Pengampunan Dosa

Pengampunan Dosa

Pendahuluan: Jantung Injil

Tidak ada tema yang lebih sentral dalam kekristenan selain pengampunan dosa. Jika dosa adalah problem terdalam manusia, maka pengampunan adalah jawaban terdalam Allah. Dalam tradisi teologi Reformed, pengampunan dosa tidak dipahami sebagai perasaan lega psikologis semata, tetapi sebagai tindakan hukum Allah yang kudus dan adil, yang berakar pada karya penebusan Kristus dan diterapkan oleh Roh Kudus kepada umat pilihan-Nya.

Pengampunan bukan sekadar penghapusan kesalahan, tetapi pemulihan relasi perjanjian dengan Allah. Artikel ini akan membahas doktrin pengampunan dosa melalui lensa teologi Reformed, dengan merujuk pada pemikiran John Calvin, Martin Luther (yang sangat memengaruhi tradisi Reformed), John Owen, Herman Bavinck, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul.

1. Realitas Dosa: Latar Belakang Pengampunan

Teologi Reformed memulai dengan doktrin dosa yang serius. Dosa bukan sekadar kelemahan moral, tetapi pemberontakan terhadap Allah yang kudus. Calvin menyebut dosa sebagai “kecondongan hati yang rusak” yang mengalir dari natur manusia yang telah jatuh.

Doktrin total depravity menegaskan bahwa dosa telah merusak seluruh aspek keberadaan manusia: pikiran, kehendak, dan perasaan. Louis Berkhof menjelaskan bahwa dosa membawa dua konsekuensi utama: kesalahan (guilt) dan kecemaran (pollution). Kesalahan menuntut hukuman; kecemaran membutuhkan pemurnian.

Tanpa pemahaman yang benar tentang dosa, pengampunan akan diremehkan. R.C. Sproul sering mengingatkan bahwa kita tidak akan menghargai kasih karunia jika kita tidak memahami kekudusan Allah dan beratnya pelanggaran kita terhadap-Nya.

2. Dasar Hukum Pengampunan: Pembenaran oleh Iman

Dalam teologi Reformed, pengampunan dosa erat kaitannya dengan doktrin pembenaran (justification). Pembenaran adalah tindakan hukum Allah yang menyatakan orang berdosa benar di hadapan-Nya, bukan karena kebenaran mereka sendiri, tetapi karena kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada mereka.

Calvin menyebut pembenaran sebagai “poros utama” iman Kristen. Dalam pembenaran, dosa diampuni karena Kristus telah memikul hukuman yang seharusnya ditanggung oleh orang berdosa.

John Owen menegaskan bahwa pengampunan tidak pernah mengabaikan keadilan Allah. Allah tidak menutup mata terhadap dosa; Ia menghukumnya di dalam Kristus. Salib adalah tempat di mana keadilan dan belas kasihan bertemu secara sempurna.

Karena itu, pengampunan dalam tradisi Reformed bersifat objektif. Ia tidak bergantung pada intensitas pertobatan atau kualitas iman, tetapi pada karya Kristus yang sempurna.

3. Kristus sebagai Pengganti dan Pendamaian

Teologi Reformed menekankan doktrin penal substitutionary atonement—bahwa Kristus mati sebagai pengganti umat-Nya dan menanggung hukuman dosa mereka.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa karya Kristus bukan hanya teladan moral, tetapi tindakan representatif. Sebagai Kepala perjanjian yang baru, Kristus berdiri menggantikan umat-Nya. Di kayu salib, dosa mereka diperhitungkan kepada-Nya.

Sproul menyatakan bahwa tanpa pemahaman tentang murka Allah yang kudus, salib kehilangan maknanya. Kristus tidak mati untuk membuat Allah menjadi pengasih; Ia mati karena Allah memang pengasih, tetapi juga adil.

Pengampunan dosa dengan demikian bukan kompromi moral, tetapi kemenangan kasih karunia yang memenuhi tuntutan hukum Allah.

