Zakharia 7:1–3: Ibadah atau Ketaatan?

Zakharia 7:1–3
1 Pada tahun yang keempat zaman raja Darius datanglah firman TUHAN kepada Zakharia, pada tanggal empat bulan kesembilan, yakni bulan Kislew.
2 Adapun penduduk Betel telah mengutus Sarezer dan Regem-Melekh serta orang-orangnya untuk melunakkan hati TUHAN,
3 untuk menanyakan kepada para imam dari rumah TUHAN semesta alam dan kepada nabi, demikian: “Haruskah kami sekalian menangis dan berpantang dalam bulan yang kelima seperti yang telah kami lakukan bertahun-tahun lamanya?”
Pendahuluan: Ketika Ritual Dipertanyakan
Zakharia 7 membuka bagian baru dalam kitab ini. Jika pasal 1–6 didominasi oleh penglihatan-penglihatan simbolis tentang pemulihan, pasal 7–8 berisi firman langsung yang menyentuh kehidupan religius umat.
Pertanyaan yang diajukan tampak sederhana:
Apakah mereka harus terus berpuasa pada bulan kelima seperti selama masa pembuangan?
Namun di balik pertanyaan itu tersembunyi persoalan teologis mendalam:
Apakah ibadah ritual cukup?
Apakah puasa tanpa perubahan hati berkenan kepada Allah?
Dalam tradisi Teologi Reformed, bagian ini dipahami sebagai kritik terhadap formalisme religius dan panggilan kepada ketaatan perjanjian yang sejati.
I. “Datanglah Firman TUHAN” — Otoritas Wahyu dalam Sejarah (Zakharia 7:1)
Ayat pertama menegaskan waktu dan konteks sejarah: tahun keempat raja Darius (sekitar 518 SM).
1. Allah yang Berfirman dalam Sejarah
Geerhardus Vos menekankan bahwa wahyu Allah bersifat historis dan progresif. Firman tidak datang dalam ruang hampa, melainkan dalam momen konkret sejarah penebusan.
Israel telah kembali dari pembuangan. Bait sedang dibangun kembali. Secara eksternal, ada kemajuan.
Namun firman TUHAN datang untuk menguji hati umat.
2. Prinsip Sola Scriptura
Dalam Teologi Reformed, otoritas tertinggi bukan tradisi, bukan pengalaman religius, tetapi firman Allah.
Pertanyaan umat tidak dijawab dengan opini imam semata, tetapi dengan wahyu ilahi.
Ini menegaskan bahwa pembaruan rohani selalu dimulai dengan firman Tuhan.
II. “Melunakkan Hati TUHAN” — Motif Ibadah yang Dipertanyakan (Zakharia 7:2)
Penduduk Betel mengutus perwakilan untuk “melunakkan hati TUHAN.”
Ungkapan ini menunjukkan usaha religius untuk mencari perkenanan Allah.
1. Relasi Perjanjian dan Bahaya Manipulasi Religius
Dalam konteks Perjanjian Lama, umat Israel memiliki kalender puasa yang berkembang selama pembuangan, khususnya untuk mengenang kehancuran Yerusalem (2 Raj. 25).
Namun pertanyaannya bukan hanya apakah puasa itu perlu dilanjutkan, melainkan apa motivasinya.
Herman Bavinck memperingatkan bahwa agama dapat berubah menjadi usaha manusia untuk “mengelola” Allah.
Teologi Reformed menolak konsep bahwa ritual dapat memanipulasi kehendak Allah.
Allah bukan objek yang bisa dilunakkan oleh praktik eksternal.
III. Puasa Bulan Kelima: Tradisi atau Ketaatan? (Zakharia 7:3)
“Haruskah kami sekalian menangis dan berpantang dalam bulan yang kelima…?”
Puasa bulan kelima merujuk pada peringatan penghancuran Bait Allah oleh Babel.
Selama pembuangan, puasa ini menjadi ekspresi duka nasional.
Namun setelah pemulihan dimulai, muncul pertanyaan: apakah ritual itu masih relevan?
1. Ritual Tanpa Hati
Calvin menekankan bahwa Allah tidak menolak puasa sebagai praktik, tetapi menolak puasa yang kosong dari ketaatan sejati.
