Doktrin Dua Perjanjian
.jpg)
Pendahuluan: Mengapa Doktrin Dua Perjanjian Penting?
Di antara sumbangan terbesar teologi Reformed bagi gereja universal adalah teologi perjanjian. Di dalamnya, Alkitab tidak dibaca sebagai kumpulan cerita terpisah, melainkan sebagai satu kisah agung tentang Allah yang mengikat diri-Nya kepada manusia melalui perjanjian. The Doctrine of the Two Covenants—doktrin dua perjanjian—menjadi kerangka utama untuk memahami hubungan antara Allah, manusia, dosa, dan keselamatan.
Doktrin ini mengajarkan bahwa seluruh sejarah manusia dapat dipahami melalui dua perjanjian utama:
-
Perjanjian Pekerjaan (Covenant of Works)
-
Perjanjian Anugerah (Covenant of Grace)
John Calvin menegaskan bahwa tanpa pemahaman akan perjanjian, Alkitab akan tampak terfragmentasi dan sulit dipahami secara utuh. Teologi Reformed melihat perjanjian bukan sebagai konstruksi teologis buatan, melainkan sebagai pola ilahi yang mengikat seluruh wahyu Allah.
Hakikat Perjanjian dalam Teologi Reformed
Perjanjian sebagai Ikatan Relasional yang Berdaulat
Dalam teologi Reformed, perjanjian bukan kontrak antara dua pihak setara, melainkan ikatan relasional yang ditetapkan oleh Allah yang berdaulat. Allah menetapkan syarat, janji, dan tujuan perjanjian sesuai kehendak-Nya.
Herman Bavinck menyatakan bahwa perjanjian adalah cara Allah yang personal dan etis untuk menyatakan diri-Nya kepada manusia. Allah tidak hanya memerintah dari jauh, tetapi mengikat diri-Nya dalam relasi yang nyata.
Struktur Umum Perjanjian
Para teolog Reformed melihat pola perjanjian yang konsisten:
-
Pihak perjanjian
-
Janji Allah
-
Tuntutan ketaatan
-
Ancaman hukuman
-
Tujuan akhir: kemuliaan Allah
Francis Turretin menegaskan bahwa struktur ini tidak berubah, meskipun bentuk historis perjanjian dapat berkembang.
Perjanjian Pekerjaan: Manusia di Hadapan Allah sebagai Wakil
Asal-usul dan Dasar Perjanjian Pekerjaan
Perjanjian Pekerjaan ditetapkan Allah dengan Adam sebagai wakil seluruh umat manusia. Adam diciptakan benar, kudus, dan memiliki kemampuan untuk taat sepenuhnya.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa perjanjian ini didasarkan pada prinsip: ketaatan membawa hidup, pelanggaran membawa maut. Adam tidak berdiri sebagai individu privat, melainkan sebagai kepala perwakilan umat manusia.
Keadilan Allah dalam Perjanjian Pekerjaan
Sering kali Perjanjian Pekerjaan disalahpahami sebagai tidak adil. Namun teologi Reformed menegaskan bahwa perjanjian ini sepenuhnya adil karena:
-
Adam diciptakan tanpa dosa
-
Ia memiliki kebebasan dan kemampuan taat
-
Ia diberi janji hidup
R. C. Sproul menegaskan bahwa kejatuhan manusia bukan kegagalan sistem Allah, melainkan pelanggaran manusia yang disengaja.
Kejatuhan dan Dampaknya
Ketika Adam jatuh, ia tidak hanya jatuh bagi dirinya sendiri, tetapi bagi seluruh umat manusia. Perjanjian Pekerjaan dilanggar, dan konsekuensinya adalah:
-
Kematian rohani
-
Kerusakan total natur manusia
-
Ketidakmampuan moral untuk kembali kepada Allah
Inilah dasar doktrin Total Depravity dalam teologi Reformed.
Keterbatasan Perjanjian Pekerjaan setelah Kejatuhan
Setelah kejatuhan, Perjanjian Pekerjaan tidak lagi menjadi jalan keselamatan. Prinsipnya tetap berlaku—ketaatan sempurna dituntut—namun manusia tidak lagi mampu memenuhinya.
