Kisah Para Rasul 12:20–23: Kemuliaan yang Dirampas dan Penghakiman yang Seketika

Kisah Para Rasul 12:20–23: Kemuliaan yang Dirampas dan Penghakiman yang Seketika

Pendahuluan: Kontras antara Kuasa Manusia dan Kedaulatan Allah

Perikop ini adalah salah satu adegan paling dramatis dalam Kitab Kisah Para Rasul. Di satu sisi, kita melihat Herodes Agripa I — seorang penguasa yang kuat, berpakaian megah, duduk di atas takhta, dipuji sebagai allah. Di sisi lain, hanya dalam satu ayat, kemuliaan itu runtuh oleh satu tindakan Allah: ia ditampar malaikat dan mati dimakan cacing.

Dalam perspektif teologi Reformed, bagian ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pernyataan teologis tentang:

  • Kedaulatan Allah atas raja-raja dunia

  • Bahaya kesombongan manusia

  • Kepastian penghakiman ilahi

  • Kemuliaan Allah yang tidak dapat dibagi

Peristiwa ini muncul dalam konteks penganiayaan gereja (Kisah Para Rasul 12:1–19), termasuk kematian Yakobus dan pemenjaraan Petrus. Namun ironisnya, bukan rasul yang mati, melainkan raja yang menganiaya.

I. Latar Belakang Historis dan Narasi Lukas

Herodes yang dimaksud adalah Herodes Agripa I, cucu Herodes Agung. Ia dikenal sebagai penguasa yang berusaha menyenangkan orang Yahudi (bdk. Kisah Para Rasul 12:3).

Sejarawan Yahudi Flavius Yosefus mencatat peristiwa yang sangat mirip: Herodes mengenakan jubah perak yang memantulkan cahaya matahari sehingga tampak bersinar, dan rakyat menyebutnya ilahi. Tidak lama kemudian ia terserang penyakit parah dan meninggal.

Lukas menafsirkan peristiwa ini bukan sekadar sebagai kematian alami, melainkan sebagai tindakan langsung Allah.

II. Kisah Para Rasul 12:20–21: Kuasa Politik dan Panggung Kemuliaan

Herodes marah kepada Tirus dan Sidon, dua kota Fenisia yang bergantung pada suplai pangan dari wilayahnya. Secara politik, mereka berada dalam posisi lemah.

1. Ketergantungan Ekonomi dan Diplomasi

Bagian ini menunjukkan bagaimana kekuasaan dunia sering kali dibangun di atas:

  • Kontrol ekonomi

  • Ketergantungan politik

  • Manipulasi relasi

Namun dalam teologi Reformed, seluruh struktur kekuasaan dunia tetap berada di bawah providensia Allah.

John Calvin dalam komentarnya atas Kisah Para Rasul menegaskan bahwa tidak ada raja yang memegang kuasa tanpa izin Allah. Namun kuasa itu bukan otonomi mutlak.

Roma 13:1 menyatakan bahwa tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah. Tetapi ini tidak berarti bahwa Allah menyetujui setiap tindakan mereka.

III. Kisah Para Rasul 12:22: Penyembahan yang Salah dan Kesombongan yang Mematikan

“Ini suara allah dan bukan suara manusia!”

Inilah titik klimaks dosa Herodes: ia menerima kemuliaan yang seharusnya hanya bagi Allah.

1. Dosa Merampas Kemuliaan Allah

Dalam teologi Reformed, inti dosa adalah penolakan terhadap kemuliaan Allah dan penggantian-Nya dengan diri sendiri (Roma 1:21–23).

Herman Bavinck menyatakan bahwa dosa pada dasarnya adalah upaya manusia untuk menjadi pusat realitas.

Herodes tidak secara eksplisit mengklaim dirinya allah, tetapi ia juga tidak menolak pujian tersebut. Sikap diamnya adalah persetujuan.

Calvin menulis bahwa Allah tidak akan membiarkan kemuliaan-Nya dirampas tanpa konsekuensi.

Yesaya 42:8 berkata:

“Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain.”

IV. Kisah Para Rasul 12:23: Penghakiman Seketika

“Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan…”

Kata “seketika itu juga” menekankan tindakan langsung dan segera.

1. Allah Bertindak dalam Sejarah

Teologi Reformed menolak gagasan bahwa Allah hanya bekerja secara tidak langsung. Allah aktif dalam sejarah.

R.C. Sproul sering menekankan bahwa kekudusan Allah berarti Ia tidak bersikap netral terhadap dosa.

