Markus 13:15–18: Urgensi, Penghakiman, dan Ketekunan

Markus 13:15–18: Urgensi, Penghakiman, dan Ketekunan

Markus 13:15–18 (TB)

15 “Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun dan masuk untuk mengambil sesuatu dari rumahnya,
16 dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya.
17 Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu.
18 Berdoalah, supaya semuanya itu jangan terjadi pada musim dingin.”

Pendahuluan: Wacana Eskatologis dan Hari-Hari yang Mengerikan

Markus 13 dikenal sebagai bagian dari Olivet Discourse (Khotbah di Bukit Zaitun), di mana Yesus berbicara tentang kehancuran Bait Allah dan tanda-tanda akhir zaman. Bagian ini sarat dengan bahasa apokaliptik, peringatan mendesak, dan nuansa penghakiman.

Markus 13:15–18 secara khusus berbicara tentang respons cepat yang harus diambil ketika “pembinasa keji” berdiri di tempat kudus (ayat 14). Dalam konteks historis, banyak teolog Reformed memahami bagian ini sebagai rujukan utama kepada kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M oleh tentara Romawi, sekaligus memiliki dimensi tipologis yang menunjuk kepada penghakiman akhir.

Artikel ini akan menguraikan teks ini secara eksposisional dengan bantuan refleksi teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Geerhardus Vos, Anthony Hoekema, R.C. Sproul, dan John Murray.

I. Jangan Turun Mengambil Apa Pun (Markus 13:15)

“Orang yang sedang di peranginan di atas rumah janganlah ia turun…”

1. Urgensi Tanpa Penundaan

Rumah-rumah di Palestina abad pertama memiliki atap datar yang sering dipakai untuk beristirahat. Yesus menggambarkan seseorang yang berada di atas rumah dan tidak boleh turun untuk mengambil barang.

Calvin menafsirkan perintah ini sebagai tanda urgensi absolut. Ketika penghakiman Allah dinyatakan, tidak ada waktu untuk keterikatan pada harta duniawi.

Dalam teologi Reformed, ini mencerminkan prinsip bahwa dunia ini bersifat sementara. Bavinck menekankan bahwa orang percaya hidup dalam kesadaran eskatologis—tidak melekat pada hal-hal fana.

2. Prioritas Keselamatan di Atas Kenyamanan

Sproul menyatakan bahwa Yesus menekankan keselamatan jiwa lebih penting daripada keamanan materi. Dalam momen krisis ilahi, nilai-nilai dunia runtuh.

Ayat ini mengingatkan pada kisah Lot (Kej. 19). Istri Lot menoleh ke belakang karena keterikatannya pada Sodom. Markus 13 memperingatkan agar tidak melakukan kesalahan serupa.

II. Jangan Kembali Mengambil Pakaian (Markus 13:16)

“Dan orang yang sedang di ladang janganlah ia kembali untuk mengambil pakaiannya.”

1. Pelepasan Radikal

Yesus berbicara kepada petani yang mungkin meninggalkan jubahnya saat bekerja. Namun dalam situasi penghakiman, bahkan hal sekecil itu tidak boleh menjadi alasan untuk kembali.

Geerhardus Vos melihat ini sebagai gambaran kesiapsiagaan rohani. Eskatologi bukan sekadar doktrin masa depan, tetapi etika masa kini.

2. Hidup dalam Ketegangan Eskatologis

Teologi Reformed memahami kerajaan Allah dalam kategori “sudah tetapi belum” (already but not yet). Kehancuran Yerusalem adalah penggenapan parsial dari penghakiman Allah, sekaligus bayangan penghakiman akhir.

Karena itu, ayat ini berbicara kepada semua generasi gereja: jangan melekat pada dunia ketika Allah bertindak dalam sejarah.

III. Celaka bagi yang Hamil dan Menyusui (Markus 13:17)

“Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi…”

1. Realitas Tragis Penghakiman

Yesus tidak berbicara secara sentimental. Ia mengakui bahwa penghakiman Allah membawa penderitaan nyata.

Calvin menekankan bahwa ini bukan kekejaman Kristus, melainkan peringatan penuh belas kasihan. Ia sedang memperingatkan sebelum peristiwa terjadi.

2. Dimensi Historis dan Eskatologis

Banyak teolog Reformed (termasuk Sproul dalam pandangan preteris parsialnya) melihat ayat ini tergenapi secara literal dalam pengepungan Yerusalem tahun 70 M, ketika kondisi menjadi sangat mengerikan.

Namun Anthony Hoekema menekankan bahwa peristiwa itu juga merupakan tipe dari penghakiman terakhir—sebuah pola sejarah di mana Allah menghakimi sistem yang menolak Mesias.

