Perilaku Kristen (Christian Behavior)

Perilaku Kristen (Christian Behavior)

Pendahuluan

Istilah Christian Behavior atau Perilaku Kristen sering kali dipahami secara dangkal sebagai sekadar etika moral, tata krama sosial, atau standar perilaku religius yang membedakan orang Kristen dari dunia. Namun, dalam perspektif Alkitab dan khususnya dalam teologi Reformed, perilaku Kristen tidak pernah berdiri sendiri sebagai usaha manusia untuk menjadi baik, melainkan merupakan buah niscaya dari karya anugerah Allah dalam keselamatan. Dengan kata lain, perilaku Kristen adalah konsekuensi logis, teologis, dan rohani dari pembenaran oleh iman dan pembaruan hidup oleh Roh Kudus.

Rasul Paulus dalam Roma 12:1–2 menempatkan pembahasan mengenai perilaku Kristen setelah sebelas pasal pengajaran doktrinal yang sangat mendalam tentang dosa, pembenaran, pengudusan, pemilihan, dan kedaulatan Allah. Ini bukan kebetulan. Dalam struktur surat Roma, etika Kristen selalu mengalir dari teologi, dan praktik hidup orang percaya selalu berakar pada Injil. Hal ini sejalan dengan penekanan utama teologi Reformed: orthodoxy leads to orthopraxy—ajaran yang benar menghasilkan kehidupan yang benar.

Artikel ini bertujuan mengeksposisi Roma 12:1–2 sebagai fondasi perilaku Kristen, dengan memperkaya pembahasan melalui kesaksian Alkitab lainnya seperti Galatia 5:22–23 dan Mikha 6:8, serta dialog kritis dengan pemikiran para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Abraham Kuyper, R.C. Sproul, dan John Piper. Dengan demikian, kita akan melihat bahwa Christian Behavior bukanlah sekadar tuntutan etis, tetapi respons penyembahan yang hidup di hadapan Allah yang penuh belas kasihan.

I. Dasar Perilaku Kristen: Kemurahan Allah (Roma 12:1)

Rasul Paulus membuka bagian etis surat Roma dengan frasa yang sangat penting: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah…” (Roma 12:1). Kata “karena itu” (oun) menunjuk kembali pada seluruh argumentasi sebelumnya, khususnya uraian tentang karya keselamatan Allah yang berdaulat. Dalam kerangka Reformed, ini menegaskan bahwa perilaku Kristen tidak mungkin dilepaskan dari doktrin anugerah.

Teks Alkitab menyatakan:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1, TB)

Yohanes Calvin menegaskan bahwa Paulus sengaja memakai pendekatan pastoral, bukan legalistik. Dalam Institutes, Calvin menyatakan bahwa hukum Allah tidak dimaksudkan untuk membawa manusia kepada keselamatan, tetapi untuk membimbing orang yang telah diselamatkan agar hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dengan demikian, perilaku Kristen adalah buah dari status baru di dalam Kristus, bukan syarat untuk memperolehnya.

Herman Bavinck menambahkan bahwa anugerah tidak meniadakan tuntutan etis, melainkan justru menguatkannya. Anugerah Allah menciptakan manusia baru yang mampu dan rela hidup dalam ketaatan. Oleh karena itu, ketika Paulus berbicara tentang mempersembahkan tubuh, ia tidak sedang mengajukan tuntutan moral kosong, melainkan undangan untuk merespons kasih karunia Allah dengan hidup yang sepenuhnya dipersembahkan.

II. Tubuh sebagai Persembahan yang Hidup

Konsep mempersembahkan tubuh sebagai “persembahan yang hidup” merupakan metafora ibadah yang sangat kaya. Dalam Perjanjian Lama, persembahan selalu melibatkan kematian korban. Namun, Paulus berbicara tentang korban yang hidup—sebuah paradoks yang menunjukkan bahwa seluruh kehidupan orang percaya kini menjadi altar penyembahan.

Abraham Kuyper, dengan konsep sphere sovereignty, menekankan bahwa tidak ada satu inci pun dalam seluruh kehidupan manusia yang tidak berada di bawah klaim Kristus. Dengan demikian, perilaku Kristen tidak terbatas pada aktivitas rohani formal seperti ibadah gereja, tetapi mencakup pekerjaan, keluarga, politik, pendidikan, dan budaya. Tubuh sebagai persembahan hidup berarti seluruh eksistensi manusia diarahkan bagi kemuliaan Allah.

R.C. Sproul menekankan dimensi kekudusan dalam ayat ini. Persembahan yang hidup harus kudus dan berkenan kepada Allah. Kekudusan bukanlah kesempurnaan moral mutlak, tetapi pemisahan bagi Allah. Dalam teologi Reformed, pengudusan adalah karya Roh Kudus yang progresif, di mana orang percaya semakin diserupakan dengan Kristus. Oleh karena itu, perilaku Kristen bersifat dinamis: bertumbuh, diperbaiki, dan dimurnikan sepanjang hidup.

III. Ibadah yang Sejati: Rasional dan Menyeluruh

Paulus menutup Roma 12:1 dengan pernyataan bahwa persembahan hidup ini adalah “ibadahmu yang sejati.” Istilah Yunani logikē latreia dapat diterjemahkan sebagai ibadah yang rasional atau rohani. Ini menegaskan bahwa perilaku Kristen adalah ekspresi ibadah yang sadar, bukan ritual kosong.

