Eksposisi Doa Syafaat Tuhan Kita

Eksposisi Doa Syafaat Tuhan Kita

Pendahuluan

Salah satu bagian paling mendalam dalam Perjanjian Baru adalah doa syafaat Yesus yang dicatat dalam Yohanes pasal 17. Doa ini sering disebut sebagai Doa Imam Besar Kristus (High Priestly Prayer), karena di dalamnya Yesus berdoa sebagai Imam Besar bagi umat-Nya sebelum Ia pergi menuju salib. Dalam doa ini, Yesus mengungkapkan isi hati-Nya kepada Bapa, sekaligus memperlihatkan hubungan yang intim antara Anak dan Bapa.

Dalam tradisi teologi Reformed, Yohanes 17 memiliki makna teologis yang sangat penting karena memperlihatkan aspek-aspek utama dari karya keselamatan Kristus: kemuliaan Allah, pemilihan umat percaya, pemeliharaan Allah atas gereja, serta kesatuan umat Tuhan. Para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Matthew Henry, Herman Bavinck, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul telah memberikan penjelasan mendalam mengenai doa ini sebagai bagian penting dari doktrin Kristologi dan keselamatan.

Doa ini bukan sekadar contoh doa bagi orang percaya, tetapi juga merupakan wahyu tentang hati Kristus bagi gereja-Nya. Melalui doa ini, kita melihat bagaimana Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya dan bagi semua orang percaya di sepanjang sejarah.

Artikel ini akan mengulas eksposisi doa syafaat Tuhan dalam Yohanes 17 dari perspektif teologi Reformed, sekaligus meninjau pandangan beberapa pakar teologi Reformed mengenai makna teologis dan implikasinya bagi kehidupan gereja.

Latar Belakang Doa Yohanes 17

Doa syafaat Yesus di Yohanes 17 terjadi pada malam sebelum penyaliban-Nya. Ini merupakan bagian dari rangkaian pengajaran Yesus kepada murid-murid-Nya yang dikenal sebagai Diskursus Perpisahan (Farewell Discourse), yang dimulai dari Yohanes 13 hingga Yohanes 17.

Pada saat itu, Yesus mengetahui bahwa waktu penderitaan-Nya sudah dekat. Namun alih-alih berfokus pada penderitaan yang akan Ia alami, Yesus justru berdoa bagi kemuliaan Allah dan bagi umat yang akan ditinggalkan-Nya di dunia.

Yohanes Calvin menekankan bahwa doa ini memperlihatkan kasih Kristus yang luar biasa kepada gereja-Nya. Menurut Calvin, dalam doa ini Yesus bertindak sebagai perantara antara Allah dan manusia, yang memohonkan pemeliharaan bagi umat pilihan-Nya.

Doa ini juga menunjukkan bahwa keselamatan orang percaya tidak hanya bergantung pada usaha manusia, tetapi pada syafaat Kristus yang terus berlangsung di hadapan Allah.

Struktur Doa Syafaat Yesus

Secara umum, para penafsir Alkitab melihat bahwa Yohanes 17 dapat dibagi menjadi tiga bagian utama:

  1. Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri

  2. Yesus berdoa bagi murid-murid-Nya

  3. Yesus berdoa bagi semua orang percaya

Struktur ini menunjukkan perkembangan dari misi Kristus: dari kemuliaan-Nya sendiri, kepada para rasul, dan akhirnya kepada seluruh gereja di sepanjang zaman.

Yesus Berdoa bagi Kemuliaan-Nya (Yohanes 17:1–5)

Bagian pertama dari doa ini dimulai dengan permohonan Yesus agar Bapa memuliakan Anak-Nya. Pernyataan ini mungkin tampak mengejutkan karena biasanya doa berfokus pada kebutuhan manusia.

Namun dalam teologi Reformed, permohonan ini menunjukkan bahwa tujuan utama dari karya keselamatan adalah kemuliaan Allah.

Jonathan Edwards menekankan bahwa seluruh rencana keselamatan pada akhirnya bertujuan untuk menyatakan kemuliaan Allah. Ketika Kristus dimuliakan melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kemuliaan Allah dinyatakan kepada dunia.

Yesus juga berbicara tentang kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada. Pernyataan ini menegaskan keilahian Kristus dan keberadaan-Nya yang kekal.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar penting bagi doktrin Tritunggal, karena menunjukkan relasi kekal antara Bapa dan Anak.

Yesus Berdoa bagi Murid-Murid-Nya (Yohanes 17:6–19)

Pada bagian kedua, Yesus berdoa secara khusus bagi murid-murid yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Ia menyatakan bahwa mereka telah menerima firman Tuhan dan percaya bahwa Yesus diutus oleh Bapa.

Yohanes Calvin melihat bagian ini sebagai penegasan doktrin pemilihan ilahi. Murid-murid bukanlah orang yang secara kebetulan mengikuti Yesus; mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Bapa kepada Anak.

Yesus juga berdoa agar murid-murid-Nya dipelihara dalam dunia yang penuh permusuhan. Ia mengatakan bahwa mereka berada di dunia, tetapi tidak berasal dari dunia.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa doa ini menunjukkan dua realitas penting dalam kehidupan orang percaya:

  • mereka masih hidup di dunia

  • tetapi identitas mereka berasal dari kerajaan Allah.

