Mazmur 28:1–2: Ketika Allah Tampak Diam

Mazmur 28:1–2: Ketika Allah Tampak Diam

Mazmur 28:1–2
1 Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, gunung batuku, aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur.
2 Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.

Pendahuluan: Doa di Ambang Keheningan

Mazmur 28 dibuka dengan seruan yang intens dan eksistensial. Daud tidak memulai dengan pujian yang tenang, melainkan dengan kegelisahan: “janganlah berdiam diri terhadap aku.”

Dalam tradisi Teologi Reformed, Mazmur dipahami sebagai sekolah doa (school of prayer). John Calvin menyebut kitab Mazmur sebagai “anatomi semua bagian jiwa,” karena di dalamnya kita menemukan seluruh spektrum pengalaman rohani manusia.

Mazmur 28:1–2 membawa kita pada salah satu pengalaman paling mengguncang dalam kehidupan iman: ketika Allah tampak diam.

I. “Kepada-Mu, ya TUHAN, Gunung Batuku” — Dasar Perjanjian Doa (Mazmur 28:1a)

Daud memanggil Allah sebagai “TUHAN” (YHWH) dan “gunung batuku.”

1. Nama Perjanjian: YHWH

Dalam Teologi Reformed, penggunaan nama YHWH menunjukkan relasi perjanjian. Daud tidak berseru kepada ilah yang jauh, tetapi kepada Allah yang telah menyatakan diri-Nya dan mengikat diri dalam janji.

Herman Bavinck menekankan bahwa doa Kristen berakar pada wahyu. Kita berseru bukan karena inisiatif kita, tetapi karena Allah lebih dahulu memperkenalkan diri-Nya.

Doa adalah respons terhadap anugerah perjanjian.

2. Gunung Batu: Keteguhan dan Perlindungan

Istilah “gunung batuku” melambangkan stabilitas, perlindungan, dan kekuatan.

Geerhardus Vos melihat metafora batu sebagai gambaran Allah yang tidak berubah (immutabilitas). Di tengah dunia yang rapuh, Allah adalah fondasi yang kokoh.

Dengan demikian, seruan Daud bukan seruan putus asa tanpa arah, tetapi terarah pada karakter Allah yang setia.

II. “Janganlah Berdiam Diri” — Problem Keheningan Ilahi (Mazmur 28:1b)

Daud takut akan keheningan Allah.

“Jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur.”

1. Keheningan sebagai Ancaman Relasional

Dalam Mazmur, keheningan Allah bukan sekadar tidak adanya suara, tetapi tanda terputusnya relasi.

Calvin menafsirkan bahwa Daud lebih takut pada murka atau jarak relasional dengan Allah daripada pada musuhnya.

Bagi orang percaya, kehilangan kesadaran akan hadirat Allah lebih menakutkan daripada kematian fisik.

2. Dimensi Antropologis: Ketergantungan Total

Daud menyadari bahwa tanpa respons Allah, ia seperti orang mati.

Ini mencerminkan doktrin total depravity dalam arti ketergantungan total manusia pada anugerah Allah.

R.C. Sproul menegaskan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan bantuan Allah; ia membutuhkan Allah sendiri sebagai sumber hidup.

Tanpa firman dan kehadiran-Nya, kita “turun ke liang kubur.”

III. “Dengarkanlah Suara Permohonanku” — Intensitas Doa (Mazmur 28:2a)

Daud tidak berdoa dengan setengah hati.

Ia:

  • Berteriak,

  • Memohon,

  • Mengangkat tangan.

1. Doa sebagai Sarana Anugerah

Teologi Reformed mengajarkan bahwa Allah menetapkan sarana untuk menggenapi tujuan-Nya. Doa adalah salah satu sarana itu.

Bavinck menjelaskan bahwa doa bukan mengubah rencana Allah, melainkan bagian dari rencana itu sendiri.

Allah berdaulat, namun Ia mengundang umat-Nya untuk berseru.

