Kisah Para Rasul 12:1–2: Kedaulatan Allah di Tengah Penganiayaan
.jpg)
Kisah Para Rasul 12:1–2 (TB)
1 Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.
2 Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.
Pendahuluan: Ketika Pedang Negara Menyasar Gereja
Dua ayat ini tampak singkat, tetapi sarat dengan bobot teologis yang dalam. Di sini kita berhadapan dengan realitas keras: penganiayaan politik terhadap gereja dan kematian seorang rasul. Yakobus, saudara Yohanes dan bagian dari lingkaran terdekat Yesus (bersama Petrus dan Yohanes), dibunuh dengan pedang oleh Herodes Agripa I.
Mengapa Allah mengizinkan hal ini? Bagaimana kematian seorang rasul sesuai dengan janji Kristus bahwa Ia akan membangun gereja-Nya (Matius 16:18)? Dalam tradisi Reformed, pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab dengan sentimentalitas, tetapi dengan doktrin kedaulatan Allah, providensia-Nya, dan teologi salib.
Artikel ini akan mengupas Kisah Para Rasul 12:1–2 secara eksposisional, dengan refleksi dari Yohanes Calvin, Herman Bavinck, John Murray, Geerhardus Vos, R.C. Sproul, dan John Stott (yang banyak dipengaruhi tradisi Reformed).
I. “Kira-Kira Pada Waktu Itu”: Sejarah dalam Tangan Allah
Ayat 1 dibuka dengan frasa, “Kira-kira pada waktu itu…” Ini bukan sekadar keterangan waktu. Lukas, penulis Kisah Para Rasul, sedang menempatkan peristiwa ini dalam konteks perkembangan gereja mula-mula.
Secara historis, ini terjadi sekitar tahun 44 M. Injil telah menyebar keluar Yerusalem, bahkan kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi (Kis. 10–11). Gereja sedang bertumbuh.
Namun justru pada saat pertumbuhan itu, penganiayaan meningkat.
Providensia dalam Sejarah
Herman Bavinck menegaskan bahwa sejarah bukan rangkaian kebetulan, melainkan pelaksanaan rencana Allah yang kekal. Tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar dekret ilahi.
Kematian Yakobus bukan kecelakaan sejarah. Ia terjadi dalam waktu yang ditetapkan Allah.
Calvin dalam komentarnya atas Kisah Para Rasul menulis bahwa Allah sering mengizinkan musuh-musuh gereja bertindak untuk sementara waktu, tetapi selalu dalam batas yang telah Ia tentukan.
II. “Raja Herodes”: Kuasa Politik dan Otoritas Ilahi
Herodes Agripa I adalah cucu Herodes Agung. Ia berusaha mendapatkan dukungan orang Yahudi dengan menindas gereja, yang pada waktu itu dianggap sebagai sekte berbahaya.
Kisah Para Rasul 12:1 mengatakan:
“Raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat.”
Negara sebagai Pedang yang Terbatas
Teologi Reformed memiliki doktrin yang jelas tentang pemerintah sipil (Roma 13). Negara adalah alat Allah untuk memelihara ketertiban. Namun negara juga bisa menyalahgunakan otoritasnya.
Calvin menekankan bahwa meskipun penguasa dapat bertindak jahat, mereka tetap berada di bawah providensia Allah. Bahkan tindakan jahat mereka dipakai Allah untuk tujuan-Nya yang lebih besar.
R.C. Sproul menyatakan bahwa tidak ada otoritas yang otonom. Herodes mungkin berpikir ia memegang kendali, tetapi takhta sejati tetap di surga.
III. “Menyuruh Membunuh Yakobus”: Realitas Martiria
Kisah Para Rasul 12:2 mencatat:
“Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang.”
Ini adalah rasul pertama yang mati sebagai martir. Kata “dengan pedang” menunjukkan eksekusi resmi oleh negara.
1. Penggenapan Nubuat Kristus
Dalam Markus 10:39, Yesus berkata kepada Yakobus dan Yohanes:
“Kamu memang akan meminum cawan yang harus Kuminum…”
John Murray melihat kematian Yakobus sebagai penggenapan janji ini. Pemuridan sejati mencakup partisipasi dalam penderitaan Kristus.
2. Misteri Mengapa Yakobus, Bukan Petrus?
Dalam pasal yang sama, Petrus dipenjara tetapi kemudian dilepaskan secara ajaib. Mengapa Yakobus mati, tetapi Petrus dibebaskan?