Herodes tidak mati karena kebetulan biologis, melainkan karena penghakiman ilahi.

2. Simbolisme “Dimakan Cacing”

Kematian yang memalukan ini memiliki makna simbolik:

  • Dari kemuliaan takhta ke kehinaan tubuh yang membusuk

  • Dari pujian ilahi ke kematian yang menjijikkan

John Owen menyatakan bahwa kesombongan adalah dosa yang paling dekat dengan kehancuran. Allah sering merendahkan orang yang meninggikan diri.

V. Kontras dengan Gereja yang Dianiaya

Menariknya, pasal ini menunjukkan dua realitas yang berlawanan:

  • Yakobus mati sebagai martir

  • Herodes mati sebagai hakim

Dari sudut pandang dunia, Herodes menang dan gereja kalah. Namun dari sudut pandang kekekalan, Allah membalikkan keadaan.

Kisah Para Rasul 12:24 (ayat berikutnya) menyatakan:

“Tetapi firman Tuhan makin tersebar dan makin banyak didengar orang.”

Ini adalah pola kerajaan Allah:

  • Kuasa dunia runtuh

  • Firman Tuhan bertumbuh

VI. Dimensi Teologi Reformed: Kedaulatan dan Penghakiman

1. Doktrin Providensia

Louis Berkhof mendefinisikan providensia sebagai pemeliharaan dan pemerintahan Allah atas segala sesuatu.

Kematian Herodes bukan peristiwa acak, melainkan bagian dari rencana Allah untuk:

  • Melindungi gereja

  • Menyatakan keadilan-Nya

  • Memuliakan nama-Nya

2. Total Depravity dan Kesombongan

Kesombongan Herodes mencerminkan natur manusia berdosa. Tanpa anugerah, manusia cenderung mencari kemuliaan diri.

Augustinus (yang sangat memengaruhi teologi Reformed) menyebut dosa sebagai incurvatus in se — manusia yang melengkung ke dalam dirinya sendiri.

Herodes adalah contoh ekstrem dari kondisi ini.

VII. Implikasi Kristologis: Kontras dengan Kristus

Bandingkan Herodes dengan Kristus:

  • Herodes mengenakan pakaian kerajaan untuk menerima pujian.

  • Kristus mengenakan mahkota duri dan ditolak manusia.

Filipi 2:6–11 menunjukkan bahwa Kristus tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah, tetapi merendahkan diri.

Ironinya:

  • Yang meninggikan diri direndahkan (Herodes).

  • Yang merendahkan diri ditinggikan (Kristus).

Ini adalah prinsip kerajaan Allah.

VIII. Aplikasi Pastoral

1. Bahaya Ambisi Rohani

Pemimpin rohani pun dapat jatuh dalam dosa mencari kemuliaan diri.

Pertanyaannya:

  • Apakah kita melayani untuk nama Tuhan atau nama kita sendiri?

  • Apakah kita menikmati pujian manusia tanpa mengarahkan kemuliaan kepada Allah?

2. Penghiburan bagi Gereja yang Menderita

Bagi gereja yang dianiaya, kisah ini adalah penghiburan besar:

  • Allah melihat.

  • Allah bertindak.

  • Allah membela umat-Nya.

Walaupun tidak selalu seketika, penghakiman Allah pasti.

IX. Refleksi Eskatologis

Kematian Herodes adalah gambaran kecil dari penghakiman terakhir.

Wahyu 19 menggambarkan runtuhnya kuasa-kuasa dunia yang melawan Allah.

Teologi Reformed menekankan bahwa sejarah bergerak menuju klimaks ketika Kristus memerintah secara sempurna.

Semua takhta dunia akan runtuh. Hanya takhta Kristus yang kekal.

Kesimpulan: Kemuliaan Milik Allah Saja

Kisah Para Rasul 12:20–23 mengajarkan bahwa:

  • Kemuliaan tidak boleh dibagi dengan manusia.

  • Kuasa dunia bersifat sementara.

  • Allah berdaulat atas hidup dan mati.

  • Kesombongan mendahului kehancuran.

Herodes duduk di takhta dunia, tetapi Allah tetap duduk di takhta surga.

Di hadapan Allah yang kudus, semua kemuliaan manusia hanyalah debu.

Kiranya kita belajar untuk berkata bersama para reformator:

Soli Deo Gloria — Kemuliaan bagi Allah saja.

Next Post Previous Post