2. Doa yang Jujur dan Emosional

Mazmur mengizinkan ekspresi emosi yang mendalam.

Calvin menyatakan bahwa Allah tidak menuntut formalitas kaku, melainkan hati yang tulus.

Seruan Daud menunjukkan bahwa iman sejati tidak menekan pergumulan, tetapi membawanya kepada Allah.

IV. “Mengangkat Tanganku ke Arah Tempat-Mu yang Maha Kudus” — Orientasi Liturgis (Mazmur 28:2b)

Gerakan mengangkat tangan adalah tindakan ibadah.

“Tempat-Mu yang maha kudus” kemungkinan merujuk pada Ruang Mahakudus atau arah Bait Suci.

1. Dimensi Liturgis dan Perjanjian

Dalam Perjanjian Lama, hadirat Allah secara simbolis berdiam di Bait Suci.

Daud memusatkan doanya pada tempat perjanjian.

Dalam perspektif Reformed, simbol ini menunjuk kepada Kristus sebagai Bait sejati (Yoh. 2:21).

Kini, orang percaya datang kepada Allah melalui Kristus sebagai Imam Besar.

2. Kristologi Doa

Ibrani 4:16 menyatakan bahwa kita boleh menghampiri takhta kasih karunia dengan keberanian.

Mazmur 28:1–2 menemukan kepenuhannya dalam Kristus, yang di kayu salib berseru dalam pengalaman keheningan Bapa.

Kristus mengalami keheningan itu secara mutlak agar umat-Nya tidak pernah ditinggalkan.

V. Teologi Keheningan Allah dalam Tradisi Reformed

Keheningan Allah bukan berarti ketidakhadiran-Nya.

Bavinck menegaskan bahwa Allah tetap aktif bahkan ketika Ia tidak berbicara secara eksplisit.

Providensia Allah meliputi:

  • Tindakan langsung,

  • Penahanan (restraint),

  • Dan bahkan keheningan sebagai ujian iman.

Keheningan dapat menjadi alat pemurnian.

VI. Dimensi Eskatologis

Seruan Daud mencerminkan ketegangan “sudah dan belum.”

Kita telah ditebus, namun belum sepenuhnya dibebaskan dari penderitaan.

Anthony Hoekema menekankan bahwa kehidupan Kristen berada dalam ketegangan eskatologis.

Kita menantikan saat ketika Allah tidak lagi tampak diam, melainkan menyatakan kemuliaan-Nya secara terbuka.

VII. Implikasi Pastoral

Mazmur 28:1–2 mengajarkan:

  1. Tidak salah merasa Allah diam.

  2. Pergumulan harus dibawa kepada-Nya, bukan menjauh dari-Nya.

  3. Dasar doa adalah karakter Allah yang setia.

  4. Ibadah dan doa terhubung secara erat.

Orang percaya boleh jujur tanpa kehilangan iman.

VIII. Sintesis Teologis

Mazmur 28:1–2 memadukan beberapa doktrin utama Teologi Reformed:

  • Kedaulatan Allah,

  • Kesetiaan perjanjian,

  • Ketergantungan manusia,

  • Kristus sebagai penggenapan bait dan imam,

  • Eskatologi pengharapan.

Keheningan Allah bukan tanda ketidakhadiran, melainkan bagian dari misteri providensia-Nya.

Kesimpulan: Berseru kepada Gunung Batu yang Tidak Pernah Goyah

Daud takut akan keheningan Allah, tetapi ia tidak berhenti berseru.

Ia mengarahkan tangannya ke tempat kudus, simbol relasi perjanjian.

Dalam terang Injil, kita tahu bahwa Gunung Batu itu adalah Kristus (1 Korintus 10:4).

Ketika kita merasa Allah diam, kita tetap memiliki salib sebagai jaminan bahwa Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya.

Mazmur 28:1–2 mengajarkan bahwa iman sejati bukan tidak pernah bergumul, tetapi terus berseru kepada Allah yang setia.

Soli Deo Gloria.

Previous Post