Zakharia 5:5–7: Kejahatan yang Disingkap dan Diadili
.jpg)
Pendahuluan: Ketika Allah Membuka Mata Umat-Nya terhadap Realitas Dosa
Kitab Zakharia adalah kitab penglihatan—penuh simbol, gambaran apokaliptik, dan bahasa profetis yang menantang pembacanya untuk melihat realitas rohani di balik peristiwa sejarah. Zakharia 5:5–7 merupakan bagian dari rangkaian penglihatan yang sangat tajam dan konfrontatif, karena di sini Allah menyingkapkan hakikat dosa umat-Nya secara kolektif, bukan sekadar kesalahan individual.
Dalam teologi Reformed, teks seperti ini sangat penting karena menegaskan bahwa:
-
Allah melihat dosa secara objektif dan menyeluruh
-
Dosa memiliki dimensi struktural dan komunal
-
Kekudusan Allah menuntut penghakiman yang adil
John Calvin menyebut penglihatan-penglihatan Zakharia sebagai “cermin ilahi” yang memaksa umat Allah melihat diri mereka sebagaimana Allah melihat mereka, bukan sebagaimana mereka ingin melihat diri mereka sendiri.
Latar Belakang Historis dan Redemptif-Historis Kitab Zakharia
1. Zakharia dan Konteks Pasca-Pembuangan
Zakharia melayani pada masa pasca-pembuangan, ketika umat Israel telah kembali dari Babel tetapi masalah utama mereka bukan lagi penindasan eksternal, melainkan kerusakan internal. Bait Allah mulai dibangun kembali, tetapi hati umat belum sepenuhnya dipulihkan.
Herman Bavinck menegaskan bahwa reformasi lahiriah tanpa pertobatan batin selalu berakhir pada kemunafikan religius. Zakharia diutus untuk menghadapi realitas ini.
2. Rangkaian Penglihatan dan Tema Kekudusan
Zakharia 5 berada di tengah rangkaian penglihatan yang menekankan bahwa:
-
Allah akan memulihkan umat-Nya
-
Tetapi pemulihan menuntut pembersihan dosa
Geerhardus Vos melihat penglihatan-penglihatan ini sebagai tahap transisional dalam sejarah penebusan—mengarah dari bayang-bayang Perjanjian Lama menuju kepenuhannya di dalam Kristus.
Eksposisi Zakharia 5:5
“Layangkan Matamu dan Lihatlah”
Perintah ini sangat signifikan. Allah tidak hanya berbicara; Ia memerintahkan nabi untuk melihat. Ini menunjukkan bahwa dosa sering kali tersembunyi di balik rutinitas religius dan memerlukan pewahyuan ilahi untuk dikenali.
John Owen menulis bahwa dosa memiliki kecenderungan untuk menyamarkan dirinya, bahkan dari mata orang-orang saleh, kecuali Roh Kudus menyingkapkannya.
Dalam teologi Reformed, pengenalan dosa bukan hasil introspeksi psikologis semata, tetapi karya pewahyuan Allah melalui Firman dan Roh.
Eksposisi Zakharia 5:6
1. “Yang Muncul Itu Sebuah Gantang”
Gantang adalah alat ukur ekonomi—dipakai dalam perdagangan sehari-hari. Simbol ini sangat penting karena menunjukkan bahwa dosa yang dimaksud berakar dalam kehidupan normal dan sistemik, bukan sekadar pelanggaran ritual.
Meredith G. Kline menekankan bahwa simbol-simbol kenabian sering menyingkap dosa yang telah menjadi “normal” dalam struktur sosial umat.
2. “Inilah Kejahatan Mereka di Seluruh Negeri”
Frasa ini menegaskan dimensi kolektif dan nasional dari dosa. Dosa tidak lagi bersifat sporadis, tetapi telah menjadi karakter umum kehidupan masyarakat.
Louis Berkhof menyatakan bahwa Alkitab mengakui realitas dosa struktural tanpa menghapus tanggung jawab pribadi.
Dalam teologi Reformed, pengakuan dosa komunal adalah bagian penting dari pertobatan sejati.
Eksposisi Zakharia 5:7
1. Tutup Timah yang Terangkat
Timah adalah logam berat, melambangkan penahanan dan pembatasan. Fakta bahwa tutup itu terangkat menunjukkan bahwa Allah secara sengaja membuka apa yang selama ini tersembunyi.
