Aku Menganggap Segala Sesuatu sebagai Kerugian
.jpg)
Pendahuluan
Frasa I Count All Things But Loss merupakan ungkapan yang sarat dengan bobot teologis, eksistensial, dan rohani. Dalam bahasa Indonesia, ungkapan ini secara tepat dapat diterjemahkan sebagai “Aku menganggap segala sesuatu sebagai kerugian”. Pernyataan ini tidak sekadar mencerminkan sikap asketis atau penolakan terhadap dunia secara ekstrem, melainkan menyatakan sebuah revolusi nilai yang berakar pada perjumpaan manusia dengan Kristus.
Dalam tradisi teologi Reformed, frasa ini dipahami sebagai pengakuan iman yang lahir dari pemahaman yang benar tentang kemuliaan Kristus, kerusakan total manusia, dan anugerah Allah yang berdaulat. Pernyataan ini bukanlah ungkapan emosional sesaat, tetapi hasil dari refleksi teologis yang matang, yang menata ulang seluruh orientasi hidup manusia.
Artikel ini berusaha menguraikan makna teologis dari frasa tersebut dalam terang teologi Reformed, sekaligus menghadirkan pandangan para pakar Reformed tentang nilai, kehilangan, keuntungan sejati, dan hidup yang sepenuhnya diarahkan kepada Kristus.
1. Krisis Nilai dalam Kehidupan Manusia Berdosa
Teologi Reformed memulai refleksi tentang nilai hidup dari doktrin kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dosa tidak hanya merusak moral manusia, tetapi juga merusak cara manusia menilai realitas. Apa yang seharusnya bernilai kekal dianggap sepele, sementara hal-hal sementara ditinggikan secara berlebihan.
John Calvin menegaskan bahwa hati manusia adalah idol factory—pabrik berhala. Manusia terus-menerus menciptakan pusat nilai yang palsu: prestasi, kekayaan, kehormatan, pengetahuan, bahkan agama itu sendiri. Semua ini dapat menjadi penghalang terbesar untuk mengenal Kristus dengan benar.
Dalam konteks inilah pernyataan “aku menganggap segala sesuatu sebagai kerugian” menjadi sebuah deklarasi teologis yang radikal. Ia menandai kehancuran sistem nilai lama dan kelahiran orientasi hidup yang baru, yang berpusat pada Allah.
2. Kristus sebagai Standar Penilaian Tertinggi
Bagi teologi Reformed, nilai sejati tidak ditentukan oleh manusia, melainkan oleh siapa Allah itu dan apa yang Ia kerjakan di dalam Kristus. Herman Bavinck menegaskan bahwa seluruh realitas hanya dapat dipahami secara benar jika dilihat dalam terang wahyu Allah.
Kristus bukan sekadar salah satu nilai di antara banyak nilai lain. Ia adalah standar absolut yang dengannya segala sesuatu diukur. Ketika Kristus menjadi pusat, maka segala sesuatu yang sebelumnya dianggap keuntungan akan mengalami revaluasi radikal.
Louis Berkhof menyatakan bahwa iman sejati selalu bersifat Christocentric. Iman bukan sekadar persetujuan intelektual, melainkan penyerahan total terhadap Kristus sebagai Tuhan dan harta yang paling berharga.
3. Kehilangan sebagai Jalan Menuju Keuntungan Sejati
Paradoks utama dalam frasa I Count All Things But Loss adalah bahwa kehilangan justru menjadi jalan menuju keuntungan sejati. Ini bertentangan dengan logika dunia, tetapi sejalan dengan logika Injil.
John Calvin menulis bahwa selama manusia masih melekat pada keunggulan dirinya, ia tidak akan pernah benar-benar bersandar pada anugerah Allah. Oleh karena itu, Allah sering kali mengizinkan manusia kehilangan apa yang paling dibanggakannya, agar ia menemukan Kristus sebagai satu-satunya dasar keselamatan.
Dalam teologi Reformed, kehilangan bukan tujuan akhir, tetapi sarana. Ia berfungsi untuk membongkar ilusi kemandirian dan mengarahkan manusia kepada ketergantungan total kepada Allah.
4. Dimensi Perjanjian dan Kesatuan dengan Kristus
Geerhardus Vos, seorang teolog Reformed yang menekankan teologi biblika, melihat kehidupan orang percaya dalam kerangka sejarah penebusan dan perjanjian Allah. Dalam kerangka ini, “menganggap segala sesuatu sebagai kerugian” berarti hidup selaras dengan realitas perjanjian yang telah digenapi dalam Kristus.
Kesatuan dengan Kristus (union with Christ) merupakan pusat dari seluruh berkat keselamatan. Ketika seseorang dipersatukan dengan Kristus, identitas lamanya kehilangan nilai ultim. Keuntungan duniawi tidak lagi menjadi penentu makna hidup.
Vos menegaskan bahwa seluruh hidup orang percaya adalah partisipasi dalam kehidupan Kristus—termasuk kematian terhadap dunia dan kebangkitan menuju hidup yang baru.
5. Anugerah dan Penyangkalan Diri
Teologi Reformed sangat menekankan bahwa keselamatan adalah hasil anugerah semata (sola gratia). Namun, anugerah ini tidak pernah menghasilkan kehidupan yang berpusat pada diri sendiri.
R.C. Sproul menekankan bahwa anugerah sejati selalu membawa manusia kepada penyangkalan diri yang sejati. Penyangkalan diri bukanlah bentuk penghinaan terhadap diri, melainkan pengakuan bahwa diri bukan pusat realitas.
