Give it to God: Serahkan Kepada Tuhan

Give it to God: Serahkan Kepada Tuhan

Pendahuluan

Give it to God berarti “serahkan kepada Tuhan.” Ungkapan sederhana ini mengandung salah satu prinsip penting dalam kehidupan iman Kristen: manusia dipanggil untuk membawa kekhawatiran, ketakutan, pergumulan, kebutuhan, dan hal-hal yang tidak dapat dikendalikannya kepada Allah.

Namun, menyerahkan sesuatu kepada Tuhan bukan berarti bersikap pasif, melarikan diri dari tanggung jawab, atau berhenti berusaha. Dalam perspektif Alkitab dan teologi Reformed, menyerahkan kepada Tuhan berarti mempercayakan hasil akhir kepada Allah yang berdaulat, sementara kita tetap setia melakukan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita.

Tema ini sangat kuat dalam Filipi 4:6-7 dan 1 Petrus 5:7. Kedua bagian tersebut menolong kita memahami bahwa kekhawatiran tidak harus menguasai hati orang percaya. Kekhawatiran dapat dibawa kepada Allah melalui doa, permohonan, ucapan syukur, dan iman kepada pemeliharaan-Nya.

Give it to God: Serahkan Segala Kekhawatiran kepada Tuhan

1 Petrus 5:7 memberikan perintah yang sangat jelas:

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Kalimat ini singkat, tetapi sangat dalam.

Perhatikan bahwa Petrus tidak berkata, “Serahkan sebagian kekhawatiranmu.” Ia berkata “segala kekuatiranmu.”

Tidak ada pergumulan yang terlalu kecil untuk dibawa kepada Allah. Tidak ada masalah yang terlalu pribadi sehingga Allah tidak peduli. Tidak ada ketakutan yang harus kita sembunyikan dari Tuhan.

Dasarnya juga sangat indah: “sebab Ia yang memelihara kamu.”

Kita menyerahkan kekhawatiran bukan karena Tuhan sekadar memiliki kuasa untuk menyelesaikan masalah, tetapi karena Dia adalah Allah yang peduli terhadap umat-Nya.

Inilah inti Give it to God: kepercayaan kepada karakter Allah.

Filipi 4:6-7 dan Rahasia Menghadapi Kekhawatiran

Filipi 4:6-7 merupakan salah satu teks utama ketika membahas kecemasan dan penyerahan diri kepada Allah:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Kemudian Paulus melanjutkan:

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang Kristen tidak pernah menghadapi keadaan yang membuatnya takut.

Paulus sendiri menulis surat Filipi dalam situasi penderitaan. Gereja Filipi juga menghadapi tekanan. Jadi perintah “jangan kuatir” bukanlah nasihat dangkal seperti, “Jangan pikirkan masalahmu.”

Paulus memberikan jalan alternatif.

Jangan membiarkan kekhawatiran menjadi pusat perhatian; bawalah segala sesuatu kepada Allah.

Kekhawatiran versus doa

Kekhawatiran membuat pikiran berputar-putar mengenai kemungkinan buruk.

Doa membawa kemungkinan buruk itu kepada Allah.

Kekhawatiran berkata, “Bagaimana kalau semuanya gagal?”

Iman berkata, “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku tahu kepada siapa aku menyerahkan masa depanku.”

Kekhawatiran berusaha mengendalikan sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.

Doa mengakui keterbatasan kita dan mempercayakan semuanya kepada Allah yang berdaulat.

Karena itu, Give it to God bukan slogan untuk menghindari realitas. Ini adalah panggilan untuk memindahkan beban dari tangan kita kepada tangan Allah.

“Dalam Segala Hal”

Salah satu kata penting dalam Filipi 4:6 adalah “segala.”

Paulus berkata:

“...dalam segala hal...”

Artinya, kehidupan doa tidak dibatasi hanya pada masalah yang dianggap rohani.

Kita dapat membawa pekerjaan kepada Tuhan.

Kita dapat membawa keluarga kepada Tuhan.

Kita dapat membawa kesehatan kepada Tuhan.

Kita dapat membawa pelayanan kepada Tuhan.

Kita dapat membawa masa depan kepada Tuhan.

Kita dapat membawa kegagalan kepada Tuhan.

