Kejadian 14:18–20: Raja Kebenaran dan Imam Allah Yang Mahatinggi

Kejadian 14:18–20: Raja Kebenaran dan Imam Allah Yang Mahatinggi

Pendahuluan: Perjumpaan Singkat yang Mengubah Sejarah Teologi

Di tengah kisah peperangan dan kemenangan Abram atas raja-raja Timur, Kejadian 14:18–20 menghadirkan sebuah perikop yang singkat namun sarat dengan makna teologis yang luar biasa. Sosok Melkisedek muncul secara tiba-tiba, tanpa silsilah, tanpa latar belakang naratif yang panjang, lalu menghilang kembali dari panggung sejarah. Namun justru dalam kesingkatan itulah, Allah menanamkan benih teologi Kristologis dan kovenantal yang sangat dalam, yang kelak akan berkembang penuh dalam keseluruhan kesaksian Alkitab.

Teologi Reformed memandang perikop ini bukan sebagai sisipan misterius, melainkan sebagai wahyu yang disengaja dan strategis, yang menyingkapkan bahwa rencana keselamatan Allah tidak pernah terbatas pada satu bangsa atau satu bentuk institusi keagamaan. Di sini, jauh sebelum hukum Taurat dan imamat Lewi, Allah memperkenalkan imam dan raja yang melayani-Nya, serta relasi iman yang berakar pada anugerah, bukan hukum.

John Calvin menyebut Melkisedek sebagai “figur ilahi yang dengan sengaja ditempatkan Allah untuk mengarahkan iman umat kepada Kristus yang akan datang.”

Latar Belakang Redemptif-Historis Kejadian 14

1. Abram sebagai Penerima Janji, Bukan Raja Dunia

Kejadian 14 mencatat Abram sebagai seorang yang dipanggil Allah, tetapi hidup sebagai pendatang. Ia bukan raja, bukan penguasa wilayah, dan tidak memiliki tentara besar. Namun Allah menyatakan kuasa-Nya melalui Abram, sehingga ia mengalahkan raja-raja yang kuat.

Geerhardus Vos menekankan bahwa kemenangan Abram bukan prestasi militer, melainkan tindakan Allah yang setia pada janji perjanjian-Nya.

2. Konteks Universal, Bukan Etnis Sempit

Melkisedek bukan bagian dari keluarga Abram, bukan keturunan Sem, dan bukan anggota komunitas perjanjian yang eksplisit. Namun ia disebut sebagai imam Allah Yang Mahatinggi (El Elyon).

Herman Bavinck menegaskan bahwa sejak awal, wahyu Allah selalu memiliki dimensi universal—Allah tidak pernah menjadi milik satu etnis semata.

Eksposisi Kejadian 14:18

Raja Salem dan Imam Allah Yang Mahatinggi

Ayat ini memperkenalkan Melkisedek dengan dua jabatan sekaligus: raja dan imam. Dalam sejarah Israel kemudian, kedua jabatan ini dipisahkan secara ketat. Namun di sini, Allah menyatukannya dalam satu pribadi.

Nama Melkisedek berarti “raja kebenaran”, dan Salem berkaitan dengan “damai”. Ini bukan kebetulan linguistik, melainkan penyataan simbolik.

Louis Berkhof menegaskan bahwa Alkitab sering menggunakan nama dan gelar sebagai sarana teologi, bukan sekadar identitas sosial.

Roti dan Anggur: Tindakan Persekutuan dan Anugerah

Melkisedek membawa roti dan anggur, bukan senjata atau tuntutan politik. Ini adalah tindakan persekutuan dan penguatan.

John Calvin menolak tafsir yang melihat roti dan anggur ini sebagai sekadar jamuan biasa. Ia menegaskan bahwa tindakan ini memiliki makna religius—tanda pemeliharaan Allah bagi umat-Nya.

Dalam terang Perjanjian Baru, gereja Reformed melihat di sini tipologi sakramental yang menunjuk kepada perjamuan kudus.