Menganggap segala sesuatu sebagai kerugian berarti mengakui bahwa tidak ada satu pun pencapaian manusia yang dapat menjadi dasar pembenaran di hadapan Allah. Semua yang dapat dibanggakan harus dilepaskan demi memperoleh Kristus.
6. Kritik terhadap Spiritualitas Prestasi
Salah satu kontribusi penting teologi Reformed adalah kritiknya terhadap spiritualitas berbasis prestasi, baik dalam dunia sekuler maupun religius. Banyak orang mengejar Kristus sambil tetap mempertahankan “keuntungan” lama mereka.
John Calvin memperingatkan bahwa religiositas dapat menjadi bentuk kesombongan yang paling halus. Ketika iman dijadikan sarana untuk meningkatkan reputasi diri, maka Injil telah dipelintir.
Pernyataan “aku menganggap segala sesuatu sebagai kerugian” menolak segala bentuk spiritualitas yang menjadikan Kristus sebagai tambahan, bukan sebagai pusat.
7. Penderitaan dan Pelepasan sebagai Bagian dari Pemuridan
John Piper, dalam teologi Reformed kontemporer, menekankan bahwa mengikuti Kristus berarti memasuki jalan salib. Ia menyatakan bahwa banyak orang menginginkan Kristus sebagai penyelamat, tetapi menolak Dia sebagai harta tertinggi.
Piper menegaskan bahwa penderitaan, kehilangan status, dan pelepasan kenyamanan sering kali menjadi cara Allah menunjukkan bahwa Kristus lebih berharga daripada segala sesuatu yang lain. Dalam konteks ini, kehilangan bukan kegagalan iman, melainkan bukti iman yang sejati.
8. Dimensi Eskatologis: Menilai Segala Sesuatu dari Akhir Zaman
Teologi Reformed selalu mengaitkan kehidupan saat ini dengan pengharapan eskatologis. Herman Bavinck menulis bahwa dunia sekarang hanya dapat dipahami dengan benar jika dilihat dari terang dunia yang akan datang.
Menganggap segala sesuatu sebagai kerugian bukan berarti menolak ciptaan, tetapi menempatkan ciptaan dalam perspektif kekekalan. Nilai sejati dari segala sesuatu akan dinyatakan sepenuhnya pada akhir zaman.
Eskatologi Reformed memberi keberanian kepada orang percaya untuk hidup berbeda sekarang, karena ia mengetahui bahwa keuntungan sejati masih tersembunyi.
9. Gereja dan Kesaksian Hidup yang Terbalik
Dalam dunia yang memuja keberhasilan, gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang hidup dengan sistem nilai yang terbalik. Louis Berkhof menekankan bahwa gereja harus mencerminkan realitas kerajaan Allah, bukan nilai dunia.
Ketika gereja hidup dengan semangat “menganggap segala sesuatu sebagai kerugian”, ia menjadi kesaksian profetis bagi dunia. Dunia mungkin tidak memahami teologi Reformed, tetapi tidak dapat mengabaikan kehidupan yang radikal dan konsisten.
10. Integrasi Iman, Pikiran, dan Kehidupan
Salah satu kekuatan teologi Reformed adalah integrasinya antara iman dan akal. Pernyataan “aku menganggap segala sesuatu sebagai kerugian” bukan anti-intelektual, tetapi justru lahir dari pemahaman teologis yang mendalam.
R.C. Sproul menekankan bahwa iman Kristen tidak menuntut manusia mematikan pikirannya, melainkan menundukkannya kepada Kristus. Ketika pikiran diterangi oleh kebenaran, maka penilaian hidup pun berubah.
11. Bahaya Salah Memahami Pelepasan
Teologi Reformed juga memberikan peringatan terhadap kesalahpahaman. Menganggap segala sesuatu sebagai kerugian bukan berarti membenci ciptaan atau menolak tanggung jawab duniawi.
Herman Bavinck menegaskan bahwa anugerah tidak meniadakan alam, tetapi memulihkannya. Orang percaya tetap dipanggil untuk bekerja, berkarya, dan melayani, namun tidak lagi menjadikan semua itu sebagai sumber identitas ultim.
12. Kehidupan yang Dimerdekakan oleh Injil
Pada akhirnya, frasa I Count All Things But Loss adalah pernyataan kebebasan. Ketika segala sesuatu yang fana dilepaskan, manusia dibebaskan dari perbudakan terhadap prestasi, pengakuan, dan rasa takut kehilangan.
John Calvin menulis bahwa tidak ada kebebasan sejati di luar penyerahan diri kepada Allah. Justru dalam kehilangan segala sesuatu, manusia menemukan hidup yang sejati.
Kesimpulan
“Aku menganggap segala sesuatu sebagai kerugian” adalah pernyataan iman yang lahir dari perjumpaan dengan Kristus yang mulia. Dalam teologi Reformed, pernyataan ini mencerminkan:
-
Revolusi nilai akibat anugerah,
-
Kristus sebagai harta tertinggi,
-
Kehilangan sebagai jalan menuju keuntungan sejati,
-
Hidup yang berakar dalam kesatuan dengan Kristus,
-
Pengharapan eskatologis yang kokoh.
Melalui pandangan para teolog Reformed—Calvin, Bavinck, Vos, Berkhof, Sproul, dan Piper—kita melihat bahwa hidup Kristen bukan tentang menambah Kristus pada hidup lama, melainkan meninggalkan segala sesuatu demi memperoleh Dia.