Kita bahkan dapat membawa ketakutan yang paling sulit kita ungkapkan kepada Tuhan.

Allah tidak hanya tertarik kepada bagian “religius” kehidupan kita. Seluruh kehidupan berada di bawah pemerintahan-Nya.

Dalam pandangan Reformed mengenai kedaulatan Allah, tidak ada wilayah kehidupan yang berada di luar pemerintahan-Nya. Allah bukan hanya Tuhan atas gereja pada hari Minggu. Dia adalah Tuhan atas seluruh kehidupan.

Karena itu, Give it to God berarti membawa seluruh kehidupan ke hadapan Allah.

Doa, Permohonan, dan Ucapan Syukur

Paulus kemudian memberikan tiga unsur penting: doa, permohonan, dan ucapan syukur.

1. Doa

Doa adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan Allah.

Orang yang berdoa sedang berkata, “Aku tidak cukup. Aku membutuhkan Engkau.”

Ini bukan kelemahan iman. Justru ini merupakan ekspresi iman.

Ketergantungan kepada Allah bukan tanda kegagalan manusia. Dalam teologi Reformed, manusia adalah ciptaan. Karena itu, ketergantungan kepada Pencipta merupakan kondisi yang seharusnya.

2. Permohonan

Permohonan berarti kita boleh menyampaikan kebutuhan secara konkret.

Kita tidak harus menggunakan bahasa yang rumit.

“ Tuhan, aku takut kehilangan pekerjaan.”

“Tuhan, aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah keluargaku.”

“Tuhan, aku takut dengan hasil pemeriksaan kesehatan ini.”

“Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

Doa Alkitabiah bukan sekadar aktivitas menyampaikan kalimat indah. Doa adalah hubungan ketergantungan kepada Allah.

3. Ucapan syukur

Di sinilah Filipi 4 menjadi semakin mendalam.

Paulus tidak berkata bahwa kita hanya membawa masalah kepada Allah. Ia menambahkan ucapan syukur.

Mengapa?

Karena ucapan syukur mengingatkan kita bahwa masalah hari ini bukan keseluruhan cerita hidup kita.

Kita mungkin belum mengetahui apa yang Tuhan akan lakukan besok, tetapi kita dapat mengingat apa yang telah Dia lakukan kemarin.

Ucapan syukur mengarahkan mata dari masalah kepada karakter Allah.

Damai Sejahtera Allah

Hasilnya adalah:

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Perhatikan bahwa Paulus tidak menjanjikan bahwa keadaan langsung berubah.

Ini sangat penting.

Kadang-kadang kita berdoa dan masalah langsung selesai. Tetapi kadang-kadang kita berdoa dan situasinya tetap sama.

Namun, Allah dapat memberikan sesuatu yang berbeda: damai sejahtera di tengah keadaan yang belum berubah.

Damai sejahtera Allah bukan sekadar perasaan nyaman.

Ini adalah ketenangan yang berakar pada Allah sendiri.

Paulus bahkan mengatakan bahwa damai itu “melampaui segala akal.”

Artinya, damai tersebut tidak selalu dapat dijelaskan berdasarkan keadaan.

Secara manusiawi, seseorang mungkin memiliki banyak alasan untuk panik. Tetapi karena ia mengetahui bahwa Allah memegang hidupnya, ia dapat tetap memiliki ketenangan.

R.C. Sproul: Kedaulatan Allah Mengubah Cara Kita Melihat Kekhawatiran

Dalam tradisi Reformed, pemikiran R.C. Sproul mengenai kedaulatan Allah sangat relevan dengan tema ini.

Sproul berulang kali menekankan bahwa Allah tidak kehilangan kendali atas ciptaan-Nya. Allah berdaulat atas segala sesuatu.

Kebenaran ini tidak berarti bahwa semua peristiwa mudah dipahami manusia. Justru sering kali kita tidak memahami mengapa Allah mengizinkan penderitaan tertentu.

Namun, ketidaktahuan manusia tidak berarti ketidakberdaulatan Allah.

Ini merupakan perbedaan besar antara iman dan keinginan untuk mengontrol.

Kita sering ingin mengetahui semua jawaban sebelum berserah.

Allah justru memanggil kita untuk percaya kepada-Nya ketika kita belum mengetahui semua jawabannya.