Puasa yang hanya mempertahankan tradisi tanpa pertobatan sejati adalah formalisme.
Dalam Yesaya 58, Allah menegur puasa yang tidak disertai keadilan dan belas kasihan.
2. Teologi Perjanjian dan Ketaatan Hati
Teologi Reformed melihat bahwa inti perjanjian bukan ritual, melainkan relasi yang didasarkan pada ketaatan iman.
Puasa yang sejati adalah ekspresi hati yang tunduk pada firman.
IV. Dimensi Antropologis: Kecenderungan Formalisme
Manusia berdosa cenderung mengganti ketaatan hati dengan ritual eksternal.
Doktrin total depravity menjelaskan bahwa hati manusia cenderung mencari pembenaran diri melalui praktik religius.
Pertanyaan umat menunjukkan kecenderungan itu: mereka fokus pada kelanjutan ritual, bukan pada kondisi hati.
R.C. Sproul menyatakan bahwa dosa sering menyamar dalam bentuk religiusitas.
V. Dimensi Kristologis: Puasa dan Penggenapan dalam Kristus
Puasa dalam Perjanjian Lama sering berkaitan dengan penantian dan pertobatan.
Dalam Perjanjian Baru, Yesus berbicara tentang puasa dalam konteks kehadiran-Nya (Matius 9:15).
Kristus adalah penggenapan dari seluruh sistem perjanjian lama.
Dalam terang Injil:
-
Puasa bukan sarana memperoleh keselamatan,
-
Melainkan respons hati yang merindukan Allah.
Zakharia 7 mempersiapkan jalan bagi pemahaman bahwa ibadah sejati bukan ritual semata, tetapi hati yang diperbarui.
VI. Eskatologi: Dari Duka ke Sukacita
Pasal 8 nanti menyatakan bahwa hari-hari puasa akan menjadi hari-hari sukacita.
Anthony Hoekema menekankan bahwa dalam sejarah penebusan, masa duka karena penghakiman akan digantikan oleh sukacita pemulihan.
Puasa bulan kelima mengingatkan akan kehancuran. Namun pemulihan Allah menunjuk kepada masa depan yang lebih mulia.
Dalam Kristus, penghakiman telah ditanggung, dan umat Allah hidup dalam pengharapan sukacita eskatologis.
VII. Prinsip Teologis Utama
Zakharia 7:1–3 mengajarkan beberapa prinsip penting:
-
Firman Allah adalah otoritas tertinggi dalam menentukan praktik ibadah.
-
Ritual tanpa pertobatan sejati tidak berkenan kepada Allah.
-
Ibadah sejati berakar pada hati yang tunduk pada perjanjian.
-
Sejarah penebusan bergerak dari duka penghakiman menuju sukacita pemulihan.
VIII. Relevansi bagi Gereja Masa Kini
Dalam konteks gereja modern, pertanyaan serupa muncul:
-
Apakah tradisi gereja dipertahankan karena maknanya, atau karena kebiasaan?
-
Apakah ibadah kita mencerminkan hati yang diperbarui?
Teologi Reformed selalu menekankan reformasi berkelanjutan (ecclesia reformata semper reformanda secundum verbum Dei).
Artinya, gereja harus terus diperbarui menurut firman Allah.
IX. Sintesis Teologis
Zakharia 7:1–3 bukan sekadar pertanyaan tentang puasa, melainkan tentang:
-
Natur ibadah sejati,
-
Bahaya legalisme religius,
-
Otoritas wahyu Allah,
-
dan pembaruan hati dalam perjanjian.
Allah tidak mencari ritual kosong, tetapi umat yang hidup dalam ketaatan iman.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Puasa
Pertanyaan umat tentang puasa membuka pintu bagi koreksi ilahi.
Allah tidak terutama tertarik pada frekuensi ritual, tetapi pada ketulusan hati.
Dalam terang Teologi Reformed, ibadah sejati adalah respons syukur atas anugerah Allah, bukan usaha untuk melunakkan-Nya.
Dan dalam Kristus, kita belajar bahwa yang terutama bukanlah ritual eksternal, melainkan hati yang diubahkan oleh Roh Kudus.
Soli Deo Gloria.