Markus 13:9–13: Bertahan Sampai Kesudahan
.jpg)
Pendahuluan: Injil yang Tidak Terpisah dari Salib
Markus 13:9–13 membawa pembaca masuk ke dalam salah satu ajaran Yesus yang paling serius dan menantang: panggilan untuk mengikut Dia di tengah penderitaan, penolakan, dan penganiayaan. Di sini, Yesus tidak menawarkan Injil yang menjanjikan kenyamanan duniawi, melainkan Injil yang menuntut ketekunan iman hingga akhir. Bagian ini bukan sekadar nubuat tentang masa depan, tetapi pedoman eksistensial bagi gereja sepanjang zaman.
Dalam teologi Reformed, teks ini dipahami sebagai pernyataan yang jelas bahwa penderitaan bukan penyimpangan dari kehendak Allah, melainkan bagian integral dari panggilan gereja dalam dunia yang jatuh ke dalam dosa. John Calvin menegaskan bahwa salib bukanlah kecelakaan dalam kehidupan Kristen, melainkan meterai pemuridan sejati.
Yesus menempatkan murid-murid-Nya—dan gereja sepanjang sejarah—dalam konteks konflik rohani yang nyata. Namun Ia juga memberi penghiburan: penderitaan ini tidak sia-sia, karena melalui penderitaan itulah Injil menjadi kesaksian bagi dunia.
Latar Belakang Konteks Markus 13
1. Khotbah di Bukit Zaitun
Markus 13 merupakan bagian dari khotbah Yesus di Bukit Zaitun, yang sering disebut sebagai Khotbah Eskatologis. Yesus berbicara tentang kehancuran Yerusalem, penderitaan gereja, dan kedatangan Anak Manusia.
Geerhardus Vos menekankan bahwa khotbah ini bersifat “already and not yet”—berbicara sekaligus tentang peristiwa dekat dan realitas akhir zaman.
2. Murid sebagai Wakil Gereja
Apa yang Yesus katakan kepada para murid bukan hanya relevan bagi mereka secara historis, tetapi juga normatif bagi gereja sepanjang zaman.
Herman Bavinck menyatakan bahwa gereja selalu hidup dalam ketegangan antara Kerajaan Allah yang telah datang dan dunia yang masih memberontak.
Eksposisi Markus 13:9
Penderitaan sebagai Kesempatan Bersaksi
Yesus memperingatkan murid-murid agar waspada. Mereka akan diseret ke pengadilan agama dan sipil, bukan karena kejahatan, tetapi “karena Aku”.
Ini menunjukkan bahwa penderitaan Kristen bersifat kristosentris. Bukan semua penderitaan adalah penderitaan Kristen, tetapi penderitaan karena kesetiaan kepada Kristus.
John Calvin menegaskan bahwa penganiayaan terhadap orang percaya adalah bukti bahwa dunia membenci terang.
Namun Yesus menyatakan bahwa penderitaan itu memiliki tujuan: “sebagai kesaksian bagi mereka.” Pengadilan dunia menjadi mimbar Injil.
Eksposisi Markus 13:10
Keharusan Pemberitaan Injil kepada Semua Bangsa
Ayat ini menegaskan prioritas utama gereja: Injil harus diberitakan kepada semua bangsa. Kata “harus” menunjukkan keharusan ilahi (divine necessity).
J. I. Packer menekankan bahwa misi bukan program opsional gereja, melainkan partisipasi dalam kehendak kekal Allah.
Penderitaan gereja tidak menghentikan misi, justru sering kali menjadi sarana penyebaran Injil.
Eksposisi Markus 13:11
Roh Kudus sebagai Pemberi Kata dan Kuasa
Yesus melarang kekhawatiran berlebihan. Murid tidak diminta mengandalkan kecakapan retorika, tetapi kehadiran Roh Kudus.
John Owen menegaskan bahwa Roh Kudus bukan hanya memberi keberanian, tetapi juga hikmat dan ketepatan kata dalam kesaksian.
Ayat ini tidak menghapus pentingnya persiapan rohani, tetapi menegaskan bahwa dalam saat krisis, Allah sendiri yang berbicara melalui umat-Nya.
Eksposisi Markus 13:12
Perpecahan Keluarga karena Injil
Yesus berbicara dengan realisme yang tajam. Injil akan memecah hubungan paling intim—keluarga.
R. C. Sproul menegaskan bahwa Injil bukan hanya berita penghiburan, tetapi juga pedang yang memisahkan terang dan gelap.
Namun perpecahan ini bukan tujuan Injil, melainkan konsekuensi dari keputusan iman yang radikal.
Eksposisi Markus 13:13
Kebencian Dunia dan Ketekunan Orang Percaya
Yesus tidak menyembunyikan fakta bahwa murid-murid-Nya akan dibenci. Dunia membenci karena Nama Kristus.
Namun ayat ini juga mengandung janji yang kuat: “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat.”
Dalam teologi Reformed, ketekunan orang percaya (perseverance of the saints) bukan hasil kekuatan manusia, tetapi karya anugerah Allah yang memelihara iman umat-Nya.
Jonathan Edwards menegaskan bahwa ketekunan adalah tanda iman sejati, bukan syarat tambahan keselamatan.
Dimensi Teologis Utama
1. Kristologi Salib
Yesus memanggil murid mengikuti jalan salib sebelum kemuliaan.
2. Pneumatologi Penghiburan
Roh Kudus menyertai dan memampukan gereja dalam penderitaan.
3. Eklesiologi Misioner
Gereja hidup untuk bersaksi, bukan untuk menghindari penderitaan.
Ketekunan Orang Kudus dalam Perspektif Reformed
Louis Berkhof menegaskan bahwa keselamatan sejati pasti menghasilkan ketekunan, karena Allah setia memelihara umat pilihan-Nya.
Ketekunan bukan berarti tanpa jatuh, tetapi tidak pernah ditinggalkan Allah.
Aplikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini
-
Jangan terkejut oleh penderitaan
-
Jangan malu bersaksi
-
Jangan takut kehilangan penerimaan dunia
Sinclair B. Ferguson menekankan bahwa gereja yang setia bukan gereja yang paling diterima dunia, tetapi yang paling setia kepada Kristus.
Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari
-
Menganggap penderitaan sebagai kutuk
-
Menyamakan keselamatan dengan ketekunan manusia
-
Mengabaikan konteks sejarah dan teologi
Penutup: Kesetiaan di Tengah Penolakan
Markus 13:9–13 menegaskan bahwa jalan murid adalah jalan salib. Namun salib bukan akhir cerita. Ketekunan orang percaya dijamin oleh kesetiaan Allah sendiri.
Gereja dipanggil untuk berdiri teguh, bersaksi dengan setia, dan berharap kepada Kristus yang telah menang.