Markus 13:3–4: Bilamanakah Semuanya Itu Akan Terjadi?
.jpg)
Pendahuluan: Pertanyaan Eskatologis yang Lahir dari Kekaguman dan Kegentaran
Markus 13:3–4 membawa kita ke sebuah momen yang sangat intim namun sarat makna teologis. Setelah Yesus menubuatkan kehancuran Bait Allah—simbol paling sakral dalam kehidupan religius Israel—empat murid terdekat-Nya datang secara pribadi untuk bertanya. Pertanyaan mereka bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan kegelisahan iman yang muncul ketika struktur religius yang dianggap permanen dinyatakan akan runtuh.
Dalam teologi Reformed, momen ini penting karena menunjukkan bahwa:
-
Eskatologi lahir dari pewahyuan Allah, bukan spekulasi manusia
-
Pertanyaan tentang akhir zaman berkaitan erat dengan kedaulatan Allah
-
Jawaban Yesus bertujuan membentuk iman, bukan memuaskan rasa ingin tahu kronologis
John Calvin menegaskan bahwa nubuat Alkitab tidak diberikan untuk memuaskan keingintahuan manusia, tetapi untuk meneguhkan iman dan ketekunan umat Allah.
Latar Belakang Historis dan Naratif Markus 13
1. Konteks Nubuat Kehancuran Bait Allah
Markus 13 diawali dengan pernyataan Yesus bahwa tidak satu batu pun dari Bait Allah akan tinggal terletak di atas batu yang lain. Bagi orang Yahudi, ini bukan hanya bencana arsitektural, tetapi krisis teologis.
Herman Bavinck mencatat bahwa Bait Allah adalah pusat kehadiran simbolis Allah. Pernyataan Yesus menandai pergeseran besar dalam sejarah penebusan: dari bayang-bayang menuju penggenapan di dalam Kristus.
2. Bukit Zaitun sebagai Latar Eskatologis
Yesus duduk di Bukit Zaitun, berhadapan langsung dengan Bait Allah. Lokasi ini bukan kebetulan. Dalam tradisi Perjanjian Lama, Bukit Zaitun memiliki muatan eskatologis—tempat Allah bertindak secara menentukan bagi umat-Nya.
Geerhardus Vos melihat setting ini sebagai “panggung redemptif-historis” tempat Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pusat sejarah akhir.
Eksposisi Markus 13:3
1. Murid-Murid Inti dan Pewahyuan Khusus
Empat murid—Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Andreas—datang “sendirian” kepada Yesus. Ini menunjukkan bahwa pengajaran tentang akhir zaman diberikan dalam konteks relasi yang dekat dan penuh kepercayaan.
John Owen menekankan bahwa kebenaran rohani terdalam sering disampaikan bukan di ruang publik, tetapi dalam persekutuan yang intim dengan Kristus.
2. Sikap Duduk Yesus: Otoritas Sang Nabi-Raja
Yesus “duduk”, sikap seorang rabi yang mengajar dengan otoritas. Ia bukan spekulator eskatologis, melainkan Nabi sejati yang berbicara atas nama Allah.
R. C. Sproul menegaskan bahwa otoritas Yesus dalam pengajaran eskatologi bersumber dari keilahian-Nya, bukan dari kemampuan membaca tanda-tanda zaman.
Eksposisi Markus 13:4
1. “Bilamanakah Itu Akan Terjadi?”
Pertanyaan ini mencerminkan kerinduan manusia akan kepastian waktu. Namun dalam teologi Reformed, pertanyaan tentang “kapan” selalu tunduk pada kedaulatan Allah.
John Calvin memperingatkan bahwa pencarian tanggal dan waktu sering kali menjadi bentuk ketidakpercayaan yang halus terhadap hikmat Allah.
2. “Apakah Tandanya?”
Murid-murid mencari tanda, bukan demi sensasi, tetapi demi persiapan. Namun Alkitab secara konsisten menegaskan bahwa tanda-tanda bukan untuk kalkulasi, melainkan untuk kewaspadaan rohani.