Dengan demikian, Give it to God bukan berarti kita tahu apa yang akan terjadi. Kita menyerahkan karena kita tahu siapa yang memegang masa depan.

John Calvin: Pemeliharaan Allah

John Calvin memberikan perhatian besar terhadap doktrin pemeliharaan Allah (providence).

Bagi Calvin, iman Kristen tidak hanya percaya bahwa Allah menciptakan dunia lalu meninggalkannya. Allah terus memelihara dan memerintah ciptaan-Nya.

Doktrin ini sangat penting bagi kehidupan doa.

Jika Allah tidak berdaulat, doa hanya menjadi harapan kosong.

Tetapi karena Allah berdaulat, doa menjadi tindakan iman.

Kita berdoa bukan untuk memberikan informasi kepada Allah yang sebelumnya tidak tahu kebutuhan kita. Kita berdoa karena Allah menetapkan doa sebagai sarana yang digunakan-Nya dalam menjalankan kehendak-Nya.

Di sini terdapat keseimbangan yang indah.

Allah berdaulat.

Manusia tetap berdoa.

Allah menentukan hasil.

Manusia tetap bertanggung jawab untuk bertindak.

Karena itu, penyerahan kepada Tuhan tidak bertentangan dengan usaha.

Kita bekerja, tetapi kita tidak menyembah pekerjaan.

Kita merencanakan, tetapi kita tidak menyembah rencana.

Kita berusaha, tetapi kita tidak menganggap hasil akhir sepenuhnya berada di tangan kita.

Herman Bavinck: Allah dan Ketergantungan Manusia

Herman Bavinck dalam Reformed Dogmatics memberikan kerangka teologis yang sangat membantu untuk memahami hubungan antara Allah dan manusia.

Manusia adalah makhluk yang bergantung. Allah adalah Pencipta yang tidak bergantung kepada ciptaan.

Karena itu, kehidupan manusia yang sehat secara rohani bukanlah kehidupan yang berusaha menjadi independen dari Allah.

Sebaliknya, manusia menemukan tujuan dan kehidupannya ketika bergantung kepada Allah.

Budaya modern sering mengagungkan kemandirian.

“Semua harus bisa dilakukan sendiri.”

“Jangan bergantung kepada siapa pun.”

Tetapi Injil justru mengajarkan ketergantungan kepada Allah.

Ketika kita berkata, “Give it to God,” kita sedang mengakui sesuatu yang sangat mendasar: aku bukan Allah.

Aku tidak mengetahui segala sesuatu.

Aku tidak mengendalikan segala sesuatu.

Aku tidak dapat menjamin masa depan.

Tetapi aku memiliki Allah yang mengetahui, memerintah, dan memelihara.

Sinclair Ferguson: Iman yang Berjalan dalam Ketaatan

Perspektif Sinclair Ferguson mengenai kehidupan Kristen juga membantu kita menghindari kesalahpahaman tentang penyerahan.

Menyerahkan sesuatu kepada Tuhan bukan berarti berhenti melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita.

Jika seseorang kehilangan pekerjaan, ia dapat berdoa sambil tetap mencari pekerjaan.

Jika seseorang menghadapi masalah kesehatan, ia dapat berdoa sambil tetap mencari pertolongan medis.

Jika sebuah keluarga mengalami konflik, mereka dapat berdoa sambil melakukan rekonsiliasi dan percakapan yang benar.

Jika seorang pelayan Tuhan menghadapi kesulitan pelayanan, ia dapat menyerahkannya kepada Allah sambil tetap setia melayani.

Iman bukan pengganti ketaatan.

Iman menghasilkan ketaatan.

Kita menyerahkan hasil kepada Tuhan dan mengerjakan tanggung jawab yang telah Dia berikan.

Tim Keller: Doa dan Ketidakmampuan Mengontrol

Dalam banyak pembahasannya mengenai doa, Tim Keller menekankan bahwa doa mengubah cara manusia menghadapi keterbatasan dan ketidakmampuannya mengendalikan hidup.

Manusia modern sering merasa bahwa segala sesuatu harus dapat dikontrol.

Kita membuat rencana.

Kita membuat anggaran.

Kita menyusun strategi.

Kita menggunakan teknologi.

