Mazmur 25:8–11: Jalan Kasih Setia Allah bagi Orang Berdosa

Mazmur 25:8–11: Jalan Kasih Setia Allah bagi Orang Berdosa

Pendahuluan: Jalan Allah bagi Orang Berdosa

Mazmur 25 adalah doa Daud yang lahir dari ketegangan antara pengakuan iman dan kesadaran akan dosa. Dalam Mazmur 25:8–11, pemazmur menyingkapkan salah satu kebenaran paling mendasar dalam iman Perjanjian Lama, yaitu bahwa Allah yang kudus dan benar justru berkenan membimbing orang berdosa yang rendah hati. Inilah paradoks Injil yang telah dinyatakan jauh sebelum salib Kristus: Allah tidak menyingkir dari manusia berdosa, tetapi menyatakan jalan-Nya kepada mereka.

Teologi Reformed memandang bagian ini sebagai kesaksian yang kuat tentang anugerah perjanjian, di mana Allah, berdasarkan karakter-Nya sendiri, mengambil inisiatif untuk mengajar, membimbing, dan mengampuni umat-Nya. Mazmur ini bukan doa orang yang merasa benar, melainkan seruan seorang berdosa yang berharap sepenuhnya pada kebaikan dan kesetiaan Allah.

John Calvin menyebut Mazmur 25 sebagai doa yang memperlihatkan “iman yang rendah hati—iman yang mengenal Allah dengan benar dan diri sendiri dengan jujur.”

Latar Belakang Teologis Mazmur 25

1. Mazmur Akrostik dan Spiritualitas Doa

Mazmur 25 adalah mazmur akrostik, yang menunjukkan bahwa doa Daud disusun dengan kesadaran penuh dan refleksi mendalam. Doa ini bukan luapan emosi sesaat, tetapi ekspresi iman yang matang.

Geerhardus Vos menekankan bahwa struktur sastra Mazmur sering kali mencerminkan kedalaman teologi di baliknya—iman yang teratur lahir dari pengenalan akan Allah yang setia.

2. Konteks Kehidupan Daud

Mazmur ini kemungkinan besar lahir dari masa tekanan, rasa bersalah, dan ancaman musuh. Namun fokus Daud bukan pada musuh, melainkan pada jalan TUHAN.

Herman Bavinck menegaskan bahwa spiritualitas Alkitabiah tidak berpusat pada situasi, tetapi pada karakter Allah.

Eksposisi Mazmur 25:8

Allah yang Baik dan Benar

Pemazmur memulai dengan pengakuan teologis yang fundamental: “TUHAN itu baik dan benar.” Kebaikan dan kebenaran Allah bukan sekadar atribut moral, tetapi dasar dari seluruh relasi perjanjian.

Karena Allah baik, Ia berkenan mendekati orang berdosa. Karena Ia benar, Ia tidak menyesatkan mereka.

John Calvin menegaskan bahwa pengenalan akan kebaikan Allah adalah pintu masuk pertobatan sejati—tanpa itu, manusia hanya akan melarikan diri dari Allah.

“Ia Menunjukkan Jalan kepada Orang yang Sesat”

Ini adalah pernyataan anugerah murni. Allah tidak menunggu orang sesat menemukan jalan-Nya, tetapi Ia sendiri yang menunjukkan jalan.

Louis Berkhof menegaskan bahwa wahyu ilahi selalu bersifat inisiatif Allah; manusia tidak pernah menemukan Allah dengan kekuatannya sendiri.

Eksposisi Mazmur 25:9

Kerendahan Hati sebagai Sikap Anugerah

Ayat ini menekankan dua kali “orang-orang yang rendah hati.” Dalam teologi Reformed, kerendahan hati bukan syarat untuk menerima anugerah, tetapi buah dari pekerjaan anugerah.

John Owen menulis bahwa Allah tidak mengajar orang yang keras hati, bukan karena mereka terlalu bodoh, tetapi karena mereka terlalu penuh diri.

Allah membimbing mereka “menurut hukum”—bukan hukum sebagai beban, melainkan sebagai jalan kehidupan.

Eksposisi Mazmur 25:10

Jalan TUHAN: Kasih Setia dan Kebenaran

Pemazmur menyatakan bahwa segala jalan TUHAN adalah kasih setia (hesed) dan kebenaran (emet). Dua istilah ini adalah inti dari teologi perjanjian.

Herman Bavinck menyebut hesed sebagai kasih yang setia pada janji, bukan emosi sesaat.

Namun janji ini dialami secara nyata oleh mereka yang “berpegang pada perjanjian-Nya.” Ini bukan legalisme, melainkan respons iman.

Eksposisi Mazmur 25:11

Pengampunan Berdasarkan Nama TUHAN

Puncak perikop ini adalah doa pengampunan. Daud tidak memohon karena kebaikannya, melainkan “oleh karena nama-Mu.”

Ini adalah inti teologi Reformed: keselamatan didasarkan pada kemuliaan Allah, bukan nilai manusia.

R. C. Sproul menegaskan bahwa pengampunan sejati selalu berakar pada kekudusan Allah yang dipuaskan, bukan diabaikan.

Dimensi Kristologis: Jalan, Kebenaran, dan Pengampunan dalam Kristus

Mazmur 25:8–11 menemukan penggenapan penuhnya dalam Kristus:

  • Kristus adalah Jalan yang ditunjukkan Allah

  • Kristus adalah Kebenaran yang sempurna

  • Kristus adalah dasar pengampunan dosa

Jonathan Edwards menegaskan bahwa semua doa pengampunan dalam Perjanjian Lama bergantung secara implisit pada karya Kristus yang akan datang.

Dimensi Pastoral: Penghiburan bagi Orang Berdosa

Mazmur ini memberikan penghiburan mendalam:

  1. Allah mengajar orang sesat

  2. Allah membimbing orang rendah hati

  3. Allah mengampuni dosa besar

J. I. Packer menegaskan bahwa Injil bukan kabar bagi orang kuat, tetapi bagi orang berdosa yang bersandar pada anugerah.

Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari

  • Menganggap kerendahan hati sebagai jasa manusia

  • Memisahkan kasih setia dari kebenaran

  • Mengabaikan dimensi dosa dalam doa

Teologi Reformed selalu menjaga keseimbangan antara anugerah dan kekudusan.

Aplikasi bagi Gereja Masa Kini

  1. Hidup dalam Pertobatan yang Terus-Menerus

  2. Belajar Firman dengan Kerendahan Hati

  3. Mengandalkan Nama Tuhan, Bukan Prestasi Rohani

Penutup: Allah yang Menuntun dan Mengampuni

Mazmur 25:8–11 mengajarkan bahwa Allah yang kudus tidak menjauh dari orang berdosa yang bertobat, tetapi justru menuntun mereka di jalan kebenaran. Di dalam perjanjian-Nya, Ia mengajar, membimbing, dan mengampuni—semua demi nama-Nya sendiri.

Bagi gereja masa kini, mazmur ini adalah undangan untuk hidup dalam kerendahan hati, iman, dan pengharapan kepada Allah yang baik dan benar.

Next Post Previous Post