Markus 13:32–37: Berjaga dalam Ketidaktahuan

Pendahuluan: Ketegangan antara Misteri dan Tanggung Jawab
Markus 13 adalah bagian dari apa yang sering disebut sebagai Khotbah di Bukit Zaitun (Olivet Discourse). Dalam pasal ini, Yesus berbicara mengenai penderitaan, kehancuran Yerusalem, dan kedatangan Anak Manusia. Namun bagian Markus 13:32–37 menutup pengajaran tersebut dengan fokus yang sangat praktis: berjaga-jaga.
Di sini kita menemukan ketegangan teologis yang mendalam:
-
Allah berdaulat atas waktu akhir.
-
Manusia tidak mengetahui waktu itu.
-
Namun manusia tetap bertanggung jawab untuk berjaga.
Dalam teologi Reformed, bagian ini sangat kaya karena menyentuh doktrin Kristologi, kedaulatan Allah, providensia, tanggung jawab manusia, dan eskatologi.
I. Markus 13:32: Misteri Inkarnasi dan Pengetahuan Kristus
“Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu… dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.”
Ayat ini sering menjadi bahan diskusi teologis karena tampaknya menyatakan keterbatasan pengetahuan Yesus.
1. Kristologi Reformed: Dua Natur dalam Satu Pribadi
Teologi Reformed, mengikuti Konsili Kalsedon (451 M), mengajarkan bahwa Kristus memiliki dua natur:
-
Ilahi sepenuhnya
-
Manusia sepenuhnya
John Calvin menjelaskan bahwa dalam natur kemanusiaan-Nya, Kristus dapat mengalami keterbatasan tertentu tanpa mengurangi keilahian-Nya. Ia secara sukarela merendahkan diri (bdk. Filipi 2:6–8).
Herman Bavinck menegaskan bahwa inkarnasi bukan berarti Kristus berhenti menjadi Allah, tetapi Ia mengambil natur manusia dengan segala keterbatasannya (kecuali dosa).
Maka ketika Yesus berkata bahwa Anak tidak tahu, Ia berbicara dalam konteks peran mesianik-Nya yang tunduk kepada Bapa dalam ekonomi keselamatan.
2. Misteri yang Menghasilkan Kerendahan Hati
Ayat ini mengingatkan bahwa ada batas pada pengetahuan manusia. Bahkan para malaikat tidak tahu. Maka setiap upaya menentukan tanggal kedatangan Kristus bertentangan langsung dengan ajaran Yesus sendiri.
R.C. Sproul menekankan bahwa spekulasi eskatologis yang berlebihan sering kali lahir dari keinginan manusia menguasai misteri ilahi.
II. Markus 13:33: Perintah untuk Berjaga
“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah!”
Kata “berjaga-jaga” (Yunani: gregoreō) berarti tetap terbangun, waspada, dan siap.
1. Ketidaktahuan Bukan Alasan untuk Pasif
Dalam teologi Reformed, kedaulatan Allah tidak pernah menghapus tanggung jawab manusia.
Louis Berkhof menjelaskan bahwa providensia Allah berjalan berdampingan dengan tanggung jawab moral manusia.
Karena kita tidak tahu waktunya, kita harus hidup dalam kesiapan konstan.
2. Kewaspadaan Rohani
John Owen berbicara tentang “watchfulness” sebagai disiplin rohani yang penting dalam melawan dosa.
Berjaga bukan hanya menanti peristiwa masa depan, tetapi:
-
Mengawasi hati
-
Melawan kompromi
-
Hidup dalam kekudusan
III. Markus 13:34: Perumpamaan tentang Tuan dan Hamba
Yesus menggambarkan seorang tuan yang bepergian dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya.
1. Kristus sebagai Tuan Rumah
Dalam perspektif eskatologis, Kristus adalah Tuan yang akan kembali.
Sinclair Ferguson menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan dua hal:
-
Penundaan bukan berarti pembatalan.
-
Penundaan adalah waktu ujian kesetiaan.
