Kisah Para Rasul 11:27–28: Nubuat, Roh Kudus, dan Solidaritas Gereja

Kisah Para Rasul 11:27–28: Nubuat, Roh Kudus, dan Solidaritas Gereja

Pendahuluan: Allah yang Berbicara di Tengah Gereja yang Bertumbuh

Kisah Para Rasul 11:27–28 adalah sebuah perikop singkat, namun kaya akan makna teologis. Di tengah pertumbuhan pesat jemaat Antiokhia—sebuah gereja multietnis yang baru lahir—Allah menyatakan kehendak-Nya melalui nubuat, Roh Kudus, dan sejarah nyata. Teks ini menunjukkan bahwa gereja mula-mula tidak hidup dalam euforia rohani yang terlepas dari realitas dunia, tetapi berjalan dalam ketaatan iman yang berakar pada wahyu Allah dan kepedulian konkret terhadap penderitaan manusia.

Teologi Reformed melihat bagian ini sebagai kesaksian penting tentang cara Allah memimpin gereja-Nya melalui firman Roh, bukan untuk sensasi rohani, tetapi untuk membentuk umat yang taat, bijaksana, dan penuh kasih. Nubuat bukan tujuan akhir, melainkan sarana Allah untuk mempersiapkan umat-Nya menghadapi masa depan.

John Calvin menegaskan bahwa nubuat sejati selalu diberikan untuk membangun gereja dan menuntun umat Allah dalam ketaatan, bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia.

Latar Belakang Historis dan Redemptif-Historis

1. Antiokhia sebagai Pusat Misi Non-Yahudi

Antiokhia adalah kota besar, kosmopolitan, dan strategis. Di sinilah untuk pertama kalinya Injil diberitakan secara luas kepada orang bukan Yahudi dan jemaat yang kuat terbentuk. Gereja Antiokhia menjadi model gereja misioner dalam Kisah Para Rasul.

Geerhardus Vos menekankan bahwa perkembangan gereja dalam Kisah Para Rasul bukan kebetulan sejarah, melainkan bagian dari rencana penebusan Allah yang progresif.

2. Yerusalem dan Otoritas Apostolik

Kedatangan nabi-nabi dari Yerusalem menunjukkan bahwa gereja mula-mula hidup dalam relasi dan kesatuan. Tidak ada gereja yang berdiri sendiri. Yerusalem masih berfungsi sebagai pusat kesaksian apostolik.

Herman Bavinck menegaskan bahwa kesatuan gereja bukanlah keseragaman organisasi, melainkan kesatuan dalam kebenaran dan Roh.

Eksposisi Kisah Para Rasul 11:27

Nabi-Nabi dalam Gereja Mula-mula

Ayat 27 mencatat bahwa “beberapa nabi” datang dari Yerusalem ke Antiokhia. Dalam Perjanjian Baru, nabi bukanlah peramal masa depan dalam pengertian populer, melainkan pembawa firman Allah yang diurapi Roh Kudus.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa fungsi nabi dalam gereja mula-mula bersifat fondasional dan terkait erat dengan penyataan Allah sebelum kanon Perjanjian Baru selesai.

Kehadiran para nabi ini menunjukkan bahwa gereja hidup di bawah bimbingan aktif Roh Kudus, bukan sekadar struktur manusia.

Eksposisi Kisah Para Rasul 11:28

Agabus dan Nubuat oleh Kuasa Roh

Agabus tampil sebagai juru bicara Roh Kudus. Ia tidak berbicara atas spekulasi pribadi, melainkan “oleh kuasa Roh”. Ini menegaskan asal ilahi nubuat tersebut.

John Owen menekankan bahwa karya Roh Kudus selalu berakar pada kebenaran dan menghasilkan buah ketaatan, bukan kekacauan atau sensasionalisme.

Nubuat tentang Kelaparan: Allah atas Sejarah

Nubuat Agabus tentang kelaparan yang besar menunjukkan bahwa Allah berdaulat bukan hanya atas gereja, tetapi juga atas sejarah dunia. Kelaparan ini kemudian digenapi pada masa Kaisar Klaudius, sebagaimana dicatat oleh sejarah sekuler.

R. C. Sproul menegaskan bahwa penggenapan nubuat dalam sejarah nyata memperlihatkan bahwa iman Kristen berdiri di atas fakta, bukan mitos religius.

Fungsi Nubuat dalam Perspektif Reformed

1. Nubuat sebagai Peringatan, Bukan Sensasi

Dalam teologi Reformed, nubuat tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan atau kekaguman berlebihan, tetapi untuk mempersiapkan umat Allah.

John Calvin menulis bahwa Allah sering memberitahukan kesulitan yang akan datang agar umat-Nya belajar bergantung kepada-Nya.

2. Nubuat dan Tanggung Jawab Manusia

Menariknya, nubuat ini tidak membuat gereja pasif menunggu bencana. Sebaliknya, gereja merespons dengan tindakan nyata (Kisah Para Rasul 11:29–30).

Sinclair B. Ferguson menegaskan bahwa kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia, tetapi justru meneguhkannya.

Dimensi Pneumatologis: Roh Kudus sebagai Penuntun Gereja

Roh Kudus bukan hanya memberi kuasa untuk pelayanan spektakuler, tetapi juga untuk hikmat praktis. Nubuat Agabus adalah contoh karya Roh yang membimbing gereja dalam pengambilan keputusan.

J. I. Packer menyatakan bahwa pekerjaan Roh Kudus selalu memuliakan Kristus dan membangun gereja dalam kasih.

Dimensi Eklesiologis: Gereja yang Saling Memperhatikan

Nubuat tentang kelaparan menjadi dasar bagi solidaritas lintas gereja. Gereja Antiokhia, meskipun baru dan mayoritas non-Yahudi, menunjukkan kepedulian terhadap jemaat di Yudea.

Herman Bavinck menegaskan bahwa gereja yang sejati selalu bersifat katolik—melampaui batas etnis, budaya, dan geografis.

Dimensi Pastoral: Mempersiapkan Umat Menghadapi Penderitaan

Allah tidak selalu menghindarkan umat-Nya dari penderitaan, tetapi Ia mempersiapkan mereka untuk menghadapinya. Nubuat Agabus adalah bentuk kasih Allah.

John Owen menulis bahwa Allah sering kali menyatakan kehendak-Nya bukan untuk menghilangkan kesulitan, tetapi untuk memurnikan iman.

Relevansi bagi Gereja Masa Kini

1. Kewaspadaan Rohani

Gereja perlu peka terhadap pimpinan Tuhan tanpa jatuh ke dalam spekulasi atau sensasionalisme.

2. Iman yang Aktif

Pengetahuan rohani harus menghasilkan tindakan kasih.

3. Teologi yang Membumi

Iman Kristen tidak terpisah dari realitas sosial dan sejarah.

Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari

  • Menyamakan nubuat dengan ramalan modern

  • Mengabaikan konteks kanonik

  • Memisahkan karya Roh dari firman

Teologi Reformed menekankan keseimbangan antara firman dan Roh.

Kesimpulan: Allah yang Berbicara, Gereja yang Taat

Kisah Para Rasul 11:27–28 memperlihatkan Allah yang hidup dan aktif berbicara kepada gereja-Nya. Nubuat bukanlah alat untuk meninggikan manusia, tetapi sarana Allah untuk membentuk umat yang siap menderita, siap melayani, dan siap mengasihi.

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, gereja dipanggil untuk hidup dalam iman yang waspada, kasih yang nyata, dan pengharapan yang teguh kepada Allah yang berdaulat atas sejarah.

Next Post Previous Post