Yesus juga memohon agar murid-murid-Nya dikuduskan dalam kebenaran. Firman Tuhan menjadi sarana utama dalam proses pengudusan ini.

Dalam teologi Reformed, pengudusan dipahami sebagai karya Roh Kudus yang membentuk kehidupan orang percaya agar semakin serupa dengan Kristus.

Yesus Berdoa bagi Gereja di Sepanjang Zaman (Yohanes 17:20–26)

Bagian terakhir dari doa ini sangat mengharukan karena Yesus tidak hanya berdoa bagi murid-murid yang hadir saat itu, tetapi juga bagi semua orang yang akan percaya kepada-Nya melalui pemberitaan Injil.

Artinya, doa ini juga mencakup seluruh orang percaya di sepanjang sejarah gereja.

R.C. Sproul menekankan bahwa bagian ini menunjukkan bahwa gereja modern termasuk dalam lingkup doa Kristus. Dengan kata lain, orang percaya hari ini hidup di bawah berkat doa syafaat Yesus yang diucapkan dua ribu tahun yang lalu.

Salah satu tema utama dalam bagian ini adalah kesatuan umat percaya. Yesus berdoa agar semua orang percaya menjadi satu, sama seperti Bapa dan Anak adalah satu.

Herman Bavinck menjelaskan bahwa kesatuan gereja bukan sekadar keseragaman organisasi, tetapi kesatuan rohani yang berakar pada hubungan dengan Kristus.

Kesatuan ini menjadi kesaksian bagi dunia bahwa Yesus benar-benar diutus oleh Bapa.

Kristus sebagai Imam Besar

Dalam teologi Reformed, doa Yohanes 17 sering dikaitkan dengan doktrin Kristus sebagai Imam Besar.

Surat Ibrani mengajarkan bahwa Yesus adalah Imam Besar yang sempurna yang mempersembahkan diri-Nya sebagai korban bagi dosa manusia.

Namun karya Kristus tidak berhenti pada salib. Ia juga terus menjadi perantara bagi umat-Nya di hadapan Allah.

Louis Berkhof menjelaskan bahwa syafaat Kristus berarti bahwa Ia terus memohonkan berkat keselamatan bagi umat-Nya berdasarkan karya penebusan yang telah Ia selesaikan.

Hal ini memberikan penghiburan besar bagi orang percaya. Keselamatan mereka tidak hanya bergantung pada iman mereka sendiri, tetapi juga pada syafaat Kristus yang terus berlangsung.

Dimensi Pastoral dari Doa Yesus

Selain memiliki kedalaman teologis, doa Yohanes 17 juga memiliki dimensi pastoral yang sangat kuat.

Yesus berdoa agar murid-murid-Nya dilindungi dari yang jahat, dipelihara dalam kebenaran, dan dipersatukan dalam kasih.

Matthew Henry menulis bahwa doa ini menunjukkan betapa besar perhatian Kristus terhadap kesejahteraan rohani gereja-Nya.

Yesus mengetahui bahwa dunia akan menentang murid-murid-Nya, tetapi Ia juga mengetahui bahwa Allah akan memelihara mereka.

Doa ini memberikan pengharapan bahwa gereja tidak berjalan sendiri dalam misi yang sulit.

Implikasi bagi Kehidupan Gereja

Eksposisi doa syafaat Yesus memiliki beberapa implikasi penting bagi kehidupan gereja masa kini.

Pertama, gereja harus menempatkan kemuliaan Allah sebagai tujuan utama dalam semua pelayanannya.

Kedua, gereja harus menjaga kesatuan dalam kebenaran. Kesatuan yang sejati tidak dibangun di atas kompromi doktrin, tetapi di atas kesetiaan kepada firman Tuhan.

Ketiga, gereja harus menyadari bahwa misi penginjilan adalah bagian dari rencana Allah agar semakin banyak orang percaya kepada Kristus.

Keempat, orang percaya harus memiliki keyakinan bahwa Kristus terus berdoa bagi mereka.

Penutup

Doa syafaat Yesus dalam Yohanes 17 merupakan salah satu bagian Alkitab yang paling kaya secara teologis dan rohani. Dalam doa ini, kita melihat hati Sang Juruselamat bagi kemuliaan Allah dan bagi keselamatan umat-Nya.

Para teolog Reformed seperti Yohanes Calvin, Herman Bavinck, Louis Berkhof, dan R.C. Sproul menekankan bahwa doa ini menunjukkan peran Kristus sebagai Imam Besar yang setia.

Yesus tidak hanya mati bagi umat-Nya, tetapi juga terus berdoa bagi mereka. Ia memohon agar mereka dipelihara, dikuduskan, dan dipersatukan dalam kasih.

Bagi gereja masa kini, doa ini menjadi sumber penghiburan dan pengharapan. Di tengah dunia yang penuh tantangan, orang percaya dapat yakin bahwa Kristus sendiri menjadi perantara mereka di hadapan Bapa.

Pada akhirnya, tujuan dari doa ini adalah agar umat Allah mengambil bagian dalam kemuliaan Kristus dan melihat kemuliaan-Nya untuk selama-lamanya.

Previous Post