Khotbah Kaum Bapak: Bapak Yang Setia Dalam Segala Perkara (Lukas 16:10)

Khotbah Kaum Bapak: Bapak Yang Setia Dalam Segala Perkara (Lukas 16:10)

Pendahuluan

Shalom, bapak-bapak yang dikasihi Tuhan.

Kita hidup pada zaman yang mengagungkan keberhasilan. Banyak orang menilai seorang bapak dari jabatan, penghasilan, rumah, kendaraan, atau pencapaiannya. Seolah-olah nilai seorang pria ditentukan oleh apa yang ia miliki dan seberapa tinggi posisinya.

Namun Alkitab memiliki ukuran yang berbeda. Tuhan tidak pertama-tama mencari orang yang hebat, tetapi orang yang setia.

Kesetiaan adalah kualitas yang sangat dihargai Allah. Bahkan sepanjang Alkitab kita menemukan bahwa Allah memakai orang-orang biasa yang memiliki hati yang setia. Musa setia menggembalakan domba sebelum memimpin Israel. Daud setia menjaga kawanan domba sebelum menjadi raja. Yusuf setia sebagai budak dan tahanan sebelum menjadi penguasa Mesir. Daniel tetap setia di negeri pembuangan sehingga dipakai Tuhan secara luar biasa.

Lukas 16:10 mengingatkan:

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar."

Ayat ini bukan hanya berbicara mengenai uang, tetapi mengenai karakter. Kesetiaan adalah kebiasaan hidup yang terlihat dalam setiap aspek kehidupan.

Pada kesempatan ini kita akan belajar bagaimana menjadi bapak yang setia dalam segala perkara.

I. SETIA DIMULAI DARI PERKARA-PERKARA KECIL

Sering kali manusia menunggu kesempatan besar.

"Kalau saya kaya, saya akan memberi."

"Kalau saya pensiun, saya akan melayani."

"Kalau anak-anak sudah besar, saya akan dekat dengan Tuhan."

Tetapi Tuhan justru melihat apa yang kita lakukan hari ini.

Perkara kecil menurut manusia mungkin tidak berarti, tetapi sangat berarti di hadapan Allah.

Misalnya:

  • datang beribadah tepat waktu,
  • membaca firman setiap hari,
  • berdoa bersama keluarga,
  • menepati janji,
  • bekerja dengan jujur,
  • membuang sampah pada tempatnya,
  • berbicara dengan sopan,
  • mengasihi istri,
  • memperhatikan anak-anak.

Semua tampak sederhana.

Namun karakter seseorang dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil.

Banyak orang ingin menjadi pemimpin besar, tetapi gagal menjadi pelayan yang baik.

Ingin dihormati banyak orang, tetapi belum mampu menghormati keluarganya sendiri.

Ingin dipercaya mengelola banyak hal, tetapi belum dapat mengelola waktu dan tanggung jawab sehari-hari.

Kesetiaan tidak muncul tiba-tiba ketika kesempatan besar datang.

Kesetiaan dibangun setiap hari.

Sebagai bapak, mungkin tidak ada orang yang memuji ketika kita bangun pagi bekerja mencari nafkah.

Tidak ada yang memberi penghargaan ketika kita memperbaiki genteng yang bocor.

Tidak ada yang melihat ketika kita berdoa bagi anak-anak.

Tetapi Tuhan melihat semuanya.

Allah menghargai kesetiaan yang dilakukan dalam hal-hal sederhana.

II. BAPAK YANG SETIA DALAM KELUARGA

Pelayanan pertama seorang bapak bukanlah di gereja.

Pelayanan pertama adalah di rumah.

Banyak orang berhasil di luar rumah tetapi gagal di dalam rumah.

Ada yang menjadi pemimpin perusahaan, tetapi tidak menjadi pemimpin rohani keluarganya.

Ada yang dihormati masyarakat, tetapi ditakuti anak-anaknya.

Ada yang dikenal sebagai pelayan Tuhan, tetapi istrinya merasa diabaikan.

Tuhan memanggil setiap bapak menjadi imam dalam keluarga.

Artinya, seorang bapak bertanggung jawab membawa keluarganya semakin dekat kepada Tuhan.

Kesetiaan seorang bapak terlihat ketika ia:

  • mengasihi istrinya,
  • menghormati pasangannya,
  • tidak berlaku kasar,
  • memberi teladan,
  • mengajar firman,
  • berdoa bersama keluarga,
  • menjaga kesucian hidup.

Anak-anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna.