IV. Berdoalah Supaya Jangan Terjadi pada Musim Dingin (Markus 13:18)

“Berdoalah, supaya semuanya itu jangan terjadi pada musim dingin.”

1. Ketergantungan pada Allah

Yesus memerintahkan doa, bahkan ketika penghakiman sudah dinubuatkan.

John Murray menjelaskan bahwa doa tidak bertentangan dengan kedaulatan Allah. Allah menetapkan bukan hanya tujuan, tetapi juga sarana—dan doa adalah sarana itu.

2. Musim Dingin sebagai Simbol Kesulitan Tambahan

Musim dingin di Palestina membuat perjalanan lebih sulit. Ini menunjukkan bahwa penderitaan dapat diperberat oleh kondisi eksternal.

Bavinck menyatakan bahwa doa orang percaya tidak mengubah rencana kekal Allah, tetapi menjadi bagian dari pelaksanaannya.

V. Perspektif Teologi Reformed tentang Penghakiman

Markus 13 tidak dapat dilepaskan dari doktrin penghakiman Allah.

1. Penghakiman dalam Sejarah

Calvin mengajarkan bahwa Allah sering menyatakan penghakiman-Nya dalam sejarah sebelum penghakiman akhir.

Kehancuran Yerusalem adalah contoh konkret bagaimana Allah menegakkan keadilan-Nya terhadap penolakan terhadap Mesias.

2. Bayangan Penghakiman Akhir

Vos melihat peristiwa ini sebagai tipologi eskatologis. Apa yang terjadi pada Yerusalem menjadi gambaran kecil dari hari Tuhan yang terakhir.

VI. Ketidakterikatan Duniawi sebagai Etika Eskatologis

Markus 13:15–16 mengajarkan pelepasan radikal dari harta dan kenyamanan.

Teologi Reformed tidak mengajarkan asketisme ekstrem, tetapi menekankan bahwa dunia ini bukan tujuan akhir.

Berkhof menyatakan bahwa orang percaya harus menggunakan dunia tanpa diperbudak olehnya (1 Korintus 7:31).

VII. Penderitaan dalam Rencana Allah

Ayat 17 menunjukkan bahwa penderitaan nyata dan menyakitkan.

Namun Reformed theology menolak gagasan bahwa penderitaan terjadi di luar kendali Allah.

Roma 8:28 tetap berlaku bahkan dalam konteks penghakiman historis.

VIII. Kristus sebagai Nabi yang Setia

Yesus memperingatkan murid-murid-Nya jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Ini menunjukkan:

  • Ia adalah Nabi sejati.

  • Ia mengasihi umat-Nya dengan memberi peringatan.

  • Ia mengendalikan sejarah.

Sproul menekankan bahwa ketepatan nubuat ini memperkuat otoritas Kristus sebagai Tuhan atas sejarah.

IX. Aplikasi bagi Gereja Masa Kini

  1. Hidup dengan kewaspadaan rohani.

  2. Jangan melekat pada hal-hal sementara.

  3. Percaya bahwa penghakiman Allah adil dan benar.

  4. Berdoa dalam setiap keadaan.

Markus 13 mengingatkan bahwa iman Kristen bukanlah agama kenyamanan, melainkan kesetiaan dalam ketidakpastian.

X. Dimensi Pastoral: Antara Ketakutan dan Pengharapan

Bagi orang yang tidak percaya, penghakiman adalah ancaman.

Namun bagi orang percaya, penghakiman adalah pembenaran akhir dan pembaruan ciptaan.

Hoekema menegaskan bahwa eskatologi Kristen selalu berakhir pada pengharapan, bukan keputusasaan.

Kesimpulan: Siap Sedia di Hari Tuhan

Markus 13:15–18 adalah panggilan mendesak untuk kesiapan rohani.

Yesus mengajarkan bahwa:

  • Penghakiman Allah adalah nyata.

  • Dunia ini tidak kekal.

  • Kesiapan lebih penting daripada kenyamanan.

  • Doa adalah respons yang benar terhadap ketidakpastian.

Dalam perspektif Reformed, teks ini memperlihatkan kedaulatan Allah atas sejarah, keseriusan dosa, dan pentingnya hidup dalam terang kekekalan.

Ketika hari-hari sulit datang, gereja dipanggil untuk tidak panik, tidak melekat pada dunia, dan tidak kehilangan iman, tetapi berdiri teguh dalam pengharapan kepada Kristus yang memegang kendali atas sejarah dan akhir zaman.

Soli Deo Gloria.

Previous Post