John Piper, dengan teologi Christian Hedonism, menekankan bahwa ibadah sejati melibatkan hati yang bersukacita di dalam Allah. Perilaku Kristen bukanlah ketaatan yang terpaksa, tetapi respons sukacita terhadap kemuliaan Allah. Ketika orang percaya hidup sesuai kehendak Allah, mereka sedang memuliakan Allah sekaligus menikmati Dia.

Dalam konteks ini, perilaku Kristen tidak dapat dipisahkan dari motivasi hati. Ketaatan yang lahiriah tanpa kasih kepada Allah tidak berkenan di hadapan-Nya. Oleh karena itu, eksposisi Roma 12:1 menegaskan bahwa perilaku Kristen adalah ibadah total—melibatkan pikiran, tubuh, kehendak, dan emosi.

IV. Transformasi Pikiran dan Penolakan terhadap Pola Dunia (Roma 12:2)

Ayat kedua memperdalam dimensi transformasional dari perilaku Kristen:

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2, TB)

Paulus mengontraskan dua pola hidup: konformitas terhadap dunia dan transformasi oleh pembaruan budi. Dunia (aiōn) di sini menunjuk pada sistem nilai yang jatuh dan menentang Allah. Teologi Reformed memahami dunia sebagai ciptaan Allah yang baik namun telah rusak oleh dosa. Oleh karena itu, orang Kristen dipanggil bukan untuk melarikan diri dari dunia, tetapi untuk tidak menyerap nilai-nilai yang bertentangan dengan kebenaran Allah.

Calvin menekankan pentingnya pembaruan akal budi sebagai pusat transformasi. Dosa telah merusak pikiran manusia sehingga tidak mampu mengenal kehendak Allah dengan benar. Oleh karena itu, Firman Allah dan karya Roh Kudus menjadi sarana utama pembaruan budi. Perilaku Kristen yang sejati selalu didahului oleh pembaruan cara berpikir.

V. Kehendak Allah sebagai Standar Etika Kristen

Tujuan dari pembaruan budi adalah agar orang percaya dapat “membedakan kehendak Allah.” Dalam teologi Reformed, kehendak Allah mencakup kehendak-Nya yang berdaulat dan kehendak-Nya yang dinyatakan dalam Firman. Dalam konteks Roma 12:2, yang dimaksud adalah kehendak Allah yang normatif—apa yang baik, berkenan, dan sempurna.

Herman Bavinck menyatakan bahwa etika Kristen bukanlah etika otonom, melainkan teonomis: Allah sendiri menjadi sumber dan standar kebaikan. Dengan demikian, perilaku Kristen tidak ditentukan oleh budaya, perasaan subjektif, atau konsensus sosial, melainkan oleh wahyu Allah.

VI. Buah Roh sebagai Ekspresi Perilaku Kristen (Galatia 5:22–23)

Perilaku Kristen tidak hanya bersifat negatif (menolak dunia), tetapi juga positif (menghasilkan buah Roh). Paulus menulis:

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.” (Galatia 5:22–23, TB)

Dalam teologi Reformed, buah Roh adalah bukti kelahiran baru. Sproul menegaskan bahwa iman yang sejati pasti menghasilkan perubahan hidup. Buah Roh bukan hasil usaha daging, melainkan karya Roh Kudus dalam diri orang percaya.

Setiap aspek buah Roh mencerminkan karakter Kristus. Dengan demikian, perilaku Kristen pada dasarnya adalah proses konformitas kepada Kristus. Ini menegaskan kembali bahwa etika Kristen bersifat kristosentris.

VII. Dimensi Sosial Perilaku Kristen (Mikha 6:8)

Perilaku Kristen tidak hanya bersifat personal, tetapi juga sosial. Nabi Mikha menyatakan:

“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8, TB)

Ayat ini menunjukkan bahwa perilaku Kristen mencakup keadilan, kasih setia, dan kerendahan hati. Kuyper menekankan bahwa iman Kristen memiliki implikasi publik. Orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dalam struktur sosial, memperjuangkan keadilan sebagai ekspresi kasih kepada sesama.

VIII. Kesimpulan Teologis

Perilaku Kristen (Christian Behavior) dalam perspektif teologi Reformed adalah respons syukur terhadap anugerah Allah yang menyelamatkan. Ia berakar pada pembenaran oleh iman, dimampukan oleh pengudusan Roh Kudus, dan diarahkan bagi kemuliaan Allah. Roma 12:1–2 menunjukkan bahwa perilaku Kristen adalah ibadah yang hidup, rasional, dan menyeluruh.

Dengan menolak konformitas dunia dan hidup dalam transformasi budi, orang percaya dipanggil untuk memanifestasikan kehendak Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Buah Roh dan tuntutan keadilan sosial menjadi bukti konkret bahwa iman Kristen bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi kehidupan yang diperbarui.

Akhirnya, seperti yang ditekankan oleh para teolog Reformed, perilaku Kristen bukanlah sarana keselamatan, melainkan tanda keselamatan. Ia bukan usaha manusia untuk mencapai Allah, melainkan karya Allah yang nyata dalam hidup manusia yang telah ditebus.

Next Post Previous Post