Mereka membutuhkan ayah yang setia.

Setia hadir.

Setia mendengarkan.

Setia mengasihi.

Setia mengampuni.

Setia membimbing.

Kadang-kadang hadiah terbesar bagi seorang anak bukanlah telepon genggam baru atau mainan mahal.

Hadiah terbesar adalah waktu bersama ayah.

Banyak anak sebenarnya hanya ingin didengarkan.

Mereka ingin ayah hadir dalam pertandingan sekolah, menemani belajar, berbicara dari hati ke hati, dan mendoakan mereka.

Kesetiaan seperti inilah yang akan membentuk generasi yang takut akan Tuhan.

III. BAPAK YANG SETIA DALAM PEKERJAAN

Sebagian besar waktu seorang bapak dihabiskan di tempat kerja.

Karena itu pekerjaan juga merupakan ladang pelayanan.

Sering kita berpikir bahwa melayani Tuhan hanya terjadi di gereja.

Padahal bekerja dengan jujur juga merupakan ibadah.

Kolose 3:23 berkata,

"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Seorang bapak Kristen harus dikenal sebagai pribadi yang:

  • jujur,
  • dapat dipercaya,
  • rajin,
  • disiplin,
  • bertanggung jawab.

Jangan menjadi pekerja yang rajin hanya ketika diawasi.

Jangan menjadi pegawai yang mencari kesempatan untuk mengambil keuntungan secara tidak benar.

Kesetiaan diuji ketika tidak ada yang melihat.

Integritas berarti kita tetap benar sekalipun tidak ada yang mengawasi.

Di zaman sekarang godaan sangat besar.

Godaan korupsi.

Godaan manipulasi.

Godaan suap.

Godaan laporan palsu.

Godaan mengambil milik perusahaan.

Godaan menyalahgunakan jabatan.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa perkara kecil menentukan perkara besar.

Jika seseorang tidak jujur dalam hal kecil, suatu saat ia akan jatuh dalam dosa yang lebih besar.

Tetapi orang yang setia akan menikmati damai sejahtera Tuhan.

Mungkin ia tidak menjadi orang terkaya.

Namun ia dapat tidur dengan hati tenang karena hidup dalam kebenaran.

IV. BAPAK YANG SETIA DALAM KEUANGAN

Konteks Lukas 16 memang berkaitan dengan pengelolaan harta.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa uang adalah alat, bukan tujuan hidup.

Banyak keluarga mengalami masalah bukan karena kurang uang, tetapi karena salah mengelola uang.

Bapak dipanggil menjadi pengelola yang baik.

Artinya:

menghasilkan uang dengan cara benar,

menggunakan uang dengan bijaksana,

tidak hidup berfoya-foya,

tidak terikat cinta uang,

serta belajar memberi.

Alkitab mengajarkan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan.

Karena itu kita hanyalah pengelola.

Bapak yang setia akan:

menghindari utang yang tidak perlu,

membuat perencanaan,

memenuhi kebutuhan keluarga,

menolong orang yang membutuhkan,

dan setia mengembalikan milik Tuhan melalui persembahan sesuai keyakinan dan ajaran gerejanya.

Uang dapat menguji hati seseorang.

Ketika uang sedikit, kita diuji apakah tetap bersyukur.

Ketika uang banyak, kita diuji apakah tetap rendah hati.

Kesetiaan dalam keuangan menunjukkan apakah hati kita benar-benar mengasihi Tuhan.

V. BAPAK YANG SETIA DALAM IMAN

Kesetiaan terbesar adalah tetap mengikuti Tuhan sampai akhir.

Ada banyak tantangan.

Masalah ekonomi.

Penyakit.

Kegagalan usaha.

Konflik keluarga.

Tekanan pekerjaan.

Namun semua itu tidak boleh membuat kita meninggalkan Tuhan.

Ayub kehilangan hampir semuanya.

Tetapi ia tetap berkata,

"TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Daniel tetap berdoa meskipun diancam masuk gua singa.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tetap setia meskipun menghadapi dapur api.

Kesetiaan bukan berarti hidup tanpa masalah.

Kesetiaan berarti tetap percaya di tengah masalah.

Iman seorang bapak akan menjadi kekuatan seluruh keluarga.

Ketika ayah tetap berdoa, keluarga memperoleh harapan.

Ketika ayah tetap datang beribadah, anak-anak belajar bahwa Tuhan penting.

Ketika ayah tetap bersyukur dalam kesulitan, keluarga belajar percaya kepada pemeliharaan Allah.