Setiap hamba diberi tugas. Tidak ada yang menganggur dalam kerajaan Allah.
2. Teologi Panggilan (Vocation)
Dalam tradisi Reformed, setiap pekerjaan adalah panggilan dari Allah.
Abraham Kuyper menegaskan bahwa tidak ada satu inci pun dalam kehidupan manusia yang tidak berada di bawah klaim Kristus.
Berjaga berarti setia dalam tugas sehari-hari:
-
Dalam keluarga
-
Dalam gereja
-
Dalam pekerjaan
IV. Markus 13:35–36: Bahaya Tertidur Rohani
Yesus menyebut berbagai waktu malam: menjelang malam, tengah malam, larut malam, pagi buta.
1. Ketidakpastian yang Total
Pembagian waktu ini melambangkan ketidakpastian mutlak.
John Calvin menulis bahwa ketidakpastian waktu dimaksudkan untuk menjaga gereja dalam kesiapsiagaan terus-menerus.
2. Tidur sebagai Simbol Ketidakpedulian
Tidur dalam konteks ini bukan tidur fisik, tetapi kelalaian rohani.
Herman Bavinck menegaskan bahwa gereja selalu hidup dalam “masa antara” — antara kenaikan dan kedatangan kembali Kristus.
Bahaya terbesar gereja bukanlah penganiayaan, tetapi kelalaian.
V. Markus 13:37: Perintah Universal
“Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!”
Yesus memperluas perintah ini kepada semua orang.
1. Dimensi Gerejawi dan Pribadi
Berjaga bukan hanya tugas para rasul, tetapi seluruh gereja.
Teologi Reformed menekankan imamat am orang percaya. Setiap orang Kristen dipanggil untuk hidup dalam kesiapan eskatologis.
VI. Dimensi Eskatologi Reformed
Teologi Reformed secara klasik menganut pandangan amilenial atau pascamilenial dalam banyak tradisi, tetapi semua sepakat pada:
-
Kedatangan Kristus yang nyata dan historis.
-
Penghakiman terakhir.
-
Kebangkitan tubuh.
Markus 13:32–37 tidak mendorong spekulasi kronologis, melainkan kesetiaan etis.
Anthony Hoekema menyatakan bahwa eskatologi Alkitab selalu bersifat etis — ia membentuk cara hidup sekarang.
VII. Ketegangan antara Kepastian dan Ketidakpastian
Kita tidak tahu “kapan,” tetapi kita tahu “pasti.”
Itulah paradoks Kristen:
-
Kedatangan Kristus pasti.
-
Waktunya tidak diketahui.
Ketegangan ini menciptakan kehidupan iman yang dinamis.
VIII. Aplikasi Pastoral
1. Hidup dalam Kekudusan
Menanti Kristus berarti mematikan dosa setiap hari.
2. Hidup dalam Pengharapan
Kedatangan Kristus adalah pengharapan, bukan ancaman bagi orang percaya.
3. Hidup dalam Kesetiaan
Kesetiaan kecil setiap hari adalah bentuk berjaga.
IX. Refleksi Teologis Mendalam
Markus 13:32–37 mengajarkan bahwa sejarah bukan siklus tanpa arah, melainkan bergerak menuju klimaks ilahi.
Allah menentukan waktu akhir. Kristus akan kembali. Gereja dipanggil berjaga.
Dalam terang teologi Reformed:
-
Kedaulatan Allah memberi kepastian.
-
Ketidaktahuan manusia melahirkan kerendahan hati.
-
Tanggung jawab moral mendorong kesetiaan.
Kesimpulan: Berjaga sebagai Gaya Hidup Injili
Berjaga bukan sikap panik, melainkan gaya hidup yang berakar pada iman.
Kita tidak mengetahui hari dan saatnya, tetapi kita mengenal Dia yang akan datang.
Dan karena kita mengenal Dia, kita hidup:
-
Dalam kekudusan.
-
Dalam kesetiaan.
-
Dalam pengharapan.
Sampai Sang Tuan kembali dan mendapati hamba-hamba-Nya setia.
Soli Deo Gloria.