God is Good: Allah Itu Baik

God is Good: Allah Itu Baik

Pendahuluan

“God is good” — Allah itu baik.

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung salah satu pengakuan iman paling mendasar dalam kekristenan. Kebaikan Allah bukan sekadar salah satu sifat Allah di antara banyak sifat lainnya. Kebaikan-Nya berkaitan erat dengan kasih, kekudusan, keadilan, kesetiaan, kemurahan, hikmat, dan kedaulatan-Nya.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa Allah terkadang baik dan terkadang tidak baik. Allah adalah baik. Kebaikan bukan sekadar tindakan yang Allah lakukan; kebaikan merupakan bagian dari siapa Allah itu sendiri.

Mazmur 100:5 menyatakan:

“Sebab, TUHAN itu baik, kasih setia-Nya kekal selamanya, dan kesetiaan-Nya dari generasi ke generasi.”

Ayat ini memberikan dasar yang sangat kuat untuk memahami tema God is good. Pemazmur tidak mengatakan bahwa Tuhan baik hanya ketika keadaan hidup menyenangkan. Ia menyatakan kebaikan Allah sebagai sebuah realitas yang tetap: kasih setia-Nya kekal dan kesetiaan-Nya berlangsung dari generasi ke generasi.

Pertanyaan pentingnya adalah: Jika Allah sungguh baik, mengapa manusia mengalami penderitaan, kehilangan, penyakit, ketidakadilan, dan doa yang tampaknya tidak dijawab?

Di sinilah doktrin kebaikan Allah harus dipahami bukan berdasarkan keadaan kita, tetapi berdasarkan karakter Allah yang dinyatakan dalam Kitab Suci.

Apa Arti “God Is Good”?

Ketika kita mengatakan bahwa “Allah itu baik”, kita sedang mengatakan bahwa dalam diri Allah tidak terdapat kejahatan, kekurangan moral, atau cacat.

Allah adalah sumber segala kebaikan. Segala sesuatu yang benar-benar baik pada ciptaan pada akhirnya bergantung kepada Allah sebagai sumbernya.

Kebaikan Allah juga berarti bahwa Allah bertindak sesuai dengan karakter-Nya. Ia tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kekudusan-Nya. Ia tidak berubah menjadi baik setelah sebelumnya tidak baik. Ia tidak membutuhkan sesuatu dari luar diri-Nya untuk menjadi sempurna.

Teologi Reformed sangat menekankan kesempurnaan dan ketidakberubahan Allah. Allah tidak mengalami perubahan karakter seperti manusia. Manusia dapat berubah karena keadaan, emosi, usia, atau pengalaman. Allah tidak demikian.

Karena itu, ketika Alkitab berkata bahwa Tuhan itu baik, kita memiliki dasar untuk mempercayai bahwa kebaikan Allah tidak berubah ketika keadaan hidup berubah.

Hari ini seseorang mungkin mengalami kelimpahan. Besok ia mungkin menghadapi kehilangan. Namun perubahan keadaan manusia tidak mengubah karakter Allah.

Eksposisi Mazmur 100:5: Dasar Alkitabiah “God Is Good”

Mazmur 100 merupakan mazmur ajakan untuk beribadah. Pemazmur mengundang umat Tuhan untuk bersorak-sorai, beribadah, datang ke hadapan-Nya, dan mengakui bahwa Tuhan adalah Allah.

Puncak pengakuannya terdapat dalam ayat 5:

“Sebab, TUHAN itu baik, kasih setia-Nya kekal selamanya, dan kesetiaan-Nya dari generasi ke generasi.”

Ada tiga kebenaran besar dalam ayat ini.

1. Tuhan Itu Baik

Pernyataan “TUHAN itu baik” merupakan fondasi seluruh kehidupan penyembahan.

Kita tidak menyembah Allah hanya karena Dia mampu memberikan sesuatu kepada kita. Kita menyembah Dia karena Dia baik pada diri-Nya sendiri.

Ini perbedaan penting antara iman yang berpusat pada Allah dan iman yang berpusat pada berkat.