VI. BERKAT BAGI ORANG YANG SETIA

Alkitab berulang kali menunjukkan bahwa Tuhan menghargai kesetiaan.

Berkat pertama adalah kepercayaan yang lebih besar.

Yesus berkata bahwa orang yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara besar.

Ini bukan sekadar soal jabatan.

Tuhan mempercayakan lebih banyak kesempatan melayani, memimpin, dan menjadi berkat.

Berkat kedua adalah damai sejahtera.

Orang yang hidup jujur memiliki hati yang tenang.

Ia tidak takut karena hidupnya terbuka di hadapan Tuhan.

Berkat ketiga adalah teladan bagi generasi berikutnya.

Anak-anak belajar lebih banyak dari kehidupan ayah daripada dari nasihat ayah.

Mereka melihat bagaimana ayah memperlakukan ibu.

Bagaimana ayah menggunakan uang.

Bagaimana ayah bekerja.

Bagaimana ayah berbicara.

Bagaimana ayah berdoa.

Warisan terbesar bukanlah rumah atau tanah.

Warisan terbesar adalah iman dan karakter.

Berkat keempat adalah upah kekal.

Dalam Matius 25:21 Tuhan berkata,

"Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia..."

Setiap orang percaya rindu mendengar kalimat itu ketika bertemu Tuhan kelak.

Bukan karena kita sempurna.

Tetapi karena kita tetap setia sampai akhir.

APLIKASI PRAKTIS

Bagaimana menjadi bapak yang setia?

Pertama, mulailah setiap hari dengan doa.

Mintalah hikmat Tuhan sebelum memulai aktivitas.

Kedua, bacalah firman Tuhan secara teratur.

Firman Tuhan akan menjaga hati dan pikiran kita.

Ketiga, luangkan waktu bagi keluarga.

Jangan hanya memberi uang.

Berikan juga perhatian.

Keempat, bekerjalah dengan jujur.

Jangan kompromi dengan dosa demi keuntungan sesaat.

Kelima, jadilah teladan.

Anak-anak akan mengikuti apa yang mereka lihat.

Keenam, tetap setia sekalipun tidak ada yang menghargai.

Kesetiaan kita tidak bergantung pada pujian manusia.

Tuhan melihat semuanya.

Ilustrasi

Dikisahkan ada seorang tukang bangunan yang telah bekerja puluhan tahun.

Suatu hari ia ingin pensiun.

Majikannya meminta satu rumah terakhir untuk dibangun.

Karena sudah ingin berhenti, ia mengerjakan rumah itu asal-asalan.

Bahan bangunan dipilih yang murah.

Pekerjaan dilakukan seadanya.

Setelah rumah selesai, majikannya memberikan kunci rumah itu.

Katanya,

"Rumah ini hadiah untukmu atas kesetiaanmu selama ini."

Saat itu tukang tersebut sangat menyesal.

Seandainya ia tahu rumah itu akan menjadi miliknya, tentu ia akan membangunnya dengan sebaik mungkin.

Demikian pula kehidupan kita.

Setiap hari sebenarnya kita sedang membangun kehidupan sendiri.

Apa yang kita tabur hari ini akan kita tuai di masa depan.

Karena itu lakukan segala sesuatu dengan setia.

Penutup

Bapak-bapak yang dikasihi Tuhan,

Dunia membutuhkan pria yang kuat.

Namun Tuhan mencari pria yang setia.

Setia kepada Tuhan.

Setia kepada istri.

Setia kepada keluarga.

Setia dalam pekerjaan.

Setia dalam pelayanan.

Setia dalam keuangan.

Setia dalam perkataan.

Setia dalam karakter.

Mungkin hari ini tidak banyak orang melihat pengorbanan seorang bapak.

Namun Tuhan melihat setiap tetes keringat.

Tuhan melihat setiap doa yang dinaikkan.

Tuhan melihat setiap keputusan untuk hidup benar.

Jangan pernah lelah menjadi bapak yang setia.

Karena kesetiaan yang kecil di mata manusia sangat berharga di mata Allah.

Kiranya ketika perjalanan hidup kita berakhir, kita dapat berdiri di hadapan Tuhan dan mendengar suara-Nya berkata:

"Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia."

Kiranya setiap bapak di tengah keluarga menjadi teladan iman, kasih, integritas, dan kesetiaan sehingga melalui kehidupan mereka, nama Tuhan dimuliakan, keluarga diberkati, dan generasi berikutnya mengenal Kristus.

Amin.

Next Post Previous Post