merupakan puncak dari tulah keempat, yakni wabah pikat (lalat). Pada titik ini, perbedaan antara Mesir dan Israel mulai dinyatakan secara jelas (lih. Keluaran 8:22–23).

Meredith G. Kline melihat tulah-tulah ini sebagai tindakan hukum perjanjian (covenantal sanctions), di mana Allah menegakkan keadilan perjanjian terhadap penguasa yang memberontak.

Eksposisi Keluaran 8:24

“TUHAN Berbuat Demikian”: Penegasan Kedaulatan Ilahi

Ayat ini diawali dengan pernyataan eksplisit tentang subjek tindakan: TUHAN. Penulis Alkitab ingin meniadakan segala kemungkinan tafsir naturalistik atau kebetulan.

R. C. Sproul menegaskan bahwa salah satu tema utama Alkitab adalah kedaulatan Allah—tidak ada peristiwa yang berada di luar kendali-Nya.

Dengan menyatakan bahwa TUHAN sendiri yang “berbuat demikian”, Alkitab menegaskan bahwa penghakiman adalah bagian dari karakter Allah yang kudus, bukan penyimpangan dari kasih-Nya.

Banyak-Banyak Pikat: Intensitas Murka Allah

Ungkapan “banyak-banyak pikat” menunjukkan intensitas dan skala tulah tersebut. Ini bukan gangguan kecil, tetapi penderitaan nasional.

John Owen menekankan bahwa murka Allah bukan ledakan emosi, melainkan respons kudus dan terukur terhadap dosa yang terus-menerus dipelihara.

Istana Firaun Tidak Kebal

Pikat memasuki istana Firaun dan rumah para pejabat. Ini menegaskan bahwa tidak ada zona aman bagi pemberontakan terhadap Allah.

Louis Berkhof menulis bahwa Allah tidak pernah gentar menghadapi struktur kekuasaan manusia, sebab seluruh otoritas berada di bawah-Nya.

Negeri Itu Menderita: Dampak Kolektif Dosa

Ayat ini diakhiri dengan pernyataan tragis: “negeri itu menderita.” Dosa penguasa membawa penderitaan bagi seluruh negeri.

Geerhardus Vos menekankan bahwa dosa memiliki dimensi struktural dan komunal, bukan hanya individual.

Dimensi Teologis Utama

1. Kekudusan Allah dan Ketidaktoleranan terhadap Dosa

Allah tidak menoleransi penindasan, kesombongan, dan penolakan terhadap firman-Nya.

2. Keadilan Perjanjian

Tulah adalah bentuk keadilan perjanjian—Allah setia menepati ancaman-Nya seperti Ia setia pada janji-Nya.

3. Pembedaan Anugerah

Allah membedakan umat-Nya dari Mesir, bukan karena kebaikan Israel, tetapi karena anugerah-Nya.

Sinclair B. Ferguson menegaskan bahwa pemilihan Allah selalu mendahului ketaatan manusia.

Dimensi Kristologis: Dari Tulah ke Salib

Tulah Mesir menunjuk kepada realitas yang lebih besar: murka Allah atas dosa. Namun dalam Injil, murka itu ditanggung oleh Kristus.

Jonathan Edwards menulis bahwa keadilan Allah tidak dihapuskan di salib, melainkan dipuaskan.

Kristus menjadi “negeri yang menderita” demi umat-Nya.

Dimensi Pastoral: Peringatan dan Penghiburan

Peringatan bagi yang Menolak Firman

Firaun menjadi contoh kerasnya hati yang membawa kehancuran.

Penghiburan bagi Umat Allah

Allah tidak melupakan umat-Nya yang tertindas.

J. I. Packer menegaskan bahwa keadilan Allah adalah kabar baik bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Relevansi bagi Gereja Masa Kini

  1. Allah masih berdaulat atas sejarah

  2. Dosa memiliki konsekuensi nyata

  3. Anugerah tidak meniadakan keadilan

Gereja dipanggil untuk hidup dalam kekudusan dan kepekaan terhadap firman Tuhan.

Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari

  • Menafsirkan tulah secara moralistik semata

  • Mengabaikan konteks perjanjian

  • Memisahkan keadilan dari kasih Allah

Teologi Reformed menegaskan kesatuan atribut Allah.

Penutup: Allah yang Bertindak demi Kemuliaan-Nya

Keluaran 8:24 mengingatkan kita bahwa Allah bukan pengamat pasif sejarah. Ia bertindak, menghakimi, dan menyelamatkan. Negeri Mesir menderita karena menolak Allah, tetapi melalui penderitaan itu, Allah memuliakan nama-Nya dan membuka jalan penebusan bagi umat-Nya.

Kiranya gereja masa kini belajar takut akan Tuhan, berharap pada anugerah-Nya, dan hidup setia di hadapan Allah yang kudus dan berdaulat.

Next Post Previous Post