Jika seseorang hanya percaya bahwa Allah baik ketika ia mendapatkan apa yang diinginkannya, maka sebenarnya yang menjadi pusat imannya bukan Allah, melainkan pemberian Allah.

Iman Alkitabiah berkata:

Allah tetap baik bahkan ketika saya belum memahami apa yang sedang Dia kerjakan.

Ini terlihat dalam kehidupan Ayub. Ia mengalami kehilangan yang luar biasa, tetapi pergumulannya tidak berakhir dengan kesimpulan bahwa Allah telah berhenti menjadi Allah. Justru melalui penderitaan, pengenalan Ayub terhadap Allah menjadi semakin dalam.

2. Kasih Setia-Nya Kekal

Kebaikan Allah tidak berdiri sendiri. Mazmur 100:5 langsung menghubungkannya dengan kasih setia-Nya.

Kasih setia Allah berarti Ia dapat dipercaya untuk tetap setia kepada perjanjian dan janji-Nya.

Manusia sering gagal memenuhi perkataan mereka. Allah tidak demikian.

Dalam teologi Reformed, kesetiaan Allah sangat erat dengan konsep covenant faithfulness, yaitu kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya.

Allah bukan hanya baik secara abstrak. Ia menyatakan kebaikan-Nya melalui tindakan nyata dalam sejarah penebusan.

Puncak kebaikan itu terlihat dalam Kristus.

Kebaikan Allah Paling Jelas dalam Salib Kristus

Jika kita ingin mengetahui seberapa baik Allah, kita tidak boleh hanya melihat keadaan hidup kita. Kita harus melihat salib Kristus.

Roma 5:8 mengajarkan bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati bagi kita pada saat kita masih berdosa.

Salib menunjukkan dua hal sekaligus: betapa seriusnya dosa manusia dan betapa besar kasih Allah.

Di salib, Allah tidak mengabaikan keadilan demi kasih. Ia menyatakan kasih tanpa membatalkan keadilan-Nya.

Dalam pemahaman Reformed, salib merupakan pusat karya penebusan Kristus. Kristus menanggung hukuman yang seharusnya diterima orang berdosa. Dengan demikian, keselamatan bukan hasil manusia memperbaiki dirinya sendiri, melainkan karya anugerah Allah.

John Calvin sangat menekankan bahwa keselamatan orang percaya sepenuhnya bergantung pada anugerah Allah di dalam Kristus. Manusia yang berdosa tidak memiliki alasan untuk membanggakan dirinya di hadapan Allah.

Dengan demikian, kebaikan Allah bukan sekadar bahwa Dia memberikan kehidupan yang nyaman. Kebaikan terbesar Allah adalah memberikan Kristus bagi orang berdosa.

Ini mengubah cara kita memandang kehidupan.

Kita mungkin kehilangan pekerjaan, tetapi kita tidak kehilangan Kristus.

Kita mungkin mengalami penyakit, tetapi Injil tidak berubah.

Kita mungkin tidak memahami masa depan, tetapi janji Allah tetap berdiri.

Perspektif John Calvin: Kebaikan Allah dan Providensia

Salah satu kontribusi penting John Calvin dalam teologi Reformed adalah penekanannya terhadap providensia Allah.

Providensia berarti Allah bukan hanya menciptakan dunia lalu meninggalkannya. Ia terus menopang, memelihara, dan mengarahkan ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam Institutes of the Christian Religion, Calvin menjelaskan bahwa orang percaya dipanggil untuk melihat tangan Allah bahkan dalam berbagai keadaan kehidupan.

Ini tidak berarti setiap peristiwa mudah dipahami. Sebaliknya, providensia mengajarkan bahwa ada banyak hal yang tidak kita mengerti tetapi tidak ada satu pun yang berada di luar kendali Allah.

Di sinilah iman menjadi penting.

Jika Allah berdaulat dan Allah baik, maka orang percaya dapat berkata:

“Saya tidak memahami semuanya, tetapi saya percaya kepada-Nya.”

Kebaikan Allah tidak selalu berarti jalan hidup yang mudah. Kadang-kadang kebaikan Allah membawa kita melalui jalan yang sulit karena Dia sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada kenyamanan kita.