Eksposisi Kejadian 14:19

Berkat Perjanjian dari Imam Allah

Melkisedek memberkati Abram, bukan sebaliknya. Ini menunjukkan bahwa Melkisedek memiliki otoritas rohani yang sah.

Penekanan pada Allah sebagai “Pencipta langit dan bumi” menegaskan supremasi Allah atas segala raja dan bangsa.

R. C. Sproul menekankan bahwa berkat sejati selalu mengalir dari pengenalan akan Allah yang berdaulat atas seluruh ciptaan.

Eksposisi Kejadian 14:20

Allah yang Memberi Kemenangan dan Respons Iman Abram

Melkisedek memuliakan Allah sebagai sumber kemenangan Abram. Dengan demikian, kemuliaan dialihkan dari manusia kepada Allah.

Respons Abram sangat penting: ia memberikan sepersepuluh dari semuanya. Ini bukan kewajiban hukum, karena Taurat belum ada, melainkan respons iman dan pengakuan otoritas Allah.

John Owen menegaskan bahwa persembahan sejati selalu lahir dari pengakuan akan anugerah, bukan dari paksaan hukum.

Dimensi Kovenantal: Sebelum Taurat, Sudah Ada Iman

Kejadian 14 menunjukkan bahwa relasi dengan Allah tidak menunggu hukum Musa. Iman, berkat, dan ibadah telah hadir sebelumnya.

Herman Bavinck menegaskan bahwa hukum tidak menciptakan iman; iman mendahului hukum dan menjadi fondasinya.

Dimensi Kristologis: Melkisedek sebagai Bayangan Kristus

Perjanjian Baru secara eksplisit menafsirkan Melkisedek sebagai tipologi Kristus (Mazmur 110; Ibrani 7). Namun teologi Reformed melihat bahwa benih penafsiran itu sudah tertanam dalam Kejadian 14.

Kristus adalah:

  • Raja Kebenaran dan Raja Damai

  • Imam kekal, bukan berdasarkan silsilah

  • Pemberi berkat sejati

Jonathan Edwards menyatakan bahwa kemuliaan Kristus bersinar paling terang ketika Ia dikenali sebagai penggenapan bayangan-bayangan Perjanjian Lama.

Dimensi Sakramental dan Gerejawi

Roti dan anggur menunjuk pada pemeliharaan rohani umat Allah. Gereja Reformed melihat ini sebagai gambaran awal dari perjamuan kudus—bukan pengulangan korban, tetapi persekutuan dengan Allah yang hidup.

Sinclair B. Ferguson menekankan bahwa sakramen bukan pengganti firman, tetapi peneguhan firman.

Implikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini

1. Iman yang Rendah Hati

Abram tidak memegahkan diri, tetapi tunduk menerima berkat.

2. Penyembahan yang Berpusat pada Allah

Kemenangan hidup harus diarahkan kepada kemuliaan Allah.

3. Persembahan sebagai Respons Anugerah

Memberi adalah respons iman, bukan alat untuk mendapatkan berkat.

Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari

  • Mengkomersialkan persepuluhan

  • Mengabaikan dimensi Kristologis

  • Membaca Melkisedek sebagai figur mistik di luar Alkitab

Teologi Reformed menolak spekulasi di luar wahyu.

Penutup: Raja dan Imam yang Kekal

Kejadian 14:18–20 membawa kita kepada pengenalan yang lebih dalam akan Allah yang bekerja melalui sejarah, simbol, dan perjanjian. Melalui Melkisedek, Allah mengarahkan iman Abram—dan iman kita—kepada Kristus, Raja dan Imam yang kekal, sumber berkat sejati bagi umat-Nya.

Di dalam Dia, kita menerima berkat, damai, dan kehidupan kekal—bukan karena jasa kita, tetapi karena anugerah Allah Yang Mahatinggi.

Next Post Previous Post