Jonathan Edwards menulis bahwa tanda-tanda zaman seharusnya membawa gereja kepada pertobatan dan kekudusan, bukan spekulasi apokaliptik.
3. “Kalau Semuanya Itu Akan Sampai kepada Kesudahannya”
Frasa ini menunjukkan bahwa murid-murid mengaitkan kehancuran Bait Allah dengan akhir zaman. Di sini terlihat bahwa pemahaman eskatologi mereka masih bercampur antara peristiwa dekat dan akhir sejarah.
Louis Berkhof menegaskan bahwa pengajaran Yesus dalam Markus 13 meluruskan pemahaman eskatologi murid secara bertahap.
Eskatologi Reformed: Sudah dan Belum
1. Ketegangan Eskatologis
Teologi Reformed memahami Markus 13 dalam kerangka “sudah tetapi belum”. Beberapa nubuat digenapi dalam kehancuran Yerusalem (70 M), sementara yang lain menunjuk pada kedatangan Kristus yang kedua.
Geerhardus Vos menyebut ini sebagai eskatologi bertahap—Allah bekerja melalui peristiwa historis yang mengarah pada kepenuhannya.
2. Penolakan terhadap Spekulasi Tanggal
Reformed theology menolak segala bentuk penetapan tanggal akhir zaman. Fokusnya adalah kesiapan iman.
J. I. Packer menegaskan bahwa eskatologi alkitabiah bertujuan membentuk karakter Kristen, bukan kalender Kristen.
Kristus sebagai Pusat Eskatologi
Yesus tidak hanya menjelaskan akhir zaman; Ia adalah pusat dan tujuan akhir zaman itu sendiri. Kehancuran Bait Allah menunjuk pada realitas bahwa Kristus adalah Bait Allah yang sejati.
John Calvin menulis bahwa dalam Kristus, Allah tidak lagi berdiam dalam bangunan, tetapi dalam Pribadi.
Penghakiman dan Anugerah dalam Markus 13
1. Penghakiman atas Sistem Religius Lama
Kehancuran Bait Allah adalah penghakiman atas sistem yang menolak Mesias.
Meredith G. Kline melihat peristiwa ini sebagai “penghakiman kovenantal” yang menutup satu era dan membuka era baru.
2. Anugerah bagi Umat Pilihan
Di tengah penghakiman, Yesus berbicara untuk meneguhkan iman murid-murid-Nya.
Herman Bavinck menegaskan bahwa penghakiman Allah selalu berjalan seiring dengan pemeliharaan umat-Nya.
Implikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini
1. Iman yang Tidak Bergantung pada Struktur Duniawi
Markus 13 mengingatkan gereja agar tidak mengikat imannya pada institusi duniawi.
2. Kewaspadaan Rohani, Bukan Ketakutan
Yesus mengajar kewaspadaan yang penuh pengharapan, bukan ketakutan apokaliptik.
3. Ketekunan dalam Panggilan
Eskatologi Alkitab mendorong kesetiaan, bukan pelarian dari dunia.
Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari
-
Membaca Markus 13 hanya sebagai nubuat masa depan jauh
-
Mengabaikan konteks kehancuran Yerusalem
-
Menjadikan eskatologi sebagai alat sensasi
Teologi Reformed selalu menempatkan eskatologi dalam terang salib dan kebangkitan.
Dimensi Eskatologis dan Etis
Eskatologi selalu berujung pada etika. Menantikan kedatangan Kristus berarti hidup dalam kekudusan dan kesetiaan.
Jonathan Edwards menegaskan bahwa pengharapan akan kedatangan Kristus adalah pendorong terkuat bagi kehidupan kudus.
Penutup: Pertanyaan yang Mengarahkan kepada Iman
Pertanyaan murid-murid dalam Markus 13:3–4 tidak dijawab Yesus dengan jadwal, melainkan dengan panggilan untuk berjaga-jaga, setia, dan berharap kepada Allah yang berdaulat.
Di tengah dunia yang terus berubah dan struktur yang runtuh, gereja diingatkan bahwa sejarah berada di tangan Kristus, dan akhir dari segala sesuatu bukan kekacauan, melainkan kemuliaan-Nya.