R. C. Sproul menegaskan bahwa kekudusan Allah menuntut keterbukaan total; tidak ada dosa yang dapat disembunyikan selamanya.
2. Seorang Perempuan Duduk di Dalam Gantang
Simbol ini sering disalahpahami. Dalam tradisi Reformed, ini bukan penghinaan terhadap perempuan, melainkan personifikasi dosa—sebagaimana hikmat juga sering dipersonifikasikan sebagai perempuan dalam Kitab Amsal.
John Calvin menegaskan bahwa simbol ini menunjukkan dosa yang:
-
Aktif
-
Menguasai
-
Berdiam dengan nyaman di pusat kehidupan umat
Jonathan Edwards melihat personifikasi dosa ini sebagai gambaran betapa dosa tidak pasif, tetapi memiliki kecenderungan untuk memerintah.
Dosa sebagai Realitas yang Terukur namun Merusak
Penggunaan gantang menunjukkan bahwa dosa telah “diukur” dan “diterima” sebagai bagian sistem ekonomi dan sosial.
Herman Bavinck menulis bahwa dosa modern sering kali paling berbahaya justru ketika ia dilembagakan dan dilegitimasi.
Dimensi Kovenantal: Allah Menilai Umat-Nya sebagai Satu Tubuh
Allah berbicara tentang “kejahatan mereka di seluruh negeri”. Ini mencerminkan prinsip kovenan: Allah berelasi dengan umat sebagai satu kesatuan.
John Owen menegaskan bahwa dalam kovenan, dosa individu selalu berdampak komunal.
Hubungan dengan Penglihatan Gulungan Terbang (Zakharia 5:1–4)
Penglihatan gulungan terbang berbicara tentang hukum Allah yang menghakimi dosa. Gantang berbicara tentang isi dosa itu sendiri.
Geerhardus Vos melihat kedua penglihatan ini sebagai:
-
Hukum yang mengutuk
-
Dosa yang disingkap
Keduanya menyiapkan jalan bagi kebutuhan akan penebusan.
Kristus sebagai Penggenapan dan Jawaban
1. Kristus Menanggung Kejahatan yang Disingkap
Apa yang disingkap dalam gantang akhirnya ditanggung oleh Kristus di kayu salib.
John Calvin menulis bahwa salib adalah tempat di mana dosa tidak lagi ditutupi, tetapi dihakimi dan dihapus.
2. Salib sebagai Tutup yang Sesungguhnya
Jika timah dalam penglihatan hanya menahan dosa sementara, maka salib Kristus menyelesaikan masalah dosa secara tuntas.
J. I. Packer menyebut pendamaian Kristus sebagai tindakan Allah yang sekaligus menyatakan kekudusan dan kasih-Nya.
Dimensi Eskatologis: Menuju Pemisahan Akhir
Zakharia 5 berlanjut dengan pembuangan kejahatan. Ini menunjuk pada hari terakhir, ketika dosa akan disingkirkan sepenuhnya dari ciptaan.
Herman Bavinck menegaskan bahwa eskatologi Kristen adalah pengharapan akan dunia yang dimurnikan, bukan sekadar jiwa yang diselamatkan.
Implikasi Pastoral bagi Gereja Masa Kini
1. Keberanian untuk Menghadapi Dosa Sistemik
Gereja tidak boleh hanya mengutuk dosa pribadi, tetapi juga berani mengoreksi dosa struktural.
2. Pertobatan yang Lebih dari Ritual
Zakharia menegaskan bahwa ibadah tanpa kekudusan adalah kosong.
3. Pengharapan dalam Anugerah
Meskipun dosa disingkap dengan keras, tujuannya adalah pemulihan, bukan kehancuran.
Kesalahan Tafsir yang Harus Dihindari
-
Membaca simbol secara literal dan dangkal
-
Menggunakan teks ini untuk mendiskreditkan kelompok tertentu
-
Mengabaikan arah kristologis teks
Teologi Reformed selalu membaca penghakiman dalam terang Injil.
Penutup: Allah yang Kudus dan Anugerah yang Menyelamatkan
Zakharia 5:5–7 mengingatkan gereja bahwa Allah yang memulihkan adalah Allah yang kudus. Ia menyingkap dosa bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menyembuhkan.
Di dalam Kristus, dosa yang disingkap tidak lagi membawa kebinasaan, melainkan menjadi jalan menuju pemulihan sejati.