Zakharia 5:9–11: Pembuangan Kefasikan ke Tanah Sinear

Zakharia 5:9–11: Pembuangan Kefasikan ke Tanah Sinear

Pendahuluan: Allah yang Tidak Hanya Mengampuni, tetapi Menyingkirkan Dosa

Zakharia 5:9–11 melanjutkan penglihatan simbolis yang sangat tajam tentang nasib akhir kefasikan. Jika pada ayat 8 dosa dinamai dan ditahan, maka pada ayat 9–11 dosa diangkut, dipindahkan, dan ditempatkan di lokasi yang telah ditentukan Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menghakimi dosa secara abstrak, tetapi mengendalikan keberadaan dan arah sejarah kejahatan itu sendiri.

Dalam teologi Reformed, bagian ini dipahami sebagai pernyataan kuat tentang kedaulatan Allah atas dosa dan sejarah, serta komitmen-Nya untuk memurnikan umat perjanjian-Nya demi penggenapan rencana penebusan. Dosa tidak dimusnahkan secara instan dalam sejarah kini, tetapi ia disingkirkan dari umat Allah dan diarahkan menuju penghakiman final.

John Calvin menegaskan bahwa Allah sering kali tidak menghancurkan kejahatan secara langsung, tetapi mengaturnya sedemikian rupa sehingga pada akhirnya kejahatan itu menghancurkan dirinya sendiri di bawah penghakiman Allah.

Latar Belakang Redemptif-Historis Penglihatan Zakharia

1. Israel Pasca-Pembuangan dan Ancaman Dosa Lama

Bangsa Israel telah kembali dari pembuangan Babel, tetapi bahaya terbesar bukan lagi rantai Babel, melainkan kembalinya pola dosa Babel ke dalam kehidupan umat. Penglihatan ini diberikan untuk meyakinkan umat bahwa Allah tidak akan membiarkan kefasikan berakar kembali di tengah mereka.

Herman Bavinck menekankan bahwa pembaruan lahiriah tanpa pemurnian rohani akan selalu menghasilkan kemerosotan ulang.

2. Sifat Profetis dan Simbolik

Penglihatan ini harus dibaca sebagai simbol teologis, bukan laporan literal. Setiap unsur—perempuan, gantang, sayap, angin, dan Sinear—mengandung makna teologis.

Geerhardus Vos menegaskan bahwa nubuatan sering kali berbicara melalui simbol karena realitas rohani tidak selalu dapat dinyatakan secara proposisional.

Eksposisi Zakharia 5:9

Dua Perempuan Bersayap dan Angin Ilahi

Zakharia melihat dua perempuan dengan sayap seperti burung ranggung yang digerakkan oleh angin. Ini menekankan bahwa pengangkutan kefasikan bukan tindakan kebetulan, tetapi digerakkan oleh kuasa ilahi.

Dalam Alkitab, angin sering melambangkan kuasa Allah yang tak terlihat namun efektif. Meredith G. Kline melihat angin ini sebagai metafora kehendak Allah yang menggerakkan sejarah.

Sayap burung ranggung—burung besar yang terbang tinggi—menunjukkan kekuatan dan kecepatan. Kefasikan tidak diseret perlahan, tetapi diangkat dengan otoritas.

Eksposisi Zakharia 5:10

Pertanyaan Nabi: Keterbukaan Wahyu

Zakharia bertanya kepada malaikat: “Ke mana mereka membawa gantang itu?” Pertanyaan ini mencerminkan sikap iman yang sehat—keingintahuan yang tunduk pada wahyu.

John Owen menegaskan bahwa iman sejati tidak menolak untuk bertanya, tetapi selalu bertanya dalam kerangka ketaatan kepada Allah.

Eksposisi Zakharia 5:11

Tanah Sinear: Asal dan Tujuan Kefasikan

Jawaban malaikat membawa kita ke inti penglihatan: tanah Sinear. Sinear adalah lokasi Babel—simbol keangkuhan manusia, pemberontakan kolektif, dan perlawanan terhadap Allah.

Louis Berkhof menegaskan bahwa Alkitab sering menelusuri dosa kembali ke pusat-pusat sistemik, bukan sekadar individu.

Kefasikan dikembalikan ke tempat asalnya, bukan untuk dibiarkan bebas, tetapi untuk didirikan rumah baginya—tempat penahanan dan penghakiman.

“Mendirikan Sebuah Rumah”: Stabilitas Dosa yang Sementara

Pernyataan ini sering disalahpahami. Rumah bagi kefasikan bukan tanda perlindungan, tetapi tanda pembatasan dan pengasingan.

R. C. Sproul menegaskan bahwa Allah sering membiarkan kejahatan berkembang di wilayah tertentu agar penghakiman-Nya menjadi nyata dan tak terbantahkan.

Dimensi Kovenantal: Pemurnian Umat Allah

Zakharia 5:9–11 menegaskan bahwa Allah tidak akan membiarkan umat perjanjian-Nya hidup berdampingan dengan dosa yang tak terkendali. Ia memisahkan, memindahkan, dan menyingkirkan kefasikan dari komunitas-Nya.

John Calvin menulis bahwa disiplin ilahi adalah tanda kasih Allah, bukan murka-Nya terhadap umat-Nya.

Dimensi Kristologis: Dari Pengasingan Dosa ke Salib Kristus

Apa yang digambarkan secara simbolis di sini digenapi secara puncak di dalam Kristus:

  • Dosa diangkat dari umat Allah

  • Dosa ditempatkan pada Kristus

  • Kristus menanggung hukuman di luar perkemahan

Jonathan Edwards menyatakan bahwa Kristus adalah “tempat pembuangan dosa” yang sejati.

Dimensi Eskatologis: Menantikan Pemisahan Final

Zakharia 5 menunjuk ke depan pada hari ketika kefasikan tidak hanya dipindahkan, tetapi dimusnahkan sepenuhnya. Penglihatan ini adalah janji bahwa sejarah tidak akan berakhir dengan kekacauan moral, tetapi dengan penghakiman yang adil.

Herman Bavinck menegaskan bahwa eskatologi Kristen adalah kemenangan kekudusan atas kefasikan.

Implikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini

1. Penghiburan bagi Umat Allah

Allah tidak membiarkan dosa menguasai umat-Nya tanpa batas.

2. Peringatan terhadap Kompromi

Dosa yang dibiarkan akan selalu mencari “rumah” jika tidak disingkirkan oleh anugerah.

3. Panggilan kepada Kekudusan

Gereja dipanggil untuk hidup sebagai komunitas yang dimurnikan.

Sinclair B. Ferguson menekankan bahwa kekudusan bukan beban, tetapi bukti kehadiran anugerah.

Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari

  • Membaca teks ini secara literalistik

  • Mengaitkan Sinear dengan spekulasi politik modern

  • Mengabaikan konteks penebusan

Teologi Reformed menolak sensasionalisme eskatologis.

Penutup: Allah yang Mengarahkan Sejarah Menuju Kekudusan

Zakharia 5:9–11 menyatakan bahwa dosa tidak pernah berdaulat. Allah yang berdaulat mengangkat, memindahkan, dan menentukan akhir kefasikan. Ia memurnikan umat-Nya sekarang dan akan menyempurnakan pemurnian itu pada akhir zaman.

Bagi gereja masa kini, teks ini adalah undangan untuk hidup dalam iman, pertobatan, dan pengharapan—menantikan hari ketika kefasikan tidak lagi memiliki tempat di hadapan Allah yang kudus.

Previous Post