R.C. Sproul: Allah yang Kudus dan Baik

R.C. Sproul banyak menekankan kekudusan Allah. Ini penting karena kebaikan Allah tidak dapat dipisahkan dari kekudusan-Nya.

Allah tidak mungkin disebut baik jika Ia adalah Allah yang kompromistis terhadap dosa.

Kebaikan manusia sering bersifat relatif. Kita dapat menyebut seseorang “baik” karena ia melakukan banyak hal positif. Namun kebaikan Allah jauh lebih sempurna. Allah adalah standar kebaikan itu sendiri.

Karena Allah kudus, semua tindakan-Nya benar.

Karena Allah benar, keputusan-Nya dapat dipercaya.

Karena Allah baik, orang percaya dapat menyerahkan dirinya kepada-Nya.

Dengan demikian, doktrin tentang kebaikan Allah seharusnya tidak hanya membuat kita merasa nyaman. Doktrin ini seharusnya menghasilkan penyembahan, pertobatan, dan kepercayaan.

J.I. Packer: Mengenal Allah, Bukan Sekadar Mengetahui tentang Allah

J.I. Packer dalam Knowing God menekankan perbedaan antara mengetahui informasi mengenai Allah dan sungguh-sungguh mengenal Allah.

Prinsip ini sangat relevan dengan tema God is good.

Seseorang dapat mengetahui secara intelektual bahwa “Allah itu baik”, tetapi ketika mengalami penderitaan, ia mungkin mempertanyakan kebaikan tersebut.

Mengapa?

Karena doktrin belum tentu menjadi keyakinan yang menguasai hati.

Mengenal Allah berarti belajar mempercayai karakter-Nya dalam kehidupan nyata.

Ketika doa belum mendapatkan jawaban, kita belajar bahwa Allah tetap baik.

Ketika pintu yang kita harapkan tertutup, kita belajar bahwa Allah tetap baik.

Ketika kita tidak memahami penderitaan, kita belajar bahwa keterbatasan pemahaman kita tidak membatalkan kesempurnaan hikmat Allah.

Iman tidak berarti kita mengetahui semua jawaban. Iman berarti kita mengetahui kepada siapa kita percaya.

Kebaikan Allah dan Masalah Penderitaan

Salah satu keberatan terbesar terhadap doktrin kebaikan Allah adalah realitas penderitaan.

Jika Allah baik dan berkuasa, mengapa kejahatan ada?

Pertanyaan ini tidak boleh dijawab secara dangkal. Alkitab sendiri tidak memperlakukan penderitaan manusia sebagai persoalan sepele.

Namun teologi Reformed memberikan kerangka yang kuat untuk memahaminya.

Pertama, dunia sekarang bukanlah dunia sebagaimana seharusnya. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membawa kerusakan ke dalam seluruh tatanan ciptaan.

Kedua, Allah tetap berdaulat atas sejarah. Keberadaan kejahatan tidak berarti Allah kehilangan kendali.

Ketiga, Allah dapat memakai penderitaan untuk tujuan yang baik tanpa berarti Allah adalah pencipta dosa.

Keempat, penderitaan bukan akhir cerita.

Pengharapan Kristen diarahkan kepada pemulihan ciptaan dan kedatangan Kristus.

Karena itu, orang Kristen tidak dipanggil untuk mengatakan bahwa penderitaan itu sendiri baik. Penderitaan adalah sesuatu yang menyakitkan. Namun kita dapat percaya bahwa Allah sanggup memakai bahkan penderitaan untuk menghasilkan tujuan yang baik.

“God Is Good” Bukan Berarti Semua Keadaan Baik

Kita perlu membuat pembedaan penting.

Mengatakan “Allah itu baik” tidak sama dengan mengatakan:

“Semua yang terjadi kepada saya pasti menyenangkan.”

Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa semua keadaan hidup menyenangkan.

Kehilangan tetap menyakitkan.

Kematian tetap menyedihkan.

Pengkhianatan tetap melukai.

Penyakit tetap membawa penderitaan.