Semua itu dapat menjadi hal yang baik.

Masalah muncul ketika kontrol menjadi sumber keamanan utama kita.

Ketika kontrol hilang, kecemasan meningkat.

Doa menghancurkan ilusi bahwa kita adalah pengendali utama hidup kita.

Dalam doa kita berkata:

“Bapa, aku akan melakukan apa yang dapat kulakukan. Tetapi hasil akhirnya ada di tangan-Mu.”

Itulah bentuk kebebasan yang besar.

Serahkan, Bukan Abaikan

Ada perbedaan besar antara menyerahkan dan mengabaikan.

Mengabaikan berkata:

“Aku tidak peduli.”

Menyerahkan berkata:

“Aku peduli, tetapi aku mempercayakan ini kepada Tuhan.”

Mengabaikan menolak tanggung jawab.

Menyerahkan mengakui tanggung jawab sekaligus keterbatasan.

Mengabaikan dapat lahir dari sikap apatis.

Menyerahkan lahir dari iman.

Karena itu, Give it to God tidak boleh digunakan sebagai kalimat rohani untuk menghindari percakapan sulit, keputusan penting, pekerjaan, atau tanggung jawab.

Jika Tuhan memberi kita tanggung jawab, kita harus mengerjakannya.

Tetapi kita tidak perlu memikul seolah-olah seluruh dunia bergantung kepada kita.

Ketika Jawaban Tuhan Tidak Sesuai Keinginan

Bagian paling sulit dari penyerahan adalah ketika Allah tidak memberikan jawaban yang kita harapkan.

Kita mungkin berdoa agar seseorang sembuh, tetapi dia tetap sakit.

Kita mungkin berdoa agar hubungan dipulihkan, tetapi hubungan itu tetap berakhir.

Kita mungkin berdoa untuk pekerjaan tertentu, tetapi kesempatan itu tertutup.

Kita mungkin meminta jalan keluar, tetapi Tuhan mengizinkan kita melewati proses yang panjang.

Pada titik tersebut, Give it to God menjadi lebih dari sekadar slogan.

Penyerahan yang sejati berkata:

“ Tuhan, aku meminta apa yang kuinginkan. Tetapi jika kehendak-Mu berbeda, aku tetap mempercayai-Mu.”

Inilah yang kita lihat dalam kehidupan Yesus di Getsemani.

Ia berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi menyerahkan diri kepada kehendak Bapa.

Jadi penyerahan Kristen bukan berarti kita tidak memiliki keinginan.

Kita boleh meminta.

Kita boleh menangis.

Kita boleh mengeluh kepada Tuhan.

Kita boleh mengatakan bahwa kita takut.

Tetapi akhirnya kita berkata:

“Jadilah kehendak-Mu.”

Mazmur dan Seni Menyerahkan Beban

Kitab Mazmur menunjukkan bahwa menyerahkan beban kepada Tuhan bukan berarti menyangkal emosi.

Pemazmur sering berbicara dengan sangat jujur.

Ada ketakutan.

Ada kemarahan.

Ada kebingungan.

Ada kesedihan.

Ada pertanyaan.

Tetapi semua itu dibawa kepada Allah.

Inilah salah satu keindahan doa Alkitabiah.

Alkitab tidak mengajarkan kita untuk berpura-pura kuat.

Alkitab mengajarkan kita untuk membawa kelemahan kepada Allah.

Orang percaya tidak harus mengatakan, “Aku baik-baik saja,” ketika sebenarnya sedang hancur.

Ia dapat berkata:

“Tuhan, aku tidak sanggup.”

Dan justru di sana ia belajar bahwa Allah sanggup.

Apa yang Harus Kita Serahkan kepada Tuhan?

Kita dapat menerapkan prinsip ini pada berbagai wilayah kehidupan.

Serahkan masa depan. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi Allah mengetahuinya.

Serahkan keluarga. Kita dapat mengasihi dan mendoakan mereka, tetapi kita tidak dapat mengontrol hati orang lain.

Serahkan pekerjaan. Kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi keamanan akhir kita bukan terletak pada jabatan.

Serahkan kesehatan. Kita bertanggung jawab merawat tubuh, tetapi hidup dan mati tetap berada dalam tangan Allah.