4. Penerapan Pengampunan: Peran Roh Kudus

Pengampunan yang diperoleh Kristus diterapkan kepada orang percaya melalui karya Roh Kudus. Dalam teologi Reformed, keselamatan bukan hanya peristiwa objektif, tetapi juga pengalaman subjektif yang nyata.

Roh Kudus melahirbarukan hati, memberi iman, dan memampukan orang berdosa untuk menerima pengampunan. Calvin menyebut Roh Kudus sebagai “ikatan” yang mempersatukan kita dengan Kristus.

Tanpa persatuan dengan Kristus (union with Christ), pengampunan tetap berada di luar diri kita. Namun melalui iman—yang sendiri adalah anugerah—kita mengambil bagian dalam karya penebusan.

5. Dimensi Pastoral: Jaminan dan Penghiburan

Salah satu kekuatan teologi Reformed adalah penekanannya pada jaminan keselamatan. Karena pengampunan didasarkan pada karya Kristus yang sempurna, orang percaya dapat memiliki kepastian.

John Owen menulis bahwa keraguan sering muncul ketika kita memandang diri sendiri, bukan kepada Kristus. Pengampunan bukan didasarkan pada konsistensi kita, tetapi pada kesetiaan Allah.

Namun, jaminan tidak berarti kecerobohan moral. Justru orang yang benar-benar memahami pengampunan akan terdorong untuk hidup dalam kekudusan sebagai respons syukur.

6. Pengampunan dan Pengudusan

Walaupun pembenaran dan pengudusan dibedakan, keduanya tidak terpisah. Orang yang diampuni akan diubah. Bavinck menegaskan bahwa anugerah tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga memperbarui hidup.

Pengampunan bukan izin untuk terus berdosa, melainkan pembebasan dari kuasa dosa. Teologi Reformed menolak antinomianisme (penolakan hukum moral) dan legalisme sekaligus.

Orang percaya tetap berjuang melawan dosa, tetapi mereka melakukannya sebagai orang yang telah diampuni.

7. Pengampunan dalam Komunitas Perjanjian

Pengampunan tidak hanya bersifat vertikal (antara manusia dan Allah), tetapi juga horizontal (antar sesama). Yesus mengajarkan bahwa mereka yang telah diampuni banyak akan mengasihi banyak.

Tradisi Reformed menekankan pentingnya disiplin gereja dan rekonsiliasi sebagai ekspresi nyata pengampunan. Gereja menjadi komunitas di mana Injil pengampunan dipraktikkan.

Calvin mengingatkan bahwa kita tidak dapat memisahkan pengampunan Allah dari panggilan untuk mengampuni sesama.

8. Eskatologi Pengampunan

Pengampunan dosa memiliki dimensi kini dan nanti. Sekarang, kita menikmati status benar di hadapan Allah. Namun kelak, kita akan sepenuhnya dibebaskan dari kehadiran dosa dalam kemuliaan.

Bavinck menulis bahwa keselamatan adalah proses organik yang berpuncak pada pemuliaan. Pengampunan hari ini adalah jaminan kemuliaan esok hari.

Dalam kekekalan, kita akan memuji Anak Domba yang disembelih—karena melalui darah-Nya kita diampuni.

Penutup: Hidup dalam Anugerah yang Membebaskan

Pengampunan dosa adalah inti Injil dan pusat teologi Reformed. Ia menegaskan kekudusan Allah, keseriusan dosa, kecukupan Kristus, dan kuasa Roh Kudus.

Pengampunan bukan sekadar pembatalan hukuman, tetapi pemulihan relasi dan awal hidup baru. Ia memberi damai sejahtera bagi hati yang gelisah dan pengharapan bagi masa depan.

Dalam terang salib, orang percaya dapat berkata dengan keyakinan bahwa dosa mereka telah dihapus, bukan karena usaha mereka, tetapi karena anugerah Allah yang berdaulat.

Dan karena itu, hidup Kristen menjadi hidup yang dipenuhi syukur—berjalan dalam terang pengampunan dan memancarkan belas kasihan yang sama kepada dunia.

Previous Post