Ketidakadilan tetap merupakan sesuatu yang buruk.

Tetapi di tengah semua itu, iman Kristen mengakui bahwa Allah tetap baik.

Habakuk memberikan gambaran yang indah tentang iman seperti ini. Bahkan ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan, umat Allah tetap dapat bersukacita di dalam Tuhan.

Jadi, sukacita Kristen tidak terutama bergantung pada keadaan eksternal. Dasarnya adalah karakter Allah.

Kebaikan Allah dan Doa yang Belum Dijawab

Ada saat ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh tetapi tidak mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan.

Pada titik tersebut, pertanyaan “Apakah Allah baik?” dapat muncul secara sangat pribadi.

Teologi Reformed mengajarkan bahwa doa bukan sarana untuk memaksa Allah memenuhi keinginan manusia. Doa adalah sarana anugerah yang melaluinya kita membawa kebutuhan kita kepada Bapa yang bijaksana dan berdaulat.

Allah mendengar doa.

Namun Allah tidak tunduk kepada kehendak kita.

Kadang-kadang jawaban-Nya adalah “ya”.

Kadang-kadang “tidak”.

Kadang-kadang kita harus menunggu.

Dalam setiap keadaan, karakter Allah tidak berubah.

Seorang anak kecil mungkin tidak memahami mengapa orang tuanya menolak sesuatu yang ia minta. Ketidakmampuan anak memahami alasan tersebut tidak berarti orang tuanya tidak mengasihi dia.

Demikian juga, keterbatasan manusia dalam memahami providensia Allah tidak berarti Allah berhenti menjadi baik.

Kebaikan Allah Mengubah Cara Kita Hidup

Jika Allah sungguh baik, maka doktrin ini seharusnya menghasilkan perubahan praktis.

Kita dapat belajar bersyukur karena pemberian Allah bukan hak yang harus kita tuntut.

Kita belajar percaya ketika masa depan belum jelas.

Kita belajar rendah hati karena semua yang kita miliki berasal dari anugerah.

Kita belajar mengasihi karena kita telah menerima kasih.

Kita belajar mengampuni karena Allah telah menunjukkan kemurahan kepada kita.

Kita belajar bertahan dalam penderitaan karena keadaan sekarang bukan akhir cerita.

Dan yang paling penting, kita belajar menyembah Allah karena siapa Dia, bukan hanya karena apa yang Dia berikan.

Kesimpulan: Allah Tetap Baik

“God is good” bukan sekadar slogan Kristen. Ini adalah pengakuan iman yang berakar dalam karakter Allah.

Mazmur 100:5 menyatakan bahwa Tuhan itu baik, kasih setia-Nya kekal, dan kesetiaan-Nya berlangsung dari generasi ke generasi.

Kebaikan Allah tidak bergantung pada naik turunnya kehidupan kita.

Ia tetap baik ketika kita menerima jawaban doa yang kita harapkan.

Ia tetap baik ketika kita harus menunggu.

Ia tetap baik ketika kita melewati lembah penderitaan.

Ia tetap baik bahkan ketika kita belum memahami jalan-Nya.

Puncak kebaikan Allah tidak ditemukan dalam kenyamanan hidup, melainkan dalam Kristus. Salib menjadi bukti bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa dosa, kematian, dan penderitaan bukanlah kata terakhir.

Karena itu, ketika hidup terasa tidak dapat dimengerti, kita dapat kembali kepada karakter Allah.

God is good. Allah itu baik.

Bukan karena segala sesuatu yang terjadi terasa baik, melainkan karena Dia yang memegang segala sesuatu adalah baik, kudus, bijaksana, berdaulat, dan setia.

Iman Kristen akhirnya bukanlah keyakinan bahwa kita akan selalu memahami apa yang Allah lakukan. Iman adalah keyakinan bahwa kita dapat mempercayai Allah bahkan ketika kita belum memahami apa yang sedang Dia kerjakan.

Dan ketika kita memandang kepada Kristus, kita memiliki alasan yang tidak tergoyahkan untuk berkata:

Allah itu baik, kasih setia-Nya kekal selamanya.

Next Post Previous Post