Calvin dengan jujur mengatakan bahwa ini adalah rahasia kehendak Allah. Namun ia menambahkan: Allah tahu kapan hidup seseorang lebih memuliakan Dia, dan kapan kematian seseorang lebih memuliakan Dia.
Di sinilah doktrin kedaulatan Allah menjadi penghiburan. Allah tidak kehilangan kendali hanya karena gereja menderita.
IV. Teologi Salib dalam Perspektif Reformed
Teologi Reformed menolak teologi kemakmuran yang menganggap penderitaan sebagai tanda kurangnya iman.
Sebaliknya, penderitaan adalah bagian integral dari kehidupan gereja.
1. Gereja yang Menderita adalah Gereja yang Sejati
Geerhardus Vos melihat pola konsisten dalam sejarah penebusan: kemuliaan datang melalui penderitaan.
Yakobus mati bukan karena kegagalan iman, tetapi karena kesetiaan.
2. Martiria sebagai Kesaksian
Kata “martir” berarti saksi. Darah Yakobus menjadi benih gereja.
Tertullian berkata, “The blood of the martyrs is the seed of the church.” Prinsip ini sejalan dengan pemahaman Reformed tentang kedaulatan Allah yang memakai penderitaan untuk memperluas kerajaan-Nya.
V. Ketegangan antara Kemenangan dan Kekalahan
Dari sudut pandang dunia, Herodes menang. Yakobus mati. Gereja kehilangan seorang pemimpin.
Namun dari perspektif surgawi, Yakobus menang karena ia setia sampai mati.
R.C. Sproul menegaskan bahwa kekristenan selalu harus dilihat dari perspektif kekekalan, bukan sekadar keberhasilan temporal.
VI. Penghiburan dalam Doktrin Providensia
Bavinck menyatakan bahwa providensia Allah mencakup:
-
Pemeliharaan
-
Pemerintahan
-
Kerja sama ilahi dengan peristiwa sejarah
Kematian Yakobus termasuk dalam pemerintahan Allah. Ini bukan fatalisme, melainkan iman bahwa Allah bekerja bahkan melalui kejahatan manusia.
Roma 8:28 tidak mengecualikan kemartiran.
VII. Dimensi Eskatologis
Wahyu 6:9–11 menggambarkan jiwa-jiwa para martir di bawah mezbah. Mereka tidak dilupakan.
Teologi Reformed menekankan bahwa penderitaan orang percaya bersifat sementara dan kemuliaan bersifat kekal (2 Korintus 4:17).
Yakobus kehilangan hidupnya di dunia, tetapi menerima mahkota kehidupan.
VIII. Implikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini
1. Jangan Terkejut oleh Penganiayaan
Penganiayaan bukan anomali, melainkan pola historis gereja.
2. Percaya pada Kedaulatan Allah
Allah tidak pernah panik. Bahkan kematian rasul pun berada dalam rencana-Nya.
3. Setia Sampai Mati
John Owen menulis bahwa kesetiaan kepada Kristus lebih berharga daripada panjangnya usia.
IX. Kristus sebagai Martir Tertinggi
Yakobus mati dengan pedang, tetapi Kristus mati di kayu salib sebagai korban penebusan.
Perbedaan mendasarnya adalah:
-
Kristus mati untuk menebus dosa.
-
Yakobus mati sebagai saksi dari keselamatan itu.
Namun keduanya menunjukkan pola salib sebelum mahkota.
Kesimpulan: Pedang Tidak Mengalahkan Takhta
Kisah Para Rasul 12:1–2 mengingatkan kita bahwa gereja hidup di bawah dua realitas:
-
Realitas dunia yang penuh permusuhan.
-
Realitas kedaulatan Allah yang tak tergoyahkan.
Herodes memegang pedang, tetapi Allah memegang sejarah.
Yakobus mungkin mati secara fisik, tetapi gereja tidak mati. Bahkan pasal ini berakhir dengan pernyataan bahwa firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar (Kis. 12:24).
Dalam perspektif Reformed, ini adalah paradoks kerajaan Allah: melalui penderitaan, kemenangan dinyatakan.
Kiranya gereja masa kini belajar dari Yakobus untuk hidup dan mati dengan setia, percaya bahwa takhta Allah tetap berdiri di atas segala pedang dunia.