Serahkan pelayanan. Kita menanam dan menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

Serahkan kegagalan. Kegagalan bukan akhir dari kedaulatan Allah.

Serahkan rasa bersalah. Bagi orang yang ada di dalam Kristus, pengampunan Allah lebih besar daripada kegagalan kita.

Cara Praktis Menerapkan “Give it to God”

Ketika sebuah masalah memenuhi pikiran, berhentilah sejenak dan sebutkan masalah itu secara spesifik di hadapan Tuhan.

Jangan hanya berkata, “Tuhan, berkati semuanya.”

Katakan apa yang sebenarnya membuat takut.

“ Tuhan, aku takut kehilangan pekerjaan.”

“ Tuhan, aku takut terhadap masa depan anakku.”

“ Tuhan, aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan utang ini.”

“ Tuhan, aku terluka oleh perkataan orang itu.”

Setelah itu, tanyakan:

Apa yang menjadi tanggung jawabku?

Kerjakan bagian tersebut.

Kemudian tanyakan:

Apa yang berada di luar kendaliku?

Serahkan bagian tersebut kepada Allah.

Terakhir, ucapkan syukur.

Bukan karena masalahnya sudah selesai, tetapi karena Tuhan tetap Tuhan.

Give it to God dan Salib Kristus

Pada akhirnya, dasar terbesar untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan bukanlah pengalaman pribadi kita.

Dasarnya adalah Injil.

Allah telah menunjukkan kasih-Nya melalui Kristus.

Jika Allah telah memberikan Anak-Nya untuk keselamatan kita, kita mempunyai alasan yang sangat kuat untuk mempercayai pemeliharaan-Nya.

Salib menunjukkan bahwa Allah tidak jauh dari penderitaan manusia.

Kristus sendiri masuk ke dalam penderitaan.

Ia ditolak.

Ia dikhianati.

Ia menderita.

Ia mati.

Tetapi kematian bukan akhir.

Kebangkitan Kristus menunjukkan bahwa Allah bekerja bahkan melalui keadaan yang tampaknya merupakan kekalahan.

Karena itu, orang Kristen dapat menyerahkan hidup kepada Tuhan bukan karena semua keadaan selalu masuk akal, tetapi karena Allah telah menyatakan karakter-Nya secara sempurna di dalam Kristus.

Kesimpulan

Give it to God bukan sekadar kalimat motivasi Kristen. Ini adalah panggilan untuk hidup dalam iman kepada Allah yang berdaulat dan memelihara.

Filipi 4:6-7 mengajarkan kita untuk membawa segala sesuatu kepada Allah dalam doa, permohonan, dan ucapan syukur. 1 Petrus 5:7 memberikan dasar yang sangat sederhana sekaligus kuat: kita dapat menyerahkan kekhawatiran kepada Allah karena Dia memelihara kita.

Teologi Reformed memperdalam pengertian ini melalui doktrin kedaulatan dan pemeliharaan Allah. Calvin mengingatkan kita bahwa hidup berada di bawah providensi Allah. Bavinck menolong kita melihat bahwa manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang bergantung kepada Allah. Sproul menekankan kebesaran dan kedaulatan Allah. Ferguson mengingatkan bahwa iman tidak menghapus ketaatan. Keller menolong kita melihat bagaimana doa menghancurkan ilusi bahwa manusia dapat mengontrol hidupnya sendiri.

Maka, ketika kekhawatiran datang, kita tidak harus menyangkalnya.

Kita membawanya kepada Tuhan.

Ketika masa depan tidak jelas, kita tidak harus mengetahui semua jawabannya.

Kita mempercayai Dia yang mengetahui semuanya.

Ketika keadaan tidak dapat kita kendalikan, kita tidak perlu berpura-pura bahwa kita mampu.

Kita menyerahkannya kepada Allah.

Dan ketika kita telah melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita, kita dapat berkata dengan iman:

“Tuhan, ini milik-Mu. Aku telah menyerahkannya kepada-Mu. Pimpinlah aku untuk melakukan kehendak-Mu.”

Itulah makna sejati dari Give it to God: bukan berhenti peduli, melainkan belajar mempercayai Allah lebih daripada kemampuan kita sendiri untuk mengendalikan kehidupan.

Next Post Previous Post