John Owen menegaskan bahwa hukum Allah tetap kudus dan adil, tetapi manusia telah kehilangan kemampuan untuk menaatinya demi keselamatan.
Perjanjian Anugerah: Allah yang Menyelamatkan Orang Berdosa
Inisiatif Ilahi dalam Perjanjian Anugerah
Perjanjian Anugerah muncul bukan sebagai koreksi darurat, melainkan sebagai penggenapan rencana kekal Allah. Allah secara sepihak berinisiatif menyelamatkan manusia berdosa.
Jonathan Edwards menekankan bahwa anugerah bukan reaksi Allah terhadap kejatuhan, tetapi bagian dari kemuliaan-Nya yang kekal.
Kesatuan Perjanjian Anugerah
Teologi Reformed menolak pandangan bahwa ada banyak perjanjian keselamatan yang terpisah. Perjanjian Anugerah adalah satu perjanjian, dengan berbagai administrasi historis:
-
Adam
-
Nuh
-
Abraham
-
Musa
-
Daud
-
Kristus
Geerhardus Vos menegaskan bahwa perkembangan ini bersifat organik, bukan kontradiktif.
Kristus sebagai Kepala Perjanjian Anugerah
Kristus sebagai Adam Terakhir
Kristus datang sebagai Adam yang terakhir, yang melakukan apa yang Adam pertama gagal lakukan. Ia menaati hukum Allah secara sempurna dan menanggung hukuman pelanggaran.
Meredith G. Kline menekankan bahwa Kristus memenuhi tuntutan Perjanjian Pekerjaan demi umat-Nya.
Salib sebagai Pusat Perjanjian Anugerah
Di kayu salib, keadilan dan anugerah bertemu. Hukuman perjanjian dijalankan, dan janji perjanjian digenapi.
Herman Bavinck menyatakan bahwa salib adalah titik temu seluruh sejarah perjanjian.
Hubungan Antara Dua Perjanjian
Bukan Dua Jalan Keselamatan
Teologi Reformed menolak anggapan bahwa Perjanjian Pekerjaan dan Perjanjian Anugerah adalah dua jalan keselamatan yang setara. Hanya ada satu jalan keselamatan—oleh anugerah melalui iman.
Perjanjian Pekerjaan menunjukkan kebutuhan akan keselamatan, sementara Perjanjian Anugerah menyediakan jawaban ilahi.
Hukum dan Injil
Perjanjian Pekerjaan menegaskan hukum; Perjanjian Anugerah menghadirkan Injil. Namun keduanya tidak bertentangan.
J. I. Packer menegaskan bahwa hukum tanpa Injil membawa keputusasaan, tetapi Injil tanpa hukum kehilangan maknanya.
Implikasi Pastoral Doktrin Dua Perjanjian
Kepastian Keselamatan
Keselamatan tidak bergantung pada ketaatan kita, tetapi pada ketaatan Kristus.
Kerendahan Hati
Tidak ada ruang untuk kesombongan rohani.
Ketaatan sebagai Respons, Bukan Syarat
Orang percaya taat bukan untuk diselamatkan, tetapi karena telah diselamatkan.
Sinclair B. Ferguson menegaskan bahwa ketaatan Kristen selalu merupakan buah anugerah.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
-
Legalisme terselubung
-
Antinomianisme
-
Membaca Alkitab secara terfragmentasi
Teologi Reformed menawarkan keseimbangan Injil yang kokoh.
Relevansi bagi Gereja Masa Kini
Doktrin Dua Perjanjian menolong gereja:
-
Mengajarkan Injil yang utuh
-
Menghindari moralistik kosong
-
Memahami kesatuan Perjanjian Lama dan Baru
R. C. Sproul menegaskan bahwa banyak krisis gereja modern berakar pada hilangnya teologi perjanjian.
Penutup: Satu Allah, Satu Rencana, Satu Keselamatan
Doktrin Dua Perjanjian menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang konsisten, setia, dan berdaulat. Ia menuntut ketaatan yang sempurna, tetapi juga menyediakan ketaatan itu sendiri di dalam Kristus.
Di dalam Kristus, Perjanjian Pekerjaan digenapi dan Perjanjian Anugerah ditegakkan. Inilah kemuliaan Injil Reformed—Allah menyelamatkan orang berdosa demi kemuliaan-Nya sendiri.